Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Perhatian Diam-diam
Hari berikutnya, Senja memaksakan diri menyelesaikan koreografi bagian akhir.
Ko Jefri sudah memperingatkan sejak awal latihan. "Kalau napasmu tidak stabil, berhenti."
"Aku stabil, Ko."
Lara yang duduk di lantai sambil mengikat sepatu langsung mendengus. "Kalimat favorit orang yang sebentar lagi tumbang."
Senja melempar handuk kecil ke arahnya. Lara menangkapnya, lalu mengembalikan dengan wajah seolah tidak pernah bertengkar beberapa hari lalu. Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih, tetapi ada hal-hal yang kembali pada tempatnya dengan pelan. Salah satunya cara Lara memarahi Senja tanpa membuatnya merasa sendirian.
Musik dimulai.
Bagian akhir koreografi itu menuntut Senja bergerak dari posisi rendah, berputar setengah lingkaran, lalu menahan tangan di udara seolah menarik cahaya dari atas. Gerakannya tidak terlalu sulit jika tubuhnya penuh tenaga. Tetapi tubuhnya hari itu terasa seperti kain yang diperas terlalu sering.
Satu putaran.
Masih aman.
Putaran kedua.
Pandangan mulai berbayang.
Senja mendengar suara Ko Jefri dari depan. "Cukup."
Dia seharusnya berhenti.
Namun musik tinggal delapan hitungan. Hanya delapan. Dalam kepala penari, delapan hitungan sering terasa lebih penting daripada napas sendiri.
Dia melanjutkan.
Tiga.
Empat.
Lantai kayu di bawah kakinya tiba-tiba terasa miring.
"Senja!"
Suara Lara datang dari jauh.
Tubuh Senja kehilangan keseimbangan tepat saat pintu sanggar terbuka.
Seseorang menangkap lengannya sebelum dia jatuh.
Pegangan itu kuat. Bukan Lara. Bukan Ko Jefri.
Aroma kayu cendana yang samar membuat Senja membuka mata.
Rayhan.
Pria itu berdiri di sampingnya, satu tangan memegang lengan bawahnya, tangan lain menahan bahunya agar tidak ambruk. Jasnya tampak terlalu formal untuk ruang latihan yang berbau keringat dan damar lantai.
Wajahnya dingin.
Tetapi rahangnya mengeras.
"Kamu bilang kamu stabil?" tanyanya.
Senja bahkan tidak sempat bertanya kenapa dia ada di sana.
"Aku tidak apa-apa."
"Kalimat itu dilarang mulai hari ini."
Lara yang sudah berlari mendekat langsung berkata, "Saya setuju."
Ko Jefri mengambil kursi. "Duduk."
Rayhan hampir mengangkat Senja, tetapi Senja cepat menahan lengannya.
"Aku bisa jalan."
"Kamu hampir mencium lantai."
"Rayhan."
"Duduk."
Kali ini, Senja tidak punya tenaga untuk membantah. Dia duduk di kursi dekat cermin. Rayhan melepas jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi lain, lalu menggulung lengan kemeja.
Semua penari lain pura-pura sibuk, tetapi jelas memperhatikan.
Lara menyodorkan air. "Minum pelan."
Ko Jefri berjongkok di depan Senja, memeriksa warna wajahnya. "Pusing?"
"Sedikit."
"Sudah makan kotak dari rumah?"
Senja diam.
Tiga pasang mata langsung menatapnya.
"Belum sempat," katanya lirih.
Rayhan menutup mata sebentar. "Pak Hadi bilang kotak makan sudah diberikan."
"Aku mau makan setelah latihan."
"Latihanmu hampir membuatmu jatuh sebelum 'setelah' itu datang."
Lara mengangkat tangan. "Sebagai saksi, saya mendukung kalimat menyebalkan itu."
Senja ingin protes, tapi kepalanya masih ringan.
Rayhan mengambil ponsel. "Pak Hadi, bawa kotak makan ke dalam."
"Jangan," kata Senja cepat. "Aku bisa makan di mobil."
"Kamu makan di sini."
"Semua orang melihat."
Rayhan menatap sekeliling. Para penari yang ketahuan menguping langsung memalingkan wajah.
"Mereka sudah melihatmu hampir jatuh. Melihatmu makan bukan skandal."
Ko Jefri berdiri. "Studio istirahat lima belas menit."
Lara menyeringai kecil. "Terima kasih, Ko."
Pak Hadi masuk beberapa menit kemudian dengan kotak makan dan termos air hangat. Napasnya sedikit terburu. "Nyonya."
Senja merasa ingin menghilang ketika Rayhan membuka kotak itu sendiri. Di dalamnya ada nasi lembek, ayam suwir jahe, sayur bening, dan potongan pepaya. Makanan yang jelas disiapkan sesuai catatan Tante Lian.
Rayhan menyerahkan sendok kepadanya.
"Makan."
Senja menerima sendok. "Aku tidak anak kecil."
"Anak kecil biasanya lebih patuh kalau disuruh makan."
Lara batuk untuk menahan tawa.
Senja menatapnya tajam. Lara langsung pura-pura melihat cermin.
Meski malu, Senja mulai makan. Suapan pertama terasa hangat dan membuat perutnya sadar bahwa sejak pagi ia hanya minum ramuan dan menggigit dua potong roti. Tubuhnya yang keras kepala perlahan berhenti bergetar.
Rayhan berdiri di dekatnya, tidak duduk, seperti penjaga yang terlalu mahal untuk sebuah kotak makan.
Ko Jefri menghampirinya. "Pak Wijaya, saya akan kurangi porsi latihan Senja sementara."
"Bagus."
"Tapi jangan larang dia menari."
Senja mengangkat wajah.
Rayhan menatap Ko Jefri. "Saya tidak pernah bilang akan melarang."
"Banyak keluarga kaya bilang begitu sebelum benar-benar melarang."
Ruangan menjadi hening.
Lara menatap Ko Jefri seolah ingin bertepuk tangan tetapi takut.
Rayhan tidak marah. Setidaknya tidak terlihat. "Kalau dia ingin menari, dia menari. Tapi dia makan dulu."
Ko Jefri menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. "Itu bisa dinegosiasikan."
"Itu tidak dinegosiasikan."
Senja hampir tersedak pepaya.
Lara akhirnya tertawa kecil.
Ketegangan di ruangan turun sedikit.
Setelah Senja menghabiskan setengah kotak makan, warna wajahnya membaik. Rayhan memeriksa jam.
"Pulang."
"Latihanku belum selesai."
"Selesai untuk hari ini," kata Ko Jefri sebelum Rayhan bicara.
Senja menatap gurunya dengan pengkhianatan di mata.
Ko Jefri tidak terpengaruh. "Penari yang baik tahu kapan berhenti."
"Kalian semua bersekongkol."
Lara mengangkat tangan. "Demi kesehatanmu, iya."
Rayhan mengambil jasnya. "Mobil di depan."
Senja berdiri perlahan. Kali ini dia tidak menolak ketika Rayhan mengulurkan tangan, meski dia hanya menyentuh ujung jarinya untuk menjaga keseimbangan.
Sentuhan itu pendek.
Namun cukup untuk membuat Senja sadar bahwa tangan Rayhan hangat.
Di depan sanggar, sebelum masuk mobil, Senja akhirnya bertanya, "Kenapa kamu datang?"
Rayhan membuka pintu mobil. "Pak Hadi bilang kamu belum menyentuh kotak makan."
"Jadi kamu datang hanya karena aku belum makan?"
"Aku ada rapat dekat sini."
Pak Hadi yang berdiri di belakang Rayhan menunduk sangat cepat.
Senja melihat gerakan itu.
Dia tidak tahu apakah Rayhan benar-benar punya rapat dekat sana. Mungkin iya. Mungkin tidak.
Tetapi saat dia masuk ke mobil, kotak makan hangat di pangkuannya dan jas Rayhan masih menyimpan sedikit aroma kayu cendana di udara, Senja memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Rayhan duduk di sampingnya, jarak di antara mereka tetap ada, tetapi tidak selebar biasanya. Dia mengambil botol kecil dari kompartemen tengah dan menyerahkannya.
"Minum."
Senja membaca labelnya. Air elektrolit tanpa gula berlebih. "Kamu menyiapkan ini juga?"
"Pak Hadi."
Pak Hadi yang duduk di depan sama sekali tidak menoleh.
Senja membuka tutup botol. "Semua selalu Pak Hadi."
"Karena dia efisien."
"Dan kamu?"
Rayhan menatapnya.
Senja menyesal sudah bertanya, tetapi pertanyaan itu sudah keluar.
Rayhan tidak menjawab langsung. Setelah mobil berjalan beberapa meter, baru dia berkata, "Aku tidak suka datang terlambat saat sesuatu bisa dicegah."
Itu bukan jawaban romantis.
Namun bagi Senja, yang baru saja hampir jatuh dan ditangkap tepat waktu, kalimat itu membuat botol di tangannya terasa sedikit lebih hangat.
Di luar jendela, Ko Jefri dan Lara berdiri di pintu sanggar, mengawasi mobil itu pergi.
Lara melipat tangan di dada. "Dia menyebalkan."
Ko Jefri mengangguk. "Tapi dia datang."
Lara tidak bisa membantah.