Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Kecurigaan
Tiga hari setelah malam amal, nama perempuan misterius yang datang bersama Bryan Liem masih berputar di ruang-ruang kecil Surabaya.
Di grup WhatsApp para sosialita, fotonya muncul dalam potongan yang sengaja diperbesar. Gaun hitam. Anting berlian. Cara ia mengangkat gelas. Angka sepuluh miliar yang membuat satu ballroom terdiam.
Tidak ada yang tahu namanya.
Justru karena itu, semua orang ingin tahu.
Galang duduk di ruang kerja Kediaman Gondokusumo, menatap foto buram yang dikirim salah satu rekan bisnisnya. Foto itu diambil dari samping. Wajah perempuan itu hanya terlihat separuh, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Ia memperbesar gambar.
Garis rahang. Mata. Cara ia menoleh.
Tidak mungkin.
Galang meletakkan ponsel, lalu mengambilnya lagi beberapa detik kemudian. Ia membuka daftar kontak dan menelepon salah satu asistennya.
"Cari tahu perempuan yang datang dengan Bryan Liem di acara amal kemarin."
Di seberang, asistennya menjawab cepat, "Baik, Pak. Nama lengkapnya?"
"Itu yang harus kamu cari."
"Apakah dari keluarga Liem?"
Galang menatap foto itu lagi. "Mungkin. Mungkin bukan."
Panggilan berakhir.
Ia menyandarkan punggung, tetapi pikirannya tidak ikut tenang. Selama tiga hari, ia mencoba menganggap rasa familiar itu hanya kebetulan. Mungkin karena sudut wajahnya mirip seseorang. Mungkin karena matanya mengingatkan pada Anisa.
Namun semakin ia menolak, semakin bayangan itu kembali.
Anisa menunduk di ruang makan.
Anisa menunggu di koridor.
Anisa menatapnya dengan mata basah saat menandatangani surat cerai.
Lalu perempuan di ballroom, dingin dan terang, menatapnya seolah ia tidak berarti apa-apa.
Galang mengusap wajah.
"Tidak mungkin," gumamnya.
Di ruang keluarga utama, Engkong Gondokusumo menerima tamu lama sore itu. Pria tua yang datang adalah rekan bisnis generasi lama, seseorang yang masih punya hubungan dengan beberapa keluarga besar Surabaya.
Mereka minum teh tanpa banyak basa-basi. Obrolan awal tentang kondisi pasar, properti, dan yayasan amal. Lalu tamu itu menurunkan suara.
"Kau sudah dengar kabar Hartono?"
Engkong Gondokusumo mengangkat mata. "Kabar apa?"
"Cucu perempuan mereka kembali."
Tangan Engkong yang memegang cangkir berhenti.
"Keira Hartono?"
"Katanya begitu. Belum diumumkan resmi, tapi lingkaran dalam sudah tahu. Hilang empat tahun, sekarang pulang ke Surabaya."
Udara di ruangan itu berubah.
Engkong Gondokusumo memang tua, tetapi pikirannya belum tumpul. Ia segera mengingat malam amal, perempuan bersama Bryan Liem, bisik-bisik tentang donasi sepuluh miliar, dan Galang yang pulang dengan wajah aneh.
"Seperti apa wajahnya?" tanyanya.
Tamu itu berpikir sejenak. "Aku belum bertemu langsung. Tapi orang bilang cantik sekali. Tenang. Datang dengan Bryan. Ada pengawal."
Engkong Gondokusumo meletakkan cangkir perlahan.
Bryan Liem.
Pengawal.
Perempuan muda yang tiba-tiba muncul dengan uang sepuluh miliar.
Semua potongan itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Setelah tamunya pulang, Engkong memanggil Galang.
Galang datang setengah jam kemudian. Ia masih membawa ponsel, seolah sedang menunggu kabar dari asistennya.
"Kau masih memikirkan perempuan di malam amal?" tanya Engkong tanpa pembuka.
Galang terdiam. "Siapa bilang?"
"Wajahmu."
Galang menahan napas. Di hadapan kakeknya, kebohongan jarang bertahan lama.
"Aku hanya merasa pernah melihatnya."
Engkong menatap cucunya lama. "Ada kabar Keira Hartono kembali."
Nama Hartono membuat Galang berdiri lebih tegak.
"Keira Hartono?"
"Cucu Engkong Hartono. Hilang empat tahun. Kembali diam-diam ke Surabaya." Engkong mengetuk lengan kursi dengan jari. "Perempuan di malam amal datang bersama Bryan Liem. Kau tahu hubungan Liem dengan Hartono."
Galang tidak menjawab.
Ia tahu. Semua orang di lingkaran bisnis tahu.
"Kalau perempuan itu benar orang Hartono," lanjut Engkong, "apalagi jika dia Keira Hartono sendiri, kau tahu ini berarti apa?"
Galang merasa tenggorokannya kering.
Berarti perempuan yang ia perhatikan bukan sosialita biasa.
Berarti Bryan melindunginya bukan karena iseng.
Berarti satu langkah salah di depannya bisa membuat Gondokusumo Group terbakar dari dalam.
Namun, di bawah semua itu, ada ketakutan lain yang lebih sulit ia akui.
Kenapa matanya mirip Anisa?
Sementara itu, di apartemen Sherly, sebuah vas kecil pecah di lantai.
Sherly berdiri di tengah ruang tamu, menatap layar ponsel berisi foto Keira dari malam amal. Wajahnya yang biasanya lembut berubah keras.
"Siapa sebenarnya perempuan ini?"
Tidak ada yang menjawab.
Ia sudah bertanya pada dua kenalan sosialita. Jawabannya sama. Datang dengan Bryan. Sangat mungkin keluarga besar. Tidak ada nama pasti.
Semakin tidak jelas, semakin Sherly marah.
Ia tidak takut perempuan kaya. Ia takut perempuan yang membuat Galang lupa menatapnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Galang.
Aku ada urusan dengan Engkong. Kita bicara nanti.
Sherly membaca pesan itu berkali-kali.
Bicara nanti.
Dulu Galang tidak pernah menunda dirinya untuk urusan lain setelah Anisa pergi. Sekarang, setelah perempuan itu muncul, semuanya berubah sedikit demi sedikit.
Sherly menekan tombol panggilan ke salah satu temannya di lingkaran sosial.
"Aku butuh bantuan," katanya, suaranya kembali lembut. "Cari tahu siapa perempuan yang datang dengan Bryan Liem. Dan kalau bisa, cari sesuatu yang bisa membuat reputasinya kotor."
Di seberang, temannya tertawa kecil. "Kamu cemburu?"
Sherly menatap pecahan vas di lantai.
"Aku hanya tidak suka orang asing tiba-tiba merasa bisa berdiri lebih tinggi dariku."
Setelah panggilan berakhir, Sherly membuka foto Keira sekali lagi.
Wajah itu cantik. Dingin. Mengganggu.
Dan untuk alasan yang tidak ingin ia pikirkan, garis matanya membuat Sherly teringat pada perempuan yang seharusnya sudah mati di jalan basah malam itu.