Li Zie adalah putri dari seorang Menteri, Li Zie putri bangsawan yang menikah dengan seorang Jenderal yang sangat ia cintai.
Namun saat ia telah sampai ke kediaman Jenderal Wang sebagai pengantin, saat itulah topeng sang Jendral di buka, dan memperlihatkan taringnya.
"Aku menikahi mu hanya untuk membalas dendam atas kematian keluarga ku, " Jendral Wang.
Saat itulah hidupnya berubah drastis, karena suaminya selalu menyiksanya. Namun bukan hanya Li Zie yang tersiksa, Jenderal Wang pun merasa sakit saat harus melihat Li Zie tersiksa.
Perlahan bukti terungkap. Jika menteri Li tidak terlibat dalam pembantaian itu, ia hanya di jadikan kambing hitam.
Orang yang selama ini di anggap penolong oleh Jenderal Wang , adalah pelaku yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Jenderal Wang Wang masih terus melanjutkan aksinya, Jenderal Wang dengan ganas terus mencambuk par penghianat itu, hingga darah mulai merembes dari hanfu mereka.
Plakkk!
Plaakkk!
Aaaarrrgggghhhh!
Plakk!
Aaaarrrgggghhhh!
Jenderal Wang tak terganggu dengan jeritan mereka, semakin kuat menjerit membuat setiap cambukan semakin kuat, seakan setiap jeritan mereka adalah penyemangat untuk Jenderal Wang.
"Tuan tolong ampuni kami... " ujar salah satu dari mereka dengan suara bergetar, menahan sakit.
" Cuih!! " Jenderal Wang berdecih, melihat para penghianatan itu sudah terluka. Barulah Jenderal Wang merasa puas, ia pun melemparkan cambuknya begitu saja, para penghianat itu sudah terluka parah, pakaian yang mereka kenakan sobek sobek, darah merembes keluar dari pakaian, bahkan orang yang sudah memfitnah Li Zie terluka sangat parah, hanfunya yang sobek sobek menyatu dengan luka. Itu cukup mengerikan.
Jenderal Wang pergi dari ruangan tersebut, yang di sambut oleh pengawal bayangan.
"Tuan, kami telah membuat kekacauan," ujar pengawal bayangan.
Jenderal Wang mengangguk samar, " Ja Ang yang akan membereskannya, "ujar Jenderal Wang lalu melangkah pergi keluar.
...****************...
Ja Ang akan menemui Jenderal Wang, untuk melaporkan kejadian, kebetulan mereka berpapasan, " Tuan...kekacauan ini-" Ja Ang tak melanjutkan ucapnya.
Jenderal Wang mengangguk, "Buat beberapa orang kita untuk terlihat terluka," ujar Jenderal Wang menjeda ucapnya, Jenderal Wang lalu kembali berkata," Ini dilakukan oleh penyusup."
Ja Ang mengangguk paham, dengan maksud tujuan Tuanya, ia pun bergegas melaksanakan tugasnya kembali.
Di halaman, Ja Ang sudah membereskan kekacauan yang terjadi di sana, tabib juga sudah di panggil untuk mengobati, orang-orang yang terluka, dan yang terluka cukup para sekitar sepuluh orang.
Lebih tepatnya orang-orang yang ada di pos penjagaan yang terluka, sedangkan yang lainnya hanya mendapat luka ringan saja.
Mereka yang terluka sudah di bawa ke tempat yang aman untuk beristirahat, khusus para penjaga.
Ja Ang berdiri di sana melihat tabib yang begitu sibuk, karena banyaknya yang terluka, sepuluh orang-orang yang ada di pos penjaga, mereka mendapatkan sayatan pedang, dan juga patah tulang, lebih mengerikan lagi patah tulang leher.
Sayatan pedang sangat dalam dan panjang, terlihat sangat mengerikan, patah tulang juga tidak sesederhana itu, ke sepuluh orang itu sangat mengerikan dan sepertinya akan sangat sulit untuk sembuh seperti sebelumnya.
Arrrggghhh!
Erangan menah sakit terdengar memilukan, mereka juga di buatkan ramuan, agar lukanya lekas membaik.
Tabib sudah selesai mengurus ke sepuluh orang itu, dengan bantuan para penjaga yang kondisinya baik-baik saja. Kini giliran tabib berpindah ruangan, lalu kembali mengurus orang orang-orang yang terluka.
Di ruangan ini erangan tidak begitu mengganggu, hanya sesekali meringis saja, tabib segera memeriksa mereka.
Ja Ang memberikan Belat/bidai bambu pada tabib, "Pasangkan ini," ujar Ja Ang.
Tabib tak mengerti maksud Ja Ang, karena yang ia periksa tidak patah tulang, namun tabib sangat tahu status Ja Ang adalah orang kepercayaan Jenderal Wang. Jadi tabib hanya mengikuti arahan saja.
Ada sekitar dua belas orang yang terluka ringan, namun Ja Ang memerintah lima orang, agar di rawat seperti orang terluka parah, seperti mengikat kepala bahkan ada tangannya yang tiba-tiba di pasang Belat/bidai bambu untuk menyanggah tulang, ada dua orang yang kakinya di pasang bidai/belat.
Mereka hanya saling tatap tak banyak bertanya, meski sebenarnya ingin berkata, jika mereka tak terluka jadi untuk apa ini semua.
"Bersikaplah sewajarnya... " bisik Ja Ang pada kelima orang yang terlihat terluka parah.
Mereka hanya mengangguk, meski tak paham, Ja Ang kembali berkata saat melihat kebingungan di wajah mereka, "Ingat jangan sampai ada yang tahu, kalian paham?! "
"Kami paham Tuan," ujar mereka serempak, membuat Ja Ang langsung mendelik.
Mereka pun tersadar, "Kami paham Tuan..." ujar mereka dengan ekpresi menahan sakit, seakan mereka terluka cukup parah.
Ja Ang tersenyum puas, lalu pergi melangkahkan kakinya, kelima orang itu menghela napas lalu membaringkan diri.
Ja Ang begitu sibuk, kesana kemari hingga langit sudah mulai menampakan cahayanya, burung-burung mulai terdengar, pertanda pagi mulai datang.
...****************...
Orang-orang yang di culik oleh pengawal bayangan, kini mereka sudah tak sadarkan diri, sejak tadi mendapatkan siksaan, penutup wajah mereka pun di buka dengan kasar.
Melihat orang-orang itu masih terlelap, Ju An melirik rekannya di sana, "Siram dia! "
Byuuurrr
Air langsung mengguyur tubuh yang penuh luka itu, mereka pun terbangun dan langsung merasakan panas perih di tubuhnya, mereka menggigil menahan sakit. Matanya dapat melihat orang-orang yang berdiri dengan gagah di hadapannya.
"Bagai mana rasanya? Apa kalian masih sanggup menahan?" ujar Ju An tersenyum meremehkan, ia tak menyangka jika orang-orang itu begitu setia pada Tuanya .
Guysss, thanks ya atas dukungan dan hadiahnya.
Komentar kalian semua membuat author semangat menulis.
🫰🫰🫰🫰