NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Gua Salju Abadi

​Langkah kaki Aura Zephyra bergema di sepanjang koridor bawah tanah Istana Serigala Es. Tempat ini jauh lebih sepi dan gelap dibandingkan dengan bagian atas kastil. Di sini, dinding-dinding batu tidak lagi dilapisi oleh sihir pelindung yang rapi, melainkan oleh lapisan es alami yang tebal dan memancarkan pendar biru pucat. Semakin jauh ia melangkah, udara yang dihirupnya terasa semakin tajam, membakar tenggorokannya dengan rasa dingin yang menusuk.

​Di depannya, Kaelen Vane berjalan dengan langkah tenang. Jubah hitamnya menyapu lantai es, meninggalkan jejak-jejak tipis yang langsung tertutup kembali oleh uap dingin. Mereka berdua berjalan dalam keheningan, ditemani oleh desau angin bawah tanah yang terdengar seperti rintihan makhluk purba.

​"Kita sudah sampai." Kaelen berhenti di depan sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari bongkahan kristal es hitam murni.

​Gerbang itu tidak memiliki engsel ataupun gagang pintu. Di permukaannya, terukir formasi sihir kuno berbentuk serigala raksasa yang sedang mencengkeram matahari. Dari celah-celah gerbang tersebut, mengalir kabut putih yang sangat padat. Begitu kabut itu menyentuh lantai, batu-batu di sekitarnya langsung retak karena suhu yang anjlok drastis.

​"Ini adalah Gerbang Gua Salju Abadi." Kaelen berbalik, menatap Aura dengan sepasang mata merah delimanya yang berkilat serius. "Ingat, di dalam sana, waktu berjalan dengan cara yang berbeda, Aura. Satu tahun di dalam gua ini setara dengan satu bulan di dunia luar karena kepadatan energi magis yang ekstrem. Namun, tekanannya juga 12 kali lebih besar. Jika mentalmu goyah bahkan untuk sedetik saja, es di dalam sana akan membekukan jiwamu menjadi patung abadi."

​Aura menatap gerbang kristal hitam itu. Alih-alih merasa takut, inti sihir di dalam dadanya justru bergetar hebat. Sihir es kuno yang bersemayam di dalam tubuh remajanya seolah-olah berteriak, menuntut untuk dilepaskan ke dalam habitat aslinya.

​"Satu tahun di dalam, satu bulan di luar ...." Aura bergumam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Itu artinya, ketika aku keluar dari sini, di dunia luar baru berlalu satu bulan sejak pernikahan kita. Gavin masih akan sibuk meratapi kemarahannya di ibu kota, sementara aku sudah selangkah lebih maju darinya."

​Kaelen menatap gadis di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa kagum yang samar, namun juga ada secercah kekhawatiran yang jarang ia rasakan untuk orang lain.

Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Aura yang terasa dingin. "Kau masih seorang gadis remaja, Aura. Di ibu kota, gadis seusiamu sedang sibuk memilih gaun untuk pesta dansa atau merajut sapu tangan untuk kekasih mereka. Apa kau benar-benar tidak akan menyesal memilih jalan yang penuh dengan darah dan es ini?"

​Aura memejamkan matanya sejenak, menikmati kehangatan dari telapak tangan Kaelen yang kontras dengan udara di sekitar mereka. Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya sedalam lautan malam.

​"Gadis remaja yang menyukai pesta dansa itu sudah mati di atas altar yang terbakar, Kaelen," jawab Aura dengan suara yang jernih namun sarat akan kepedihan masa lalu.

"Aura yang berdiri di hadapanmu saat ini adalah seorang penyintas yang merangkak kembali dari neraka. Kedamaian masa remajaku telah direnggut paksa oleh Gavin. Dan satu-satunya cara bagiku untuk bisa tidur dengan tenang adalah dengan memastikan bahwa pria itu merasakan rasa sakit yang sepuluh kali lebih hebat dari apa yang kurasakan."

​Kaelen menarik kembali tangannya, rahangnya mengeras mendengar keteguhan Aura. "Baiklah. Jika itu adalah pilihanmu, maka sebagai suamimu, aku akan membukakan jalan ini untukmu."

​Kaelen melangkah maju ke depan gerbang kristal hitam. Ia menggigit ujung ibu jarinya hingga darah segar berwarna merah pekat menetes. Pria itu kemudian menempelkan telapak tangannya yang berdarah tepat di tengah-tengah formasi sihir serigala raksasa.

​Dummm!

​Suara dengungan berat bergetar di dalam tanah. Formasi sihir di gerbang itu perlahan menyala dengan cahaya merah darah, berpadu dengan pendar biru es dari kristal hitam. Perlahan tapi pasti, gerbang raksasa itu bergeser ke samping, terbuka dengan suara decitan es yang memekakkan telinga.

​Seketika, badai angin salju yang sangat pekat melesat keluar dari dalam gua, menghantam tubuh mereka berdua. Jubah bulu serigala yang dikenakan Aura berkibar hebat. Tekanan magis yang keluar dari dalam gua begitu kuat hingga membuat lutut Aura sempat lemas, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak.

​Di dalam gua, tidak ada jalan setapak. Yang ada hanyalah hamparan jurang es dan pilar-pilar kristal raksasa yang menjulang tinggi ke langit-langit gua yang tak terlihat ujungnya. Di tengah-tengah gua, terdapat sebuah platform batu hitam yang dikelilingi oleh pusaran angin salju yang membentuk pusaran badai kecil.

​"Platform di tengah itu adalah tempat terbaik untuk berkultivasi," Kaelen menunjuk ke arah pusaran badai. "Tetapi itu juga tempat dengan tekanan terdahsyat. Jangan memaksakan dirimu langsung ke sana jika tubuhmu belum beradaptasi. Mengerti?"

​Aura mengangguk. Ia melepaskan jubah bulu serigala hitam pemberian Kaelen dan melipatnya dengan rapi di dekat pintu masuk. Kini, ia hanya mengenakan pakaian kultivasi tipis berwarna putih yang pas di tubuhnya, memudahkan pergerakan energinya.

​"Kaelen," Aura menoleh sebelum melangkah masuk. "Selama aku di dalam, tolong jaga ayahku dan Klan Zephyra. Gavin adalah ular yang licik. Setelah kehilangan diriku, dia mungkin akan mencoba menekan klanku melalui jalur politik di ibu kota."

​"Jangan khawatir," Kaelen menatap Aura dengan pandangan yang dalam. "Klan Zephyra sekarang berada di bawah perlindungan panji Serigala Es Utara. Siapa pun yang berani menyentuh mereka, sama saja dengan menyatakan perang terbuka denganku. Fokuslah pada latihanmu, istriku."

​Mendengar kata 'istriku' yang diucapkan dengan nada tegas dan protektif oleh Kaelen, jantung Aura berdesir aneh. Ia memberikan satu anggukan mantap, lalu berbalik dan melangkah mantap menembus gerbang kristal hitam, memasuki dunia es abadi.

​Di belakangnya, gerbang raksasa itu perlahan menutup kembali dengan suara berdentum, mengunci Aura di dalam kesunyian dan dingin yang mutlak.

​Rasa dingin yang sesungguhnya baru terasa saat gerbang itu tertutup sepenuhnya.

​Aura merasakan seolah-olah ada ribuan jarum es yang menusuk kulitnya secara bersamaan. Setiap kali ia menarik napas, paru-parunya terasa seperti membeku, membuatnya terbatuk-batuk kecil. Udara di dalam gua ini tidak hanya dingin secara fisik, tetapi juga dipenuhi oleh energi Abyss—energi murni yang sangat padat dan liar yang menolak keberadaan makhluk hidup.

​"Jangan menyerah, Aura. Ini baru permulaan." Aura berbisik pada dirinya sendiri, suaranya langsung hilang ditelan deru angin gua.

​Ia tidak langsung berjalan menuju platform tengah seperti yang disarankan Kaelen. Sebaliknya, ia duduk bersila di dekat pintu masuk, di atas lantai es yang keras. Ia memejamkan mata dan mulai memfokuskan pikirannya pada inti sihir di dalam dadanya.

​Di dalam kesadarannya, inti sihir angin klannya yang berwarna biru muda kini telah diselimuti oleh lapisan kristal biru tua yang pekat—perwujudan dari sihir es kuno. Dua energi ini awalnya saling bertolak belakang; angin bersifat bebas dan bergerak, sementara es bersifat statis dan mengunci. Namun, di bawah bimbingan Kaelen sebelumnya, Aura tahu bahwa kunci dari kekuatannya adalah menggunakan angin untuk menggerakkan es, menciptakan badai salju yang mematikan.

​Aura mulai mengalirkan energi sihirnya keluar dari inti, mengarahkannya ke seluruh pembuluh sihir di tubuhnya. Seketika, rasa sakit yang membakar—atau lebih tepatnya, rasa sakit yang membekukan—membuat tubuh remajanya bergetar hebat. Keringat dingin yang keluar dari dahinya langsung berubah menjadi butiran es kecil sebelum sempat menetes di pipinya.

​Waktu mulai kehilangan maknanya di dalam kegelapan gua.

​Hari demi hari, yang tampaknya berjalan seperti minggu, Aura habiskan hanya untuk menyesuaikan diri dengan tekanan udara. Kulitnya yang semula seputih porselen kini tampak memancarkan pendar keperakan yang samar, sebuah tanda bahwa tubuh fisiknya perlahan-lahan mulai berasimilasi dengan elemen es murni.

​Setelah apa yang terasa seperti tiga bulan berlalu di dalam gua, Aura akhirnya membuka matanya. Sepasang mata birunya kini berkilat dengan kecemerlangan yang berbeda. Rasa dingin yang semula menusuk tulang kini terasa seperti pelukan yang akrab.

​Ia berdiri, menatap platform batu hitam di tengah gua yang dikelilingi oleh pusaran badai salju ekstrem.

​"Sekarang ... adalah saat yang sesungguhnya," gumam Aura.

​Ia melangkah maju, mendekati tepi jurang es. Dengan lambaian tangannya yang anggun, seberkas angin salju berputar di bawah kakinya, membentuk jembatan es tipis yang menembus kekosongan menuju platform tengah. Aura berjalan di atas jembatan tersebut dengan keanggunan seorang dewi musim dingin.

​Begitu kakinya menginjak platform batu hitam, pusaran badai salju di sekelilingnya mendadak mengamuk, menghantam tubuh Aura dengan kekuatan yang luar biasa. Tekanan magis yang masif seolah-olah ingin menekan tubuh Aura hingga hancur ke lantai batu.

​Aura menolak untuk tunduk. Ia menjatuhkan dirinya ke posisi bersila di tengah platform, meletakkan kedua telapak tangannya di atas batu hitam, dan melepaskan seluruh kekangan pada inti sihirnya.

​Boom!

​Sebuah pilar cahaya biru es raksasa meledak dari tubuh Aura, melesat lurus ke langit-langit gua, menantang dan menyatu dengan badai salju Abyss di sekelilingnya. Kultivasi tingkat tingginya telah resmi dimulai. Di dalam rahim es abadi ini, tubuh dan jiwa remajanya sedang ditempa ulang menjadi sebuah senjata pembalasan dendam yang paling mematikan yang pernah ada di dunia fantasi Eldoria. Gavin Elrod tidak akan pernah menduga badai seperti apa yang sedang dipersiapkan untuk menghancurkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!