Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Jam sebelas lewat tujuh menit malam, lampu di basement Menteng Regency berkedip sekali.
Bella yang duduk di kursi depan mobil langsung menyentuh earpiece. "Gangguan listrik di sektor B."
Amy membuka tablet. "Kamera dua dan tiga mati. Kamera utama masih hidup, tapi sinyalnya dipantulkan."
Di kursi belakang, Lim Mei Li menutup laporan Tan Group yang baru selesai ia baca. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Hanya sedikit rasa bosan, seperti seseorang yang menunggu tamu terlambat.
"Berapa orang?"
"Delapan terlihat. Mungkin dua di luar jalur kamera," jawab Bella.
"Senjata?"
"Pisau, tongkat listrik, dua pistol rakitan."
Amy menatapnya dari samping. "Nona, biarkan tim keamanan turun."
Mei Li membuka pintu mobil.
"Tidak perlu."
"Boss." Bella keluar lebih dulu, suaranya turun. "Mereka datang untuk membunuh."
Mei Li melangkah keluar. Basement itu dingin, berbau beton basah, oli, dan hujan yang terbawa ban mobil. Lampu putih di langit-langit berkedip lagi, membuat bayangan tiang parkir bergerak seperti orang yang menahan napas.
"Justru karena itu," kata Mei Li.
Amy memahami lebih cepat. "Anda ingin saksi."
"Aku ingin alasan."
Pintu lift khusus penghuni berada dua puluh meter di depan. Biasanya, tim keamanan Menteng Regency berpatroli setiap lima menit. Malam ini, jalurnya kosong. Terlalu bersih untuk sebuah kebetulan.
Mei Li menyentuh melati putih di rambutnya, memastikan bunga itu masih di tempat.
"Kalian tunggu di sini."
Bella tidak suka perintah itu. "Boss."
"Kalau mereka berhasil menyentuhku, baru bergerak."
Kalimat itu bukan tantangan bagi penyerang. Itu hinaan bagi mereka.
Mei Li berjalan sendirian menuju lift.
Langkahnya pelan, bunyi hak sepatunya memantul di antara tiang-tiang beton. Pada langkah ketujuh, seorang pria keluar dari balik mobil van putih. Wajahnya tertutup masker hitam, tangan kanannya memegang pisau pendek.
"Nona Lim," katanya. "Ikut kami sebentar."
Mei Li berhenti. "Kalian bahkan tidak belajar cara menyapa tamu dengan sopan?"
Pria itu tertawa. Dari sisi kiri, dua orang lain muncul. Dari belakang tiang, empat lagi. Satu berdiri dekat panel listrik, satu menjaga jalur keluar. Mereka tidak memakai seragam, tetapi gerakan mereka cukup terlatih untuk mengintimidasi orang biasa.
Sayangnya, malam itu mereka memilih orang yang salah.
"Jangan menyulitkan kami," kata pria pertama. "Kami hanya menjalankan perintah."
"Dari Tan Bao Shan?"
Keheningan sepersekian detik cukup sebagai jawaban.
Mei Li tersenyum kecil. "Terima kasih."
Pria itu mengernyit. "Untuk apa?"
"Untuk memastikan aku tidak perlu menunggu lebih lama."
Serangan pertama datang dari kiri.
Seorang pria mengayunkan tongkat listrik ke bahunya. Mei Li bergerak setengah langkah, tidak mundur, hanya memiringkan tubuh. Tongkat itu melewati kain kebayanya tanpa menyentuh. Pergelangan tangan penyerang tertangkap, diputar, lalu tubuh lelaki itu menghantam kap mobil dengan suara tumpul.
Belum sempat yang lain bereaksi, lutut Mei Li sudah naik ke perut pria kedua. Napasnya putus. Ia jatuh berlutut.
Lampu berkedip lagi.
Dalam pecahan cahaya putih itu, Mei Li bergerak seperti bayangan yang tahu persis di mana tulang manusia paling mudah menyerah. Tidak ada gerakan berlebihan. Satu sikut ke rahang. Satu sapuan kaki. Satu putaran bahu yang membuat pisau jatuh berdering ke lantai.
Pria dengan pistol rakitan mengangkat tangan.
Bella hampir bergerak.
Amy menahannya. "Belum."
Mei Li sudah berada di depan pria itu sebelum jarinya menekan pelatuk. Tangannya menepis laras ke samping. Suara tembakan meledak, menghantam dinding beton. Di lantai atas, alarm mobil mulai meraung.
Mei Li memukul pergelangan tangan pria itu. Pistol jatuh. Sepatu haknya menekan senjata itu sampai bergeser jauh ke bawah mobil.
"Kamu tahu," katanya pelan, "aku paling tidak suka suara tembakan di ruang tertutup."
Pria itu mencoba meninju.
Mei Li menunduk, lalu membalas dengan pukulan pendek ke ulu hati. Pria itu ambruk tanpa suara besar, hanya tubuhnya yang menyerah seperti karung berat.
Di dekat panel listrik, dua penyerang yang tersisa saling melihat. Rencana mereka sederhana: matikan kamera, culik perempuan itu, bawa keluar lewat jalur servis. Tidak ada yang mengatakan bahwa target mereka bisa melumpuhkan enam pria dewasa dalam waktu kurang dari satu menit.
"Mundur," bisik salah satu.
Mei Li mendengarnya.
"Sekarang baru mau sopan?"
Mereka berlari.
Bella bergerak seperti garis hitam, memotong jalur keluar. Amy sudah menghubungi keamanan gedung dan polisi. Dari sisi lain basement, dua satpam yang akhirnya sadar berlari masuk, lalu membeku melihat pemandangan di depan mereka.
Delapan pria tumbang.
Satu perempuan berdiri di tengah, rambutnya tetap rapi, melati putihnya masih menempel, hanya ujung kebayanya yang sedikit kusut.
Satpam termuda menelan ludah. "Bu... ini..."
"Mereka terpeleset," kata Mei Li.
Bella batuk kecil, menahan tawa.
Seorang penghuni apartemen yang turun karena alarm mobil berdiri di dekat lift. Ia memegang kantong belanja, mulutnya terbuka. Di belakangnya, seorang ibu muda menarik anaknya menjauh sambil berbisik, "Jangan lihat lama-lama."
Terlambat. Anak itu sudah menatap Mei Li dengan mata bulat, seperti baru melihat tokoh film keluar dari layar.
Amy menghampiri pria pertama yang masih sadar setengah. Ia berjongkok, memperlihatkan layar ponsel yang merekam wajah lelaki itu.
"Nama pemberi perintah."
Pria itu meludah ke samping.
Bella menekan tumitnya ke lantai tepat di dekat jari pria itu. Tidak menyentuh, tetapi cukup untuk membuatnya paham jarak antara ancaman dan kenyataan.
"Saya tidak tahu," pria itu merintih. "Kami hanya dapat uang lewat orang perantara."
"Nama perantara," kata Amy.
Pria itu menutup mulut.
Mei Li berjalan mendekat. Ia tidak membungkuk. Ia hanya menatap dari atas, dan entah kenapa itu lebih menekan daripada pukulan Bella.
"Katakan pada perantara itu," ucapnya, "kalau dia mau tetap punya hidup yang tenang, kirim semua bukti pembayaran ke alamat yang akan Amy berikan."
Pria itu memucat. "Kalau tidak?"
"Kalau tidak, aku yang akan mencarinya."
Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh.
Ponsel Amy bergetar. "Nona, kamera utama kembali normal. Sinyal pantulan berhenti."
Mei Li mengangkat wajah ke sudut basement.
Di sana, kamera pengawas kecil menyala merah. Bukan kamera Menteng Regency. Bella menemukannya sejak pagi, tersembunyi di balik pipa, mengarah tepat ke jalur lift. Kamera murah, tapi sambungannya langsung keluar gedung.
Seseorang sedang menonton.
Mungkin perantara. Mungkin orang Tan. Mungkin Tan Bao Shan sendiri.
Mei Li mengangkat tangan, menarik melati putih dari rambutnya. Bunga itu sudah sedikit layu karena panas tubuh dan gerakan cepat. Ia memutarnya di antara jari, lalu meletakkannya di atas kap mobil yang penyok, tepat di samping pria pertama yang masih mengerang.
Kemudian ia menatap kamera.
Senyumnya tenang. Hampir manis.
"Terima kasih," katanya, "sudah memberi alasan."