Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Tujuh
Olivia telah dipindahkan ke ruang perawatan. Vino dengan sabar menunggunya sadar. Pak Andi telah pulang ke rumahnya meninggalkan Vino sendirian.
Walupun kata dokter kondisi Olivia tidak perlu dikhawatirkan, tetapi bagi Vino tetap saja mengkhawatirkan. Membayangkan bagaimana wanita itu kecelakaan membuat lelaki itu bergidik ngeri. Tak ayal, ia menyalahkan diri sendiri akan kejadian yang menimpa istrinya tersebut. Kalau saja ... kalau saja ... Namun apa daya, semua telah terjadi di luar kuasanya.
Sejenak, Vino menimbang-nimbang. Perlukah ia menghubungi keluarganya, mengabarkan tentang kondisi Olivia saat ini. Apalagi, saat dirinya harus menerima kenyataan bahwa uang di tangan telah menipis. Untung saja, uang yang dipegangnya tadi cukup untuk membayar biaya awal di rumah sakit dengan ditambah uang pinjaman dari Pak Andi. Bersyukur sekali Vino bisa dipertemukan dengan orang-orang baik itu.
Satu lagi penyesalan Vino saat ini. Ia tidak mampu memberikan fasilitas VIP kepada Olivia yang berakhir dengan ruang perawatan yang ramai. Ah, untung saja masih ada sekat tirai yang menutupi ranjang-ranjang pasien itu.
Vino duduk di kursi plastik dengan tangan memjat pangkal hidung. Ia memejamkan mata dengan kepala yang penuh oleh kemungkinan-kemungkinan dan jalan keluar yang tepat yang harus diambilnya. Vino tidak menyadari jika Olivia telah bangun dari lelapnya.
“Kak ...,” panggil Olivia lirih.
Vino yang mendengar panggilan tersebut sontak membuka mata. Ekspresi kaget di wajah lelaki itu tidak dapat disembunyikan.
“I-iya, Sayang. Kamu sudah sadar?” tanya Vino tergagap.
Vino mengulurkan tangan, meraih tangan kiri istrnya yang bebas lalu menggenggamnya erat. Bisa ia rasakan betapa kini tangannya dingin, lantas perlahan menghangat karena genggamannya yang mengerat.
Rasa-rasanya, tiada yang lebih pas sekarang dan lebih menenangkan di hati Vino selain genggaman tangan mereka saat ini. Terlebih, saat melihat senyum di wajah Olivia yang ditujukan untuk dirinya.
“Mana yang sakit?” tanya Vino pelan. Tangan kanannya melepaskan genggaman dari tangan Olivia, lalu mengganti dengan tangan sebelah kirinya. Sedangkan tangan kanannya tadi digunakan untuk mengelus pipi Olivia dengan lembut.
“Hm.” Olivia menggeleng pelan. Senyum masih tersungging tipis di wajahnya. Ia berusaha mengabaikan rasa nyeri di perut.
“Aku panggilkan dokter bentar ya,” ujar Vino lagi dengan lembut. Kedua maniknya menatap lekat kepada wajah pucat sang istri.
Lagi, Olivia hanya menggumam pelan seraya mengangguk. Seakan tubuhnya masih sangat lemas tak berdaya.
Sesaat kemudian, Vino datang beserta dokter dan perawat. Ia diam memperhatikan bagaimana sang dokter memeriksa kondisi Olivia lalu bertanya seputar apa yang dirasakan wanita yang tengah berbaring lemah di atas ranjang pasien itu. Setelah kepergian dokter dan perawat tersebut, barulah Vino mendekati istrinya mengelus kepala wanita itu dengan penuh rasa sayang.
Sunyi. Keduanya hanya berdiam diri, tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu sampai beberapa menit kemudian. Mengabaikan bising di luar, keduanya hanya saling tatap dengan kemelut pikiran di kepala masing-masing. Hingga, suara yang berasal dari perut Vino memecah kesunyian itu.
Vino nyengir jenaka, merasa konyol dengan apa yang baru saja ia alami. Bisa-bisanya cacing di perutnya itu merusak suasana. Benar-benar tidak tahu kondisi.
“Kakak belum makan dari kapan?” Akhirnya, Olivia bersuara dengan kalimat yang agak panjang. Yah, walaupun kalimat berupa pertanyaan yang siap menampar Vino, sebab lelaki itu sedari siang belum makan.
Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia ingat, nasi bungkus yang dibawakan Pak Andi tadi hanya teronggok pasrah tak berdaya di kursi tunggu. Nahasnya, ia lupa membawa bungkusan itu kemari.
“Kak,” panggil Olivia karena tidak mendapatkan jawaban dari suaminya.
“Dari siang,” jawab Vino taku-takut. Ia khawatir jika istrinya itu akan marah. “Tadi aku enggak ingat apa-apa lagi saat mengetahui kondisimu, Sayang. Jadi ... aku enggak sempat makan siang, karena telepon itu datang saat jam istirahat. Maaf ya.” Vino mencoba menjelaskan agar Olivia tidak marah padanya.
“Sekarang udah hampir malam, Kak,” sahut Olivia lirih. “Kakak makan dulu ya,” pintanya kemudian.
Vino menghela napas panjang. Sejujurnya, ia tidak berniat makan sama sekali. Nafsu makannya menguap ke negeri antah berantah. Sekarang, yang ia pikirkan Cuma satu. Bagaimana cara menjelaskan kepada Olivia tentang kondisi yang sebenarnya.
Vino belum mampu mengeluarkan sepatah kata untuk mengatakan bahwa calon buah hati mereka telah tiada. Di dalam perut Olivia sudah tidak ada apa-apa lagi.
Ya Tuhan! Vino rasanya siap mati berdiri sekarang. Bagaimana ia akan menenangkan Olivia jika dirinya sendiri saja sekacau ini?
Vino berbalik, memunggungi Olivia untuk sesaat. Ia mengusap wajahnya secara kasar, mengucek matanya yang terasa panas.
Tuh, ‘kan, hanya dengan mengingat dan memikirkan keadaan Olivia saja hatinya tercabik, dada lelaki itu terasa sesak.
“Ada apa?” tanya Olivia bingung.
“Enggak ....” Vino berbalik, lalu menampilkan senyum. Sebuah senyuman yang tak sampai ke kedua mata lelaki itu. Nyatanya, senyum tersebut hanya sebagai penghias bibir saja karena jauh di dalam dadanya ada tangan besar tak kasat mata yang sedang meremas hatinya sekuat mungkin. Sakit, sesak sekaligus nyeri. Begitulah yang dirasakan Vino saat ini. “Aku lagi mikir perlu ngehubungin mama enggak ya?” tanyanya kemudian.
Vino sengaja mengalihkan pembicaraan agar Olivia tidak lagi membahas soal makan kepadanya. Ia sedang tidak butuh asupan makanan sedikit pun sekarang ini. Vino sedang butuh kekuatan untuk mengatakan hal sebenarnya kepada Olivia. Dan kekuatan itu tidak didapatkan dari makanan.
“Kalau Kakak mau telepon mama enggak apa-apa. Tapi ....” Olivia diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, “ jangan bilang dulu ke bunda ya. Besok aja kalau kondisiku udah baikan.”
“Iya.” Vino membalas pelan. Jantungnya mendadak berdebar dengan sangat kencang.
“Aku juga belum bilang ke bunda tentang kehamilanku.” Vino telah membuka mulut saat mendengar Olivia melanjutkan kalimatnya, “aku khawatir bunda akan syok kalau tiba-tiba aku ngabarin kalau aku keguguran.”
Kedua mata Vino membeliak kaget mendengar kalimat Olivia, terlebih saat menyadari jika wanitanya itu mengatakannya dengan suara bergetar.
“Sayang, aku ....” Tenggorokan Vino tercekat, lidahnya terasa kelu melihat air mata yang mengalir dari sepasang mata cantik milik Olivia.
“Maafkan aku yang tidak bisa menjaga calon anak kita, Kak,” bisik Olivia menyayat hati. Ia tampak sangat menyedihkan sekarang.
“Sayang ....” Banyak kata yang ingin Vino keluarkan hanya sekadar untuk menguatkan istrinya. Ia ingin mengatakan tidak apa-apa. Ia ingin meyakinkan Olivia jika dirinya di sini, mereka akan menghadapi semuanya bersama-sama. Namun, semua kalimat itu hanya tersimpan dalam dadanya yang semakin terasa sesak.
Vino tak mampu bersuara. Kedua lututnya menyentuh semen, lalu kedua tangannya menggenggam tangan Olivia. Dada wanitanya itu berguncang. Olivia terisak dalam tangis.
Vino mendekatkan wajah, mencium setiap inci dari wajah istrinya. Berharap dengan begitu, Olivia akan tahu jika ada lelaki yang bersamanya. Vino bersamanya dan akan selalu berada di samping Olivia.