NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Reuni SMA

Kalimat itu seharusnya selesai di Dufan.

Karena aku mau.

Nyatanya, dua hari setelah roller coaster, kalimat itu masih muncul ketika Yu sedang menyikat gigi, membuka laptop, bahkan saat ia membaca pesan di grup alumni SMA Petra Jakarta.

Reuni kecil Sabtu malam.

Lokasi: private room lantai dua sebuah restoran Italia di SCBD.

Dress code: smart casual.

Daftar hadir yang dikirim ketua angkatan membuat Yu ingin langsung menekan tombol mute.

Ling Meilin.

Nama itu duduk di layar seperti noda yang tidak bisa dihapus. Yu menatapnya lama, lalu meletakkan ponsel di atas meja makan seolah benda itu baru saja menggigit.

"Kamu mau membakar ponsel itu?" tanya Zhen dari sisi dapur.

Yu menoleh. Zhen sedang menuang air ke gelas Burger. Ia tidak melihat layar, tetapi seperti biasa, ia melihat wajah Yu.

"Reuni SMA," kata Yu.

"Kedengarannya kriminal."

"Hampir."

Zhen menaruh botol air. "Kevin?"

"Belum lihat namanya." Yu mengambil ponsel lagi, memastikan. "Tidak ada. Tapi Meilin ada."

Zhen diam sebentar. Nama itu tidak perlu penjelasan. Ia tahu cukup banyak tentang perempuan yang ada di apartemen Kevin malam itu.

"Kamu tidak harus datang."

"Aku tahu."

"Kalau datang karena ingin membuktikan sesuatu pada mereka, pikir lagi."

Yu menatap layar. Di foto profil grup, semua orang tersenyum memakai seragam putih abu-abu lama. Yu mengenali dirinya di pojok belakang, pipi lebih bulat, rambut dikuncir rendah, senyum kaku karena waktu itu ia sedang menahan suara tawa dari barisan depan.

Dulu ia selalu memilih pojok.

Bukan karena rendah hati.

Karena kalau berdiri di tengah, komentar orang lebih mudah mendarat.

"Aku tidak mau seumur hidup menghindari ruangan hanya karena ada dia," kata Yu.

Zhen menatapnya. "Kalau begitu datang."

"Sederhana sekali."

"Memang."

"Kalau aku panik?"

"Kirim pesan."

"Kalau aku ingin pulang?"

"Pulang."

"Kalau aku ingin menyiram seseorang?"

Zhen berhenti setengah detik. "Tergantung orangnya."

Yu hampir tertawa. Hampir.

Sebelum berangkat malam itu, Lily menelepon lewat WhatsApp. Wajahnya muncul memenuhi layar, rambut masih dijepit asal, ekspresinya lebih siap perang daripada Yu sendiri.

"Gue ulangi, ya," kata Lily. "Lo datang bukan buat minta izin disukai. Lo datang karena lo alumni juga."

"Aku tahu."

"Kalau Meilin mulai manis-manis busuk, jangan ditelan."

"Aku bukan kamu, Lil. Aku tidak bisa langsung menggigit orang."

"Ya sudah, minimal jangan pura-pura ketawa kalau dia jahat."

Yu menatap dirinya di cermin. Dress hitam sederhana, blazer krem, rambut digerai setengah. Tidak berlebihan. Tidak terlalu berusaha. Justru karena itu ia terlihat seperti dirinya sendiri.

Lily menyipitkan mata dari layar. "Lo cantik."

Yu memalingkan wajah. "Jangan mulai."

"Gue serius."

"Aku juga serius. Jangan bikin aku batal karena malu."

"Aneh banget dipuji sama sahabat sendiri bisa malu. Dihina orang malah dulu lo diam."

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang Lily kira.

Yu menutup bedak, lalu berkata pelan, "Malam ini aku coba tidak diam."

Zhen mengantar Yu sampai SCBD. Di dalam mobil, jalanan Sabtu malam penuh lampu, kaca gedung memantulkan garis merah dari lampu rem. Yu duduk dengan tas kecil di pangkuan, jari-jarinya meremas tali tas.

Zhen tidak menyalakan musik.

"Aku bisa turun sendiri," kata Yu ketika mobil masuk area parkir.

"Aku tahu."

"Kamu tidak perlu naik."

"Aku belum bilang mau naik."

Yu meliriknya.

Zhen memarkir mobil, melepas seatbelt, lalu memandang lurus ke depan. "Aku akan duduk di area luar. Kalau kamu butuh, kirim pesan. Kalau kamu tidak butuh, aku minum kopi."

"Kamu bawa laptop?"

"Di bagasi."

"Tentu saja."

Zhen menoleh. "Ini bukan pengawasan."

Yu tahu. Justru karena tahu, dadanya terasa lebih lunak.

"Aku cuma tidak suka kamu sendirian di ruangan yang sengaja membuatmu merasa kecil," lanjutnya.

Jari Yu berhenti meremas tali tas.

Kalimat itu hampir terlalu tepat. Tidak manis seperti pujian. Tidak lembut seperti rayuan. Tetapi tiba-tiba semua kursi plastik, lorong SMA, tawa di belakang punggung, dan foto lama di grup terasa kurang berkuasa.

"Aku akan masuk," kata Yu.

"Masuk."

"Kalau aku mengirim pesan kosong?"

"Aku naik."

"Kalau aku menulis titik?"

"Aku naik lebih cepat."

Yu menggigit bibir supaya tidak tersenyum terlalu jelas. "Kamu aneh."

"Kamu baru sadar?"

Yu turun dari mobil sebelum wajahnya makin panas.

Private room restoran itu sudah setengah penuh ketika Yu masuk. Meja panjang disusun membentuk huruf U. Di tengah ada karangan kecil bunga putih, piring antipasti, gelas-gelas bening, dan beberapa botol red wine yang mulai dibuka. Tawa lama memenuhi ruangan, tawa orang yang dulu mungkin pernah saling menyontek PR, saling pinjam pulpen, lalu tiba-tiba menjadi dewasa dengan jam tangan mahal dan kartu nama.

"Yu?"

Seorang perempuan berkacamata menoleh dari dekat pintu. "Ya ampun, Chua Yulin?"

Yu mengenali Siska, dulu sekretaris kelas. "Hai, Sis."

"Aku hampir nggak kenal. Kamu berubah banget."

Kalimat pertama masih aman. Yu tersenyum. "Kamu juga. Rambutmu pendek sekarang."

"Iya, bosan. Masuk, masuk. Duduk di sini aja."

Beberapa orang lain menoleh. Ada yang menyapa hangat, ada yang memandang dari kepala sampai kaki dengan cara yang membuat Yu kembali merasa seragam putihnya terlalu ketat. Ia duduk di sisi dekat jendela, memilih posisi yang masih bisa melihat pintu.

Siska menuangkan air untuknya. "Kamu sekarang di UI, ya? Fasilkom?"

"Iya."

"Gila, keren. Dulu kamu memang diam-diam pinter."

"Diam-diam karena kalau berisik dimarahin Pak Chua."

Beberapa orang tertawa. Nama Papa membuat suasana lebih ringan. Papa Chua dulu Waka Kesiswaan, tegas sampai murid yang tidak satu angkatan pun tahu cara jalannya di koridor.

"Pak Chua masih galak?" tanya seseorang.

"Masih konsisten," jawab Yu.

Mereka tertawa lagi.

Untuk beberapa menit, Yu hampir percaya malam ini bisa baik-baik saja.

Lalu pintu terbuka.

Ling Meilin masuk dengan gaun champagne yang berkilau halus di bawah lampu. Rambutnya jatuh rapi di bahu, senyumnya manis, dan matanya langsung menemukan Yu seolah sejak awal ia memang mencari titik itu.

"Yulin?"

Satu kata. Dua suku. Meilin mengucapkannya seperti sedang membuka kotak lama di depan orang banyak.

Yu meletakkan gelas airnya. "Meilin."

"Aduh, aku sampai pangling." Meilin berjalan mendekat, membawa aroma parfum bunga yang terlalu kuat. "Kamu kurusan sekali sekarang."

Beberapa orang yang baru saja ngobrol mendadak lebih pelan.

Yu tersenyum tipis. "Halo juga."

Meilin tertawa kecil. "Aku serius. Dulu pipimu kan tembam banget. Imut, sih. Kayak bakpao."

Ada tawa kecil dari ujung meja. Cepat. Gugup. Lalu hilang.

Tulang belakang Yu menegang.

Dulu kata itu sering terdengar di kantin.

Bakpao.

Chubby Chua.

Si empuk.

Nama-nama yang dibungkus tawa supaya tidak terlihat seperti pisau.

"Kita sudah lama tidak ketemu," kata Yu. "Banyak hal berubah."

"Iya, kelihatan." Meilin duduk di seberang, sengaja memilih kursi yang membuat semua orang bisa melihat mereka. "Aku senang, lho. Kamu jadi lebih percaya diri. Dulu setiap foto kelas pasti sembunyi di belakang."

Siska cepat-cepat menyela, "Eh, ngomong-ngomong siapa tadi yang mau pesan pasta tambahan?"

Tidak ada yang menjawab.

Meilin tetap tersenyum. "Kenapa, sih? Kita kan lagi nostalgia. Masa nggak boleh bahas masa SMA?"

Yu mengambil napas.

Tadi ia berjanji pada Lily tidak akan pura-pura tertawa.

Jadi ia tidak tertawa.

"Boleh," katanya. "Asal nostalgia, bukan mempermalukan orang."

Alis Meilin naik sedikit. "Kok langsung serius? Aku cuma bilang kamu dulu imut."

"Kamu menyebut tubuhku untuk membuat orang tertawa."

Ruangan turun satu derajat.

Seorang laki-laki di ujung meja berdeham. "Udah, udah, kita santai aja. Lama nggak ketemu."

Meilin menaruh tas kecilnya di meja, lalu memiringkan kepala dengan wajah terluka. "Yu, kamu masih sensitif banget. Dari dulu begitu. Orang bercanda sedikit, kamu langsung merasa diserang."

Kata dari dulu membuat sendok di tangan Yu terasa dingin.

Meilin tidak berhenti.

"Mungkin karena dulu kamu memang sering jadi bahan bercanda, ya. Tapi itu kan bukan salah siapa-siapa. Kamu juga lucu waktu marah."

Yu mendengar suara tawa lain. Kali ini bukan keras, tetapi cukup untuk membuat kulit di tengkuknya panas.

Ia melihat ponselnya di atas meja. Zhen ada di lantai bawah. Satu pesan kosong, pria itu akan naik.

Tetapi jika sekarang ia memanggil Zhen, ruangan ini akan kembali menyimpulkan hal yang sama.

Yu tidak bisa melawan sendiri.

Yu perlu diselamatkan.

Yu yang dulu mungkin akan diam sampai malam selesai, pulang, lalu menangis di kamar mandi.

Yu yang sekarang mengangkat wajah.

"Aku dulu gemuk," katanya.

Kali ini tidak ada yang tertawa.

"Pipiku tembam. Bajuku kadang sempit. Aku sering berdiri di belakang karena takut foto itu dipakai untuk bercanda. Semua itu benar."

Meilin berkedip. Senyumnya bergeser sedikit karena Yu tidak mengikuti irama yang ia siapkan.

Yu melanjutkan, suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas.

"Yang tidak benar adalah kalian merasa itu memberi hak untuk menertawakanku."

Siska menunduk. Laki-laki di ujung meja berhenti memainkan garpu. Beberapa orang saling melirik.

Meilin tertawa pendek. "Aduh, Yu. Kamu ngomong seolah aku bully kamu. Jangan lebay, deh. Kalau kamu memang sudah berdamai dengan diri sendiri, harusnya komentar kecil begini nggak bikin kamu tersinggung."

Yu menatapnya. "Komentar kecil?"

"Iya. Toh sekarang kamu sudah bagus. Harusnya terima kasih, dong, masa lalu bikin kamu diet."

Kalimat itu jatuh di tengah meja seperti gelas pecah.

Yu melihat wajah-wajah di sekelilingnya. Ada yang terkejut. Ada yang tidak nyaman. Ada yang pura-pura membaca menu. Tidak ada yang langsung menghentikan Meilin.

Dulu juga begitu.

Mereka tidak selalu ikut menusuk.

Mereka hanya menonton pisau itu masuk.

Meilin mengambil gelas red wine di depannya. "Aku cuma kagum, kok. Patah hati sama Kevin ternyata efeknya luar biasa. Kamu jadi kurus, jadi modis. Kadang diselingkuhi memang ada manfaatnya, ya?"

Jari Yu berhenti di bibir gelasnya sendiri.

Nama Kevin membuka pintu yang lain. Apartemen malam itu. Bubur ayam dingin. Meilin di ruang tamu Kevin dengan piyama yang bukan miliknya. Suara Kevin berkata, ini tidak seperti yang kamu lihat.

Dan sekarang perempuan itu duduk di depannya, memakai nada manis untuk menjadikan luka sebagai hiburan meja.

"Meilin," kata Siska pelan. "Udah."

"Apa? Aku salah ngomong?" Meilin membuka mata lebar-lebar. "Yu, aku nggak bermaksud. Kok kamu mukanya begitu? Jangan-jangan kamu masih sakit hati sama aku?"

Yu berdiri.

Kursinya bergeser pelan di lantai.

Semua suara berhenti.

Meilin mendongak. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum manisnya retak. "Kenapa?"

Yu mengambil gelas red wine dari meja.

Siska menarik napas. "Yu."

Yu tidak melihat Siska. Ia melihat Meilin.

"Kamu benar," kata Yu. "Aku memang masih sensitif."

Meilin baru sempat membuka mulut.

Isi gelas itu menyiram wajahnya.

Red wine mengalir dari rambut rapi Meilin ke pipi, dagu, leher, lalu menodai gaun champagne-nya dengan warna merah tua. Setetes jatuh ke kalungnya. Setetes lagi ke pangkuan.

Ruangan meledak.

"Ya ampun!"

"Yu!"

"Meilin, tisu, tisu!"

Meilin berdiri begitu cepat kursinya hampir jatuh. "Kamu gila?!"

Yu meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja. Tangannya gemetar, tetapi suaranya tidak.

"Itu cuma cairan kecil," katanya. "Kok kamu sensitif banget?"

Wajah Meilin memucat di balik noda merah. Matanya melebar, basah bukan karena sedih, melainkan marah yang kehilangan tempat bersembunyi.

"Kamu mempermalukan aku di depan semua orang!"

Yu menatapnya tanpa berkedip. "Sekarang kamu tahu rasanya."

Seseorang bergerak mendekati Yu, mungkin ingin menahan lengannya, mungkin ingin melerai. Tubuh Yu otomatis menegang ketika bayangan tangan itu masuk terlalu dekat.

Sebelum kulit siapa pun menyentuhnya, suara dingin terdengar dari pintu.

"Jangan sentuh dia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!