"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
Suara pintu kamar yang menutup perlahan kembali menghadirkan keheningan.
Setelah menghabiskan beberapa menit berbincang dengan ayahnya, Pak Aditya lewat telepon dan menerima ucapan selamat dari para pelayan, akhirnya hanya tersisa Arga dan Nadira di dalam kamar yang mulai malam itu menjadi ruang pribadi mereka.
Nadira keluar dari walk-in closet dengan mengenakan piyama satin berwarna biru muda. Rambutnya yang tadi disanggul kini tergerai rapi hingga melewati bahu. Riasan wajahnya pun telah dibersihkan, menyisakan wajah polos yang justru terlihat jauh lebih lembut.
Di sisi lain, Arga baru saja keluar dari kamar mandi. Jas pengantin dan kemeja putih yang sejak pagi melekat di tubuhnya telah berganti dengan kaus lengan panjang berwarna abu-abu dan celana training hitam. Penampilannya yang jauh lebih santai membuat Nadira sempat terdiam beberapa detik.
Entah mengapa, melihat Arga tanpa balutan setelan formal terasa begitu berbeda. Pria itu tampak lebih muda.
"Kenapa?" tanya Arga ketika menyadari Nadira memperhatikannya.
Nadira tersentak kecil.
"Hah? Nggak... nggak apa-apa."
Arga mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Ia berjalan menuju meja kerja, merapikan beberapa dokumen yang sempat ditinggalkannya begitu saja sebelum mengurus pernikahan, lalu mengambil sebuah notebook bersampul hitam.
Nadira yang sejak tadi berdiri di dekat tempat tidur memperhatikan gerak-geriknya dengan bingung.
"Kamu masih kerja?"
"Bukan."
Arga membawa notebook itu ke area duduk dekat jendela, lalu meletakkannya di atas meja kopi.
"Duduk dulu."
Nadira menurut. Ia memilih duduk di sofa tunggal, sementara Arga mengambil tempat di sofa yang berhadapan dengannya.
Suasana kembali hening. Hanya suara embusan angin dari balkon yang sesekali menggerakkan tirai tipis berwarna ivory. Arga membuka halaman kosong pada notebook tersebut.
"Ada satu hal yang perlu kita sepakati."
Nadira spontan menegakkan duduknya. "Kontraknya?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Aturan hidup serumah."
Kening Nadira sedikit berkerut. "Bukannya semuanya sudah ada di kontrak?"
"Belum." Arga menyandarkan punggungnya. "Kontrak hanya mengatur hubungan kita selama satu tahun."
Ia mengangkat notebook itu sedikit. "Tapi kontrak tidak mengatur bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari."
Nadira memikirkannya sejenak. Benar juga.
Selama ini mereka hanya membahas tujuan pernikahan kontrak, hak dan kewajiban masing-masing, serta batasan agar tidak saling melibatkan perasaan. Tidak pernah ada pembicaraan mengenai hal-hal sederhana yang justru akan mereka hadapi setiap hari.
"Kalau begitu..." Nadira tersenyum kecil. "Aku setuju."
Arga mengambil pulpen.
Di bagian paling atas halaman kosong, ia menulis dengan huruf yang rapi:
Aturan di Bawah Satu Atap
"Aturan pertama."
Pulpen Arga kembali menyentuh kertas. "Privasi tetap harus dihargai."
"Maksudnya?"
"Kalau pintu ruang kerja atau kamar mandi tertutup, ketuk dulu sebelum masuk."
"Itu berlaku buat kita berdua?"
"Tentu."
Nadira mengangguk mantap. "Aku suka aturan itu."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau lagi baca buku, aku sering lupa waktu." Nadira tertawa kecil mengenang kejadian itu. "Dulu Maya sampai panik karena kupikir aku pingsan di kamar. Padahal aku lagi baca novel detektif."
Arga tersenyum tipis. "Aku juga begitu kalau sedang menyelesaikan desain atau laporan."
"Nah, berarti kita impas."
Arga menuliskan poin pertama sebelum melanjutkan ke poin berikutnya.
"Aturan kedua." Ia menatap Nadira sejenak. "Jadwal kamar mandi."
Nadira langsung menatapnya heran. "Segitunya?"
"Kita cuma punya satu kamar mandi utama."
"Iya juga."
"Aku biasanya bangun jam lima."
Mata Nadira langsung membulat. "Lima pagi?"
"Iya."
"Setiap hari?"
"Hampir."
Nadira menggeleng pelan tak percaya. "Kalau aku..."
"Jam berapa?"
"Jam tujuh."
Arga terdiam beberapa detik. "Berarti kita aman."
"Maksudnya?"
"Kamu bangun saat aku sudah selesai."
Nadira terkekeh. "Untung aja."
"Kalau ada keadaan tertentu, kita saling memberi tahu."
"Deal."
Arga kembali menulis. "Aturan ketiga." Ia berdiri, lalu berjalan menuju walk-in closet dan membuka salah satu pintunya. "Lemari sebelah kiri."
Nadira ikut mendekat. Kosong. Benar-benar kosong.
"Kamu sengaja mengosongkannya?"
"Iya."
"Kapan?"
"Semalam."
Nadira menoleh kepadanya dengan wajah tak percaya. "Padahal bajumu banyak."
"Aku pindahkan ke sisi kanan."
"Sendirian?"
Arga mengangguk santai. "Aku pikir akan lebih nyaman kalau semua barangmu punya tempat sendiri."
Kalimat itu membuat Nadira terdiam. Perhatian kecil itu terasa begitu sederhana, justru karena sederhana, ia terasa tulus. Tanpa sadar senyum tipis menghiasi wajah Nadira.
"Terima kasih."
Arga hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum kembali menatap notebook di tangannya. "Ada satu aturan lagi yang menurutku perlu kita bicarakan."
Nadira kembali duduk sambil mengernyit penasaran. "Yang mana?"
Tatapan Arga perlahan bergeser ke arah tempat tidur king size yang berdiri megah di tengah ruangan.
Nadira mengikuti arah pandangnya. Dalam sekejap, senyum di wajahnya menghilang.
"Oh..."
Baru sekarang keduanya menyadari bahwa sejak tadi mereka sibuk membicarakan segala hal kecuali satu hal yang paling canggung.
Tentang bagaimana mereka akan berbagi satu tempat tidur yang sama.