Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengusir Hantu di Sekolah Lain
Suatu sore, saat jam pelajaran baru saja usai, Kang Joon-ho—pemimpin tim—memanggil mereka bertiga ke ruang gudang tua. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.
“Ada tugas di luar wilayah sekolah kita,” katanya langsung tanpa basa-basi. “Dari SMA Seongwon, sekitar dua kilometer dari sini, melaporkan gangguan yang makin parah. Siswa sering pingsan, mendengar suara aneh, dan ada yang melihat sosok di atap gedung tua mereka. Karena tim di sana sedang kekurangan orang, kita diminta membantu.”
Soo-jin menegakkan badan, jantungnya berdegup kencang. “Jadi kita harus pergi ke sekolah lain?”
“Benar,” jawab Min-woo. “Ini tugas pertamamu di luar lingkungan yang sudah kita kenal. Di tempat baru, aturannya tetap sama: jaga rahasia, jangan bertindak sembarangan, dan ikuti isyarat kami.”
Malam itu, tepat pukul delapan lewat tiga puluh, mereka tiba di gerbang belakang SMA Seongwon. Sekolah itu terlihat lebih tua dan luas dibandingkan SMA Haneul, dengan pepohonan yang tumbuh lebat dan membuat area sekitarnya terasa gelap serta sepi. Begitu melangkah masuk, Soo-jin langsung mengerutkan hidungnya—aroma yang ia kenal terasa jauh lebih pekat, bercampur dengan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum.
“Aku menciumnya… jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah kurasakan,” bisiknya sambil menggenggam ujung seragamnya.
Min-woo dan Seung-hyun saling pandang, wajah mereka makin tegang. “Benar, energinya lebih besar di sini. Hati-hati,” kata Seung-hyun sambil menyiapkan peralatan: garam halus, jimat, dan minyak khusus.
Mereka berjalan menuju gedung paling ujung yang sudah tidak dipakai lagi selama bertahun-tahun. Begitu sampai di lantai atas, suhu ruangan tiba-tiba turun drastis. Di ujung lorong yang gelap, bayangan samar mulai terlihat perlahan—bagi Soo-jin, bentuknya masih kabur, tapi rasanya ada pandangan tajam yang mengawasi setiap langkah mereka.
“Itu dia,” bisik Min-woo. “Seorang siswi yang meninggal sepuluh tahun lalu karena kecelakaan di atap. Ia merasa diabaikan dan menyimpan rasa kesal yang belum terselesaikan.”
Sosok itu perlahan terwujud jelas bagi Min-woo dan Seung-hyun: gadis muda dengan seragam usang, rambut menutupi wajah, dan matanya memancarkan cahaya redup. Ia melayang perlahan mendekat, mengeluarkan suara desisan yang membuat telinga berdenging.
“Siapa kalian… jangan ganggu tempatku…” suaranya terdengar seperti bergema dari dalam gua.
Soo-jin mundur selangkah, tapi ia tetap berdiri tegak. Anehnya, meski takut, ia bisa merasakan emosi yang tersembunyi di balik kemarahan itu—rasa sedih dan kesepian yang mendalam.
Min-woo melangkah maju, berbicara dengan nada tenang namun tegas: “Kami tidak datang untuk menyakitimu. Kami tahu kau merasa kesepian, tapi tempat ini bukan rumahmu selamanya. Jika kau terus tinggal di sini, kau tidak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang.”
Saat sosok itu makin mendekat dan hawa dingin makin menusuk, Soo-jin tiba-tiba mengeluarkan suara pelan namun jelas: “Kau rindu perhatian, bukan? Kau hanya ingin seseorang mendengarkan ceritamu.”
Begitu Soo-jin menyampaikan perasaannya, bukannya menjadi tenang, sosok gadis itu justru berubah seketika. Cahaya di sekelilingnya berubah menjadi gelap pekat, dan suara yang tadinya lirih berubah menjadi jeritan melengking yang menusuk telinga.
“Kau tidak tahu apa-apa! Semua orang membenciku! Aku tidak akan pergi!” teriaknya dengan suara bergema, membuat dinding-dinding di sekitarnya bergetar.
Sebelum siapa pun bisa bereaksi, sosok itu melesat cepat ke arah Soo-jin. Gelombang hawa dingin menghantam tubuh gadis itu, membuat napasnya terasa terhenti dan kakinya terasa tertancap ke lantai. Ia merasakan sesuatu yang tak terlihat mencengkeram bahunya dengan kuat, seolah ingin menariknya masuk ke dalam kegelapan.
“Arrghh!” teriak Soo-jin sambil berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya terasa hilang seketika.
“SOO-JIN!”
Min-woo langsung melompat ke depan, melemparkan sejumput garam kasar tepat ke arah sosok itu sambil mengangkat jimat di tangannya. Cahaya keemasan memancar, membuat cengkeraman itu terlepas seketika. Soo-jin terhuyung mundur dan jatuh ke lantai, napasnya terengah-engah dengan wajah pucat pasi.
“Mundur ke belakang! Jangan mendekat lagi!” perintah Min-woo sambil melindungi Soo-jin di balik punggungnya.
Namun kemarahan arwah itu belum berakhir. Ia berputar cepat, lalu meluncurkan semburan hawa dingin yang kuat ke arah Seung-hyun yang sedang bersiap membantu. Sebuah gaya dorong yang tak terlihat menghantam perut Seung-hyun, membuatnya terlempar dan membentur dinding dengan suara keras. Alat-alat yang dibawanya terlempar berserakan di lantai.
“Aduh…” erang Seung-hyun sambil memegang dadanya, wajahnya terlihat kesakitan dan sulit berdiri.
Suasana menjadi semakin mencekam. Sosok itu melayang di tengah ruangan, matanya memancarkan cahaya merah gelap, siap menyerang lagi. Min-woo memegang jimatnya dengan kedua tangan, tapi ia sadar kekuatannya tidak cukup jika harus melindungi keduanya sekaligus.
“Kau menyerang orang yang tidak berniat menyakitimu! Berhentilah!” teriak Min-woo dengan suara tegas, berusaha menarik perhatiannya agar tidak mendekati Soo-jin lagi.
Sementara itu, Soo-jin berusaha bangkit kembali. Meskipun masih gemetar, ia melihat keadaan teman-temannya dan menyadari bahwa lari bukanlah jalan keluar. Ia mengingat apa yang diajarkan: jangan takut, tapi tetap waspada.
Darah seolah mendidih di sekujur tubuh Min-woo saat melihat kedua temannya diserang. Ia melangkah maju, menahan diri agar tidak panik, sambil terus mengangkat jimat yang mulai memancarkan cahaya lebih terang.
“Kau marah karena merasa ditinggalkan, tapi menyakiti orang lain tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang!” teriaknya dengan suara lantang yang memecah keheningan mencekam.
Namun arwah itu semakin mengamuk. Suara jeritannya bergema di seluruh gedung, membuat lampu-lampu tua di dinding berkedip-kedip hingga akhirnya padam total. Hanya cahaya dari jimat Min-woo yang tersisa menerangi ruangan itu.
Soo-jin masih terhuyung, bahunya terasa nyeri dan kaku akibat cengkeraman tadi. Ia menoleh ke arah Seung-hyun yang masih terbaring bersandar di dinding, wajahnya pucat dan napasnya tersengal. Melihat itu, rasa takut di hatinya perlahan berubah menjadi tekad. Ia tidak boleh hanya diam menjadi beban.
Dengan sisa tenaga yang ada, Soo-jin mencoba berkonsentrasi. Ia mengingat rasa sedih yang tadi sempat ia rasakan di balik kemarahan arwah itu. Dengan suara yang masih bergetar tapi tetap jelas, ia berbicara lagi, kali ini lebih lembut dan tulus:
“Aku tahu rasanya… merasa tidak ada yang peduli, merasa kesepian dan tidak berdaya. Tapi kemarahan ini hanya akan membuatmu terjebak selamanya di sini, tidak bisa beristirahat, tidak bisa melanjutkan perjalananmu.”
Anehnya, saat suara Soo-jin terdengar, gerakan arwah itu melambat sedikit. Cahaya merah di matanya meredup sejenak, seolah terkejut mendengar nada bicara yang tidak penuh ancaman.
Min-woo melihat kesempatan itu. Ia segera memberi isyarat pada Seung-hyun yang mulai bisa menggerakkan tubuhnya. Dengan gerakan cepat namun terkoordinasi, Seung-hyun mengeluarkan sebotol air garam dan menyiramkannya perlahan membentuk garis pembatas di sekitar ruangan, sementara Min-woo melantunkan doa penenang dengan nada yang mantap.
“Kami tidak datang untuk menyakiti. Kami datang untuk membukakan jalan agar kau bisa pergi ke tempat yang damai,” ujar Min-woo pelan namun tegas.
Arwah itu melayang terombang-ambing di tengah lingkaran perlindungan. Suara rintihan sedih menggantikan jeritannya, dan wujudnya perlahan menjadi semakin samar. Bau yang menyengat tadi perlahan hilang, digantikan oleh hawa yang kembali sejuk.
“Aku… hanya ingin seseorang mendengarkanku…” gumam suaranya kini terdengar lemah dan pilu.
“Kami sudah mendengarkan,” jawab Soo-jin dengan lembut. “Sekarang pergilah. Tidak ada lagi yang menahanmu di sini.”
Sosok itu mengangguk perlahan, lalu mengangkat tangannya seolah melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Dalam sekejap, ia berubah menjadi butiran cahaya halus yang melayang ke atas, menembus langit-langit gedung, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya di kegelapan malam.
Suasana kembali tenang. Lampu-lampu yang padam tadi menyala lagi secara perlahan, dan suhu ruangan pun kembali normal.
Min-woo segera berbalik menghampiri Soo-jin, memegang bahunya dengan hati-hati. “Kau baik-baik saja? Tidak terluka parah?”
Soo-jin menggeleng sambil menarik napas panjang, meski tubuhnya masih terasa lemas. “Hanya terasa nyeri dan kaku saja… tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku tadi.”
Seung-hyun juga sudah berdiri tegak, meski masih memegang bagian pinggangnya yang terbentur. Ia tersenyum tipis sambil menghela napas lega. “Beruntung kita masih selamat. Tadi hampir saja kita kewalahan. Kau hebat juga, Soo-jin—meski diserang, tetap bisa bicara menenangkannya.”
Mereka bertiga saling berpandangan, sama-sama merasakan betapa berbahayanya tugas di luar wilayah sekolah sendiri. Namun di sisi lain, Soo-jin semakin menyadari bahwa kepekaannya yang unik justru menjadi kunci untuk mengatasi situasi yang sulit ini.
“Kita harus segera pulang,” kata Min-woo sambil membereskan peralatan yang berserakan. “Besok kita masih harus masuk sekolah seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi malam ini.”
Dengan langkah yang agak lambat karena lelah, mereka bertiga keluar dari gedung tua itu dan melangkah menuju jalan pulang, membawa pengalaman baru yang tidak akan pernah mereka lupakan.