Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Membuat Hancur Rumah
Mereka mulai mengacak-acak isi rumah. Lemari pakaian dibongkar, foto-foto masa kecil Anjani dihancurkan, dan perabotan sederhana mereka dipukul hingga rusak. Mereka ingin meninggalkan jejak kehancuran yang nyata sebagai simbol betapa tak berdayanya orang tua Anjani menghadapi kekuasaan keluarga Wiratama.
Saat para pria itu pergi, meninggalkan rumah yang kini porak-poranda, Pak Santo terkapar di lantai dengan luka lebam di lengan, dan Bu Purwati menangis histeris sambil memeluk suaminya.
Anjani, yang baru saja menerima pesan singkat dari ibunya—sebuah foto yang memperlihatkan kondisi rumah yang hancur—merasakan dunianya berhenti sejenak. Tangannya gemetar hebat hingga ponselnya hampir terjatuh. Ia menatap layar ponsel itu dengan tatapan yang kosong, sebelum emosi yang meledak-ledak memenuhi kepalanya.
"Tuan Oliver," suara Anjani terdengar sangat dingin, sebuah suara yang jauh lebih berbahaya dari amarah biasa.
Oliver yang sedang merapikan dasinya di depan cermin menoleh. Ia melihat Anjani yang sedang berdiri mematung dengan tatapan yang sangat gelap.
"Ada apa?" tanya Oliver.
Anjani menunjukkan foto rumah orang tuanya. "Mereka menyerang orang tuaku. Mereka melibatkan orang-orang yang tidak bersalah hanya untuk membalas dendam padaku."
Oliver mendekati Anjani, wajahnya mengeras. Ia tidak menyangka keluarga Wiratama akan senekat itu. Ini bukan lagi soal bisnis, ini soal nyawa dan keselamatan orang-orang terdekat Anjani.
"Mereka baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka," ucap Oliver dengan nada rendah yang penuh ancaman. "Jika mereka ingin bermain kotor dengan cara kekerasan, maka aku akan menunjukkan pada mereka arti sebenarnya dari kehancuran."
Anjani menatap Oliver. "Aku tidak ingin bantuan lagi, Oliver. Aku ingin memimpin sendiri serangannya. Aku akan membuat mereka menyesal karena pernah bernapas di hari yang sama denganku."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang tertutup awan mendung, Anjani tidak lagi merasa takut. Ia merasa seperti seorang jenderal yang telah kehilangan segalanya, dan kini hanya memiliki satu misi: membumihanguskan musuh yang telah menyentuh keluarganya.
Malik dan Bu Anne tidak menyadari bahwa serangan yang mereka perintahkan justru menjadi pemicu bagi Anjani untuk mengeluarkan sisi yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat—sebuah sisi yang bahkan bisa membuat Oliver Jones terpana.
****
Anjani berdiri di tengah ruangan kerja Oliver yang megah, menatap peta Jakarta yang terpampang di dinding kaca. Tangannya mengepal erat, hingga kukunya membekas di telapak tangan. Di atas meja, terdapat dokumen rencana strategis yang disusun oleh tim hukum Jones Group untuk memojokkan Malik secara hukum melalui pengungkapan aset ilegal. Namun, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Anjani, meruntuhkan seluruh ketenangannya.
Itu bukan pesan teks, melainkan sebuah video singkat. Video itu memperlihatkan rumah orang tuanya yang kini dikelilingi garis polisi, dengan ambulans yang sirine-nya meraung-raung di tengah malam.
"Tidak... tidak mungkin," gumam Anjani, suaranya pecah.
Ia tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari keluar dari gedung Jones Group, mengabaikan panggilan Oliver yang mencoba menahannya. Anjani berkendara dengan kecepatan tinggi, mengabaikan lampu merah, hanya memikirkan satu hal: keselamatan orang tuanya.
Sesampainya di rumah sakit daerah yang kecil dan pengap, Anjani disambut oleh pemandangan yang menghancurkan hatinya. Di ruang UGD, Pak Santo terbaring tak berdaya dengan alat bantu pernapasan, kepalanya diperban, dan lengannya dipenuhi luka memar yang parah. Di kursi kayu di samping ranjang, Bu Purwati terkulai lemas, baru saja sadar dari pingsannya namun matanya kosong menatap lantai, seolah jiwanya telah ikut hilang bersama trauma yang ia alami.
"Ibu... Bapak..." Anjani jatuh tersungkur di samping ranjang. Air mata yang selama ini ia tahan, kini mengalir deras. Ia memegang tangan Pak Santo yang dingin.
Seorang dokter mendekat dengan raut wajah prihatin. "Ayah Anda mengalami gegar otak ringan akibat pukulan benda tumpul. Kondisinya stabil, namun ia butuh istirahat total dan penanganan lebih lanjut. Ibu Anda mengalami syok berat dan tekanan darah yang melonjak drastis. Ini sudah keterlaluan, Nona."
Anjani tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu siapa pelakunya. Dara. Hanya Dara yang memiliki otak licik untuk melakukan sabotase sejauh ini.
****
Tepat saat Anjani mencoba menenangkan ibunya, pintu ruang rawat terbuka dengan kasar. Bukan perawat atau dokter yang masuk, melainkan Malik Wiratama, diikuti oleh Dara yang berjalan dengan angkuh, dan dua pengawal di belakang mereka.
"Lihat ini, Malik," suara Dara terdengar sinis. Ia menatap Pak Santo dengan tatapan jijik seolah melihat sampah. "Sepertinya 'peringatan' kita tadi malam terlalu keras untuk mereka yang lemah."
Malik tampak sedikit cemas, namun ia segera menepisnya dengan egonya yang tinggi. "Anjani, ini semua salahmu. Kalau saja kau tidak mencoba melawan kami, orang tuamu tidak akan berakhir seperti ini. Anggap saja ini biaya sekolah karena kau berani menantang keluarga Wiratama."
Anjani bangkit berdiri. Matanya yang merah karena tangis kini berubah menjadi sorot mata yang penuh dengan kebencian yang murni. Ia menatap Dara dengan intensitas yang membuat sang wanita licik itu sedikit mundur.
"Kau pikir kau menang, Dara?" suara Anjani bergetar namun tajam seperti silet. "Kau pikir dengan melukai orang tuaku, aku akan berhenti? Kau justru baru saja membakar jembatan terakhir yang membuatku ragu untuk menghancurkanmu."
Dara tertawa kecil, ia membetulkan letak anting berliannya. "Oh, benarkah? Kau mau apa? Melaporkanku? Polisi sudah berada dalam genggaman keluarga Wiratama. Tidak ada yang bisa menyentuhku, Anjani. Kau hanya wanita miskin yang tidak punya apa-apa."
Dara melangkah maju, membisikkan sesuatu ke telinga Anjani. "Aku akan pastikan orang tuamu tidak hanya berakhir di rumah sakit. Aku akan pastikan mereka kehilangan segalanya—bahkan nyawa—jika kau terus keras kepala."
Anjani tidak membalas. Ia hanya terdiam, membiarkan Dara merasa menang. Saat Malik, Dara, dan pengawalnya pergi meninggalkan ruangan, Anjani menarik napas dalam. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan Oliver sepenuhnya jika ingin melindungi orang tuanya dari serangan langsung. Ia harus bermain dengan cara mereka, namun lebih cerdas.
****
"Tuan Oliver," ucapnya saat panggilannya diangkat. "Batalkan tuntutan hukumnya untuk sementara."
"Apa? Anjani, kau gila? Kita hampir memenangkan pertempuran ini!" suara Oliver di seberang sana terdengar terkejut.
"Aku tidak bilang aku berhenti," jawab Anjani. "Aku akan menggunakan cara lain. Cara yang membuat mereka berpikir mereka aman, hingga saatnya aku memenggal kepala mereka dari balik bayang-bayang. Aku butuh akses ke dana cadangan yang kita bicarakan minggu lalu. Aku akan melakukan 'sabotase balik'."
Di balik telepon, Oliver terdiam sejenak, lalu terdengar helaan napas kagum. "Baiklah, Anjani. Lakukan sesukamu. Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan. Tapi ingat, kalau kau butuh bantuan, aku ada di sini."
Anjani menutup telepon. Ia menatap ibunya yang mulai membuka mata, lalu menatap bapaknya yang masih tak sadarkan diri. Ia berjanji dalam hati, hari ini adalah terakhir kalinya ia membiarkan mereka tersakiti.
Ia keluar dari ruang rawat, menuju koridor rumah sakit yang sepi. Ia menyadari bahwa ia telah berubah. Ia bukan lagi Anjani yang penurut, bukan lagi Anjani yang takut. Ia adalah Anjani Direja, wanita yang akan menjadi mimpi buruk bagi keluarga Wiratama.
Dara dan Malik berpikir mereka bisa memenangkan permainan dengan kekerasan fisik, namun mereka lupa bahwa Anjani adalah orang yang paling tahu rahasia terdalam di balik kejayaan mereka. Dan rahasia itu, jika digunakan dengan tepat, akan menjadi bom yang menghancurkan keluarga itu menjadi debu.
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, Anjani mulai mengetik pesan ke rekan-rekan lamanya di perusahaan Wiratama—orang-orang yang selama ini membenci Malik namun terpaksa diam. Permainan catur baru saja dimulai, dan kali ini, Anjani memegang kendali penuh atas bidak-bidaknya.