Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Dipaksa oleh keadaan
Sore itu, suasana ruang rawat terasa tenang sekaligus menyesakkan. Cahaya matahari senja masuk samar dari sela tirai jendela rumah sakit, memantulkan warna jingga pucat ke lantai ruangan yang dingin.
Tya duduk di samping ranjang ibunya dengan mata sembab yang masih menyisakan bekas tangis.
Sejak tadi, Tya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun, setiap kali melihat sang ibu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dadanya kembali terasa sesak.
Tangannya masih menggenggam pelan jemari ibunya yang kini tertidur karena efek obat dan kelelahan. Tatapan Tya kosong beberapa saat sebelum suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Refleks, Tya langsung menoleh.
Ceklekk.
Pintu ruangan terbuka perlahan, memperlihatkan Starla dan Megan yang masuk dengan wajah penuh khawatir.
"Tya," ujar Megan pelan begitu melihat kondisi sahabatnya.
Starla yang biasanya paling cerewet pun langsung kehilangan ekspresi santainya saat melihat wajah Tya yang pucat dan lelah.
"Kami jenguk Mama lo," ujar Starla pelan.
Tya langsung berdiri sambil mengusap cepat sisa air matanya. "Thanks."
Tatapan Tya sempat kembali ke arah ibunya yang masih tertidur sebelum akhirnya ia berjalan mendekat ke arah kedua sahabatnya. Perlahan, Tya memberi kode agar mereka sedikit menjauh dari ranjang sang ibu.
Starla dan Megan mengikuti tanpa banyak tanya sampai mereka berdiri di dekat pintu ruangan.
Namun, bukannya langsung bicara, Tya justru terdiam beberapa saat. Seolah, ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri masih tidak bisa percaya.
"Kenapa?" Tanya Starla pelan.
Tya menunduk sesaat. Suaranya lirih, seolah takut didengar oleh siapapun. "Gue nikah hari ini."
Dan seketika, kedua sahabatnya langsung membeku di tempat. Megan langsung menatapnya tidak percaya. "Serius?" Bisiknya pelan.
Sementara Starla refleks membelalakkan matanya, "Tunggu bentar," ujarnya setengah bingung. "Kayaknya baru tadi siang lo cerita perjodohan. Dan sekarang? Nikah hari ini?"
Nada suara Starla mengecil di akhir kalimat, seolah ia sendiri masih sulit mencerna semuanya.
Tya kembali menunduk, "Permintaan Mama," ujarnya lirih.
Kalimat itu langsung membuat Starla dan Megan kembali terdiam. Tya perlahan menoleh ke arah ranjang rumah sakit, tempat ibunya tertidur lemah. Tatapannya langsung berubah rapuh lagi.
"Mama pengen liat gue nikah," suara Tya mulai bergetar. "Dan gue..."
Tya menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum melanjutkan, "Gue takut Mama pergi."
Penuturan Tya begitu jujur, penuh ketakutan. Mata Tya kembali memanas. Ia buru-buru mengusap air matanya, tapi suaranya tetap terdengar pecah saat kembali berujar.
"Mama gue bakal sembuh, kan?"
Begitu melihat air mata Tya jatuh, Starla langsung bergerak memeluk sahabatnya itu erat tanpa banyak bicara.
"Tya," lirih Starla.
Tya langsung menunduk di bahu Starla, mencoba menahan tangis yang sejak tadi terasa semakin sulit dibendung.
Sementara itu, Megan berdiri di samping mereka sambil mengusap pelan pundak Tya, berusaha menenangkan gadis itu sebisa mungkin.
"Hey..." Ujar Megan lembut. "Jangan mikir yang enggak-enggak dulu."
"Tapi Mama gue..." Suara Tya kembali pecah.
"Dokter tadi bilang kondisi Mama lo udah lebih stabil, bukan?" Lanjut Megan hati-hati. "Jadi sekarang, lo harus kuat dulu."
Starla ikut mengangguk kecil, masih memeluk Tya. "Iya," ujarnya pelan. "Mama lo pasti senang kalau liat lo tetap kuat."
Tya memejamkan matanya sejenak. Di tengah rasa takut yang memenuhi dadanya, setidaknya kehadiran dua sahabatnya itu membuatnya merasa tidak sendirian dalam menghadapi semuanya.
Megan ikut tersenyum kecil meski matanya berkaca-kaca melihat keadaan sahabatnya.
"Kita doa aja yang terbaik, ya," ucap Megan lembut sambil mengusap pundak Tya sekali lagi. "Semoga Mama lo bisa sembuh."
Starla mengangguk setuju, "Iya. Jadi jangan langsung nyerah sama pikiran buruk."
Tya menyeka air mata dengan punggung tangannya. "Iya," jawabnya lirih.
Meski rasa takut itu masih ada, setidaknya ucapan sahabat-sahabatnya membuat dadanya sedikit terasa lebih hangat. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, Tya mencoba percaya bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Tya terdiam beberapa saat setelahnya. Jemarinya saling bertaut di depan tubuhnya, sementara pikirannya kembali dipenuhi hal yang sejak tadi terus menyesakkan dadanya.
Perlahan, Tya mengangkat pandangannya menatap Starla dan Megan. Matanya masih memerah karena menangis.
"Gue sebenernya," Tya berhenti sejenak, suaranya mengecil. "Belum siap nikah."
Tya kembali menunduk sambil tertawa hambar. "Apalagi sama Faris."
Nama itu keluar begitu saja bersamaan dengan helaan nafas lelah. "Gue setiap hari aja ribut sama dia," lanjutnya. "Terus sekarang, tiba-tiba harus nikah?"
Bahkan, Tya sendiri masih merasa semuanya seperti mimpi aneh yang datang terlalu cepat. Sebelumnya hidupnya masih terasa normal, masih tentang sekolah, tugas, dan adu mulut dengan Faris di sekolah.
Tapi sekarang, ia bahkan sedang berdiri di rumah sakit sambil membicarakan pernikahannya sendiri.
Megan menatap Tya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil mencoba menenangkan sahabatnya. "Jodoh itu gak ada yang tau, Ty." Ujarnya pelan.
Tya langsung menghela nafas kecil, "Dari sekian banyak manusia, kenapa mesti Faris?"
Starla yang sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Mana dia nyebelin lagi."
"Banget," potong Tya cepat.
"Tapi, siapa tau nanti semuanya gak seburuk yang lo pikirin," timpal Megan.
Tya terdiam beberapa saat, sulit baginya membayangkan hal itu sekarang. Karena sejauh yang ia tahu, dirinya dan Faris hanya cocok satu hal, apalagi kalau bukan bertengkar.
Tya akhirnya menggeleng, "Enggak," ujarnya mantap.
Starla mengangkat sebelah alisnya, "Enggak apanya?"
Tya menatap kedua sahabatnya serius, seolah sedang membuat pernyataan paling penting dalam hidupnya. "Gue gak bakal jatuh cinta sama dia, titik." Nada suaranya terdengar yakin tanpa ragu sedikitpun.
Starla dan Megan langsung bertukar pandang. Entah mengapa, ekspresi keduanya justru berubah seperti sedang menahan sesuatu.
Tya langsung menyipit curiga. "Kalian kenapa?"
Starla langsung berdehem kecil, "Enggak. Gak kenapa-napa."
Megan menggigit bibirnya, menahan senyum. "Iya, santai aja."
Tya sedikit mendelik, "Serius. Gue sama Faris itu gak mungkin."
Dua sahabatnya hanya saling pandang diam-diam, seolah sama-sama berpikir bahwa biasanya orang yang ngomong begini nanti justru yang tumbang duluan.
Starla yang mulai takut Tya semakin stres akhirnya mengalihkan pembicaraan. "Eh," ujarnya sambil memperhatikan sekitar ruangan. "Papa lo kemana emangnya?"
Megan ikut menoleh sekilas, baru sadar sejak tadi mereka tidak melihat ayah Tya di sana. Tya menghela nafas panjang, lalu akhirnya menjawab jujur.
"Papa lagi ngurus semuanya," jawab Tya.
"Ngurus apa?" Tanya Megan kemudian.
"Pernikahan gue sama Faris nanti malam."
Penuturan Tya membuat suasana hening sesaat. Bahkan setelah mendengarnya langsung, semuanya terasa terlalu cepat untuk dipercaya.
Starla berkedip beberapa kali, "Nanti malam?"
Tya mengangguk singkat, "Iya. Kata Mama pengen liat langsung sebelum..."
Tya langsung menggeleng cepat setelah kalimatnya menggantung. "Enggak," ujarnya buru-buru, seolah menyangkal pikirannya sendiri. "Mama cuma ngomong gitu karena lagi sakit."
"Mama pasti bisa sembuh lagi," lanjutnya. "Pasti bisa."
Starla perlahan mendekat ke arah Tya lagi. Ia menepuk pelan pundak gadis itu, mencoba memberi sedikit kekuatan. "Hey," ujarnya lembut. "Kalau lo mau Mama lo sembuh, lo gak boleh rapuh terus."
Megan ikut menimpali, "Jadi sekarang yang harus kuat bukan hanya Mama lo, tapi lo juga."
Tya mengangguk perlahan. Meski sulit, ia tahu sahabatnya benar. Lalu ia menatap keduanya lama, matanya berkaca-kaca.
Megan yang melihat itu langsung membuka tangannya sedikit sambil tersenyum lembut. "Butuh peluk, gak?"
Pertahanan Tya langsung runtuh lagi setelahnya. Tanpa kata, ia mendekat lalu memeluk kedua sahabatnya erat. Starla memeluk Tya dari samping sambil mengusap punggungnya perlahan.
Tak ada kata, yang ada hanya pelukan persahabatan yang terasa menenangkan di tengah kekacauan Tya hari ini.
Di lain sisi, Faris baru saja membuka pintu rumah dengan langkah malas setelah pulang sekolah. Tasnya menggantung asal di bahu, sementara dasinya sudah longgar sejak tadi siang.
"Faris!"
Baru saja tiba di anak tangga atas, suara ibunya langsung terdengar dari ruang tengah. Faris langsung menoleh malas. "Apa, Mah?"
"Cepat ganti baju!" Sahut ibunya. "Mama mau ngomong."
Faris mengernyit kecil. "Apaan dah?" Gerutunya lirih.
Meski begitu, ia tetap melangkah menuju kamar dan berganti pakaian. Setelahnya ia turun, rambutnya masih sedikit basah karena tadi sempat mencuci muka asal-asalan.
Dengan wajah lelah, Faris berjalan memasuki ruang tengah sambil mengusap tengkuknya. "Apaan sih, Mah?" Keluhnya. "Faris baru pulang, pengen rebahan bentar padahal."
Langkahnya langsung melambat ketika melihat ayah dan ibunya duduk di sofa dengan ekspresi terlalu serius. Faris memicingkan mata. "Nah, apalagi sekarang?"
Belum sempat ia duduk tenang, ayahnya langsung berkata tegas. "Hafalin ijab qobul."
Faris terdiam sesaat, "Hah?"
Ekspresinya benar-benar kosong sekarang. Bahkan ia mengernyit bingung seolah telat mencerna perkataan itu.
Ibunya menatap Faris serius, "Nanti malam kamu sama Tya menikah."
Faris langsung membeku di tempat. Untuk beberapa detik otaknya seperti berhenti bekerja.
Ibunya menghela nafas pelan sebelum kembali menjelaskan. "Kondisi Mama-nya Tya lagi drop. Beliau pengen liat pernikahan kalian secepatnya."
Namun, Faris masih diam. Baginya, ini jauh lebih mengagetkan daripada ditilang polisi waktu balapan. "Nikah?" Ulang Faris masih tidak percaya. "Malam ini?"
Ayahnya mengangguk tegas. Dan di situlah Faris sadar bahwa ini bukan candaan. Ia langsung mengacak rambutnya kasar.
"Bentar-bentar," ujar Faris masih sulit menerima. "Semalam baru bahas perjodohan, dan hari ini nikah?"
Suaranya langsung naik tanpa sadar, "Mah, ini terlalu cepat!"
"Mama ngerti kamu kaget," ujar ibunya.
Faris mulai berjalan mondar-mandir sambil mengusap wajahnya frustasi. "Katanya secepatnya, tapi gak hari ini juga kali Mah!"
Ayahnya tetap duduk tenang meski tatapannya serius. "Faris, jaga sikapmu."
Faris menatap ayahnya, mencoba bernegosiasi. "Tahun depan aja ya, Pah." Ujarnya. "Atau minimal kasih Faris waktu buat mikir."
Ayahnya langsung memijat pelipis mendengar jawaban putranya, seolah sudah menduga bahwa Faris akan bereaksi seperti ini.
"Faris, ini bukan urusan yang bisa ditunda sesuka hati," tegas ayahnya.
"Tapi nikah itu bukan lomba siapa paling cepat!" Balas Faris spontan.
Ibunya yang sedari tadi mencoba untuk bersikap sabar, perlahan menoleh ke arah suaminya. "Ambil aja kunci motornya, Pa," ujarnya tiba-tiba. "Biar gak keluyuran terus."
Faris langsung menoleh cepat, "Jangan!"
Ibunya menatap datar, "Kenapa? Katanya gak mau nikah."
Faris langsung terdiam beberapa saat. "Itu beda urusan, Mah."
Ayahnya mulai berdiri, berniat mengambil kunci motor Faris. Dan refleks, Faris langsung melangkah mendekat.
"Pah, serius," nada suaranya mulai panik. "Jangan bawa-bawa motor."
Ibunya langsung menyilangkan tangan di dada. "Kalau gitu nurut."
Faris menatap kedua orang tuanya penuh frustasi. Sialnya, mungkin hanya orang tuanya yang tahu titik kelemahan paling fatal seorang Faris Abimanyu Alzavian.
Faris langsung memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Tangannya lagi-lagi mengusap wajah kasar penuh frustasi, sementara kepalanya terasa semakin pusing memikirkan hidupnya sendiri. Semalam masih anak tongkrongan biasa, dan kini mendadak menjadi calon pengantin.
"Ya ampun..." Gumam Faris lirih penuh penyesalan hidup.
Ibunya langsung melirik tajam, "Jadi, pilih mana?"
Faris membuka mata perlahan, lalu menatap langit-langit rumah seperti sedang mencari jawaban di sana. Namun, yang ada hanya kipas angin berputar. Dan juga kenyataan pahit bahwa motor kesayangannya sedang di ujung ancaman.
Faris menghela nafas berat sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya asal ke sofa. Wajahnya terlihat begitu pasrah, seolah hidupnya benar-benar tamat.
"Iya deh," ujarnya setelah hening beberapa saat.
Ibunya langsung mengangkat alis, "Iya apa?"
Faris memejamkan mata sejenak sebelum menjawab lebih jelas dengan nada penuh penderitaan. "Faris mau nikah."
Ayahnya akhirnya menghela nafas lega, sementara ibunya terlihat sedikit lebih tenang. Sedangkan Faris, ia duduk bersandar dengan ekspresi kosong masih sulit menerima kenyataan bahwa dirinya benar-benar menyerah.
Dan ironisnya, bukan demi cinta. Tapi demi motor kesayangan agar tetap aman di garasi.
Sore itu di tempat yang berbeda, dua remaja yang hidupnya sama-sama berantakan sedang menghadapi takdir yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Tya duduk di rumah sakit sambil mencoba terlihat kuat demi ibunya. Sedangkan Faris duduk pasrah di rumahnya, masih sulit menerima kenyataan bahwa beberapa jam kedepan statusnya akan segera berubah.
Tidak ada cinta dan kesiapan. Bahkan keduanya lebih sering berseteru daripada saling memahami.
Namun, keadaan memaksa mereka berjalan ke arah yang sama, menuju sebuah pernikahan yang terlalu cepat juga mendadak. Dan terlalu rumit untuk dimengerti dua remaja keras kepala seperti mereka.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️