Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Setelah meninggalkan ruangan David dengan selembar kertas yang menyatakan 99,99% kecocokan DNA itu, dunia Regan serasa berputar terbalik. Berbagai skenario liar langsung bermunculan di kepalanya bak air bah. Rasa bersalah yang menumpuk selama sembilan tahun berbenturan dengan ego dan kerinduan yang membuncah.
*Dia anakku. Zayyan darah dagingku,* batinnya terus bergaung.
Pikiran itu pulalah yang menuntun Regan bertindak nekat siang ini. Di sinilah ia sekarang, berada di balik kemudi mobil hitamnya yang terparkir tepat di depan gerbang sekolah Zayyan. Mesin mobil sengaja tetap dinyalakan, matanya fokus menatap ke arah gerbang. Regan sudah tidak peduli lagi dengan batasan. Persetan dengan amarah Arin, persetan dengan peringatan wanita itu semalam. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah keinginan mutlak untuk membawa putranya, memperkenalkan Zayyan pada dunianya yang megah, biarpun harus dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Arin.
Tak lama kemudian, bel pulang berbunyi nyaring. Kerumunan anak-anak berseragam merah-putih mulai berhamburan keluar dari gerbang.
Begitu sosok mungil Zayyan tertangkap oleh pandangannya, Regan tidak membuang waktu. Ia langsung mematikan mesin, keluar dari mobil, dan melangkah lebar menghampiri bocah itu sebelum sempat berdiri di trotoar tempat ojek *online* biasa mangkal.
"Zayyan!" panggil Regan setengah berseru.
Bocah itu menoleh, matanya mengerjap polos saat mengenali wajah pria di depannya. "Eh, Om Ojek yang kemarin ya? Kok sekarang gak pakai jaket hijau?"
Regan memaksakan sebuah senyuman seramah mungkin, mencoba menutupi detak jantungnya yang berpacu liar karena rasa bersalah sekaligus gugup. Ia berlutut menyamakan tingginya dengan Zayyan.
"Iya, Zayyan. Hari ini Om gak narik ojek dulu," dusta Regan lancar. "Tadi Ibu kamu telepon Om. Katanya Ibu lagi sibuk banget di restoran, jadi Ibu minta tolong Om buat jemput kamu pulang sekolah."
Mendengar nama ibunya disebut, kewaspadaan Zayyan langsung runtuh. Bocah polos itu mengangguk-angguk percaya tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Oh, Ibu yang suruh ya, Om? Pantesan."
"Iya. Ayo ikut Om, mobil Om parkir di sebelah sana," ajak Regan sambil menunjuk mobil sedan mewah hitamnya.
Zayyan berjalan mengekor di samping Regan. Begitu tiba di depan mobil, sepasang mata bulat bocah itu langsung membelalak kagum. "Wah... Om, ini mobilnya Om? Keren banget! Kayak mobil bos-bos yang ada di TV!"
Mendengar celetukan jujur dari putranya, dada Regan membuncah oleh perasaan hangat yang luar biasa. Ia membukakan pintu depan untuk Zayyan. "Iya, ini mobil Om. Ayo masuk, di dalam adem."
Setelah Zayyan duduk rapi di jok penumpang dan mengenakan sabuk pengaman, Regan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Ia melirik Zayyan yang masih sibuk mengagumi interior mobilnya yang mewah dengan norak yang menggemaskan.
"Zayyan," panggil Regan lembut sambil melajukan mobilnya membelah jalanan.
"Iya, Om?"
"Sebelum pulang ke mes, kamu mau jalan-jalan dulu ngga sama Om?" tanya Regan, memancing.
Mata Zayyan langsung berbinar cerah. "Mau, Om! Mau banget!"
Senyuman Regan melebar. Tanpa ragu, ia langsung mengarahkan mobilnya menuju salah satu mall elit di pusat kota. Regan ingin memberikan segalanya yang tidak bisa Arin berikan selama ini.
Begitu sampai di mall, tujuan pertama Regan adalah butik pakaian anak-anak. Ia langsung memilihkan beberapa pasang baju kasual bermerek yang nyaman untuk Zayyan.
"Kita ganti baju dulu ya, biar kamunya gak gerah pakai seragam sekolah terus," ujar Regan. Zayyan hanya menurut riang saat digandeng menuju ruang ganti. Keluar dari sana, Zayyan sudah tampak sangat tampan dan modis dengan kaos dan celana denim baru.
Setelah itu, Regan membawa Zayyan ke toko mainan terbesar di mall tersebut. "Pilih apa aja yang kamu suka, Zayyan. Om yang bayar."
Zayyan sempat ragu, namun setelah Regan meyakinkannya, bocah itu langsung berlarian dengan tawa lepas, menunjuk robot-robotan, mobil *remote control*, dan beberapa mainan edukasi. Tanpa pikir panjang, Regan menyuruh pelayan toko membungkus semua mainan yang disentuh oleh putranya hingga menghasilkan tiga kantong besar.
Puas berbelanja, Regan membawa Zayyan ke sebuah restoran keluarga premium di dalam mall. Berbagai hidangan lezat dan es krim berukuran besar tersaji di atas meja. Zayyan makan dengan sangat lahap, sesekali bercerita tentang teman-teman sekolahnya dengan menggebu-gebu. Regan hanya diam memperhatikan, menopang dagunya sambil tersenyum tulus. Perasaan bahagia ini begitu nyata, hingga menepis sejenak rasa bersalahnya pada Arin.
Di sela-sela suapan es krim Zayyan, Regan menjulurkan tangan, mengusap lembut sudut bibir putranya yang belepotan cokelat.
"Zayyan, hari ini kamu seneng ngga jalan-jalan sama Om?" tanya Regan dengan suara yang teramat lembut, menanti jawaban dari sang putra.
Zayyan langsung mengangguk dengan sisa es krim di mulutnya. "Seneng banget, Om! Zayyan belum pernah beli mainan sebanyak ini. Ibu pasti kaget kalau lihat nanti!"
Regan hanya tersenyum tipis mendengar penuturan polos itu. Dadanya kembali berdesir ngilu saat nama Arin disebut. Namun, ego dan rasa ingin memiliki yang teramat besar malam ini telah membutakan akal sehatnya. Ia belum ingin mengembalikan Zayyan ke mes sempit itu. Ia ingin putranya merasakan kehangatan rumah yang sesungguhnya.
Setelah menyelesaikan pembayaran di restoran, Regan membawa Zayyan kembali ke parkiran. Mobil hitam itu kemudian melaju membelah jalanan kota menuju sebuah kawasan perumahan elite di Jakarta Selatan.
Begitu mobil melewati gerbang otomatis dan berhenti di *carport* sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis, Zayyan langsung menempelkan wajahnya ke kaca mobil.
"Wah..." Zayyan membelalak sempurna begitu turun dari mobil. Sepasang mata bulatnya menatap takjub pada pilar-pilar kokoh dan hamparan halaman rumah yang sangat luas. "Om, ini rumah Om juga? Gede banget! Kayak istana di buku cerita Zayyan!"
"Iya, ini rumah Om. Sekarang, ini rumah kamu juga," gumam Regan lirih, kalimat terakhir hanya diucapkannya dalam hati. Ia mengacak pelan rambut Zayyan. "Ayo masuk."
Regan menggandeng tangan mungil Zayyan, membimbingnya melintasi ruang tamu bernuansa hangat dengan langit-langit yang tinggi. Langkah kaki mereka kemudian menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, tempat kamar utama Regan berada.
"Om mau ganti baju kerja dulu sebentar ya. Kamu ikut ke kamar Om aja," ujar Regan sambil membuka pintu kayu jati yang tebal.
Kamar tidur Regan sangat luas, didominasi warna abu-abu dan putih dengan sebuah tempat tidur berukuran *king size* di tengahnya. Zayyan berdiri di ambang pintu, tampak ragu-ragu untuk melangkah masuk karena melihat ruangan yang begitu bersih dan mewah.
Melihat putranya yang mendadak canggung, Regan terkekeh pelan. Ia melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke kursi, lalu melepas beberapa kancing kemeja teratasnya agar lebih santai.
Zayyan mendongak, menatap kasur besar yang terlihat sangat empuk di depannya dengan mata berbinar-binar. Dengan polos, ia meremas ujung bajunya sendiri lalu bertanya dengan suara cicit yang pelan, "Om... Zayyan boleh naik ngga, Om, ke atas kasurnya?"
Mendengar pertanyaan itu, Regan merasakan hatinya seolah meleleh. Ia langsung tersenyum hangat dan mengangguk pasti. "Boleh, Zayyan. Naik aja. Sepatunya dilepas dulu ya."
"Hore!"
Zayyan langsung melepas sepatu barunya dengan tergesa-gesa, lalu dengan riang memanjat naik ke atas tempat tidur mewah tersebut. Begitu tubuh mungilnya mendarat di atas kasur, Zayyan langsung bergulingan kecil, merasakan keempukan selimut bulu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Tawa renyahnya menggema di dalam kamar, mengikis seluruh nuansa dingin yang biasanya menyelimuti ruangan itu.
Melihat kebahagiaan murni di wajah putranya, Regan tidak bisa lagi menahan diri. Rasa rindu dan naluri kebapakannya membuncah seketika.
Tanpa memedulikan baju kerjanya yang belum sempat diganti, Regan menyusul naik ke atas ranjang. Ia merebahkan tubuh tegapnya di samping Zayyan, menyangga kepalanya dengan sebelah tangan sambil menatap lekat wajah bocah itu dari dekat.
Zayyan yang lelah setelah seharian bermain akhirnya berhenti bergulingan. Ia memposisikan tubuhnya telentang tepat di sebelah Regan, menatap langit-langit kamar dengan napas yang sedikit terengah namun dengan senyum yang belum pudar.
Regan perlahan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Zayyan hingga sebatas dada. Ia kemudian ikut berbaring telentang di samping anak itu, memejamkan matanya perlahan sambil menikmati deru napas halus Zayyan yang mengalun di dekatnya.