Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Dian Datang
Dian Saputri datang dengan suara lebih dulu daripada koper.
"Ayu Lestari!"
Ayu baru saja keluar dari dapur ketika sahabatnya melangkah turun dari mobil travel di depan halaman, memakai kacamata hitam, kerudung warna terracotta, dan ekspresi seperti auditor hotel bintang lima yang siap memeriksa setiap sudut. Di belakangnya, Arif turun lebih tenang, membawa dua tas dan satu kotak oleh-oleh.
"Di!" Ayu berlari kecil menuruni tangga.
Dian memeluknya erat, lalu langsung menarik tubuhnya menjauh untuk memeriksa dari kepala sampai kaki.
"Kamu tambah glowing. Kampung ini berbahaya."
"Baru datang sudah mulai."
"Aku belum mulai. Ini pembukaan."
Arif tersenyum sopan. "Assalamu'alaikum, Ayu."
"Wa'alaikumussalam. Masuk, Rif. Perjalanan capek?"
"Lumayan. Tapi pemandangannya bagus."
"Dia bilang bagus karena belum tahu istrinya akan inspeksi homestay," kata Dian.
Ayu tertawa. "Aku sudah menyiapkan mental."
Nenek Sari keluar dari rumah dengan senyum lebar. Dian langsung menyalami dan memeluknya seperti cucu sendiri. Arif menunduk hormat kepada Nenek dan Datuk Harun yang baru muncul dari samping rumah.
"Nenek makin cantik," kata Dian.
"Mulutmu masih manis. Pasti mau makan gratis."
"Saya selalu jujur kalau soal kecantikan dan rendang."
Nenek tertawa puas. "Masuk. Makan dulu."
Raka muncul dari ruang belajar beberapa menit kemudian, membawa buku soal dan pulpen. Ia berhenti di pintu ketika melihat Dian berdiri di ruang tengah.
Ayu belum sempat memperkenalkan.
Dian sudah menatapnya dari ujung rambut sampai sepatu, lalu tersenyum terlalu cerah.
"Jadi ini Kak Raka."
Raka menunduk sopan. "Iya. Raka Pratama. Senang bertemu, Mbak Dian."
"Wah, tahu nama saya."
"Mbak Ayu sering cerita."
Dian langsung menoleh ke Ayu dengan alis naik.
Ayu merasa telinganya panas. "Cerita biasa."
"Aku belum komentar."
"Mukamu sudah komentar."
Arif menyelamatkan suasana dengan menjabat tangan Raka. "Arif. Suaminya Dian. Saya dengar Mas Raka daftar CPNS?"
"Iya, Mas. Baru persiapan SKD."
"Kalau nanti ada urusan administrasi, KUA atau Disdukcapil, tanya saja. Bukan bidang CPNS langsung, tapi saya bisa bantu cek jalur dokumen kalau diperlukan."
"Terima kasih, Mas."
Dian memperhatikan pertukaran itu dengan mata tajam. Raka sopan. Tidak berlebihan. Tidak mencoba terlihat keren. Ketika Nenek meminta bantuan memindahkan kotak oleh-oleh, ia bergerak tanpa disuruh dua kali. Ketika Luna mendekat membawa mainan, ia menunduk sebentar untuk mengelus kepalanya, tapi tetap meminta izin kepada Ayu sebelum membiarkan anjing itu masuk ruang makan.
Dian melihat semuanya.
Dan Ayu tahu Dian melihat semuanya.
Siang itu, restoran terasa lebih hidup. Ayu menyajikan menu lengkap untuk menyambut mereka: rendang, gulai ayam, dendeng balado, sayur nangka, perkedel, sambal lado hijau, dan Teh Talua untuk Arif yang penasaran. Dian mengambil foto makanan dari berbagai sudut, lalu mencicip rendang dengan ekspresi serius.
"Gila," katanya.
Nenek Sari langsung menatap. "Kenapa?"
"Enak sekali, Nek. Aku marah kenapa Ayu dulu masak untuk hotel, bukan untuk aku setiap hari."
"Makanya sering-sering datang," jawab Nenek bangga.
Raka duduk di sisi lain meja, membantu menuangkan air. Dian memperhatikan bagaimana Ayu tanpa sadar meletakkan piring sambal yang lebih sedikit di dekat Raka.
"Yang ini untuk Kak Raka," kata Ayu. "Tidak terlalu pedas."
"Terima kasih," jawab Raka.
Dian menatap Arif.
Arif menatap nasi, memilih selamat.
Setelah makan, Dian benar-benar melakukan inspeksi homestay. Ia memeriksa kamar, handuk, aroma ruangan, kunci, dan buku tamu. Raka ikut membawa daftar kecil yang biasa ia pakai untuk mencatat feedback tamu.
"Kamu yang pegang catatan?" tanya Dian.
"Saya bantu saja. Keputusan tetap Mbak Ayu."
"Bagus. Jangan sok menguasai usaha perempuan."
Raka berkedip, lalu mengangguk serius. "Tidak akan."
Ayu hampir tersedak tawa. "Di, pelan-pelan."
"Aku baru pemanasan."
Sore harinya, Ayu dan Dian duduk di teras belakang, sementara Arif berbicara dengan Datuk tentang kebun dan Raka kembali ke ruang belajar. Dari tempat mereka duduk, suara Raka sesekali terdengar ketika ia mengulang materi dengan pelan.
Dian menyenggol lengan Ayu.
"Dia baik."
"Raka?"
"Tidak, Luna. Ya Raka."
Ayu pura-pura memetik serat kursi rotan. "Dia memang sopan."
"Sopan saja tidak cukup. Dia memperhatikan."
"Kamu baru datang beberapa jam."
"Aku manajer hotel. Aku dibayar bertahun-tahun untuk membaca orang dari cara mereka masuk ruangan." Dian mencondongkan badan. "Dia tidak memperlakukan rumah ini seperti penginapan. Dia memperlakukan tempat ini seperti sesuatu yang ingin dia jaga."
Ayu diam.
Kalimat itu terlalu dekat dengan hal yang ia sendiri takut akui.
"Dan dia memperlakukan kamu seperti..." Dian berhenti sengaja.
"Seperti apa?"
"Seperti orang yang kalau kamu capek, dia ikut tidak tenang."
Ayu menunduk. "Jangan berlebihan."
"Aku belum berlebihan. Kalau aku berlebihan, aku sudah tanya kapan akad."
"Dian!"
Dian tertawa, lalu wajahnya melembut. Ia meraih tangan Ayu dan meremasnya sebentar.
"Yu, kamu tahu aku akan jadi orang pertama yang marah kalau ada laki-laki main-main sama kamu."
"Aku tahu."
"Tapi yang ini..." Dian menoleh ke arah ruang belajar, tempat Raka sedang membaca soal dengan suara rendah. "Jangan sampai lepas ya."
Ayu ingin membantah.
Seperti biasa.
Tapi kali ini, bantahan itu berhenti di tenggorokannya.
Dari ruang belajar, suara Raka terdengar memanggil, "Mbak Ayu, maaf. Timer-nya bunyi, tapi saya lupa taruh di mana."
Dian menatap Ayu dengan senyum menang.
"Pergi. Calon PNS-mu memanggil."