Kehidupan Kania yang tenang tiba2 harus berubah saat situasi mengharuskannya berperan sebagai orang lain.
Mendapatkan cinta dari pria asing saat dia tidak menginginkannya.
Namun Kania harus melepas cinta itu saat dia benar2 bisa membuka hatinya.
Akankah Kania bertahan dengan peran barunya, ataukah dia harus kembali pada kehidupannya yang tenang sebelum dia bertemu dengan pria asing itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Kania melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, berpikir sejenak apa yang harus dia siapkan untuk menyambut kedatangan keluarga Daniel meski pertemuan keluarga ini tak begitu dia harapkan, malah Kania berdoa semoga kedua orang tua Daniel berubah pikiran dan mengundurkan rencana pernikahan mereka.
Gadis itu memutuskan pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan.
Bagaimanapun juga dia di didik untuk menyambut tamu sebaik mungkin oleh orang tuanya.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, gadis itu pulang dengan beberapa kantung belanjaan yang di tenteng di tangannya.
"Bi..bi Lastri" panggil Kania merasa kelelahan setelah meletakan belanjaan di dapur.
"Iya mbak Kania " jawab bi Lastri dari arah halaman belakang.
"Sore ini akan ada tamu yang datang ke rumah kita, bibi bantu Kania ya nyiapin makanan" ucap Kania sambil ngos-ngosan setelah meneguk air dingin dari kulkas.
"Beres mbak, oh iya tadi pagi ada orang kesini bawa kiriman barang katanya untuk mbak Kania, trus barangnya sudah saya taruh di kamar" ucap bi Lastri sambil mengeluarkan barang belanjaan dari kantung plastik.
"Dari siapa bi? tanya Kania penasaran.
"Katanya sih dari calon mertua mbak Kania, kayaknya bibi ketinggalan berita ini" ucap bi Lastri tersenyum penuh arti.
"Ih bibi mulai kepo deh" ledek Kania sambil tertawa kecil.
"Bibi cuma seneng kalau beneran mbak Kania udah punya calon, bibi doain calonnya mbak Kania ini jodoh terbaik yang Tuhan kirim buat bahagiain mbak Kania" ucap bi Lastri penuh ketulusan.
"Terima kasih banyak atas doanya bi" senyum Kania mengembang meski dihatinya terasa getir.
Andai Daniel adalah pria yang Kania cintai dan mencintainya dengan tulus, pasti saat ini Kania akan merasa jadi wanita paling bahagia karena sebentar lagi mereka akan terikat dalam hubungan pernikahan yang diimpikan banyak orang.
Namun ini semua hanya sandiwara yang entah bagaimana kisahnya akan berakhir.
"Kania ganti baju dulu ya bi" pamit Kania berlari ke kamarnya di lantai dua.
Saat gadis itu membuka pintu kamarnya, dia melihat kotak berwarna putih yang lumayan besar tergeletak di atas ranjang.
Perlahan Kania mendekat dan membuka kotak itu, sebuah gaun indah membuat mata Kania membelalak.
Dia yakin ini adalah gaun mahal yang di kirim oleh bu Salma, di sana juga sudah tersedia sepasang sepatu hells yang akan menambah indah kaki jenjang Kania.
"Hufff..maafkan Kania tante" ucap Kania merasa bersalah pada bu Salma yang mengucapkan kata-kata manis di sepucuk surat yang dia selipkan di gaun itu.
"Gaun cantik untuk menantuku yang cantik, sampai ketemu nanti sore sayang"
Kania menyeka sudut matanya yang basah, rasa bersalah semakin membuat gadis itu goyah untuk meneruskan sandiwara ini.
Tapi Kania tidak punya pilihan lain untuk menolong saudara kembar sialannya itu.
"Ya aku harus menghubungi Tania dan membicarakan ini" ucap Kania sambil mencari ponselnya.
Berkali- kali dia mencoba, namun nomor Tania tetap tidak bisa di hubungi.
Kania menggigit kuku jemarinya sambil berjalan kesana kemari di dalam kamarnya.
Dia bingung harus melakukan apa, perasaannya semakin gak karuan ketika melihat ke arah gaun yang ada di atas ranjangnya.
Gadis itu menarik nafas panjang, mencoba kembali ke akal sehatnya.
"Semua sudah di mulai, dan aku hanya berharap Tania segera sembuh dan kembali untuk membereskan semua ini, yah..aku hanya harus menjadi Tania sampai dia kembali" ucap Kania menyemangati dirinya sendiri.
Kania segera mengganti pakaiannya agar lebih leluasa saat memasak di dapur.
Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan kembali membantu bi Lastri menyiapkan bahan-bahan masakan.
Cukup lama mereka berkutat di depan kompor, beberapa menu masakan sudah selesai mereka buat.
Kania hanya tinggal membuat cake dan puding untuk dessert.
"Wah..memangnya di rumah kita bakalan ada hajatan kak, kenapa makanannya banyak sekali? tanya Rian yang baru pulang sekolah.
"Eiits..cuci tangan dulu Rian, jorok ih" omel Kania sambil menepuk tangan adiknya yang hendak mencomot makanan di meja makan.
"He he, habis enak sih kak, memangnya mau ada acara apa sih kak? tanya Rian lagi karena merasa belum mendapat jawaban dari kakaknya.
"Sebentar lagi kakakmu ini akan menjadi istri orang Rian" ucap pak Dedi menyela pertanyaan anaknnya.
"Ayah sudah pulang" ucap Kania berjalan menuju kulkas dan mengambil air madu untuk ayahnya.
"Maksud ayah apa? tanya Rian bingung.
"Nanti sore calon suami kakakmu akan datang melamar ke sini, jadi sebaiknya sekarang kamu mandi dan segera bersiap menyambut calon kakak iparmu" ucap pak Dedi sembari tersenyum setelah meneguk habis air madu yang Kania berikan.
"Kak? panggil Rian menatap Kania meminta penjelasan pada gadis itu yang berusaha menghindari tatapan penuh selidik dari adiknya.
"Kak Kania? ulang Rian lagi masih berdiri di belakang Kania menunggu jawaban.
Pasalnya Rian tidak pernah mendengar ataupun melihat Kania dekat apalagi menjalin hubungan serius dengan pria manapun selain dengan Reyhan sahabat pria Kania satu-satunya.
Sekarang Rian malah dikejutkan dengan berita lamaran kakaknya yang terkesan tiba-tiba.
Karena merasa diabaikan Rian menarik tangan kakaknya menuju lantai dua.
"Rian! kakak masih belum selesai ini" teriak Kania mengikuti langkah adiknya.
Rian tidak peduli dan terus menarik tangan Kania.
"Bi tolong di teruskan ya" teriak Kania pada bi lastri.
Sesampainya di kamar Kania, Rian langsung meminta penjelasan pada kakaknya.
"Tolong jelaskan pada Rian, apa yang ayah bilang barusan itu benar kak? tanya Rian menatap tajam Kania.
"Iya semua itu benar Rian" jawab Kania pasrah.
"Siapa? apa pekerjaannya? dan bagaimana kakak bisa mengenalnya? tanya Rian penuh selidik.
"Namanya Daniel, dia bekerja menjalankan perusahaan keluarganya, dan kakak sudah mengenalnya sejak lama, hanya saja kakak belum punya kesempatan mengenalkannya padamu" ucap Kania beralasan.
"Kapan? Rian gak pernah lihat kakak dekat dengan siapapun selama ini, apa kakak sudah yakin dengan pria ini? bagaimana sifatnya? apa dia benar-benar baik? apa dia mencintai kakak dan apa.." Rian merasa bingung dan khawatir.
"Riaan..kakak tau saat ini kamu pasti kaget mendengar ini, kakak juga paham kekhawatiran kamu, tapi kakak mohon percaya sama kakak, Daniel pria yang baik dan akan membahagiakan kakak" ucap Kania menyela pertanyaan adiknya.
"Tapi kak.." ucap Rian ragu.
"Kamu percaya sama kakak kan? ucap Kania sambil menggenggam tangan adiknya.
"Apa kak Kania benar-benar sudah yakin dengan pilihan kakak? tanya Rian memastikan.
Gadis itu mengangguk sambil menunjukan seutas senyuman diwajahnya.
Rian memeluk Kania, meskipun Kania sudah mencoba meyakinkannya, namun Rian merasa ada yang aneh dan mengganjal di hatinya.
Dipeluknya erat Kania, seakan masih tidak percaya kalau kakak perempuan yang dia sayangi ini akan memulai kehidupan baru dengan pria pilihannya.
Rian mencoba menepis semua keraguannya, dia hanya berdoa untuk kebahagiaan kakaknya.
"Rian akan selalu ada buat kak Kania, katakan pada Rian kalau suatu saat pria itu berani menyakiti kakak, karena Rian gak akan biarin dia hidup tenang kalau sampai semua itu terjadi" ucap Rian sambil menitikan air mata.
Kania hanya bisa membalas pelukan Rian, dalam hatinya hanya meminta pengampunan karena harus membohongi adiknya.
Tanpa terasa gadis itu juga tak dapat membendung air matanya, perhatian tulus Rian semakin membuatnya merasa bersalah dan berdosa.
*****
Kania menatap dirinya di depan cermin, gaun indah pemberian bu Salma kini melekat indah di tubuh gadis itu.
Berkali-kali Kania menghela nafas, meyakinkan dirinya kalau dia mampu melewati semua ini.
Hingga ketukan dari pintu dan suara bi Lastri yang memanggil dari luar mengagetkannya.
"Iya sebentar bi" ucap Kania membuka pintu kamarnya.
"Tamunya sudah datang mbak" Bi Lastri tersenyum sumringah sambil terus menatap kagum pada Kania.
"Bi..kok liatin aku sampe segitunya sih, aku jelek ya bi,atau dandanan aku terlalu menor ? tanya Kania merasa gugup.
"Mbak Kania cantik kok, cantik banget malah, bibi sampe pangling, cocok sama calonnya ganteng" ucap bi Lastri karena sudah melihat Daniel di bawah.
"Akhh..bibi bisa aja, temenin aku ke bawah yuk bi" ucap Kania mencoba mengurangi rasa gugupnya.
Lalu Bi Lastri menuntun Kania menuruni tangga, terlihat jelas wajah Kania yang tampak tegang menemui keluarga Daniel.
"Nah, itu Kania" ucap Pak Dedi menoleh pada anaknya yang berjalan mendekat.
Tidak hanya pak Dedi yang terpukau melihat kecantikan dan keanggunan anak perempuannya.
Daniel, adiknya dan kedua orang tuanya juga turut terpukau melihat penampilan calon anggota keluarga baru mereka.
"Kamu benar-benar pintar mencari calon mantu buat mama" ucap Bu Salma spontan sambil menepuk lengan anaknya.
Daniel menunduk malu sambil menoleh kepada calon mertuanya.
Namun perhatiannya kembali pada Kania yang kini duduk di hadapannya.
Jantungnya berdegub tak karuan saat melihat wajah Kania yang terlihat semakin cantik saat ini.
Perasaan bahagia menyelimuti dirinya yang telah menantikan hari ini.
Usahanya tinggal selangkah lagi untuk menjadikan gadis cantik itu menjadi pendamping hidupnya.
"Bagaimana kalau langsung kita mulai saja acaranya, saya yakin anak saya juga sudah tidak sabar untuk segera melamar anak gadis pak Dedi" ucap pak Surya saat melihat anaknya yang tak mengalihkan perhatiannya pada Kania.
Mendengar ucapan pak Surya semua orang yang ada di ruangan itu pun tertawa.
Namun tidak dengan Rian, pemuda itu masih menatap tajam pada Daniel.
Dia masih ingin memastikan apakah pria itu adalah orang yang pantas untuk menjadi pendamping hidup kakaknya.
Pembicaraan tentang lamaran hari ini pun dimulai dengan santai dan penuh kehangatan.
Terakhir di tandai dengan Daniel yang menyematkan cincin dan gelang bertahtakan berlian di tangan Kania, sesaat setelah gadis itu menerima lamaran darinya.
Senyum bahagia terpancar dari kedua keluarga yang akan segera berbesan itu.
Begitupun Daniel yang tak melepaskan genggaman tangannya pada Kania.
"Aku benar-benar bahagia saat ini sayang" bisik Daniel pada Kania yang menunduk malu.
"Aku juga" ucap Kania tersenyum getir karena mulai saat ini semua sandiwaranya akan segera di mulai.
Acara di lanjutkan dengan makan malam bersama, kembali kedua orang tua Daniel di buat terpukau dengan calon menantunya saat mengetahui semua masakan ini di buat oleh Kania.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak karena pak Dedi telah membesarkan Kania dengan baik, kami benar-benar beruntung mendapatkan calon menantu seperti Kania di keluarga kami" ucap bu Salma tersenyum bahagia.
"Terima kasih atas pujiannya calon besan, saya hanya berharap keluarga Pak surya dapat menerima kekurangan dan kelebihan Kania seperti anak sendiri nantinya" ucap Pak Dedi penuh harap.
"Pasti pak, bapak tidak perlu khawatir dengan hal itu" jawab pak Surya meyakinkan.
Setelah acara makan malam selesai, mereka melanjutkan obrolan ringan sebelum akhirnya kedua orang tua Daniel dan adiknya berpamitan untuk pulang.
Hanya Daniel yang meminta tinggal karena mendengar setelah malam ini mereka berdua harus menjalani pingitan sampai lima hari kedepan menjelang hari pernikahan mereka.
Awalnya Daniel merasa keberatan, namun pria itu hanya bisa pasrah karena tidak ingin mengacaukan rencana pernikahannya.
"Memangnya perlu ya sayang acara pingit-pingitan itu, trus gimana dong kalau aku kangen sama kamu" ucap Daniel manja sambil menggenggam tangan Kania.
"Udah nurut aja, memangnya kamu mau bantah permintaan orang tua kita, kamu mau mereka batalin rencana pernikahan ini" ucap Kania menenangkan Daniel.
"Ya gak mau lah sayang, ok lima hari itu gak ada apa-apanya di bandingin penantian panjang aku selama ini, yang penting kita segera menikah" ucap Daniel mencium punggung tangan Kania.
"Ekheem..ekheem" Rian tiba-tiba muncul dan ikut bergabung duduk di gazebo yang ada di halaman samping rumah mereka.
"Rian..kamu belum tidur? tanya Kania sedikit gugup.
"Belum kak, kan Rian masih pengen ngobrol sama calon kakak ipar Rian dulu" jawab Rian sambil menatap penuh arti pada Daniel.
"Oh ya, kamu masih SMA kan Rian? mau nerusin pendidikan kemana setelah lulus nanti? tanya Daniel mencoba mendekatkan diri karena merasa Rian tidak begitu menyukainya dan terlihat jelas dari tatapan pemuda itu.
"Belum tau, memangnya kenapa? apa calon kakak ipar mau biayain kuliahku? tanya Rian sembarangan.
"Riaan!!! ucap Kania mengeratkan giginya.
"Rian cuma bercanda kak" jawab pemuda itu santai.
"Gak masalah sayang, justru aku merasa senang kalau adik kamu mau menerima bantuanku" ucap Daniel menoleh pada kania sambil tersenyum.
"Kalau boleh tau dimana dan kapan kak Daniel mengenal kak Kania? tanya Rian penasaran.
Kania kaget mendengar pertanyaan adiknya, bagaimana kalau sampai Rian curiga dan mengetahui kebohongan ini.
"Dua tahun yang lalu di sebuah acara kami saling mengenal dan memutuskan berpacaran hingga sekarang" jawab Daniel sambil mengingat perkenalannya dulu dengan Tania.
"Wah..ternyata diam-diam kak Kania hebat juga ya, lalu kenapa selama ini kak Kania gak pernah kenalin kak Daniel ke ayah ataupun ke aku sih kak? tanya Rian lagi.
"Mmm...mendingan kita bahas hal lain aja gimana? tawar Kania karena merasa Rian sengaja mencari informasi tentang hubungannya dengan Daniel.
"Gak apa2 sayang, mungkin adik kamu cuma pengen lebih tau tentang hubungan kita" ucap Daniel sambil membelai pipi Kania.
Ya Tuhan tolong aku..gumam Kania dalam hati.