NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Arin Regen

Seorang wanita yang baru saja hendak keluar dari coffee shop setelah membayar kini berdiri mematung di depan pintu. Ia bahkan belum sempat menyentuh gagang pintu untuk mendorongnya, dan tanpa sadar membuat dirinya menghalangi orang lain yang ingin masuk.

Byurrr!

Cangkir kopi yang dipegang Intan terlepas dari genggamannya. Espresso itu tumpah, menyebar di lantai, tapi Intan sama sekali tidak bereaksi. Matanya terpaku pada layar ponsel, tanpa berkedip.

"Permisi, bisa tolong minggir sebentar?" ucap seseorang yang telah mendorong pintu sedikit, berusaha masuk ke dalam kafe.

Namun Intan tetap diam. Ia berdiri kaku, masih menatap layar ponselnya. Seorang karyawan yang memperhatikan kejadian itu segera menghampiri.

"Ka, ada apa? Maaf, Ka?" tanya karyawan itu pelan sambil menyentuh bahu Intan dan menggoyangkannya sedikit.

"Hah?" suara Intan akhirnya terdengar. Ia tersentak dan menatap karyawan itu, seolah baru sadar dimana dirinya berada.

"Kopimu jatuh, dan Kakak menghalangi pintu," ucap karyawan itu sambil tersenyum ramah.

"Hah?... Oh iya, aku... aku, maaf, maaf," ujar Intan, suaranya masih linglung tetapi ia segera bergeser ke samping.

"Apa ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya karyawan itu, memperhatikan raut khawatir di wajah Intan.

"Ah, tidak. Tidak perlu. Aku minta maaf, kopiku tumpah dan lantai kalian jadi kotor," ucap Intan menyesal.

"Tidak apa-apa, kami akan segera membersihkannya. Tapi, apa Kakak baik-baik saja?" tanya karyawan itu sekali lagi.

"Aku baik-baik saja. Aku sangat baik. Aku... akan pergi. Sekali lagi, maaf, ya." Intan segera melangkah keluar dari kafe itu.

Begitu keluar, Intan kembali fokus pada ponselnya. Ia segera mengetik satu nama di sana, Arin. Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol panggilan.

Namun panggilan itu tak tersambung. Suara pemberitahuan terdengar, ponsel Arin sedang tidak aktif. Tanpa banyak berpikir, Intan beralih ke pesan.

{ Arin!!! }

{ Berita apa ini!? Pernikahan? Kau menikah!? }

{ Dengan NATHAN REGEN!? }

{ NATHAN REGEN!? }

{ Apa berita ini tidak salah?? }

{ Segera hubungi aku!!! }

Setelah mengirim pesan itu, Intan segera mematikan ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Beberapa detik kemudian, bunyi notifikasi pesan masuk terdengar. Refleks, Intan segera membukanya, namun bukan dari Arin, melainkan dari bosnya.

Ia melirik jam di layar ponselnya, wajahnya menegang. Tanpa pikir panjang, ia kembali mematikan ponselnya lalu bergegas pergi.

...*****...

"Apa kalian akan segera pergi?" tanya Luna, menatap Nathan.

Mereka berempat baru saja keluar dari kantor catatan sipil. Pernikahan Nathan dan Arin telah resmi terdaftar, dan seluruh media kini memberitakannya. Berita itu bahkan menjadi headline utama di hampir semua stasiun TV dan media sosial.

"Iya. Aku akan menemui Ayahku sekarang. Aku harus meminta restunya," ucap Nathan. Tak ada ragu, tak ada takut di wajahnya, ia tampak benar-benar siap.

"Apa kau yakin? Bagaimana kalau besok saja? Jujur, aku sangat khawatir. Sekarang berita pernikahanmu sudah tersebar di mana-mana. Aku yakin Ayahmu sedang marah besar. Menundanya sampai besok mungkin pilihan terbaik," ucap Aldo cemas.

"Aku setuju, tunda sampai besok," sambung Luna pelan.

"Kalian turunlah. Aku akan menemuinya sekarang. Aku mengenalnya, ia pasti sedang menungguku. Menunggu sampai besok tidak akan mengubah apa pun," ucap Nathan mantap.

Aldo dan Luna akhirnya menyerah. Mereka turun dari mobil Nathan, dan tanpa menunggu lama, Nathan melajukan mobilnya menuju rumah utama keluarga Regen.

"...Aku rasa, besok saja adalah pilihan yang lebih baik," ucap Arin pelan, setelah lama hanya diam memperhatikan Nathan, Luna, dan Aldo berbicara.

Jujur saja, Arin juga merasa takut. Tapi sejak tadi, ia tak berani mengatakan apa pun. Ia merasa seperti orang luar di antara mereka bertiga.

Nathan melirik Arin sekilas, lalu kembali menatap jalan di depannya.

"Saat di sana, berdirilah di belakangku. Jangan mengatakan apapun, biarkan aku yang berbicara," ucap Nathan pelan.

Arin tak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, diam, seolah pikirannya melayang entah ke mana.

Nathan menoleh sekilas. "Arin?"

"...Hmmm," Arin akhirnya bersuara, tapi samar. Kedua jempolnya terus menekan buku jari telunjuknya berulang-ulang, sampai kulitnya memerah.

Nathan memperhatikan itu. "Hentikan itu, Arin."

"Hah?" Arin masih belum sadar apa yang ia lakukan. Meskipun ia mungkin tidak merasa sakit, tapi Nathan dapat melihat buku telunjuk tangan Arin sudah sangat memerah.

"Tanganmu," Nathan kembali melirik, kali ini lebih lama. "Apa kau tidak merasakan sakit? Kau punya kebiasaan yang buruk."

Mendengar itu, Arin akhirnya melihat tangannya. Ia segera menghentikan tindakannya, lalu cepat-cepat melipat jemarinya, menggenggam tangan sendiri seolah ingin menyembunyikan jari telunjuknya.

Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara mereka. Arin tetap melihat ke depan, entah apa yang tengah ia pikirkan, sementara Nathan terus melajukan mobilnya, hanya sesekali melirik ke arah Arin yang duduk di sampingnya.

...*****...

"Tuan Besar, Tuan Muda Nathan sudah tiba. Ia datang bersama seorang wanita," lapor sekretaris dengan nada hati-hati saat melangkah memasuki ruang kerja Victor, tempat seluruh keluarga sudah berkumpul.

Mendengar itu, Victor tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam. Namun sang sekretaris memahami tugasnya, ia segera menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan untuk menemui Nathan.

_ _ _ _

Nathan yang sudah tiba beberapa saat lalu belum bisa langsung menemui Victor, ayahnya. Beberapa pengawal berjaga di depan pintu. Namun Nathan tidak terlalu memikirkannya. Ia segera membawa Arin ke ruang tamu dekat pintu masuk, dan mereka memilih duduk di sana.

Keduanya menjaga jarak. Bahkan, mereka duduk di sofa yang berbeda, tanpa sepatah kata pun. Keheningan di antara mereka terasa berat, Nathan dan Arin seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Hingga kemudian, Paman Sam datang menghampiri Nathan.

Nathan segera berdiri dan menyambutnya dengan senyum. Paman Sam adalah penjaga rumah ini, rumah utama keluarga Regen. Ia sudah berada di sini bahkan sebelum Andre dan Nathan lahir. Bisa dibilang, dialah pengatur segala urusan di rumah ini mulai dari para pelayan hingga urusan kecil di dalam rumah utama.

Dulu, saat pertama kali Nathan dan ibunya datang ke rumah ini, Paman Sam-lah yang menyambut mereka. Sikapnya ramah dan hangat, bahkan kala itu ia yang menjelaskan situasi keluarga Regen kepada mereka. Nathan sangat menghormatinya. Baginya, Paman Sam bukan sekadar pekerja di rumah ini, ia benar-benar menganggapnya seperti paman sendiri.

"Nathan…" panggil Paman Sam sambil mengulurkan tangan.

Nathan segera meraih tangan itu dan tersenyum padanya.

"Aku sudah melihatnya. Kau sudah menikah.. Istrimu?" lanjutnya sambil melirik ke arah Arin yang juga sudah berdiri.

"Benar, Paman. Namanya Arin," jawab Nathan sambil mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Arin mendekat.

Arin menyadarinya dan segera melangkah, berdiri di samping Nathan.

"Cantik… kau sangat cantik," puji Paman Sam dengan senyum ramah.

Arin tersenyum mendengar itu. "Terima—"

Sebelum Arin sempat menyelesaikan kalimatnya, sekretaris Victor sudah menghampiri mereka.

"Tuan Muda, Tuan Victor sudah menunggu Anda di ruangannya," ucapnya setelah sedikit membungkuk pada Nathan.

"Aku mengerti," jawab Nathan cepat. Ia meraih tangan Arin dan hendak segera pergi, namun Paman Sam menahan tangannya.

"Tuan Muda akan segera datang," ucap Paman Sam kepada sekretaris. Sekretaris itu mengangguk mengerti, lalu segera pergi.

Begitu pintu tertutup, Paman Sam berujar cepat, "Dengarkan aku, jangan biarkan emosi menguasaimu."

Nathan tetap diam, hanya menatapnya tanpa ekspresi.

"Nathan, aku ingin mengingatkan, jangan melupakan tujuanmu. Tuan Besar bukan lawanmu, ia seharusnya menjadi pendukungmu," lanjut Paman Sam, suaranya lebih lembut kali ini.

Nathan masih diam. Namun dari raut wajahnya yang semula tegas, perlahan terlihat lebih tenang.

"Aku mengerti, Paman," ujar Nathan akhirnya setelah berpikir sejenak.

"Berdirilah di samping Nathan. Ia akan menjagamu," lanjut Paman Sam sambil menatap Arin.

Arin tersenyum kecil dan mengangguk, tanda ia mengerti.

"Sekarang, pergilah," ucap Paman Sam lembut.

Nathan mengangguk, lalu kembali meraih tangan Arin dan membawanya menuju ruangan tempat ayahnya menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!