NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

Pasar Asemka

Yola akhirnya tidak menjawab Rayhan sore itu.

Ia hanya menutup buku stok, meminta Dewi mengirim daftar belanja ke ponselnya, lalu berkata bahwa keputusan akan dibuat besok pagi. Rayhan tidak memaksa. Ia pergi setelah memastikan Rizal tetap di seberang jalan, dan untuk pertama kalinya, kepergiannya tidak terasa seperti pintu yang dibanting.

Keesokan paginya, mobil sudah menunggu di depan Liem Mansion.

Yang berbeda, Rayhan berdiri di samping mobil itu.

Yola berhenti di anak tangga terakhir.

Sari di belakangnya ikut berhenti.

"Saya belum bilang Pak Rayhan boleh ikut."

"Kamu juga belum bilang tidak."

Jawaban itu hampir membuat Sari menunduk terlalu cepat untuk menyembunyikan reaksi.

Yola menatap Rayhan. Kemejanya hari itu biru gelap, lengannya digulung seperti biasa, tanpa jas. Tidak ada sopir tambahan, tidak ada rombongan besar. Hanya Ardi di mobil belakang dan Rizal yang berdiri agak jauh.

"Saya yang menentukan toko," kata Yola.

"Ya."

"Saya yang memilih barang."

"Ya."

"Saya yang bayar."

Rayhan menatapnya. "Aku tidak menawarkan membayar."

Yola kehabisan satu daftar keberatan.

Ia akhirnya masuk ke mobil.

Perjalanan ke Asemka ditempuh dalam diam yang tidak sepenuhnya buruk. Jakarta pagi padat, suara klakson dan motor menyelip di antara mobil seperti benang kusut. Sari duduk di depan bersama sopir. Yola duduk di belakang, menjaga jarak di sisi kiri. Rayhan duduk di sisi kanan, tidak menggeser tubuhnya mendekat.

Di pangkuan Yola ada daftar belanja.

Rayhan tidak mengambilnya.

Ia hanya bertanya, "Berapa karton?"

"Tergantung harga dan kualitas."

"Perkiraan."

"Dua karton botol sepuluh mili, satu karton botol roll-on kalau kualitasnya bagus."

"Berat."

"Itu sebabnya saya bilang bisa menyewa orang toko."

"Aku masih punya dua tangan."

Yola menoleh, tanpa sadar melihat pergelangan tangannya.

Marco.

Rayhan mengikuti arah pandangnya. Untuk sesaat, wajahnya menjadi lebih datar.

"Aku tidak bermaksud begitu."

"Saya tahu."

Kali ini Yola memang tahu. Tetapi kata tangan di antara mereka sekarang membawa terlalu banyak ingatan.

Asemka sudah ramai ketika mereka tiba. Toko-toko kecil berjejer padat, kardus menumpuk, plastik bening berisi botol dan aksesori menggantung dari langit-langit. Aroma debu, kertas, plastik baru, dan gorengan dari gerobak dekat gang bercampur dalam udara panas.

Keringat cepat muncul di tengkuk, tetapi keramaian itu justru membuat Yola merasa lebih nyata daripada semua ruang ber-AC yang penuh bisik-bisik.

Yola menarik napas.

Berbeda dari hotel.

Berbeda dari mansion.

Di sini orang tidak peduli siapa yang batal bertunangan. Orang peduli harga lusin, stok karton, dan apakah pembayaran bisa transfer.

Dewi sudah menunggu di depan toko pertama dengan topi sederhana dan tas kain besar.

"Nona, toko ini punya botol roll-on, tapi tutupnya agak longgar. Yang kedua lebih bagus, tapi minimal pembelian lebih banyak."

"Kita lihat yang kedua dulu."

Rayhan berdiri di belakang mereka. Tidak bicara.

Yola menyadari beberapa pedagang melirik. Bukan karena mengenal berita, mungkin hanya karena Rayhan terlalu tidak cocok dengan gang sempit penuh kardus. Tubuhnya tinggi, wajahnya dingin, dan caranya berdiri membuat orang otomatis memberi jalan.

Di toko kedua, pemilik toko perempuan paruh baya mengeluarkan beberapa sample botol kaca.

"Ini yang bening, Bu. Ini frosted. Kalau untuk parfum kecil, biasanya yang frosted lebih kelihatan mahal."

Yola memutar botol di bawah lampu. "Sprayer-nya halus?"

"Bisa dicoba."

Dewi menyemprotkan air dari sample. Yola memperhatikan sebaran kabutnya.

"Yang ini terlalu kasar. Pear Blossom butuh spray yang halus."

Rayhan yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, "Kalau spray kasar, wanginya berubah?"

Yola menoleh, sedikit terkejut karena ia mendengarkan.

"Bukan berubah. Tapi kesan pertama terlalu basah. Orang akan mencium alkohol dulu, bukan pear."

Rayhan mengangguk seolah informasi itu penting.

Pemilik toko tersenyum. "Suaminya perhatian ya, Bu. Biasanya bapak-bapak cuma tunggu di luar."

Udara di toko kecil itu berhenti.

Dewi pura-pura memeriksa kotak.

Sari yang berdiri di dekat pintu langsung menunduk.

Yola meletakkan botol dengan hati-hati.

"Bukan suami," katanya, suaranya sopan tetapi jelas. "Beliau adik ipar saya."

Pemilik toko tampak kaget. "Aduh, maaf, Bu. Saya salah kira."

"Tidak apa-apa."

Rayhan tidak membantah.

Tidak juga tersenyum.

Ia hanya mengambil kotak sample yang tadi hampir jatuh dari sisi meja dan menggesernya menjauh dari pergelangan tangan Yola yang memar.

Gerakan itu kecil.

Terlalu kecil untuk dilihat pemilik toko.

Namun Yola melihatnya.

Mereka akhirnya memilih botol frosted dengan sprayer lebih halus, tutup silver sederhana, dan beberapa roll-on kecil untuk sample khusus. Ketika pemilik toko menghitung harga, Yola membuka aplikasi mobile banking.

Rayhan berdiri di samping, diam.

Ia benar-benar tidak menawarkan membayar.

Setelah transfer berhasil, pemilik toko memanggil karyawan untuk mengangkat karton. Rayhan lebih dulu meraih dua karton yang paling besar.

"Pak, berat," kata karyawan toko.

"Saya tahu."

Yola otomatis berkata, "Pak Rayhan, tidak perlu."

Rayhan menatapnya dari atas dua karton botol yang sudah ia angkat.

"Aku datang untuk membawa barang."

Lalu ia berjalan keluar toko seolah dua karton kaca itu lebih ringan daripada map rapat.

Di belakangnya, Dewi berbisik tanpa sadar, "Kuat sekali."

Sari menyikutnya pelan.

Yola ingin menegur, tetapi matanya mengikuti punggung Rayhan yang menyusuri gang sempit, memberi jalan pada ibu-ibu pembeli tanpa menabrak satu pun kardus.

Ia benar-benar hanya membawa barang.

Dan entah kenapa, itu justru membuat hati Yola lebih sulit tenang.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!