Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003
Mendekati
Kali ini aku yang akan datang kepadamu lebih dulu.
Kalimat itu terus berputar di kepala Sekar sepanjang dua jam pelajaran pertama. Di papan tulis, angka-angka matematika berbaris rapi. Bu Wati menjelaskan materi dengan suara tegas. Yola sesekali menyikutnya karena Sekar menatap buku terlalu lama tanpa benar-benar menulis apa pun.
"Lo hari ini aneh banget," bisik Yola.
Sekar baru sadar ujung pulpennya berhenti di satu titik sampai tinta melebar seperti noda kecil.
"Maaf."
"Jangan minta maaf ke gue. Minta maaf sama buku lo. Itu udah lo tusuk dari tadi."
Sekar menunduk. Di sudut halaman, tanpa sadar ia menulis satu nama.
Kevin.
Ia cepat-cepat menutupnya dengan telapak tangan.
Yola melihat gerakan itu. Matanya menyipit. "Oke. Jadi benar karena anak rambut biru itu?"
Sekar tidak menjawab.
Yola menarik napas panjang, lalu berbisik lebih pelan. "Sekar, gue tahu lo bukan tipe yang gampang suka cowok cuma karena muka. Tapi Kevin itu beda. Dia sering berantem, sering dipanggil guru, dan setengah sekolah takut sama dia. Kalau lo cuma penasaran, jangan."
Sekar menatap papan tulis. Kapur putih meninggalkan debu tipis di ujung jari Bu Wati.
"Aku bukan cuma penasaran."
"Terus?"
Sekar menutup buku perlahan ketika bel istirahat berbunyi. Suara kursi bergeser memenuhi kelas. Anak-anak langsung berhamburan ke kantin.
"Aku mau kenalan."
Yola menatapnya seolah ia baru mengumumkan ingin pindah ke planet lain.
"Sekar."
"Iya?"
"Lo sadar dia tadi pagi bahkan nggak senyum?"
"Sadar."
"Dan itu nggak bikin lo mundur?"
Sekar mengambil dompet kecil dari tasnya. Di kehidupan sebelumnya, ia mundur terlalu sering. Ia menunduk saat harus menatap, diam saat harus bicara, takut saat harus meminta tolong. Semua itu berakhir dengan tubuhnya jatuh dari gedung dan Kevin menyusulnya ke kematian.
Tidak lagi.
"Nggak."
Yola membuka mulut, menutupnya lagi, lalu akhirnya berdiri. "Gue ikut."
"Nggak usah."
"Justru harus. Kalau dia nyakitin lo, minimal ada saksi."
Sekar ingin tertawa, tapi dadanya terlalu hangat. Ia membiarkan Yola berjalan di sampingnya sampai kantin.
Jam istirahat selalu membuat kantin SMA mereka seperti pasar kecil. Suara sendok beradu dengan piring, bau nasi goreng dan ayam kecap bercampur dengan es teh manis, murid-murid berebut kursi sambil tertawa keras. Namun ada satu sudut dekat jendela belakang yang lebih sepi dari bagian lain.
Kevin duduk di sana.
Ia tidak sendiri. Di depannya ada seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah cerah dan ekspresi paling santai di dunia. Laki-laki itu sedang mengaduk mi ayam sambil bicara tanpa henti, sementara Kevin hanya bersandar di kursi, satu kaki diselonjorkan, mata setengah menatap halaman belakang.
Bryan Tanuwijaya.
Sekar mengenalinya dari kehidupan sebelumnya. Saudara angkat Kevin. Orang yang selalu berdiri di samping Kevin bahkan saat seluruh dunia meninggalkannya. Orang yang kelak menangis di rumah sakit karena Kevin memakai tubuhnya sendiri untuk melindunginya dari kecelakaan.
Melihat Bryan hidup, sehat, dan masih bisa bicara begitu banyak membuat tenggorokan Sekar kembali sesak.
"Itu Bryan," bisik Yola. "Temannya Kevin. Sama-sama rusuh, tapi Bryan lebih banyak omong."
"Aku tahu."
Yola menoleh cepat. "Lo tahu dari mana?"
Sekar pura-pura tidak mendengar. Ia menuju etalase kantin dan membeli dua roti isi cokelat serta dua susu kotak. Tangannya sempat gemetar saat menerima kembalian, tetapi kali ini ia tidak mundur.
Ketika Sekar berjalan ke arah meja Kevin, beberapa siswa di sekitar kantin langsung melambat. Bisikan bergerak seperti angin.
"Itu Sekar, kan?"
"Ngapain dia ke meja Kevin?"
"Jangan-jangan mau negur karena tadi Kevin telat?"
"Gila, berani banget."
Kevin menyadari perubahan suasana sebelum Sekar sampai di hadapannya. Ia mengangkat mata. Tatapannya dingin, waspada, dan sedikit tidak sabar.
Bryan berhenti mengaduk mi.
"Bro," katanya pelan, tapi cukup terdengar, "ada bidadari nyasar."
Kevin tidak tertawa. "Diam."
Sekar berhenti di sisi meja. Jarak mereka tidak sampai satu meter. Dari dekat, ia bisa melihat noda kecil di ujung manset Kevin, goresan tipis di buku jarinya, dan anting perak yang bergerak saat ia memiringkan kepala.
Jantung Sekar berdetak begitu keras sampai ia takut semua orang mendengarnya.
Namun suaranya keluar lebih tenang dari yang ia kira.
"Kamu Kevin, kan?"
Kevin menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, bukan dengan cara tidak sopan, melainkan seperti sedang menilai apakah ia membawa masalah.
"Kalau iya?"
Yola yang berdiri dua langkah di belakang Sekar langsung menarik napas.
Bryan menyeringai. "Galak amat, Bro. Cewek nanya nama, bukan nagih utang."
Kevin mengabaikannya.
Sekar meletakkan satu roti dan satu susu kotak di atas meja Kevin. Satu set lagi ia taruh di depan Bryan.
"Aku Sekar. Kelas sebelah."
Bryan langsung duduk lebih tegak. "Oh, jadi ini Sekar. Anak ranking atas itu?"
Sekar tersenyum tipis. "Halo, Bryan."
Bryan hampir tersedak.
Kevin juga berhenti bergerak.
Beberapa detik berlalu. Suasana di meja itu berubah. Kevin menatapnya lebih tajam.
"Lo kenal dia?" tanya Kevin.
Sekar sadar ia melakukan kesalahan kecil. Di kehidupan ini, ia seharusnya belum tahu nama Bryan. Namun ia tidak panik. Ia menunjuk ke kartu nama OSIS kecil yang tergantung di lanyard Bryan, kartu yang menampilkan nama lengkap untuk panitia acara awal semester.
"Tertulis di situ."
Bryan menunduk melihat dadanya sendiri. "Oh. Pantes."
Kevin tidak langsung percaya. Matanya tetap pada Sekar.
"Ada urusan apa?"
"Mau kenalan," jawab Sekar.
Jawaban itu terlalu sederhana untuk semua bisikan di kantin. Bryan menutup mulut dengan punggung tangan, jelas menahan tawa. Yola di belakangnya berbisik, "Ya Tuhan, dia beneran."
Kevin menatap roti dan susu di meja.
"Gue nggak minta."
"Aku tahu."
"Terus kenapa dikasih?"
"Karena kamu belum makan."
Bryan mengangkat alis. "Wah. Perhatian."
"Bryan," Kevin memperingatkan.
"Iya, iya, gue makan aja bagian gue." Bryan langsung mengambil roti yang di depannya, lalu bergumam, "Kalau perhatian begini tiap hari, gue rela jadi saksi."
Kevin tidak menyentuh roti itu. Ia hanya menatap Sekar, seolah gadis di depannya adalah soal ujian yang tidak masuk akal.
"Lo salah orang," katanya. "Kalau mau main drama anak baik nyelamatin anak nakal, cari yang lain."
Kantin mendadak lebih sunyi bagi Sekar. Kalimat itu tajam, tapi tidak menyakitinya. Ia tahu Kevin sedang membuat pagar. Dulu pagar itu berhasil menjauhkan semua orang.
Hari ini, Sekar berdiri tepat di depannya.
"Aku nggak mau menyelamatkan kamu," katanya.
Kevin menyipit.
Sekar menarik napas pelan. "Aku cuma mau kenal kamu."
Untuk pertama kalinya, wajah Kevin kehilangan jawaban selama satu detik.
Satu detik itu cukup bagi Sekar.
Ia mendorong susu kotak sedikit lebih dekat. "Kalau nggak mau, buang aja. Tapi jangan kasih Bryan. Dia sudah dapat satu."
Bryan yang sedang menggigit roti langsung menunjuk dirinya sendiri. "Loh, kenapa gue dibawa-bawa?"
Sekar berbalik sebelum keberaniannya habis. Ia melewati Yola yang masih mematung, lalu berjalan keluar dari kantin dengan punggung tegak. Baru setelah sampai di koridor sepi dekat tangga, napasnya pecah.
Yola mengejarnya.
"Sekar Ayu Raganari."
Sekar berhenti.
"Lo baru saja ngasih roti ke Kevin Senja Halim di depan setengah kantin."
"Aku tahu."
"Dan lo bilang cuma mau kenal dia."
"Iya."
Yola memijat pelipis. "Gue butuh es teh."
Sekar akhirnya tertawa kecil.
Tawanya belum selesai ketika suara langkah terdengar dari arah kantin. Sekar menoleh. Kevin keluar lebih dulu, tas hitam sudah tersampir di bahu. Bryan berjalan di sampingnya sambil masih mengunyah roti.
Roti yang diberikan Sekar untuk Bryan sudah hampir habis.
Roti yang diberikan untuk Kevin tidak terlihat.
Namun susu kotak itu ada di tangan Kevin.
Belum dibuka.
Hanya dipegang.
Kevin melewati mereka tanpa berhenti. Sekar juga tidak memanggil. Ia hanya menatap susu kotak di tangan Kevin, lalu menatap wajahnya.
Saat jarak mereka tinggal selangkah, Sekar berkata pelan, "Sampai ketemu lagi, Kevin."
Langkah Kevin berhenti.
Yola membeku. Bryan perlahan menurunkan roti dari mulutnya.
Kevin menoleh. Kali ini tatapannya tidak sesingkat tadi pagi. Ia melihat Sekar lama, seolah baru menyadari bahwa gadis ini bukan sekadar siswi kelas sebelah yang aneh.
"Lo selalu begini?" tanyanya.
"Begini bagaimana?"
"Datang ke orang yang nggak lo kenal."
Sekar menahan senyum yang hampir muncul.
"Nggak," jawabnya. "Cuma ke kamu."
Bryan tersedak roti.
Kevin tidak langsung pergi. Matanya masih tertahan pada Sekar, dinginnya belum hilang, tapi ada sesuatu yang berubah di sana. Bukan lagi sekadar bingung. Bukan lagi sekadar waspada.
Untuk pertama kalinya di kehidupan ini, Kevin benar-benar melihatnya.