NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Nama di Sudut Kertas

"Buka."

Perintah Oma Mei membuat Anton mengangkat kain putih dari bingkai itu.

Kain jatuh perlahan, dan ruang utama Hartono seperti kehilangan suara.

Di dalam bingkai kayu gelap, seorang gadis berdiri di bawah cahaya lampion. Tubuhnya sedikit berputar, seolah baru saja mendengar seseorang memanggil dari belakang. Rambutnya bergerak mengikuti angin malam. Lampion merah di atas kepalanya menyala hangat, sementara latar belakang pasar malam dibuat kabur seperti ingatan yang tidak mau ditangkap utuh.

Seline tidak bisa bernapas.

Ia tahu setiap garis dalam gambar itu.

Ia tahu lapisan merah yang ia buat tiga kali karena warna pertama terlalu dingin. Ia tahu bayangan di pergelangan tangan gadis itu. Ia tahu titik kecil di bawah lampion kiri yang sebenarnya berasal dari tinta yang menetes saat Darren bersin di samping meja. Ia tahu malam ketika gambar itu selesai, ibu angkatnya tertidur karena obat, dan Seline duduk sendirian sampai subuh.

Lampion Girl.

Karya asli Tao.

Kali ini, gambar itu tidak berada di ruang pribadi Kevin. Tidak tersembunyi di balik amplop cokelat. Tidak hanya dilihat Seline dari celah pintu kaca dalam hujan.

Gambar itu berdiri di ruang utama Hartono, di depan Oma, Stephanie, Bryan, Vivian, Tante Chen, dan seluruh keluarga.

"Cantik," Tante Liu berkata lebih dulu.

"Ini ilustrasi digital?" tanya salah satu sepupu.

Kevin menjawab, "Mixed media. Sketsa tangan dan pewarnaan manual. Bukan cetakan."

Seline memegang gelas es teh begitu kuat sampai jari-jarinya sakit.

"Original?" Tante Chen ikut bertanya.

"Original."

Kata itu membuat Seline hampir menutup mata. Kalau Kevin menyebut dari galeri mana, tahun berapa, atau tema pesanan, Darren bisa saja bereaksi lagi. Anak itu pintar, tetapi wajahnya terlalu jujur.

Benar saja, Darren berdiri kaku di dekat meja jeruk. Seline menatapnya sebentar, cukup untuk memberi peringatan. Darren langsung mengambil satu jeruk dan mulai mengupasnya dengan sangat serius, seolah seluruh masa depannya bergantung pada kulit jeruk itu.

Stephanie berjalan lebih dekat ke bingkai. "Ko Kevin jarang membeli karya untuk dipasang di ruang utama. Biasanya koleksimu di ruang pribadi."

Kevin tidak menyangkal. "Oma lebih cocok menyimpannya."

"Karena temanya lampion?"

"Karena rasanya."

Jawaban itu membuat Seline ingin menghilang ke balik sofa. Kevin berbicara tentang gambar itu seolah ia pernah mendengarkan sesuatu yang Seline sendiri tidak berani sebut.

Jessica menoleh padanya. "Seline?"

"Aku baik."

Suara itu terlalu pelan. Jessica tidak percaya, tetapi untungnya semua perhatian sedang tertuju pada bingkai.

Oma Mei menatap gambar itu lama. Wajahnya tidak menunjukkan kekaguman berlebihan, tetapi matanya melembut. Ia mengangkat tangan sedikit, tidak menyentuh kaca, hanya mengikuti garis gadis di bawah lampion dari udara.

"Ada rasa pulang yang sedih di sini," kata Oma.

Seline merasa tenggorokannya tercekat.

Kevin melihat Oma. "Aku pikir cocok untuk ruang utama."

"Kenapa?" tanya Oma.

"Karena rumah ini juga tempat orang menoleh."

Kalimat itu membuat beberapa orang saling pandang. Seline tidak berani mengangkat mata.

Stephanie tersenyum. "Artisnya terkenal?"

"Di kalangan kolektor ilustrasi," jawab Kevin.

"Namanya?"

Kevin melihat sudut kanan bawah gambar. "Tao."

Nama itu jatuh di ruangan seperti bunyi kaca kecil.

Darren yang berdiri tidak jauh dari Seline langsung menegang. Anak itu cepat menunduk pada piring jeruk, tetapi Seline melihat bahunya naik. Ia tahu. Ia ingat. Ia satu-satunya orang di ruangan itu yang tahu tiga huruf tersebut bukan sekadar nama artis misterius.

Vivian memiringkan kepala. "Tao? Nama asli?"

"Nama pena," kata Kevin.

"Ko Kevin kenal orangnya?"

Pertanyaan Vivian terdengar santai, tetapi Seline bisa merasakan pisau di baliknya. Setelah kejadian toko alat gambar, setelah Kevin membeli tinta merah lampion, setelah Vivian melihat payung hitam, gadis itu mulai menghubungkan hal-hal yang seharusnya tetap terpisah.

Kevin menjawab tanpa mengubah ekspresi. "Tidak."

Seline hampir bisa bernapas lagi.

Hampir.

Karena setelah itu, Oma Mei tiba-tiba menoleh padanya.

"Seline, menurutmu gambar ini bagus?"

Semua mata yang semula berada pada bingkai kembali berpindah ke wajahnya.

Seline merasa tanah di bawah kakinya hilang setipis rambut. Ia tidak bisa memuji terlalu dalam. Tidak bisa terlalu acuh. Ia harus menjawab seperti orang yang melihat karya itu untuk pertama kali, bukan seperti orang yang tahu noda tinta di sudut lampion kiri.

"Bagus, Oma," katanya. "Warnanya hangat. Tapi ada bagian yang terasa sepi."

Oma Mei menatapnya lama. "Kamu melihat sepinya?"

"Sedikit."

Kevin menoleh.

Seline langsung menyesal. Jawaban itu terlalu jujur.

"Maksud saya, gadisnya seperti sedang menoleh karena mendengar sesuatu, tapi orang yang memanggilnya tidak terlihat."

Ruang itu kembali hening.

Bryan memejamkan mata sekejap, seperti kalimat Seline menyentuh luka yang sama dengan lukanya.

Oma Mei akhirnya berkata, "Itu sebabnya Oma suka."

Bryan tiba-tiba berkata, "Gadis di gambar itu seperti sedang mencari seseorang."

Seline menoleh padanya tanpa sadar.

Bryan tidak melihat Seline. Ia menatap lukisan itu dengan wajah yang sulit dibaca. Mungkin hanya karena tema lampion. Mungkin karena ia terlalu sering mencari anak perempuan yang hilang di antara cahaya merah seperti itu.

Stephanie berkata, "Ko Bryan, hari Imlek jangan bicara sedih."

Bryan tersenyum tipis. "Justru Imlek membuat orang ingat siapa yang belum pulang."

Ruangan hening sebentar.

Oma Mei menatap Bryan, lalu kembali pada gambar. "Siapkan tempat di dinding timur."

Anton mengangguk. "Baik, Oma."

"Jangan terlalu tinggi. Oma ingin bisa melihat detailnya dari kursi."

"Baik."

Kevin memberi tanda kecil pada Anton. Dua pelayan mulai mengangkat bingkai ke arah dinding timur ruang utama. Saat mereka bergerak, cahaya dari jendela mengenai kaca, membuat sudut kanan bawah gambar tampak lebih jelas.

Seline tidak ingin melihat.

Matanya tetap melihat.

Seketika ia kembali ke malam dua tahun lalu. Kamar kontrakan sempit, lampu meja yang berkedip, Darren tidur dengan selimut tipis, dan tangannya yang ragu di atas sudut kertas. Ia hampir menulis Seline. Lalu ia ingat bahwa Seline adalah nama anak yang harus membeli obat, membayar sekolah, dan berutang senyum pada tetangga. Maka ia menulis Tao, tiga huruf yang terasa seperti suara dari mimpi lama.

Tiga huruf itu dulu membuatnya aman.

Sekarang tiga huruf yang sama berdiri di ruang utama Hartono, diterangi cahaya Imlek.

Di belakangnya, Darren menarik napas terlalu cepat. Seline merasakan gerakan kecil itu tanpa menoleh. Ia ingin menutup mata adiknya dengan telapak tangan, seperti dulu ia menutup buku gambar setiap kali pemilik kontrakan mengetuk pintu. Namun di ruang keluarga sebesar ini, satu gerakan panik saja cukup untuk membuat semua orang bertanya.

Kevin berdiri tidak jauh dari bingkai. Cahaya jatuh di sisi wajahnya, membuat ekspresinya tampak lebih tenang daripada siapa pun di sana. Ia tidak sedang memamerkan lukisan mahal. Ia seperti sedang memperkenalkan sesuatu yang sudah lama ia simpan sendiri.

Di sana, kecil dan rapi, persis seperti malam ia menandatanganinya dua tahun lalu, tiga huruf itu terlihat jelas.

Tao.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!