NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Seperti Bos Mafia Saja

Naomi tidak keluar dari kamar selama hampir dua puluh menit setelah melihat status pinjol itu.

Lunas.

Kata itu seharusnya membuat orang lega. Bagi Naomi, kata itu justru membuat dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit diberi nama. Lega, tentu saja. Takut, sedikit. Marah, mungkin. Malu, jelas.

Ia sudah menolak.

Kelvin tetap melakukannya.

Naomi membuka pintu kamar.

Kelvin berada di ruang tengah, duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan. Felix tidur di karpet, tapi begitu Naomi keluar, telinganya langsung bergerak.

Kelvin tidak menoleh dari layar. "Sudah lihat?"

Naomi berhenti di belakang sofa. "Kamu tahu saya akan lihat."

"Cepat atau lambat."

"Saya bilang jangan."

Kelvin menutup laptop, lalu meletakkannya di meja. "Kamu bilang jangan bayar di depanmu."

Naomi menatapnya tidak percaya. "Itu bukan celah kontrak."

"Aku tidak sedang main kontrak."

"Lalu apa?"

Kelvin berdiri. "Mereka mengancam kontak daruratmu."

"Itu urusan saya."

"Bukan kalau ancaman itu masuk wilayah ilegal."

Naomi membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu pinjol itu sering melewati batas. Pesan-pesan mereka menggunakan kalimat sopan, tapi ancamannya nyata. Nama teman, dosen, bahkan nomor lama Mama Rosa yang tidak pernah ia hapus dari kontak, semua bisa menjadi sasaran.

Kelvin melanjutkan, "Aku tidak membayar supaya kamu berutang padaku. Aku menghentikan orang-orang yang memakai rasa takutmu sebagai bunga tambahan."

Naomi menggenggam lengan bajunya. "Tapi utangnya tetap lunas karena uangmu."

"Iya."

"Kamu bicara seolah itu hal kecil."

"Karena bagi mereka, meneror orang juga hal kecil. Aku hanya membuatnya berhenti."

Naomi merasa ingin duduk. Tapi jika ia duduk, mungkin ia akan menangis, dan ia tidak mau menangis di depan Kelvin karena uang.

"Berapa?" tanyanya.

"Tidak penting."

"Penting untuk saya."

"Naomi."

"Berapa?"

Kelvin menatapnya beberapa detik. "Aku tidak akan menagih."

"Saya tidak tanya itu."

"Dan aku tidak akan menjawab."

Kemarahan Naomi naik, tapi anehnya tidak sampai meledak. Mungkin karena di balik semua itu ada fakta yang tidak bisa ia sangkal: sejak notifikasi lunas masuk, ponselnya sunyi. Tidak ada pesan ancaman. Tidak ada nomor asing. Tidak ada rasa takut kontak daruratnya akan dipermalukan.

Rasa aman itu membuatnya marah karena ia membutuhkannya.

"Kamu seperti bos mafia saja," katanya akhirnya.

Kelvin mengangkat alis.

"Datang, diam, semua masalah hilang, orang-orang takut. Kamu pikir itu normal?"

"Mafia biasanya lebih berisik."

"Kelvin."

"Aku bukan bos mafia."

"Mirip."

Sudut bibir Kelvin bergerak sedikit. "Kalau aku bos mafia, manajer minimarketmu sudah minta maaf sambil bawa bunga."

Naomi hampir tersenyum, lalu menahan. "Jangan bercanda."

"Aku serius. Tapi aku tidak suruh bawa bunga."

Felix bangun, berjalan di antara mereka, lalu duduk tepat di tengah seperti moderator yang lelah. Naomi menatap anjing itu.

"Felix, majikanmu menyebalkan."

Kelvin menatap Felix. "Dia bilang Mommy juga keras kepala."

"Jangan terjemahkan sesuka hati."

"Itu ekspresinya."

Felix menjilat tangan Naomi.

Kemarahan Naomi runtuh sedikit demi sedikit, bukan hilang, hanya melemah. Ia duduk di ujung sofa, memegang kepala Felix. Kelvin duduk di sisi lain, memberi jarak.

"Gaji minimarketmu ditransfer sore ini," kata Kelvin setelah beberapa saat.

Naomi menoleh. "Kamu telepon mereka?"

"Timku."

"Kamu punya tim untuk semua hal?"

"Hampir."

"Menakutkan."

"Berguna."

Naomi tidak bisa membantah.

Ponsel Kelvin berbunyi. Nama Danny muncul di layar. Kelvin mengangkat tanpa mengalihkan mata dari Naomi.

"Apa?"

Suara Danny terdengar cukup keras dari speaker karena Kelvin tidak repot menjauh. "Bro, lo barusan bikin owner minimarket kampus nelpon kenalan gue buat tanya apakah mereka menyinggung keluarga Hartono. Lo ngapain?"

Naomi membeku.

Kelvin menjawab datar. "Minta mereka bayar gaji orang."

"Dulu lo nggak peduli orang telat gaji atau nggak."

"Sekarang peduli."

Ada jeda pendek.

Danny tertawa. "Gila. Naomi benar-benar mengubah lo."

Naomi langsung menunduk.

Kelvin meliriknya. "Kamu terlalu banyak bicara."

"Gue ngomong fakta. Dulu kalau ada orang curhat soal kerja, lo bilang suruh resign. Sekarang lo telepon owner. Ini perkembangan karakter."

"Tutup."

"Sampaikan salam buat Nao."

Kelvin memutus panggilan.

Sunyi turun sebentar.

Seolah sengaja memilih waktu paling tepat, ponsel Naomi ikut bergetar.

Notifikasi bank muncul di layar.

Gaji minimarket minggu itu masuk penuh, termasuk lembur yang sempat beberapa kali ia kira tidak akan dihitung.

Naomi menatap nominalnya, lalu menatap Kelvin. "Ini juga kamu?"

"Mereka memang harus membayar."

"Tapi biasanya saya harus menagih berkali-kali."

"Sekarang tidak."

"Kamu mengancam mereka?"

Kelvin mengambil ponsel, membuka satu file, lalu menggeser layar ke arahnya. "Email resmi. Daftar jam kerja. Bukti perubahan jadwal mendadak. Tidak ada ancaman."

Naomi membaca beberapa baris, melihat nama toko, tanggal shift, dan bahasa formal yang sangat rapi. Rasanya aneh melihat hidupnya yang berantakan disusun menjadi poin-poin yang bisa dipertahankan.

"Kamu menyimpan semua itu?"

"Aku menyuruh orang menyimpannya."

"Tetap saja."

"Kalau orang kecil selalu diminta sabar, minimal dokumennya harus rapi."

Naomi terdiam.

Kalimat itu lebih membuat dadanya sesak daripada kalau Kelvin sekadar berkata ia kasihan.

Naomi masih menatap kepala Felix. Telinganya panas, tapi bukan karena malu saja. Kalimat Danny berputar di kepalanya.

Naomi benar-benar mengubah lo.

Tidak mungkin.

Ini hanya dua bulan. Kelvin hanya sedang menjalankan peran. Hanya karena ia bertanggung jawab terhadap pacar palsunya, bukan berarti ia berubah karena Naomi.

Namun Kelvin baru saja menyelesaikan pinjolnya tanpa nama, mengurus gaji minimarketnya, dan duduk di seberang tanpa meminta tepuk tangan.

"Jangan dengarkan Danny," kata Kelvin.

Naomi mengusap Felix lebih pelan. "Kenapa?"

"Dia dramatis."

"Tapi kamu memang berubah?"

Pertanyaan itu keluar terlalu pelan. Naomi sendiri hampir berharap Kelvin tidak mendengar.

Kelvin mendengar.

Ia menatap Naomi, cukup lama sampai Naomi menyesal bertanya.

"Mungkin aku cuma sedang belajar mengurus pacar kontrak yang merepotkan."

"Saya merepotkan?"

"Sangat."

Naomi menatapnya tajam, tapi kali ini ia benar-benar tersenyum sedikit.

Senyum itu membuat Kelvin diam sesaat.

Naomi ingin bertanya kenapa.

Kenapa membayar pinjolnya. Kenapa mengurus gajinya. Kenapa peduli pada ancaman yang bahkan ia coba sembunyikan. Kenapa melihatnya seperti ia bukan beban.

Pertanyaan itu sudah sampai di ujung lidah.

Yang keluar justru, "Terima kasih."

Kelvin bersandar di sofa, matanya masih padanya.

"Tidak perlu."

Naomi menunduk. "Tetap saja. Terima kasih."

Kelvin menatap wajahnya yang setengah tertutup rambut, lalu senyum samar muncul di bibirnya.

"Kalau mau berterima kasih," katanya pelan, "pakai cara lain."

Tangan Naomi yang berada di kepala Felix berhenti.

Ia mengangkat wajah.

Kelvin tidak menjelaskan.

Justru karena tidak menjelaskan, jantung Naomi kembali membuat kesalahan yang sama: berdebar seolah semua ini sungguhan.

Dan ia takut menyukainya.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!