Rose tidak menyangka jika selama sepuluh tahun ia telah menikah dengan mahluk gaib dan memiliki anak dari pernikahan mereka.
Mungkinkah itu yang membuat Rose Akhirnya susah mendapatkan jodoh di dunia nyata???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Lab. IPA
"Kamu belum tidur Ros?" tanya Ibu
"Belum bu, kenapa?"
"Gak papa, tumben aja jam segini belum tidur,"
"Belum ngantuk Bu,"
Aku mengambil novel kesukaanku dan mulai membacanya sambil menunggu Sunny yang belum nampak batang hidungnya.
Berkali-kali ku lirik ponselku untuk melihat apakah ada pesan dari Sunny atau tidak. Walaupun baru satu jam aku menunggu rasanya sudah seperti satu tahun. Lama sekali, rasanya ingin aku menelponnya lebih dulu tapi tengsin.
Dalam hati aku bertanya-tanya, sebenarnya dia jadi datang atau aku yang hanya kegeeran dia akan datang. Memang Sunny tidak janji akan datang ke rumah, tapi kata-katanya di rumah makan siang itu, membuat aku berharap dia benar-benar datang menemui aku. Duh beginilah kalau sedang jatuh cinta rasanya tuh, selalu pengin selalu ketemu sama doi.
Rasa kantukku mulai menyerang, hembusan angin semilir menerpa wajahku begitu lembut. Ku rasakan kehadiran seseorang duduk di sebelahku dan memelukku mesra.
Samar-samar kulihat wajah itu tersenyum padaku, aku memang setengah sadar karena sudah ngantuk berat, tapi aku yakin dia Sunny.
"Jangan begitu nanti kalau Ibu lihat gimana?" tanyaku saat dia mulai mencium keningku hidung dan juga pipiku.
"Tidak akan, kalaupun ibumu bisa melihatku biarkan saja aku tidak peduli, aku begitu merindukan kamu," bisiknya di telingaku.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu kekarnya dan terlelap dalam dekapannya.
Malam yang indah berganti pagi yang cerah, secerah hatiku yang berbunga-bunga.
Kusambut pagi ini dengan senyum yang mengembang dan aku mulai membuka netraku perlahan.
"Selamat pagi Sun...." belum selesai aku berucap, aku sedikit kaget ketika mendapati diriku berada di kamar tidurku sendiri, padahal semalam aku tertidur di sofa ruang tamu di temani Sunny. Apakah dia yang memindahkan aku ke kamar, masa iya sih dia berani memindahkan aku kekamar?.
Pertanyaan itu sedikit menggangguku, apalagi kulihat pintu kamarku terkunci dari dalam, terus Sunny keluar dari mana dong. Mustahilkan dia menghilangkan dirinya sendiri setelah membawaku ke kamar, atau dia lompat dari jendela untuk menghilangkan jejak, ah masa bodoh dengan semua itu yang penting aku senang karena bisa bersama Sunny semalam.
"Mba Ros!" seorang gadis cantik menghampiriku, dia Arin adiknya Sunny.
"Ada apa Rin,"
"Mbak kata Mas Sun, hari ini tidak bisa pulang bareng Mbak, karena Mas ada kerjaan diluar kota, dan mungkin minggu baru pulang," ujarnya lugas
"Iya makasih Rin,"
"Satu lagi mbak, jangan telpon atau kirim pesan sama Mas Sun juga ya, karena percuma saja. Pasti gak bakalan dibalas," tambahnya lagi
"Iya, pasti Sunny sibuk banget ya disana sampai gak bisa pegang handphone,"
"Bukan gitu Mbak, handphonenya Mas Sun mati, kecemplung ke kolam semalam, makannya sebelum berangkat dia minta aku memberi tahu Mbak,"
"Oh iya, makasih ya infonya,"
"Sama-sama Mbak," Arin segera berlalu meninggalkan rumahku, sedangkan aku langsung melajukan motorku menuju ke sekolah.
Hari ini aku berangkat ke sekolah sendirian karena Aida sudah punya ojek pribadi yang selalu setia mengantar jemputnya setiap hari.
Sebenarnya aku iri banget sama Aida, aku juga pengen kali, ada yang nganter ke sekolah dan jemput saat pulang kerja, tapi semuanya belum bisa aku dapatkan. Aku hanya berharap setelah aku dan Sunny menikah dia yang akan mengantar jemput aku.
Kupecepat laju kendaraanku agar bisa segera tiba disekolah.
**Ciiit!!
Segera ku parkirkan sepeda motorku dan berlari menuju ke ruang guru. Aku terlambat lima menit hari ini, ku lihat wajah sangar Pak Gampang terlihat grang menyambut ku di pintu masuk ruang guru.
Entahlah walaupun ada senyuman yang dipaksakan keluar dari bibirnya, tapi aku bisa merasakan kalau dia sangat marah dan tatapannya yang tajam seperti mengisyaratkan bahwa ia ingin menelanku hidup-hidup.
Rasanya aku selalu ngeri dan merasa panas ketika bertemu lelaki itu. Aku tahu dia bukan orang biasa, aku bisa merasakan ada sesuatu yang membuatnya begitu berkharisma dan di segani oleh bawahannya.
Aura itu selalu bergesekan dengan kemampuan indera keenam ku yang baru saja ku miliki. Tentu saja hal ini membuatku selalu ingin menjauh dan tidak mau dekat-dekat dengan pria sangar itu.
"Pagi Bu Rosma?" sapa seorang lelaki muda begitu ramah
"Pagi pak,"
"Perkenalkan saya Gibran Adi Waluyo, saya Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, maaf baru sempat menyapa dan berkenalan karena dua hari kemarin saya ada pelatihan di luar kota," ucapnya ramah
"Saya Rosmayanti guru Fisika yang baru, mohon bimbingannya Pak," jawabku singkat
Aku lihat dia juga tidak mau bersalaman denganku, tapi dia hanya memberikan salam Namaste mungkin itu karena dia termasuk kategori pria yang menghindari bersentuhan langsung dengan wanita yang bukan mahramnya, aku bisa melihat dari penampilannya yang memakai celana cingkrang diatas mata kaki dan janggutnya yang dibiarkan dipenuhi jambang sebagai ungkapan kecintaannya terhadap Rosululloh SAW.
Aku hanya tersenyum dan segera berpamitan untuk mengajar ke kelas.
Hari ini jadwal mengajarku full sehingga hanya bisa beristirahat saat jam istirahat saja.
Pukul setengah dua siang selesai ngajar aku sempatkan untuk beristirahat sejenak sambil mengecek ponselku yang sedari pagi belum aku sentuh.
Senyumku mengembang ketika kulihat pesan masuk dari Sunny.
📨"Assalamualaikum Ros, ni aku Sunny."
📨"Waalaikum salam Sun, btw kamu sudah beli handphone baru ya?" tanyaku
📨"Alhamdulillah, aku dapat uang saku dari kantor dan langsung ku belikan handphone baru biar bisa kangen-kangenan sama kamu😊😊, kamu kangen ga sama aku?, 🤭🤭
📨"Kangenlah,😔🤭🤭,"
📨"😍😍😍,"
📨" Kamu sudah pulang Ros,"
📨"Belum, ni baru mau pulang,"
📨"Yaudah kamu pulang dulu, nanti kita sambung lagi dirumah,"
📨"Iya,"
📨" Titi DJ ya,"
📨"Iyups,"
📨"Jangan kangen ya....,"
📨"Iya aku gak kangen kok, cuma Rindu 😔,"
📨"😘😘😘,"
📨 "😍😍🥰🥰,"
Aku hanya senyum-senyum sendirian menatap layar ponselku hingga tidak sadar ada Pak Gibran di depanku.
"Eeh, maaf Pak. Sudah lama ya?" tanyaku gugup
"Gak kok belum lama, lanjutkan saja kalau penting, aku bisa lain kali saja," jawabnya membuatku tidak enak
"Ada apa Bapak menemui saya?"
"Oh iya, saya mau memberikan kunci laboratorium IPA sama Ibu, sekalian menunjukkan lokasinya karena mulai sekarang Ibu yang akan menjadi pengurus Laboratorium dan akan dibantu oleh Pak Hendro guru Biologi," lelaki itu mengajakku ke ruang Lab IPA yang ada di lantai dua.
Lagi-lagi kurasakan ada banyak energi negatif di ruangan ini, ku lihat sesosok wanita terlihat memandangiku dengan tatapan penuh kebencian, aku hanya menunduk sambil membaca ayat kursi. Aku tahu jika aku tidak mengusiknya mereka juga tidak akan menggangguku. Wanita itu terus memelototi aku kemanapun aku pergi.
"Kenapa Bu Ros, apa ada yang mengganggumu?" tanya Pak Gibran
"Ti ti dak, kok Pak." jawabku sedikit gugup
"Kok Ibu saya perhatikan dari tadi terus menunduk, katakan saja Bu, sebenarnya ada apa?, mungkin aku bisa membantu kamu," tanya Gibran membuatku hanya bisa tersenyum simpul padanya, aku tidak mungkin memberi tahukan kalau ada penampakan di ruangan ini.
rindu kok sama genderuwo