Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Keana memiliki 2 kakak angkat. Namun diantara keduanya, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
"Ada satu cara agar Paman tidak akan pernah bisa menyentuh atau mengambil Keana dari rumah ini secara hukum"
"Maksudmu apa? Jalur hukum apa lagi yang kita punya?"
"Nikahkan dia denganku."
Apa tanggapan orang tua mereka setelahya? baca ceritanya SEKARANG!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Elvan
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa ujian akhir sekolah sudah di depan mata, hanya tersisa sekitar tiga bulan lagi. Tekanan akademis mulai terasa. Para guru tanpa henti memberikan materi padat, latihan soal, hingga kelas tambahan di sore hari.
Matahari siang terasa cukup menyengat ketika bel pulang sekolah membunyikan dentang akhirnya. Sesuai kesepakatan, Keana, Tari, Tania, dan Arlo berencana langsung bergerak menuju kafe sederhana di dekat sekolah untuk belajar bersama menghadapi ujian akhir yang kian dekat.
Sebelum melangkahkan kaki keluar dari gerbang, Keana menyempatkan diri mengetik pesan singkat di ponselnya untuk Gavin.
"Kak Gav, hari ini Kea nggak usai dijemput ya. Kea mau belajar kelompok bareng Tari, Tania, sama Arlo di kafe dekat sekolah. Nanti Kea pulang naik Grab aja."
Ia menekan tombol kirim dan bernapas lega, berasumsi sang kakak akan membaca dan mengerti.
Di sudut lain kota, tepatnya di gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) kesibukan yang mendesak sedang menyita perhatian Gavin. Ia bersama tim kelompoknya tengah dikejar tenggat waktu untuk menyelesaikan proyek yang harus dikumpulkan lusa pagi. Kesibukan itu begitu menyita fokusnya hingga ponsel milik Gavin tergeletak begitu saja di atas meja Gazebo kampus tanpa sempat ia periksa.
Sebelum pesan dari Keana benar-benar masuk dan terkirim ke ponselnya, Gavin sudah lebih dulu merasa cemas karena jam pulang sekolah sang adik makin dekat. Menyadari dirinya tak bisa meninggalkan proyek kelompok yang sedang krusial ini, Gavin langsung mengambil langkah cepat. Ia menelpon sang kakak.
"Bang El," ujar Gavin cepat saat sambungan tersambung. "Sori banget nih, tugas proyek kelompok Gavin buat lusa mendadak ketahan dan nggak bisa ditinggal sama sekali. Bisa tolong gantikan aku jemput Kea di sekolah sekarang?"
Di ujung telepon, suara Elvan yang tenang menjawab tanpa ragu. "Bisa. Kebetulan shift siang Abang di rumah sakit sudah selesai. Biar Abang yang jalan ke sekolah Kea sekarang."
"Sip, makasih banyak ya, Bang. Nanti langsung bawa Kea pulang ke rumah aja," sahut Gavin lega, lalu mematikan sambungan telepon.
Gavin merasa tenang dan kembali fokus mengarahkan teman-temannya mengerjakan proyek tersebut, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa saat kemudian, pesan singkat dari Keana baru saja mendarat di ponselnya. Pesan yang memberitahu bahwa Keana tidak perlu dijemput karena hendak belajar bersama Arlo di kafe.
******
Di salah satu meja sudut dekat jendela besar, buku-buku tebal, catat-mencatat, dan cangkir minuman berserakan di atas meja.
"Aduh, kepalaku mau pecah ngeliat rumus matematika ini," keluh Tari sambil meregangkan tangannya ke atas.
"Tan, antar ke toilet yuk, mau basuh muka sekalian."
"Yuk, sekalian aku juga mau ke belakang," sahut Tania.
Tari dan Tania pun beranjak menuju kamar mandi di area belakang kafe. Kini, hanya tersisa Arlo dan Keana di meja tersebut.
Suasana hening sejenak. Arlo menatap Keana yang sedang fokus mengernyitkan dahi memandangi lembar latihan soal. Senyum tipis terukir di wajah Arlo. Dengan pelan dan penuh kehangatan, Arlo mengulurkan tangannya, mengusap lembut puncak kepala Keana untuk menyemangatinya.
"Jangan terlalu dipaksain, Kea. Istirahat dulu sebentar, minum dulu nih," bisik Arlo halus sambil menggeser cangkir ke dekat tangan Keana.
Keana mendongak, tertawa pelan mendengar perhatian Arlo. Senyum tipis yang tulus terukir di wajahnya yang tadinya tampak lelah.
"Aku cuma mau mastiin latihan soal bab ini beres sebelum Tari sama Tania balik," sahut Keana pelan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menghembuskan napas panjang.
"Tari sama Tania mah ujung-ujungnya pasti cuma nitip nama buat dibahas bareng," kekeh Arlo seraya merapikan pensil di dekat laptopnya. Pandangannya menatap Keana dengan kehangatan yang jujur.
"Kamu hebat tahu, Kea. Tiga bulan lagi menuju ujian, tapi cara kamu fokus bikin aku sendiri kagum. Tapi tetep jaga kesehatan kamu. Itu yang paling utama."
Keana menunduk sedikit, menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa hangat.
"Kamu juga, Ar. Penjelasan rumus yang rumit tadi, kamu jelaskan jauh lebih gampang dimengerti daripada Pak Bambang di kelas."
"Serius?" Arlo terkekeh pelan, matanya berbinar. "Kalau gitu, bayarannya cukup senyum terus kayak gini. Jangan kelihatan tegang terus. Setiap di sekolah, aku ngeliat kamu kayak menyimpan banyak beban gitu."
Kalimat Arlo membuat jantung Keana berdegup sedikit lebih kencang, campur antara rasa tersanjung dan sedikit rasa takut jika Arlo bisa membaca ketakutannya.
"Aku... aku cuma agak kepikiran ujian akhir aja kok, Ar," alibi Keana pelan, meraih cangkir itu dengan kedua tangannya.
"Kalau ada apa-apa, kamu selalu bisa cerita ke aku, Kea. Kamu tahu itu, kan?" Arlo menatapnya lekat, suaranya terdengar begitu tulus dan protektif.
Namun, sebelum Keana sempat menjawab, bayangan tinggi besar yang dingin mendadak jatuh menutupi meja mereka, memutus aliran udara hangat di antara keduanya secara instan.
Sebuah bayangan tinggi besar mendadak menutupi cahaya lampu di atas meja mereka.
Mata hitamnya menatap tajam ke arah tangan Arlo yang baru saja menyentuh Keana.
Napas Keana tercekat. Seluruh persendiannya mendadak kaku.
"K-Kak Elvan?!"
Arlo yang menyadari keberadaan Elvan langsung menarik tangannya dengan cepat, wajahnya mendadak pucat pasi.
"Ayo pulang. Sekarang," perintahkan Elvan dengan suara berat yang tertekan. Ia bahkan tidak menatap Arlo, hanya mengunci pandangannya pada Keana.
Keana mengepal jemarinya di bawah meja, mencoba mengumpulkan keberanian yang selama ini tak pernah ia miliki di depan Elvan.
"K-Kak... Kea lagi belajar kelompok sama teman-teman. Tari sama Tania lagi ke kamar mandi, sebentar lagi mereka kembali—"
"Aku bilang pulang, Keana!!!" potong Elvan tegas. Suaranya memotong keheningan kafe hingga beberapa pengunjung di dekat mereka menoleh. Elvan melangkah mendekat, mencengkeram lengan Keana secara langsung untuk memaksa gadis itu berdiri.
"Kamu bisa belajar di rumah. Aku tahu ini hanya alasan mu agar bisa main dengan pacar mu, kan?"
"Aku sudah pernah bilang, Kea? Jangan pernah pacaran!"
"Kak Elvan, lepaskan! Sakit!" ringis Keana, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Elvan yang begitu kuat.
Melihat Keana meringis, Arlo akhirnya nekat berdiri dari kursinya. Ketakutannya pada ancaman Elvan mendadak kalah oleh rasa tak tega melihat Keana diperlakukan kasar.
"Bang, tolong lepasin Keana!" seru Arlo berani, berusaha menahan lengan Elvan.
"Kami cuma belajar bareng! Abang nggak bisa se-otoriter ini sama Keana. Kami bukan hanya sekedar bermain, tapi kami belajar. Abang jangan membatasi Keana seperti ini. Keana juga punya hak atas kebebasan dirinya, termasuk memilih ku!" ucap Arlo
Elvan menoleh lambat ke arah Arlo. Tatapannya begitu tajam. Ia menghempaskan tangan Arlo dengan kasar. Kalimat 'termasuk memilihku' membakar sisa kesabaran Elvan hingga habis.
Kalimat 'termasuk memilihku' membakar sisa kesabaran Elvan hingga habis.
Brak!
Satu pukulan mentah melayang telak menghantam rahang Arlo. Sudut meja bergetar keras saat Arlo tersungkur jatuh ke lantai, memegangi sudut bibirnya yang langsung berdarah. Suasana kafe seketika mendadak hening, berganti dengan jeritan kaget dari beberapa pengunjung.
"ARLO!" jerit Keana histeris.
Mata Keana membelalak lebar, memandang tubuh Arlo di lantai dengan tubuh gemetar hebat karena syok.
"Jangan pernah berani mendikte saya tentang bagaimana cara saya memperlakukan Keana. Kau hanya orang asing dalam hidupnya" desis Elvan dengan nada dingin
"Kamu sudah saya peringatkan, Arlo. Kamu sengaja memancing emosi saya?"
Seluruh rasa takut yang selama ini membelenggunya mendadak berubah menjadi luapan emosi yang membakar dalam diri Keana.
Tanpa memikirkan ancaman Elvan lagi, Keana mendorong dada Elvan dengan sekuat tenaga dan pasang badan di depan Arlo yang masih merintih.
"KAK ELVAN, CUKUP! KAKAK GILA YA?!" teriak Keana dengan napas memburu.
Matanya yang memerah berkaca-kaca menatap Elvan penuh amarah dan kekecewaan yang teramat sangat.
"Kakak nggak punya hak buat mukul Arlo! Dia enggak salah apa-apa! Kenapa sih kakak selalu kayak gini?! Kea capek, kak! Kea bukan barang milik kakak yang bisa Abang atur dan kurung seenaknya!"
Elvan memegang dadanya yang baru saja didorong Keana. Bukannya merasa bersalah, tatapannya justru makin mengeras, tak terima dipasangi badan oleh Keana demi pria lain.
"Kamu yang enggak mengerti, Keana!" bentak Elvan dengan suara berat yang menekan, melangkah maju mengikis jarak.
"Aku melakukan ini semua buat melindungi kamu! Cowok ini cuma bawa bahaya dan pengaruh buruk buat kamu. Ikut aku pulang sekarang, jangan membuatku hilang kendali lebih jauh!"
Ia kembali meraih pergelangan tangan Keana dengan cengkeraman yang sangat kuat, menariknya memaksa untuk melangkah keluar dari kafe.
Melihat Arlo yang berusaha bangkit hendak menahan Elvan kembali, Keana panik luar biasa. Ia tahu betul betapa berbahaya dan kejamnya Elvan jika makin tersulut emosi. Keana tidak ingin Arlo berdarah lebih banyak atau bahaya yang lebih besar menimpa Arlo.
"Arlo, please... diam! Jangan!" panggil Keana, ia menghentikan langkah Arlo.
Keana menatap Arlo dengan tatapan memohon dan mata yang membasah.
"Aku mohon... Biar aku pulang sama kak Elvan. Kamu obati luka kamu, ya? Tolong... demi aku, jangan diikutin lagi."
Arlo mengepalkan tangannya di lantai, menatap Keana dengan rasa bersalah dan tidak berdaya saat melihat Keana di seret oleh Elvan keluar menuju mobil, membiarkan kemarahan dan rasa sakit itu mengendap tebal di dalam dadanya.