Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua tujuh
"Tampannya pria ini." gumam Diana.
Adi yang merasa sedang diperhatikan membuka sedikit matanya mengintip apa yang dilakukan Diana.
Melihat Diana yang menatapnya begitu dekat membuat Adi merasa canggung dan dia pura-pura batuk
"Uhuk... uhuk..."
Diana kaget dan segera menjauh dari muka pria yang tidak dikenalnya.
Kriuk kriuk kriuk, bunyi perut Diana.
Adi yang mendengar suara aneh dari perutnya tersenyum kecil.
"Ah dasar perut ini, tidak mau kompromi ...
Apa boleh ya aku lihat-lihat rumahnya siapa tahu ada yang bisa dimakan." gumam Diana.
Adi yang dari tadi sudah bangun, pura-pura tidur sambil mengintip tingkah laku Diana...
Diana yang tidak sadar jika pria yang menolongnya pura-pura tidur dan memperhatikan gerak geriknya.
'Ayo lihat apa yang akan dilakukan perempuan ini." pikir Adi.
'Wah rumah ini lumayan bagus, besar dan indah kalah rumah papa kayaknya... Kayaknya itu dapur deh, kesana saja deh siapa tahu ada makanan."
Diana berjalan ke dapur dan melihat ada kulkas kemudian Diana membukanya.
Ceklek....
"Ah dasar orang kaya pelit, masa kulkasnya cuma isi bahan mentah doang nggak ada yang bisa dimakan langsung. Ini lagi telur buat apa coba."
Diana terlihat berpikir dan perutnya yang tidak bisa diajak kompromi lagi membuat dia tidak bisa berpikir jernih dan terpaksa mengambil telur.
"Ini lumayanlah dari pada kelaparan." Pikir Diana.
Diana mengambil beberapa buah telur dan mangkok untuk tempatnya..
"Ini gimana ngupasnya ya, aduh kenapa bodoh begini ya, sial sekali aku tidak pernah dengar omongan bibi buat bantu dia masak. Sekarang lihat aku yang repot buka telur saja nggak tahu caranya."
Diana yang kebingungan tidak tau cara buka telur apalagi memasaknya semakin kebingungan, dan Adi sepertinya menikmati kelucuan tersebut. Diam-diam Adi sudah berdiri dekat dinding dapur memperhatikan tingkah Diana.
"Aku penasaran akan diapakan telurnya." gumam Adi.
Dan plak..
Terlihat Diana memukul telur yang ada ditangannya dengan penggilingan roti.
"Hahahahaha." Adi tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohan Diana.
Diana yang merasa ditertawakan terlihat kesal sambil mencuci tangannya yang berlumuran telur.
"Dasar gadis bodoh."
"Huh siapa yang bodoh, seenaknya saja ngomong." sungut Diana.
"Ya kamu gadis bodoh, siapa lagi emang ada wanita lain disini selain kamu he."
"Dasar orang aneh." umpat Diana.
"Apa kau bilang, kau bilang aku aneh?"
"Pikir saja sendiri."
"Untung sekarang aku lagi baik, kalau tidak sudah ku makan kamu hidup-hidup."
Glek, Diana menelan air liurnya takut...
"Sini telurnya biar aku saja, bisa berantakan dapurku karena ulahmu. Minggir sana."
Usir Adi pada Diana.
Diana yang merasa diusir bergegas menggeser badannya untuk pindah, dia masih merasa takut akan kata-kata Adi memakannya hidup-hidup.
Diana hanya memperhatikan tangan-tangan Adi begitu lincah memainkan pisau dan bahan-bahan masak yang ada didapur. Tak butuh waktu lama sudah tercium aroma yang membuat Diana tambah lapar.
Tanpa sadar Diana mencium aroma sambil menutup matanya meresapi harumnya aroma makanan. Adi yang melihat itu tersenyum sinis pada Diana.
"Ini makan cepat sebelum kebaikan ku hilang." bentak Adi
"Baik."
Diana segera mengambil makanan dan mulai memakannya. Suap pertama Diana tertegun.
"Kenapa berhenti ayo teruskan makannya."
"Ini enak sekali, sungguh ini enak sekali. Anda tidak makan pak?"
"Tidak makanlah, jika kau masih lapar silahkan ambil punyaku."
"Boleh?"
"Silahkan."
Dengan cepat Diana mengambil piring didepan Adi dan memasukkan ke mulutnya...
"Enak. Sekarang aman." Diana mengelus-elus perutnya yang sudah kenyang dan mulai meminum airnya.
Adi terlihat hanya meminum air dingin yang diambilnya dari kulkas.
"Siapa namamu?"
"Diana pak."
"O, tinggalmu?"
"Aku dari kota M sama papa dan bibi jadi menginap di sebuah penginapan tapi aku tidak tahu nama penginapannya." Ucap Diana menunduk lesu.
"Terus papa dan bibimu mana?"
"Mungkin mereka sedang mencariku sekarang, aku bodoh malah meninggalkan telepon genggamku."
"Emang dasar bodoh."
"Apa maksud anda pak mengatakan aku bodoh dari tadi?"
"Hah jadi kamu tidak merasa bodoh? Dasar gadis aneh. Hei dengar aku memberikan tumpangan tidak gratis ya, kau harus bayar sewa menginap disini. Dengar itu. Sekarang aku mau tidur capek. Kau silahkan pakai kamar yang ada di lantai satu dan ingat jangan coba-coba naik ke lantai dua." Ucap Adi kasar.
"Baik pak." jawab Diana dengan cepat.
Adi berlalu pergi menuju kelantai dua, tinggal Diana sendirian yang masih bingung pakai apa dia bayar penginapan dirumah yang bagus ini, harus berapa dia membayarnya.
Diana menyadari dia tak punya uang sepeserpun.
"Sial, aku benar-benar miskin." umpat Diana kesal.
Sementara itu Beni yang mulai kelelahan mencari Diana akhirnya memutuskan kembali ke penginapan.
"Bi.. bibi.." Beni memanggil bi Senum keluar dari kamar.
"Ya pak, eh non Diana mana pak?"
"Bi, saya tidak menemukan anak itu. Dia hilang entah kemana saya sudah mencari kesana kemari dan sudah dibantu sama yang lain ikut mencari namun hasilnya nihil."
"Oh bapak, Non dimana kamu non sekarang sudah malam... Apa non baik-baik saja."
"Bi, besok pagi temani saya ke kantor polisi, kita akan melaporkan atas kehilangan Diana."
"Baik pak."
"Oh ya satu lagi, saya rasa kita tidak jadi kembali ke kota M besok. Kita baru kembali setelah Diana ditemukan."
"Baik pak."
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏