Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Vanessa
Sesuai janji, Faris dan Pak Bandi berangkat ke tempat tujuan. Sebuah tas ransel sederhana tergantung di bahu Faris, sementara di tangannya terdapat buku catatan yang semalam ia gunakan untuk mempelajari kembali beberapa konsep dasar konstruksi jembatan. Begitu melihatnya, Pak Bandi tersenyum puas.
"Kamu benar-benar semangat."
Faris mengangguk. "Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
"Bagus. Ayo berangkat."
Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil pikap milik perusahaan. Selama perjalanan, Pak Bandi menjelaskan gambaran proyek yang akan mereka kunjungi. Jembatan itu akan menghubungkan dua kabupaten yang selama puluhan tahun hanya terhubung melalui jalan memutar. Jika proyek selesai, waktu tempuh masyarakat bisa berkurang hampir satu jam.
"Karena itu pemerintah sangat serius mengawasi proyek ini," jelas Pak Bandi. "Tidak boleh ada kesalahan."
Faris mengangguk sambil memandangi berkas yang diberikan kepadanya. Di dalamnya terdapat gambar konsep, perhitungan awal, hingga beberapa catatan revisi.
Semakin lama dia membaca, semakin jelas terlihat bahwa memang ada banyak bagian yang dipaksakan demi mengikuti desain arsitektur.
Sekitar satu jam kemudian mereka tiba di lokasi proyek. Hamparan sungai yang lebar membentang di hadapan mereka. Beberapa alat berat sudah berjajar di tepi sungai. Truk keluar masuk membawa material, sementara para pekerja berlalu-lalang mengenakan helm proyek.
Di tengah keramaian itu, terdengar suara perempuan yang cukup keras.
"Tidak! Lengkungan ini harus tetap dipertahankan!"
Semua orang yang berada di sekitar hanya bisa saling pandang.
Pak Bandi berbisik pelan. "Itu dia..."
Faris mengalihkan pandangan. Seorang wanita muda berdiri di dekat meja besar yang dipenuhi gambar teknik. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Rambut hitam panjangnya diikat menjadi ekor kuda, wajahnya cantik dengan garis tegas, sementara kacamata tipis membuatnya tampak semakin cerdas. Ia mengenakan rompi proyek berwarna oranye di atas kemeja putih yang digulung hingga siku.
Namun yang paling mencolok bukanlah penampilannya. Melainkan caranya berbicara.
"Aku sudah bilang berkali-kali! Konsep ini adalah identitas proyek! Kalau lengkungannya diubah, nilai artistiknya hilang!"
Seorang insinyur struktur berusaha menjelaskan dengan sabar.
"Tapi, Mbak Vanessa, bentuk lengkungan seperti ini membuat distribusi bebannya menjadi tidak efisien."
Vanessa langsung menggeleng. "Itu urusan kalian. Cari solusi lain!"
"Tapi..."
"Aku tidak mau mendengar alasan!"
Suasana langsung menjadi sunyi. Tak ada seorang pun yang berani menyanggah lagi.
Pak Bandi menghela napas panjang. "Itulah yang selama ini terjadi."
Faris mengamati Vanessa beberapa saat. Cantik, pintar, tetapi sorot matanya dipenuhi keyakinan bahwa hanya pendapatnya yang benar.
Pak Bandi kemudian menghampiri. "Selamat pagi, Vanessa."
Vanessa menoleh sekilas.b"Oh, Pak Bandi."nNada bicaranya terdengar lebih sopan, tetapi ekspresinya tetap datar.
"Saya membawa seseorang."
Vanessa akhirnya melihat ke arah Faris. Tatapannya bergerak dari sepatu hingga wajah Faris.
"Siapa?"
"Namanya Faris."
"Insinyur baru?"
"Bukan."
"Mahasiswa magang?"
"Bukan juga."
"Lalu?"
Pak Bandi tersenyum kecil. "Calon insinyur."
Vanessa mengangkat sebelah alis. "Hanya calon?"
Pak Adi mulai merasa situasi akan menjadi tidak enak.
Vanessa kembali menatap gambar di meja. "Kalau belum punya pengalaman, sebaiknya jangan ikut memberi pendapat."
Kalimat itu cukup menusuk. Namun Faris tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis.
"Saya memang belum berpengalaman."
Vanessa mengangguk puas. "Nah, bagus kalau sadar."
"Tapi saya tetap boleh belajar, kan?"
Vanessa tidak menjawab. Ia kembali menjelaskan konsepnya kepada anggota tim.
Faris berdiri di samping meja dan mulai memperhatikan gambar tersebut. Semakin lama ia melihat, semakin terlihat jelas masalahnya.
Beberapa menit kemudian dia berkata pelan.
"Maaf."
Semua orang menoleh.
Faris menunjuk salah satu bagian gambar. "Kalau bagian ini dipertahankan, gaya tariknya akan terlalu besar saat menerima beban maksimum."
Vanessa langsung menyilangkan tangan. "Kamu mengerti gambar ini?"
"Sedikit."
"Sedikit saja sudah berani mengoreksi?"
"Saya hanya menyampaikan pendapat."
Vanessa tersenyum sinis. "Pendapat tanpa pengalaman nilainya nol! Menjijikan. Kalau mau belajar tuh mulut sebaiknya diam aja!"
Pak Bandi buru-buru mencoba menengahi.
"Vanessa, tidak ada salahnya mendengar."
"Tidak, Pak."
Vanessa menggeleng. "Saya sudah menghabiskan tiga bulan membuat desain ini."
Faris tetap tenang.b"Dan saya menghargai kerja keras Mbak."
"Kalau begitu jangan ikut campur!"
"Tapi kalau memang ada bagian yang membahayakan?"
Vanessa langsung menatap tajam. "Membahayakan menurut siapa?"
"Menurut prinsip struktur."
Vanessa terkekeh pelan. "Prinsip struktur bukan satu-satunya hal dalam arsitektur."
"Lalu?"
"Keindahan."
Faris mengangguk pelan.b"Keindahan memang penting. Tapi keselamatan lebih penting."
Kalimat itu membuat suasana langsung hening.
Vanessa menyipitkan mata. "Jembatan bukan sekadar tumpukan beton."
"Saya tahu."
"Jembatan juga simbol sebuah daerah."
"Saya setuju."
"Karena itu tampilannya harus memukau."
Faris menarik napas pelan. "Lalu kalau lima tahun kemudian retak karena desainnya dipaksakan?"
"Itu tidak akan terjadi."
"Bagaimana kalau terjadi?"
"Tidak akan."
"Bagaimana kalau?"
Vanessa mulai kesal. "Kamu ini kenapa sih? Dari tadi hanya bicara kemungkinan."
Faris balas menatapnya. "Karena tugas seorang insinyur memang memikirkan kemungkinan terburuk."
Vanessa mendengus. "Kalau semua orang berpikir seperti itu, tidak akan ada karya indah."
"Tidak."
Faris menggeleng. "Akan tetap ada karya indah."
"Lalu?"
"Tapi keindahan itu berdiri di atas fondasi yang kuat."
Vanessa langsung tertawa kecil. "Kau menyebalkan sekali. Aku arsitek dan pastinya lebih berpengalaman darimu!"
"Tugas kita berbeda."
Vanessa menunjuk gambar. "Tugasku membuat orang kagum."
Faris mengangguk. "Sedangkan tugasku memastikan orang yang kagum itu bisa pulang dengan selamat."
Beberapa pekerja spontan menahan senyum. Bahkan ada yang hampir tertawa.
Vanessa langsung menoleh ke arah mereka. "Ada yang lucu?"
Semua buru-buru menggeleng.
Pak Bandi memijat pelipis. "Sudahlah, kalian berdua..."
Namun baik Vanessa maupun Faris sama-sama tidak mendengarnya.
Vanessa kembali berkata, "Kalau menurutmu desainku buruk, buktikan."
Faris mengernyit. "Maksudnya?"
"Tunjukkan bagian mana yang menurutmu bermasalah."
Faris mendekat ke meja. Ia mengambil pensil. Kemudian menggambar garis sederhana di atas salinan gambar.
"Kalau lengkungan ini dibuat sedikit lebih rendah..."
Vanessa langsung memotong. "Tidak bisa!"
"Lalu penyangga ini..."
"Tidak."
"Kalau sudutnya..."
"Kalau aku bilang tidak ya tidak!"
Faris menghela napas. Setiap usulnya ditolak bahkan sebelum selesai dijelaskan. Dalam hati ia mulai mengeluh.
"Sistem."
Suara mekanis segera terdengar.
[Ya, Host.]
"Ada kemampuan debat?"
[Tidak ada.]
"Skill meyakinkan orang?"
[Tidak tersedia.]
"Hipnosis?"
[Mustahil.]
"Minimal paket menghadapi wanita keras kepala?"
Hening beberapa detik. Kemudian sistem menjawab datar.
[Mohon maaf. Toko sistem belum menjual 'Paket Menjinakkan Arsitek Arogan'.]
Sudut bibir Faris berkedut. "Serius?"
[Host dipersilakan menggunakan otak sendiri.]
"Kau ini sistem atau tukang nyindir?"
[Keduanya.]
Faris hampir menghela napas keras. Benar juga, selama ini dia terlalu mengandalkan sistem. Kini ia harus menyelesaikannya sendiri.
Vanessa menyilangkan tangan. "Kenapa diam?"
Faris menatap gambar sekali lagi. Lalu pandangannya beralih ke tumpukan balok baja di sudut proyek. Sebuah ide perlahan muncul di kepalanya.
"Boleh kita melakukan pembuktian?"
Vanessa tersenyum meremehkan. "Pembuktian?"
"Iya."
"Menggunakan apa?"
Faris menunjuk material di sekitar lokasi. "Dengan benda yang ada di sini."
Beberapa insinyur mulai saling pandang.
Vanessa mengangkat dagu. "Kalau kamu bisa membuktikan bahwa idemu lebih masuk akal, aku akan mendengarkan penjelasanmu sampai selesai."
Faris tersenyum tipis. "Dan kalau saya gagal?"
Vanessa tersenyum penuh percaya diri.b"Kamu tidak boleh lagi ikut campur desainku."
Pak Bandi buru-buru menyela. "Hei, hei... jangan dijadikan taruhan seperti ini."
Namun keduanya sudah saling menatap tanpa mau mundur. Pak Adi hanya bisa mengusap wajahnya.
"Aduh... baru datang sudah bikin ribut."
Faris melangkah menuju tumpukan material sambil terus memikirkan cara paling sederhana untuk menjelaskan prinsip distribusi beban kepada seseorang yang lebih mengutamakan estetika.
Ia sadar, mengalahkan Vanessa bukanlah soal siapa yang lebih pintar. Melainkan bagaimana membuat perempuan keras kepala itu melihat sendiri bahwa jembatan tidak dibangun hanya untuk dipandang indah, tetapi juga untuk menjaga setiap nyawa yang melintas di atasnya.