NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pelakor / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.

Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.

Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.

Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sanggupkah aku?

Dipta tersenyum tipis melihat Arkana muncul diikuti oleh dua wanita cantik di belakangnya. Fokusnya tertuju pada Alya yang tampak sibuk dengan ponselnya.

"Terimakasih sudah bersedia datang," ujar Pradipta. Berdiri tepat di depan Alya.

"Yang harusnya berterimakasih saya, Mas. Masnya sudah minum obat? Kebetulan saya beli beberapa obat demam."

"Sudah, sekarang sudah lebih baik tapi tiba-tiba mau makan puding." Dan tatapan Dipta masih saja tertuju pada Alya, sangat dalam dan enggang berpaling.

Bahkan saat Arkana mengarahkan kedua wanita itu menuju dapur membuat puding atas permintaan Alya, padahal Dipta berusaha mengulur waktu agar pudingnya tidak selesai dengan cepat.

"Ponselnya bunyi terus Pak," ucap Arkana. Sengaja sekali menganggu atasannya yang sedang kecintaan.

"Ah ya." Dengan sigap Dipta menjawab panggilan. Berjalan sedikit menjauh hingga tiba pada dinding kaca transparan. Cuacanya cerah, secerah hati Dipta siang ini.

"Hari minggu kamu tetap kerja?" terdengar suara wanita paruh baya di seberang telepon.

"Nggak Buk. Ini Dipta lagi di rumah sama teman-teman." Pradipta mengalihkan panggilan suara ke video agar ibunya percaya bahwa dia tidak segila kerja itu.

"Tunggu Dipta!" Suara ibu Dipta melengking.

"Kamu tinggal sama perempuan? Ibu sudah bilang untuk nggak kehilangan iman setelah kamu memiliki segalanya. Dosa Nak, tinggal sama orang yang bukan mahramnya kamu."

Dipta tertawa pelan. "Ibuk jangan ngomel dulu kalau nggak tau apa-apa." Dia berjalan mendekati Alya yang sedang sendirian didapur tanpa sekat tersebut.

Entah dimana Sena dan Arkana sehingga membuat ibu hamil kesayangan Dipta bekerja.

"Teman Dipta, nggak tinggal bareng juga."

"Siapa Mas?" tanya Alya karena Dipta menghadapkan kamera ponsel padanya.

Alya senyum kikuk dan berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu wanita di seberang telepon, sebab baginya wanita paruh baya itu tidak asing.

"Ibuk Saya," ucap Dipta.

"Oh iya baru ingat." Alya tersenyum.

"Kamu perempuan yang dibawa suami saya pulang pas ketiduran itu kan?"

"Iya Bu." Alya mengangguk sopan.

"Ibuk nggak nyangka kamu itu temannya Dipta. Kalau misalnya Dipta aneh-aneh sama kamu laporan sama ibuk ya."

"Iya Bu."

Alya tidak tahu harus merespon apa. Karena dia tidak mengerti kenapa Pradipta menyerahkan ponselnya agar dia bicara dengan ibunya, padahal mereka tidak sedekat itu.

Dan Alya baru bernapas lega ketika sambungan telepon terputus.

"Maaf jika membuatmu nggak nyaman. Saya hanya ingin memperkenalkan kamu pada ibu saya."

"Iya nggak apa-apa mas." Alya kembali menyibukkan diri. Mengukur air untuk didihkan dengan puding yang telah ia beli.

"Dimana Arka dan Sena?" Dipta masih berdiri di samping pantri.

"Arka dan Sena membeli telur untuk pudingnya mas. Tadi nggak beli karena mengira ada di sini."

"Saya jarang masak, jadi suka lupa stok bahan dapur." Dipta mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kamu butuh bantuan?"

"Nggak, masnya duduk saja."

Dipta mengikuti perkataan Alya, duduk tetapi bukan di sofa tempatnya bebaring tadi, melainkan meja pantri. Dia sengaja membawa laptopnya ke sana untuk bekerja dan sesekali memperhatikan wanita hamil itu.

Dia juga sedang menjalankan tugas dari Sena, menutup akses keluarga Ardana untuk memasuki kehidupan baru Alya. Memang permintaan itu sulit, secara dia tidak apa-apanya dibandingkan keluarga Ardana. Tetapi dia akan berusaha demi Alya.

***

Tidak banyak yang berubah dari hidup Adrian sejak dia memutuskan untuk tidak menganggu mantan istrinya lagi. Dia berusaha fokus pada dunianya dan menerima Safira dalam hidupnya. Namun, banyak hal menjadi penghalang, salah satunya rasa bersalah yang terus menghantui, dia selalu merasa tidak pantas untuk bahagia.

Saat dirinya akan merasa bahagia, tangisan dan penderitaan Alya langsung muncul dingatan. Padahal peremuan terakhir mereka sudah lima bulan yang lalu.

Dia benar-benar tidak tahu bagimana kabar Alya di sana, begitu pun orang tuanya yang masih berusaha mencari keberadaan wanita itu.

"Mas memikirkan sesuatu?" tanya Safira memeluk Adrian dari belakang. Mendaratkan pipinya pada punggung lebar Adrian yang sedang berdiri di balkon kamar.

"Banyak banget pekerjaan dikantor yang harus aku urus. Apalagi bulan depan papa akan pensiun," jawab Adrian, tangannya bergerak untuk mengelus tangan Safira yang melingkar di perutnya.

"Besok mas sibuk?"

"Kenapa?" Kali ini Adrian berbalik dan menatap Safira.

"Aku ingin periksa ke dokter. Sudah dua minggu aku telat datang bulan."

"Siang, aku akan menjemputmu." Adrian mengangguk dan mengelus pucuk kepala Safira.

Dia berusaha untuk bertanggung jawab sebagai seorang suami, tetapi dia seolah mati rasa. Semuanya terasa hampa dalam hidupnya.

***

Lima bulan, bukan waktu singkat untuk Alya menjalani hidupnya sebagai ibu tunggal. Apalagi dia sempat mendapatkan masalah di tempat tinggalnya. Beberapa orang memfitnahnya hamil di luar nikah sehingga ingin mengusirnya. Beruntung Pradipta datang dan lagi-lagi membantunya.

"Harusnya lima bulan yang lalu mas nggak perlu berbohong seperti itu kepada penghuni kontrakan," ujar Alya yang duduk di meja makan bersama Sena dan Pradipta.

"Saya nggak tega melihatmu selalu difitnah Al," balas Dipta sembari menikmati sarapannya.

"Kok aku malah berharapnya mbak Alya dan Pak Dipta beneran jadi suami istri ya?" celetuk Sena tiba-tiba membuat Alya dan Dipta tersedak.

"Jaga ucapan kamu Sena," tegur Alya.

"Saya nggak apa-apa." Pradipta senyum canggung. Padahal dalam hatinya dia menyetujui ucapan Sena.

Apalagi statusnya di mata warga adalah suami Alya. Ya, Pradipta menolong Alya dengan cara mengaku menjadi suami. Dan selama lima bulan ini dia selalu beralasan dinas diluar kota sehingga jarang pulang berkunjung atau bermalam di kontrakan.

Sebenarnya Dipta menawarkan untuk Alya pindah kontrakan saja, tetapi wanita itu menolak.

Dipta bangkit dari duduknya setelah menghabiskan sarapan. Berpamitan pada Alya dan berangkat bersama Sena ke kantor.

Sedangkan Alya? Dia berdiri di ambang pintu sambil mengelus perutnya yang telah membesar dan kesusahan berjalan.

Dia ingin pergi lebih jauh lagi, tetapi fisiknya tidak mampu. Uang tabungannya pun semakin menipis, dia harus menghematnya untuk biaya persalinan.

Bayangkan saja tidak ada yang menafkahinya tetapi dia pun tidak bekerja, lalu dimana dia akan mendapatkan uang selain menguras tabungan?

Beruntungnya Sena pengertian, dia membantunya membayar kontrakan dan membeli bahan-bahan dapur jika sudah gajian.

"Jangan rewel ya Nak, mama nggak akan membuat hidupmu menderita," gumam Alya dan tersenyum.

Dan dia tidak sadar, mantan suami yang berjanji untuk tidak menganggu kehidupannya lagi, kembali dan memperhatikan dirinya dari kejauhan.

Pagi ini Adrian berdiri tidak jauh dari kontrakan Alya. Memandangi perut Alya yang membesar dan mulai kesusahan untuk berjalan.

Dia ingin menghampiri, menawarkan bantuan atau setidaknya berbicara dan mendengar keluhan mantan istrinya selama masa-masa kehamilan.

"Sanggup kah aku menahan diri untuk melihatmu dari kejauhan saja Alya?"

.

.

.

Agak lompat ya waktunya, semoga masih masuk hehehehe

Jangan lupa vote, like, komen dan subacribe ya. Dukungan kalian semangat author.

1
ken darsihk
Syukoorrr lo Sapi perah sok tauu sihhhh , marah kan Adrian nya 😠😠😠
ken darsihk
Ha ha sarkas bngt jawaban nya Alya nggak kenal 🤔🤔
Maria Kibtiyah
bener2 gk tau diri tuh pelakor
Maria Kibtiyah
gk tau malu tuh pelakor
julia elisabeth rien
pengen ikutan gaplok si sapri deh.... gemesshh akunya...
julia elisabeth rien: ayok kak kita gaplok in bareng2 si sapi itu 🤣🤣
total 2 replies
Rahma Inayah
malu dong pelakor niat manasi tp dia yg panas
julia elisabeth rien
malu ga tuh si pelakorrr..... niat pamer malah ketiban siall.. emang enakk..emang dasar pelakor muka tembok .. semoga cepat kena karma apa gitu deh ...
Rahma Inayah
SM sya juga sebel SM Safira dan Adrian
ken darsihk
Mama Adrian saluttt ❤❤
falea sezi
egois amattt pakkk😒
Linda Yohana
Bagus novelnya
julia elisabeth rien
aku juga sebelll sama kayak kau adrina, setiap adrian baik2 sama si pelakorrr ituhhhhh .....
makin besar kepala aja diaa....
Anonim: SI ALYA NYA MASOKIS
total 1 replies
Rahma Inayah
trm aja Alya to ank mu juga tanggung jwb Adrian ayah biologis ank mu .uang persiapan persalinan BS km gunakan utk keperluan baby mu nnt
Rahma Inayah
walau Adrian menjauh GK ggu alya tp rasa bersalah nya selalu menghantui dan membuat hidupnya TDK tenang sllu ada byg2 Alya
Devi ana Safara Aldiva
salut dengan cara Adrian membantu mantan istrinya itu... dan bertanggung jawab atas anaknya
Maria Kibtiyah
lanjut kak
ken darsihk
Semoga Alya baik2 sajah setelah dia mengetahui kalau Adrian yng membiayai persalinan nya nanti
ken darsihk
Biarkan Alya , Adrian
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya
Azril Ali
pa Safira jg hamil,ktnya telat..smga g BS hamil LG..
Ma Em
Untung Adrian pengertian dan benar tdk mau mengganggu Alya cuma melihat Alya dari kejauhan , semoga Alya dan bayi yg dikandungnya sehat .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!