NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18- Bak pahlawan

Lanjut...

Bara merengkuh ponsel dari saku celananya, lalu melemparkannya ke atas meja kasir yang masih utuh. "Hubungi bosmu sekarang. Katakan padanya ada pembeli yang siap membayar tunai berkali-kali lipat dari harga pasar."

Mendengar kalimat Bara yang begitu enteng seolah sedang membeli permen, Alena pun tersentak kaget. Ia langsung bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih di lututnya, lalu menarik ujung kemeja Bara.

"Bara! Apa yang kamu katakan?!" bisik Alena setengah menjerit, dan mencoba mencegah tindakan nekat pria itu. "Toko ini... aku tidak pernah menjual tanah atau bangunan ini pada siapapun! Mereka merampasnya!."

Mendengar penjelasan Alena yang menggebu-gebu dengan napas yang memburu, Bara pun menolehkan kepalanya. Ia menatap lekat-lekat manik mata Alena yang digenangi kecemasan.

Namun, Bara tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan Alena. Ia hanya mengulas senyum tipis yang sangat tulus, lalu memberikan anggukan kepala yang tegas namun lembut.

Sorot matanya yang tenang dan dalam seolah mengirimkan pesan tak kasatmata yang langsung meresap ke dada Alena: 'Tenang saja. Kamu tidak perlu takut lagi, biar aku yang bereskan semuanya.'

Melihat binar keyakinan di mata Bara, entah mengapa perlahan rasa panik yang menghimpit dada Alena pun mulai luruh. Pria yang sempat menghilang itu, kini kembali dengan perlindungan yang terasa begitu mutlak.

Kini Bara kembali memalingkan wajahnya pada ketiga preman yang kini mulai tampak ragu dan salah tingkah melihat ketegasan di wajah Bara.

"Jadi," ucap Bara sambil mengetukkan jarinya di atas meja, "Kalian mau telepon bos kalian sekarang, atau perlu aku yang menyeret kalian keluar dari sini satu per satu?"

____

________

Melihat ketegasan Bara yang tak tergoyahkan, nyali ketiga pria berbadan kekar itu perlahan menciut. Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan, si pemimpin bertato ular justru menyunggingkan tawa sinis yang dipaksakan. Ia meludah ke lantai, lalu memberi isyarat dengan kepalanya kepada dua anak buahnya.

"Bagus. Kamu punya nyali besar, Anak Muda," desis si pemimpin, sambil menatap Bara dengan pandangan merendahkan. "Simpan bicaramu itu. Bos kami kebetulan sedang menunggu di dalam mobil di seberang jalan. Kami akan laporkan ini padanya. Jangan coba-coba kabur!"

Tanpa membuat keributan lebih lanjut, ketiga preman itu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan toko. Langkah mereka tergesa-gesa saat menyeberangi jalan raya menuju sebuah mobil sedan hitam mewah berkaca gelap yang terparkir di seberang Alena’s Floral Boutique.

Mereka sama sekali tidak menyerah, mereka hanya ingin mengadukan "batu sandungan" ini kepada sang atasan.

Begitu bayangan ketiga pria itu menjauh, suasana tegang di dalam toko mereda. Bara langsung berbalik, lalu memeriksa keadaan Alena dengan raut wajah yang cemas.

"Nona Alena, Anda benar-benar tidak apa-apa? Apa ada bagian tubuh Anda yang terluka saat mereka mengamuk?" tanya Bara.

Tangannya bergerak menggantung di udara, ingin menyentuh bahu Alena untuk menenangkan, namun ia urungkan karena batasan sopan santun yang selalu ia jaga.

"Aku tidak apa-apa, Bara. Hanya terkejut saja. Tapi bunga-bunga ini..." Alena menatap nanar sekeliling tokonya yang hancur berantakan.

Ia kemudian menatap Bara lekat-lekat dan meluapkan segala kebingungan yang menyumbat dadanya sejak pagi. "Aku benar-benar tidak mengerti, Bara. Tadi pagi, pria berjas hitam datang dan tiba-tiba mengklaim kalau toko ini sudah dijual kepada orang lain. Mereka bahkan menunjukkan salinan dokumen berkas kepemilikan yang sangat mirip dengan aslinya! Aku heran... bagaimana bisa berkas-berkas penting itu jatuh ke tangan orang lain? Padahal aku tidak pernah berniat, apalagi menandatangani surat penjualan pada siapa pun!"

Mendengar penuturan Alena yang berapi-api, raut wajah Bara mendadak berubah. Ketegasan yang tadi ia tunjukkan di depan para preman seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi bersalah yang amat dalam.

Dengan sikapnya yang seperti dulu, lugu, rendah hati, dan penuh hormat, Bara perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Alena.

"Maafkan saya, Nona Alena... Mungkin ini semua adalah salah saya," ucap Bara dengan suara yang penuh penyesalan.

Spontan Alena mengangkat wajahnya dan menatap lurus pada pucuk kepala Bara yang masih menunduk dan membuat Alena tertegun. "Apa maksudmu, Bara? Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kamu bahkan baru saja kembali setelah sekian lama menghilang. Bagaimana bisa ini salahmu?"

Bara perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Alena dengan pancaran rasa bersalah. "Sebenarnya, selama saya pergi, ada hal yang..."

Brak!

Belum sempat Bara menyelesaikan kalimatnya, pintu toko kembali terbuka lebar. Kali ini, ketiga pria bertato tadi masuk dengan sikap yang lebih congkak, seraya mengapit seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan setelan jas abu-abu mahal.

Pria tambun itu adalah sang bos. Ia berjalan masuk sambil mengisap cerutu, dan menatap sekeliling toko yang berantakan dengan pandangan jijik.

"Jadi, siapa bajingan kecil yang katanya mau membeli kembali tanah ini dengan harga berkali-kali lipat?" tanya si bos dengan suara serak dan berwibawa, lalu pandangannya langsung tertuju pada Bara.

Seketika Bara mengubah posisinya. Aura lugu di depan Alena menguap dalam sekejap, digantikan oleh sosok pria dingin yang berkuasa. Ia lalu melangkah maju dan melindungi Alena di belakang punggungnya.

"Aku," jawab Bara, tanpa rasa takut sedikit pun. "Sebutkan berapa nominal yang kalian inginkan untuk mengembalikan seluruh hak atas tanah dan bangunan ini sekarang juga."

"HA HA HA HA HA...." Si bos terbahak-bahak, suara tawanya menggema di ruangan yang berantakan itu.

"Anak muda, tanah ini berada di area strategis. Aku membelinya dari 'seseorang' dengan harga yang tidak murah. Jika kamu mau membelinya kembali secara instan, harganya menjadi tiga kali lipat. Tiga miliar rupiah. Tunai, hari ini juga! Jika tidak punya uangnya, silakan angkat kaki!"

Alena yang berada di belakang Bara terpekik pelan. Tiga miliar? Itu angka yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran toko bunga miliknya.

Ia hendak menarik lengan Bara untuk menghentikan kegilaan ini, namun Bara sudah lebih dulu merengkuh sebuah kartu dari dompetnya dan melemparnya ke atas meja pajangan yang tersisa.

"Sepakat. Tiga miliar," ucap Bara dingin, tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya. "Hubungi notaris Anda sekarang juga. Kita urus dokumen pengalihan dan pelunasan di tempat ini dalam waktu tiga puluh menit. Setelah itu, ambil uangmu, bawa anjing-anjingmu ini, dan jangan pernah menampakkan wajah kalian lagi di sekitar Nona Alena."

Si bos dan ketiga anak buahnya langsung tertegun. Bahkan, cerutu di mulut si bos hampir saja terjatuh melihat kartu hitam eksklusif yang hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat kelas atas di negeri ini.

Kini, atmosfer di dalam toko berubah total. Sementara itu, Alena hanya bisa berdiri terpaku di belakang Bara dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

Siapa sebenarnya Bara? Dan apa hubungannya dengan hilangnya surat toko miliknya?

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!