❗️EKSKLUSIF HANYA DI NOVELTOON❗️
Seorang Pria yang di paksa sang Ayah untuk menikahi Gadis yang tidak tahu asal-usul nya, pernikahan itu di dasarkan karena suatu perjanjian sebelum rekan Ayahnya menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.
Memang benar, mencintai paksa orang yang tidak di cintainya benar-benar sangat sulit, tetapi dengan selalu berdekatan di antara keduanya akan membuahkan benih-benih cinta. Akan tetapi, apakah mereka benar-benar berhasil mencintai satu sama lain?
-----------
Yukk kepoin ... jangan lupa tambahkan favorite. Like, komen positive & vote nya juga ya bestie😍🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Nyeri Berubah Menjadi Rasa Nyaman
"Ekhm" Adiba menetralkan jantungnya ketika melihat tubuh atletis Ustadz muda yang kini sudah menjadi suaminya.
Fabian yang sedang fokus pada laptopnya tiba-tiba saja menoleh kearah Adiba. Ia tak tahu apa maksud dari istrinya.
"Mas, bisa pakai baju nya dulu? Adiba tak biasa melihat laki-laki bertelanjang dada." ujar Adiba, Fabian terkikik lalu mengangguk dan memakai bajunya.
"Sudah. Bukalah matamu." tutur Fabian. Adiba menurut dengan menghembuskan nafasnya pelan.
"Terimakasih."
"Hm."
"Sekarang kita berangkat ke kantor Imigrasi. Kamu siap-siap, jam 8 kita berangkat."
"Memangnya ada keperluan apa?" tanya Adiba heran.
Fabian menghela nafasnya, "buat bikin paspor, apa kamu sudah memiliki paspor nya?"
"Hehehe, belum." Adiba cengengesan.
"Hm" sahut Fabian.
"Mulai besok, siapkan dirimu dengan jaga kesehatan. Karena perkiraan cuaca yang terbaik untuk penerbangan adalah satu minggu kedepan."
Adiba mengangguk paham, "Iya".
Fabian tak menjawab karena ia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Adiba pun tak tahu suaminya kerja sebagai apa, dimana dan dengan siapa. Entahlah Adiba tak masalah mengenai hal itu.
"Bosan sekali," gumam Adiba, ia beranjak turun dari atas kasur. Melirik ke arah jam dinding masih pukul jam 06.05, Pak Alzam belum waktunya untuk pulang.
"Ingin kemana?" celetuk Fabian.
"Eum, keluar, Mas." jawab Adiba menunjuk pintu kamar.
"Tunggu aku selesaikan satu laporan lagi, lalu kita turun bersama." ujar Fabian memohon menatap Adiba dalam-dalam.
Adiba yang di tatap seperti itu langsung menundukkan pandangannya "I-iya, aku tunggu."
***
Pak Alzam dan Bu Aisyi melihat Fabian dan Adiba berjalan beriringan membuat senyum mereka terlukis di wajahnya.
"Mi, maaf lama." ujar Fabian kemudian duduk di bangku kosong.
"Nggak apa-apa, ayo sarapan. Kasihan Adiba sudah lesu begitu." sahut Pak Alzam.
"Kenapa Dib? Sakit?" tanya Bu Aisyi sambil menyedokkan nasi pada piring Pak Alzam.
"Nggak, Mi. Sedikit capek saja." jawab Adiba sambil tersenyum manis.
"Tuh Kak, denger. Adiba lagi capek, jangan ajak kemana-kemana dulu." Bu Aisyi melirik Fabian.
"Mau bikin paspor, Mi. Nggak ada waktu lagi." jawab Fabian.
"Nggak apa-apa, Mi." ujar Adiba, ia terkejut tiba-tiba mertuanya melarangnya untuk keluar.
"Bibirmu pucat sekali, kamu kenapa Dib?" Pak Alzam pun tiba-tiba ikut bertanya.
"Apa kamu hamil?" sambungnya.
Fabian yang sedang minum langsung tersedak.
"Uhuk ... Uhuk ..."
Adiba memberikan segelas air putih pada suaminya.
"Doain ya, Bi." sahut Fabian.
"Selalu, Kak. Abi dan Umi sangat menantikan itu." jawab Pak Alzam.
"Kamu jangan menunda kehamilan. Abi dan Umi ingin segera menggendong cucu dari kalian." ujar Bu Aisyi.
"Eh-, i-iya, Mi. Nggak." Adiba menggeleng.
"Sudahlah, Mi. Jangan di tanya terus, kasihan mereka nanti malam takut minder." sahut Pak Alzam.
"Adiba lagi haid, Bi, Mi. Jadi ya begitulah, sedikit pucat. Tapi nggak apa-apa." ujar Fabian mengerti.
"Wah bagus tuh, setelah Adiba beres haid, kamu langsung gas saja, Kak. Langsung jadi tu InsyaAllah." Pak Alzam tertawa renyah.
Adiba malu, ia segera mengambilkan nasi untuk suaminya dan pura-pura tidak mendengar apa yang di katakan Pak Alzam di hadapannya.
"Bi, katanya diam. Umi sudah diam, malah di lanjutkan." Bu Aisyi ikut terkekeh.
"Iya Umi, maaf. Silahkan sarapan ..."
"Terimakasih." ucap Fabian setelah menu sarapannya sudah di siapkan oleh Adiba.
"Hm" Adiba hanya bergumam saja.
***
Setelah selesai sarapan, Fabian langsung mengajak Adiba pergi untuk membuat paspor. Memang benar yang di katakan kedua orangtua nya, hari ini Adiba sangat lemas sekali, di tambah bibirnya yang pucat membuat Adiba terlihat seperti orang yang sakit.
Pada pukul 09.10, mereka sudah sampai di kantor. Adiba segera mengisi data diri ditemani Fabian di sampingnya. Selanjutnya Adiba melakukan pemotretan disana.
Hanya beberapa menit saja, kartu paspor sudah jadi. Fabian dan Adiba langsung kembali pulang. Namun sebelumnya, Fabian mengajak Adiba untuk membeli pakaian yang akan di pakai Adiba di Kairo. Seperti gamis, jilbab, kaos kaki, dan masih banyak lagi.
Fabian memarkirkan mobilnya bersama jejeran mobil lain. Sementara itu Adiba meminta waktu untuk tidak keluar dari dalam mobil, karena ia merasa keram pada perutnya.
"Kenapa?" Fabian melirik Adiba, ia melepas seat belt nya.
"Keram, Mas." sahut Adiba, ingin meringis di depan suami merasa canggung, jadi ia tahan saja.
"Terlalu banyak gerak kah?" tanya Fabian.
"Ini nyeri haid, Mas. Masa gitu doang nggak tahu." jawab Adiba mengomeli suaminya.
"Ya mana aku tahu." sahut Fabian datar.
"Coba hadap kesini" Fabian menarik pundak kanan Adiba agar posisinya terlentang. Pria itu menempelkan tangan kananya pada perut istrinya, lalu berdoa agar istrinya tidak merasa sakit lagi.
"Allahumma adzhibil ba'sa rabban naasi wasyfi fantasy syaafii laa syiffaa 'an syifaa 'uka syifaa 'an laa yughaadiru saqama"
Artinya: "Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah. Engkau adalah Pemberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit."
"Eh-" Adiba melongo, ia ingin menahan tangan Fabian, tapi Fabian menolaknya.
Setelah membaca doa itu, Fabian mengelus perut rata Adiba, "Gimana?" tanyanya.
"A-apa nya?" Adiba bingung. Memang benar, yang sebelumnya terasa sakit, langsung menghilang begitu saja.
"Sakitnya." jawab Fabian.
"Mau lagi?" tawar Fabian dengan muka datarnya.
"E-enggak! A-ayo kita keluar." Adiba buru-buru membuka handle pintunya lalu keluar dari dalam mobil.
"Aneh" Fabian terkekeh lalu ia pun ikut menyusul istrinya yang sudah keluar dari mobil.
pelajaran yg bisa di ambil.ustadz hanyalah gelar saja.tpi orangnya tetap manusia biasa yg TDK terlepas dari khilaf.tetapi kmudian kembali ke jalan Allah SWT