Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Yuni Difitnah
Siapa yang bisa mengenali Bobo?
Pertanyaan itu belum sempat menemukan jawaban ketika Griya Asri kembali ribut.
Pagi itu, Meilan baru selesai mengantar anak-anak ke Harmony Academy. Ia masih memikirkan anak perempuan berwajah asing di balik pagar sekolah ketika Bu Tuti berlari kecil ke depan rumahnya, sandal jepitnya berbunyi keras di jalan.
"Mbak Mei! Cepat ke rumah Darto. Yuni dituduh bikin orang keguguran!"
Sari yang sedang menjemur pakaian langsung berhenti. "Astagfirullah."
Meilan mengambil kerudung tipis dan ponsel. "Siapa yang keguguran?"
"Ipar ketiganya. Katanya habis minum sup buatan Yuni."
Rumah Darto sudah penuh orang ketika Meilan tiba. Halaman kecil itu sesak oleh tetangga, saudara, dan suara tangis yang bercampur tuduhan. Yuni duduk di lantai ruang tamu, wajahnya pucat, kedua tangan menggenggam ujung daster.
Darto berdiri di depannya seperti pagar hidup.
"Yuni tidak mungkin melakukan itu!" suaranya serak. "Dia bahkan takut menyakiti ayam!"
Seorang perempuan berwajah tajam, kakak ipar kedua Darto, menunjuk Yuni dengan tangan gemetar yang terlalu rapi. "Yang masak sup dia! Setelah adik ipar saya minum, perutnya langsung sakit. Dokter bilang ada zat penggugur kandungan!"
Di kursi panjang, ipar ketiga Darto menangis sambil memegang perut. Wajahnya lemah, tetapi matanya lebih banyak menunduk daripada menatap Yuni. Ayah Darto duduk dengan wajah keras. Ibu Darto menangis pelan di sudut.
Yuni mengangkat wajah begitu melihat Meilan.
"Mbak Mei, saya tidak melakukan apa-apa. Saya cuma masak sayur bening seperti biasa."
Meilan masuk tanpa terburu-buru. Suasana seperti ini tidak boleh dilawan dengan suara lebih keras. Orang yang paling tenang biasanya memegang ruang.
"Supnya masih ada?"
Kakak ipar kedua mendengus. "Buat apa? Mau bilang saya bohong?"
"Kalau kamu yakin Yuni bersalah, bukti akan membantu kamu."
Kalimat itu membuat perempuan tersebut terdiam sebentar.
Darto menunjuk dapur. "Masih ada di panci."
Meilan meminta semua orang tidak menyentuh apa pun. Ia memotret panci, mangkuk, sendok sayur, dan meja dapur. Di dekat kompor, ada tiga mangkuk bekas. Dua mangkuk dicuci setengah, satu masih menyisakan kuah bening.
"Siapa saja yang makan sup ini?"
Yuni menjawab lirih, "Saya, Darto, Bapak, Ibu. Ipar kedua tidak mau karena katanya hambar. Ipar ketiga minta satu mangkuk kecil."
"Yang sakit hanya ipar ketiga?"
"Iya."
Meilan mengambil sendok bersih, mencium sisa kuah. Bau sayur biasa. Tidak ada bau menyengat. Ia lalu melihat tempat sampah. Di bawah plastik bekas cabai, ada bungkus kecil dari apotek. Tulisan pada bungkusnya sudah robek, tetapi sisa nomor batch masih tampak.
Kakak ipar kedua tiba-tiba maju. "Itu sampah dapur! Jangan asal ambil!"
Meilan menatapnya. "Kamu panik untuk sampah?"
Wajah perempuan itu berubah.
Meilan memungut bungkus itu dengan tisu, memasukkannya ke plastik bening. "Darto, ada apotek dekat sini?"
"Ada, di depan pasar."
"Kirim foto bungkus ini ke apotek. Tanya obat apa."
Darto langsung memotret. Kakak ipar kedua mencoba merebut ponselnya, tetapi Bu Tuti yang biasanya suka gosip justru menahan tangannya.
"Eh, jangan. Biar jelas. Kalau Yuni salah, ya salah. Kalau tidak, jangan fitnah orang."
Untuk pertama kalinya hari itu, Yuni menangis.
Ayah Darto menatap Meilan. "Bu Meilan, dokter bilang ada obat. Itu tidak mungkin datang sendiri."
"Betul. Karena itu kita cari siapa yang punya kesempatan memasukkan obat ke mangkuk korban, bukan hanya siapa yang memasak satu panci untuk semua orang."
Ipar ketiga menangis lebih keras. "Saya tidak tahu. Saya cuma makan."
Meilan mendekatinya dan berjongkok. "Mangkukmu diambil sendiri atau diberikan orang?"
Perempuan itu menelan ludah. Matanya bergerak cepat ke arah kakak ipar kedua.
Ruangan menjadi sunyi.
"Jawab," kata Meilan lembut, tetapi suaranya menekan.
"Mbak kedua yang ambilkan," bisiknya.
Kakak ipar kedua langsung berteriak. "Dia sakit, pikirannya kacau! Jangan percaya!"
Ponsel Darto berbunyi. Ia membaca pesan dari apotek, lalu wajahnya memerah.
"Ini... ini obat keras. Harus dengan resep. Bisa menyebabkan pendarahan kalau diminum ibu hamil."
Meilan berdiri. "Siapa yang membeli?"
Darto menggertakkan gigi. "Apotek bilang kemarin ada perempuan beli, pakai masker. Tapi CCTV ada."
Kakak ipar kedua mundur satu langkah.
Meilan melihatnya dari ujung rambut sampai sandal. "Maskermu motif bunga biru?"
Perempuan itu refleks menoleh ke tasnya.
Gerakan kecil itu cukup.
Darto membuka tas itu sebelum ia sempat mengambilnya. Di dalamnya ada masker motif bunga biru dan struk apotek yang dilipat kecil. Ibu Darto menjerit tertahan. Ayah Darto berdiri begitu cepat sampai kursinya terguling.
"Kamu?" suaranya gemetar. "Kamu membunuh cucuku sendiri?"
Kakak ipar kedua menangis palsu yang akhirnya berubah menjadi takut. "Saya tidak mau membunuh! Saya cuma mau dia sakit sedikit. Biar Yuni disalahkan. Kalau Yuni diusir, bagian rumah ini bisa dibagi. Saya capek miskin terus!"
Yuni menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Darto hampir maju memukul, tetapi Meilan menahan lengannya.
"Jangan kotori tanganmu. Bawa ke polisi kalau keluarga mau proses."
Ayah Darto menatap menantunya dengan mata merah. "Keluar dari rumah ini. Hari ini juga. Urusan polisi saya pikirkan setelah membawa yang sakit ke rumah sakit."
Ipar ketiga menangis tanpa suara. Meski korban, ia juga kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan oleh siapa pun. Meilan meminta Darto mengantar perempuan itu ke rumah sakit swasta kecil terdekat untuk pemeriksaan ulang. Biaya pertama ia bayarkan dulu, bukan karena ia baik hati pada keluarga yang ribut, melainkan karena nyawa dan kesehatan tidak boleh menunggu rapat keluarga.
Sore harinya, halaman rumah Darto lebih sepi. Yuni duduk di teras, mata bengkak.
"Mbak Mei, kenapa orang bisa sejahat itu hanya karena rumah?"
"Karena sebagian orang merasa kemiskinan memberi izin untuk melukai orang lain."
"Saya capek terus bergantung pada keluarga Darto."
Meilan mengeluarkan catatan kecil. "Kalau begitu jangan bergantung."
Yuni menatapnya.
"Kamu pintar membuat kue pasar. Kleponmu enak, tapi tampilannya bisa diperbaiki. Kita buat versi lebih bersih, kemasan kecil, titip di warung dan pasar pagi. Modal awal dari aku. Keuntungan pertama untuk kamu putar lagi. Kalau sudah stabil, modalnya kamu kembalikan pelan-pelan."
Yuni menangis lagi, tetapi kali ini bukan karena takut.
"Mbak percaya saya?"
"Aku percaya orang yang tetap lembut walau berkali-kali diinjak. Tapi bisnis tetap bisnis. Kamu harus catat uang masuk dan keluar."
Darto yang baru pulang dari rumah sakit mendengar kalimat itu. Ia berdiri di pagar, matanya merah.
"Saya bantu jual, Mbak. Saya bisa antar ke pasar pakai motor."
"Bagus. Mulai besok pagi."
Malamnya, saat Meilan pulang, Sari sudah menyiapkan teh hangat. Anak-anak tidur lebih cepat setelah hari panjang di sekolah. Rumah terasa tenang, tetapi ponselnya bergetar.
Pesan suara dari Patrick.
Meilan menekan tombol putar.
Suara Patrick terdengar rendah, tidak seperti biasanya.
"Mei, Leo berulah lagi. Kali ini lebih serius. Sepertinya dia menghubungi orang Jakarta."