Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Pukul tujuh lewat dua puluh menit, Lo Hafeng menerima pesan pertama dari asisten barunya.
Tentu saja, menurut Hafeng, kalimat itu seharusnya dibalik. Dialah yang dipaksa menjadi asisten, dan Lim Meiran adalah penyebab seluruh pagi terasa lebih buruk daripada macet Jakarta.
Pesan itu singkat.
`Kantin timur. Americano dingin, tanpa gula. Lima menit.`
Hafeng menatap layar ponselnya lama.
Chiko yang duduk di sampingnya di bangku taman langsung melongok. "Instruksi pertama?"
"Diam."
"Americano tanpa gula. Klasik. Tidak terlalu kejam."
Hafeng memasukkan ponsel ke saku. "Aku tidak akan pergi."
Chiko melihat jam. "Empat menit lima puluh detik."
"Aku bilang tidak."
Empat menit kemudian, Hafeng berdiri di depan konter kantin timur dengan wajah seperti hendak membeli racun.
Barista mahasiswa yang mengenalinya berkedip dua kali. "Pesan apa?"
"Americano dingin. Tanpa gula."
"Untuk Kak Hafeng?"
Hafeng menatapnya.
Barista itu langsung menunduk. "Oke, tanpa nama."
Saat Hafeng kembali ke taman, Meiran sudah duduk di bawah pohon ketapang, membuka tablet dan membaca jurnal. Ia memakai kemeja putih sederhana dengan rok hitam, rambutnya diikat rendah. Di sampingnya ada tas kulit dan map besar berisi panel presentasi.
Tidak ada ekspresi menang berlebihan.
Justru itu yang membuat Hafeng lebih kesal.
Ia meletakkan kopi di meja batu.
"Lima menit tiga puluh detik," kata Meiran tanpa mengangkat wajah.
"Macet di kantin."
"Kampus ini tidak punya lampu merah di antara kantin dan taman."
Chiko yang mengikuti dari jauh langsung batuk menahan tawa.
Hafeng menoleh. "Kamu tidak ada kelas?"
"Ada," jawab Chiko. "Tapi sejarah sedang terjadi."
Meiran akhirnya mengangkat wajah. "Instruksi kedua."
Hafeng menegang. "Kamu tidak bilang ada instruksi kedua."
"Perjanjian tidak membatasi jumlah instruksi per hari."
Ia menunjuk tas dan map di sampingnya.
"Bawa ini ke studio tiga."
Wajah Hafeng berubah lebih gelap. "Aku bukan porter."
"Benar. Kamu asisten pribadi. Porter biasanya dibayar."
Chiko menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Hafeng menatap Meiran seolah sedang mempertimbangkan berapa tahun hukuman jika ia membalik meja batu itu.
Meiran mendorong gelas kopi sedikit ke arahnya. "Kamu bisa menolak. Tapi aku akan mengirim foto tanda tanganmu ke grup angkatan dengan caption: Lo Hafeng melanggar perjanjian di hari pertama."
"Kamu licik."
"Aku rapi."
Beberapa mahasiswa yang lewat mulai memperlambat langkah. Kabar bahwa bulan asisten pribadi dimulai hari ini rupanya sudah menyebar. Meiran melihat ponsel-ponsel yang pura-pura tidak merekam, lalu sengaja menutup tabletnya.
"Tenang. Aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang mempermalukan keluargamu. Hanya hal-hal kecil yang membuatmu ingat bahwa kamu kalah."
"Itu justru mempermalukan."
"Bagus. Berarti instruksinya bekerja."
Hafeng mengambil tas dan map itu.
Tas Meiran tidak terlalu berat. Mapnya yang besar lebih merepotkan karena mudah tertekuk. Hafeng memegangnya dengan terlalu hati-hati untuk seseorang yang mengaku tidak peduli.
Meiran melihat itu.
Catatan kedua: dia membenci perintahnya, tetapi tetap menjaga barang yang dipercayakan kepadanya.
**【Sistem Predator】Interaksi berulang hari pertama dimulai. Target menunjukkan kepatuhan eksternal dan resistensi verbal.**
Nilai Cinta: -58.
Meiran nyaris tersenyum.
Turun dari -60 menjadi -58 bukan lompatan besar, tetapi angka merah itu bergerak ke arah yang benar.
Di depan tangga studio, Soe Wanyu muncul membawa buku gambar. Ia berhenti ketika melihat Hafeng membawa tas dan map Meiran.
"Ko Hafeng," panggilnya, tampak terkejut. "Kamu... benar-benar membawakan barang Meiran?"
Hafeng langsung menjawab, "Taruhan."
Satu kata. Kering. Tidak memberi ruang untuk simpati.
Wanyu melihat Meiran. "Meiran, bukankah ini agak berlebihan? Kamu tahu Ko Hafeng tidak terbiasa diperlakukan seperti ini."
Meiran mengambil kopi dari meja kecil dekat pintu, menyesapnya, lalu berkata, "Dia juga tidak terbiasa kalah. Semua pengalaman pertama memang canggung."
Beberapa mahasiswa tertawa pelan.
Wanyu menunduk, seolah disakiti. "Aku cuma khawatir kalian makin dibicarakan."
"Terima kasih. Tapi mulai hari ini, kalau ada yang ingin membicarakan kami, setidaknya mereka punya materi baru selain skandal lama."
Meiran mengambil tas dari tangan Hafeng, tetapi membiarkan map tetap dipegangnya.
"Instruksi ketiga. Masuk, letakkan map itu di meja paling depan, lalu tunggu aku selesai mencetak materi."
Hafeng menatapnya. "Kamu menikmati ini."
"Sedikit."
Studio tiga langsung sunyi ketika Hafeng masuk membawa map besar Meiran. Beberapa mahasiswa yang sedang menata meja berhenti bergerak. Seseorang berbisik, "Dia beneran nurut."
Hafeng meletakkan map itu di meja paling depan dengan hati-hati, lalu berdiri di samping printer seperti penjaga yang kehilangan kerajaan.
Meiran menghubungkan tablet ke printer. Mesin itu mengeluarkan bunyi kasar, lalu berhenti setelah dua lembar.
`Paper jam.`
Meiran menatap layar kecil printer, kemudian menatap Hafeng.
Hafeng langsung tahu apa yang akan terjadi. "Tidak."
"Aku belum bicara."
"Wajahmu sudah bicara."
"Bagus. Berarti kamu mulai memahami instruksiku tanpa perlu kalimat panjang."
Chiko yang entah sejak kapan berdiri di pintu studio langsung tertawa.
Dengan wajah gelap, Hafeng membuka bagian belakang printer. Jari-jarinya menarik kertas yang tersangkut tanpa merobeknya. Gerakannya rapi, sabar, terlalu kompeten untuk tugas sesepele itu.
Meiran menerima tumpukan materi yang akhirnya keluar lancar.
"Terima kasih."
Hafeng membeku sesaat, seolah tidak siap menerima ucapan itu.
Reaksi kecil itu membuat Meiran mencatat hal lain: perintah membuatnya marah, tetapi penghargaan sederhana membuatnya kehilangan ritme.
"Perempuan jahat."
Untuk pertama kalinya, sebutan itu tidak membuat Meiran ingin mundur.
Ia malah tersenyum.
"Terima kasih. Hari pertama baru mulai."