Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Hukuman Merambat
Hujan yang mengguyur Jakarta perlahan menyusut menjadi gerimis tipis yang konstan, namun atmosfer di dalam rumah itu justru semakin mencekam.
Fajar belum juga tiba. Dengan Bantuan Danu, Aryo terpaksa mengevakuasi Maya kembali ke rumah utama di Pondok Indah. Menjelang pukul empat pagi, atas desakan ketakutan Aryo yang histeris karena merasa "dikepung" oleh suara gerisik bambu dan kegelapan yang menyiksa.
Mereka terpaksa kembali ke rumah mewah Pondok Indah—benteng marmer yang separuh lantainya telah hangus terbakar. Aryo merasa, di tengah lingkungan elit yang padat dan dijaga satpam, ia bisa sedikit bernapas.
Di rumah ini juga masih ada dua pembantu yang sesekali datang untuk membersihkan rumah.
Namun, itu adalah kekeliruan fatal yang disesali Aryo begitu pintu gerbang besi menempa rumah mewahnya terkunci kembali.
Maya telah kembali pingsan—atau mungkin koma—setelah fase kejang hebat yang menghancurkan pasak pelindung Danu. Ia diletakkan di sofa ruang tengah lantai satu.
Tubuh wanita muda itu kaku, dengan ujung-ujung paku dan rebung yang masih mencuat dari sela jemarinya seperti cakar vegetatif yang mengerikan.
Di tengah keheningan yang tersisa, getaran keras dari atas meja kayu di sudut ruangan mendadak memecah kesunyian.
Bzzzz ... bzzzz ... bzzzz ....
Layar ponsel pintar milik Aryo menyala terang, memancarkan pendar putih yang intens di atas permukaan kayu. Aryo tersentak, bahunya menegang secara instan. Matanya yang merah merayap menatap nama yang tertera di layar: Hendra – Properti.
Hendra adalah teman akrab sekaligus makelar properti kelas atas di Jakarta. Dialah orang yang tiga tahun lalu mengenalkan Maya kepada Aryo dalam sebuah perjamuan VIP di hotel bintang lima.
Hendra juga yang mencarikan apartemen mewah di kawasan distrik bisnis sebagai tempat persembunyian awal perselingkuhan mereka, sekaligus yang menjadi saksi utama saat Aryo memutuskan untuk mengikat Maya dalam pernikahan siri yang tersembunyi.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Aryo meraih ponsel itu dan menggeser layar ke tombol hijau. Belum sempat ia menempelkan gawai itu ke telinganya, sebuah suara jeritan yang sarat akan teror histeris langsung menyembur keluar dari speaker.
"Yooo, Aryo! Tolong aku, Yo! Tolonggg!" Suara Hendra terdengar pecah, tersedak oleh kepanikan yang teramat sangat.
Di latar belakang panggilan, terdengar suara gesekan daun-daun kaku yang sangat bising, berpadu dengan suara angin badai yang aneh, padahal Hendra tinggal di apartemen penthouse yang kedap suara di pusat kota.
"Ada apa, Ndra?! Kamu di mana?" tanya Aryo, suaranya parau, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
"Rumahku, Yo! Apartemenku dikepung pohon bambu! Aku tidak bisa keluar, semua pintunya macet digulung akar! Aryo, demi Tuhan ... kulitku perih sekali! Ada sesuatu yang merayap di bawah tenggorokanku ... rasanya tajam ... ugh ... hkweek ..."
"Ndra! Hendra!" Aryo berteriak, bangkit berdiri hingga kursinya terpelanting ke belakang. "Halo, Hendra! Jawab sialan!"
Di seberang telepon, suara Hendra berubah menjadi lenguhan kaku yang mengerikan. Terdengar bunyi breeet yang halus namun nyata—suara robeknya jaringan kulit manusia—diikuti oleh suara logam beradu yang sangat familiar di telinga Aryo. Klang ... klang ....
"Sumpahmu ... diringkas ... di atas ... darah ...."
Suara Hendra mendadak berubah, bukan lagi suara lelaki kota yang parlente, melainkan desisan angin dingin yang membawa logat Banyuwangi kuno yang kental. "Semua yang membukakan jalan ... harus ... ditebang ...."
Pranggg!
Sambungan telepon terputus dengan suara hantaman keras dan pecahan kaca di seberang sana. Aryo berdiri mematung, ponselnya perlahan merosot dari genggamannya dan jatuh ke atas lantai ubin yang basah.
Lututnya lemas. Kepanikan mentalnya melompat ke titik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pikirannya berputar liar, menyadari satu kenyataan yang teramat mengerikan: Sekar tidak hanya menghancurkannya, wanita itu kini sedang melakukan pembersihan total. Sekar sedang memotong semua "akar" manusia yang ikut andil dengan pengkhianatan Aryo.
Belum sempat Aryo menguasai dirinya, ponsel di lantai kembali bergetar dengan ritme yang lebih mendesak.
Bzzzz ... bzzzz ... bzzzz ....
Kali ini nama yang muncul adalah Pak Mansur. Beliau adalah penghulu tidak resmi, tokoh agama bayaran yang disewa Aryo dengan tarif puluhan juta rupiah untuk melegalkan pernikahan sirinya dengan Maya tanpa perlu mendaftarkannya ke Kantor Urusan Agama.
Aryo merangkak di lantai, menyambar ponsel itu dengan keputusasaan yang nyata. "Halo, Pak?! Pak Mansur?! Tolong saya, Pak!" Aryo justru yang memohon terlebih dahulu.
Namun, yang terdengar dari seberang telepon hanyalah suara napas yang tersengal-sengal dan jeritan doa-doa yang dibacakan secara kacau dan terputus-putus.
"A'udzu ... bikalimatillah ... aakhhh! Panas! Kakiku ... kakiku berubah jadi kayu, Pak Aryo! Tolong saya!"
Terdengar suara gemertak tulang yang patah secara serentak—krak ... krak ... krak ... seolah kedua kaki pria tua itu sedang dipaksa memanjang dan mengeras menjadi batang tumbuhan yang kaku.
"Pak Mansur! Lakukan sesuatu! Minta pertolongan ke orang terdekat, Pak!" jerit Aryo, air matanya kembali tumpah, membasahi wajahnya yang sudah membengkak.
"Tidak bisa, Pak Aryo ... ini semua gara-gara Pak Aryo ...! Paru-paruku ... tersumbat daun ...."
Suara Pak Mansur mengecil, digantikan oleh suara muntahan yang pekat, diikuti bunyi dedaunan kering yang bergesekan di dalam tenggorokannya sebelum panggilan itu benar-benar mati total.
Aryo melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak seribu. Ia menjerit, menutup kedua telinganya rapat-rapat, lalu memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.
Rasa takut yang teramat sangat mengurung jiwanya. Ia merasa seperti seekor tikus yang terperangkap di dalam labirin gelap, sementara dari segala penjuru, akar-akar gaib Pring Sedapur terus merayap mendekat, mengencangkan jeratan mereka pada setiap orang yang pernah menyentuh hidupnya.
Ia sadar, setelah Hendra dan Pak Mansur, target berikutnya adalah dirinya sendiri.
Dalam puncak teror mentalnya, Aryo menoleh ke arah sudut ruangan. Di sana, Danu masih berdiri dengan tenang di dekat jendela yang berembun.
Detektif itu sedang membersihkan bilah pisau taktisnya menggunakan selembar tisu bersih, mengabaikan seluruh histeria yang baru saja terjadi. Wajah Danu yang tanpa ekspresi tampak seperti dinding batu yang tidak tertembus oleh emosi manusia.
Aryo merangkak mendekati kaki Danu, mencengkeram ujung mantel cokelat sang detektif dengan sisa-sisa tenaganya.
"Mas Danu ... demi Allah, tolong saya, Mas ... Hendra mati ... Pak Mansur juga mati ... mereka semua dibunuh oleh Sekar! Anda harus ke tempat mereka, Mas! Selamatkan mereka, atau gunakan alat-alatmu untuk menghentikan ini semua!"
Danu perlahan menurunkan pandangannya, menatap Aryo yang bersujud di bawah kakinya dengan sepasang mata hitam yang sedingin es. Tidak ada sedikit pun rasa iba atau urgensi di wajah sang investigator.
"Itu bukan urusan saya, Pak Aryo," ucap Danu datar, suaranya berat dan menekan. Ia menarik mantelnya perlahan dari cengkeraman tangan Aryo yang kotor.
"Tapi mereka mati karena membantu saya, Mas! Anda kan detektif supranatural! Saya bayar Anda dua kali lipat ... tiga kali lipat! Ambil semua uang di brankas saya!" teriak Aryo, suaranya melengking frustrasi, egonya sebagai orang kaya yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan uang kembali muncul di tengah ketakutan.
Danu terkekeh pendek, sebuah tawa kering yang terasa seperti tamparan bagi Aryo. Ia memasukkan pisaunya ke dalam sarung kulit di pinggangnya, lalu melipat tangannya di dada.
"Berapa kali saya harus bilang, Pak? Uang puluhan miliarmu itu tidak ada nilainya di depan hukum adat Alas Purwo," kata Danu tanpa ampun. "Tugas saya di sini hanya sebagai investigator—membedah kasus, melacak struktur kutukan, dan menunjukkan kepada Anda di mana letak kesalahan algoritma spiritual yang Anda buat. Saya bukan pahlawan yang disewa untuk membersihkan dosa-dosa perselingkuhan Anda, apalagi menyelamatkan orang-oramg yang ikut menikmati uang haram dari hasil merusak sumpah darah."
Danu melangkah maju, memaksa Aryo untuk mendongak menatapnya.
"Hukum Pring Sedapur itu adil secara supranatural. Rumpun bambu tidak akan membiarkan ada satu pun cabang yang ikut mendukung pengkhianatan tetap hidup. Orang-orang yang Anda sebutkan tadi—mereka semua adalah 'cabang' dari dosamu. Sekar sedang memangkas mereka agar energinya bisa fokus sepenuhnya pada 'batang utama'. Yaitu dirimu sendiri, dan janin gaib di rahim istri mudamu."
Aryo terenyak, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Kalimat Danu meruntuhkan seluruh sisa pertahanan mentalnya. Ia benar-benar sendirian sekarang.
Tidak ada teknologi kota, tidak ada pengawal, dan tidak ada detektif bayaran yang bisa menyembunyikannya dari kemarahan Sekar. Dinding rumah mewah ini terasa semakin menyempit, mengurungnya bersama ketakutan yang paling primitif.
"Lalu ... lalu apa yang harus saya lakukan, Mas Danu?" lirih Aryo, suaranya melemah, kehilangan seluruh keangkuhan seorang konglomerat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang mulai dipenuhi bintik-bintik merah kehitaman—tanda bahwa energi kutukan itu sudah mulai menguji lapisan kulitnya sendiri.
Danu berjalan menuju pintu kamar, lalu berhenti sejenak tanpa membalikkan badannya. "Hadapi malam ini dengan kewarasan yang tersisa, Pak Aryo. Jangan tutup matamu, dan jangan biarkan Maya lepas dari pandanganmu. Jika Anda tidak siap mental untuk menyerahkan kembali apa yang bukan hakmu kepada Sekar di Banyuwangi ... maka jeritan di rumah mewah ini akan menjadi suara terakhir yang didengar oleh seluruh garis keturunanmu di dunia."
Dengan kalimat penutup yang sedingin es itu, Danu melangkah keluar menuju ruang tengah, meninggalkan Aryo dalam kegelapan kamar yang kian pekat, ditemani oleh derit halus rumpun bambu gaib yang seolah-olah mulai tumbuh menembus sela-sela dinding beton rumah itu.
Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.
Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?
Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .