Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Mengubah Segalanya
Ibuku pun akhirnya tak sanggup lagi menahan kepedihannya. Air matanya mengalir deras, lalu ia memelukku erat-erat seolah tak ingin melepaskannya, sambil berbisik dengan suara yang terguncang: “Maafkan Ibu, Nak… Ayah sedang sakit parah dan butuh biaya pengobatan yang sangat besar. Tapi jangan bersedih, ya. Ibu akan berusaha sekuat tenaga, mencari ke mana saja, demi mendapatkan uang untuk operasinya. Jadi putri kesayangan Ibu, tetaplah kuat bersamaku.”
Aku hanya bisa terdiam, pikiranku kacau balau, bingung tak tahu harus mulai dari mana. Aku mengangguk perlahan, lalu menjawab dengan suara lirih nyaris tak terdengar: “Baik, Bu…”
Setelah mengucapkannya, ibu segera mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kasar karena bekerja, berusaha menyeka semua tanda kesedihan itu agar terlihat tegar di mataku. Ia mengajakku kembali ke ruangan ayah, tapi aku menolak pelan — bilang ingin mencuci wajah di lantai bawah saja, semoga hatiku terasa sedikit lebih lega. Ibu pun mengizinkan dan berjalan mendahuluiku masuk.
Aku duduk termenung sebentar di lorong, lalu berdiri dan melangkah turun. Tanpa sadar, kakiku terus bergerak hingga akhirnya aku sudah berada di luar gedung rumah sakit. Pandanganku kosong, pikiranku melayang entah ke mana, seolah terlepas dari tubuhku sendiri. Hampir saja aku menabrak semak bunga di pinggir jalan, barulah aku tersadar dan menghentikan langkah.
Melihat sebuah bangku kosong di dekatnya, aku segera duduk dan menatap lurus ke seberang jalan. Di hadapanku terbentang pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang megah, dan di antaranya satu bangunan terlihat paling mencolok — paling tinggi, paling berkilau, bertuliskan besar: Hotel Mewah.
Sambil menatapnya, hatiku bergumam pelan: “Walaupun aku masih muda, aku mengerti betul situasinya. Aku tak tahu persis seberapa banyak dua ratus juta itu, tapi aku yakin itu jumlah yang sangat besar, nyaris mustahil didapatkan oleh orang seperti kami. Bagaimana caranya? Apa yang harus kulakukan? Rasanya bingung dan tak berdaya sekali…”
Aku duduk cukup lama di situ, membiarkan angin pagi yang sejuk menerpa wajahku yang masih basah oleh air mata yang tak sempat jatuh. Hingga seorang perawat yang lewat hendak membeli makanan melihatku sendirian. Ia menghampiri dengan senyum lembut: “Dik, kenapa duduk sendirian di sini? Anginnya cukup dingin, nanti malah masuk angin.”
Aku menoleh perlahan, lalu menjawab sopan: “Tidak apa-apa, Sus. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Segera aku berdiri dan berjalan kembali masuk ke dalam. Sesampainya di depan ruangan rawat, aku mengintip sebentar — melihat ayah sedang berbicara pelan dengan ibu dan adikku. Aku hanya berdiri di ambang pintu, menatap mereka dalam diam, hati terasa campur aduk: sedih, takut, dan bingung tak tahu kapan beban ini akan berakhir.
Namun ayahku, meski tubuhnya lemah, hatinya tetap peka. Ia langsung merasakan ada yang berbeda, lalu memanggil dengan suara lembut namun tetap hangat: “Nak, kemarilah. Mengapa wajahmu terlihat begitu murung?”
Seketika aku tersadar, cepat-cepat mengusap sisa basah di pipi, lalu menghampiri dan memaksakan senyum tipis yang tak sampai ke mata: “Tidak ada apa-apa, Ayah… cuma merasa sedikit lelah saja.”
Ayah tersenyum lemah, mengangguk pelan seolah mengerti. “Kalau begitu, istirahatlah. Hari sudah larut, nanti sakit juga tubuhmu.”
“Baik, Ayah,” jawabku lirih. Aku lalu membawa adikku tidur di samping tempat tidur, membentangkan tikar tipis yang kami bawa dari rumah, dan menyandarkan kepalanya pada guling kecil yang sudah mulai pipih. Tak lama kemudian, napas adikku teratur — ia pun terlelap.
Keesokan paginya, tepat saat jam menunjukkan pukul enam lewat sedikit, aku sudah kembali duduk di bangku yang sama. Tatapanku kembali kosong memandang gedung-gedung tinggi di seberang sana. Sudah hari keenam begini, dan tak ada perubahan berarti. Ibu terus berkeliling dari rumah ke rumah, dari tetangga ke kenalan, memohon bantuan, tapi hasilnya tetap sama — kosong. Di depan ayah, ia selalu memaksakan senyum, menyembunyikan lelah dan air matanya agar ayah tak merasa terbebani. Hanya saat berdua denganku, barulah ia melepaskan semuanya. Hanya kami berdua yang tahu betapa berat beban ini dipikul sendirian.
Saat aku menghela napas panjang dan hendak berdiri untuk masuk kembali, tiba-tiba suasana terasa berbeda. Tanpa suara berisik, sesosok pria berhenti tepat di hadapanku.
Ia tinggi menjulang sekitar seratus sembilan puluh dua sentimeter, tubuhnya tegap dan kokoh — bahunya lebar, tubuhnya padat namun tetap ramping dan luwes. Meski mengenakan kemeja putih rapi, terlihat jelas bahu dan lengannya terbentuk kuat, bukan hasil kerja keras kasar tapi ketegasan alami.
Wajahnya… sungguh jarang aku melihat orang setampan itu. Garis rahangnya tegas dan jelas, kulitnya putih bersih dan halus, memancarkan kilau sehat seperti porselen yang dipoles. Alisnya tebal dan rapi, berwarna cokelat keemasan, membingkai sepasang mata yang luar biasa — besar, tajam namun terasa lembut, berwarna biru bening seperti es yang jernih, menatap seolah bisa melihat langsung ke dalam hatimu. Hidungnya lurus dan mancung, bibirnya bentuknya indah, berwarna merah muda alami, tenang namun menyimpan wibawa yang sulit dijelaskan. Rambutnya berwarna pirang keemasan, bergelombang halus dan sedikit berantakan secara alami — justru membuatnya terlihat santai namun tetap berkarisma luar biasa. Sekilas pandang, ia terlihat seperti orang dari dunia lain, jauh melampaui kehidupan biasa yang kukenal.
“Siapakah dia?” gumamku dalam hati. “Apakah orang penting? Mengapa berhenti tepat di depanku? Apa yang dicarinya?”
Belum sempat pikiranku melayang lebih jauh, terdengar suaranya — berat, tenang, namun tetap sopan dan terasa dalam: “Selamat pagi. Bolehkah saya meminta sedikit waktumu?”
Aku terkejut, jantungku berdegup lebih kencang. Aku menjawab dengan nada sopan namun bingung: “Eh… selamat pagi, Tuan. Maaf, ada keperluan apa menemui saya?”
Ia menjawab singkat dan jelas, tak bertele-tele: “Langsung saja. Saya ingin mengajakmu menyetujui sebuah kesepakatan. Mari ikut saya sebentar saja, tempatnya aman.”
Sebuah kesepakatan?
Aku berhenti sejenak, pikiranku langsung bekerja waspada. “Ia terlihat sopan dan berwibawa, tapi tetap orang asing. Bagaimana jika ini jebakan? Bagaimana jika ia berniat jahat?” Namun di sisi lain, aku menguatkan hatiku: “Aku bukan gadis yang mudah ditipu. Aku cukup cermat menilai orang. Kalau ada hal yang mencurigakan, aku tahu kapan harus mundur.” Tetap waspada, tapi tak langsung menolak buta.
Di dalam ruangan itu, ayahku kini menginjak usia empat puluh tahun. Wajahnya yang dulu gagah, tampan, dan penuh semangat bekerja kini sudah dipenuhi jejak perjuangan hidup bertahun-tahun. Badannya menyusut sangat kurus, tulang bahu dan pipinya terlihat menonjol jelas — dimakan sakit dan kelelahan membanting tulang demi sesuap nasi. Kulit sawo matangnya kini pucat, kering, dengan kerutan halus terukir di dahi dan sudut matanya, saksi bisu beban pikiran yang tak pernah berhenti.
Matanya yang dulu bersinar penuh harapan kini terlihat sayu, sering terpejam menahan rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Namun di balik kelemahannya itu, tatapannya tetap lembut dan hangat setiap kali melihat istri dan anak-anaknya. Rambutnya mulai bercampur uban, tubuhnya yang dulu tegap dan kokoh kini terbaring lemah, tak sanggup berdiri lama. Meski begitu, hatinya tetap mulia — ia selalu berusaha menarik senyum tipis, seolah ingin berkata: “Aku masih kuat, jangan khawatirkan aku.”