NovelToon NovelToon
Bocah Kambil

Bocah Kambil

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:523.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Doris Gaverna

Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.

Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.

Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.

Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

025. Episode 25

“Fuh! Selesai juga!”

Adeth berseru senang ketika berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya. Ia kemudian melakukan sedikit peregangan. Tubuhnya terasa kaku setelah berkutat dengan pulpen dan buku selama dua jam. Ia lalu melirik jam dinding di kamarnya. Jarum pendek berada pada angka sembilan dan jarum panjang berada pada angka tiga. Ia lalu mendesah pelan.

“Sudah siang, ya?” ujarnya bertanya pada dirinya sendiri. Ia tatap jendela di hadapannya selama beberapa saat. Ia lalu mendesah lagi. “Aku sekarang bosan.”

Tiba-tiba, sebuah ide hebat terbersit di kepalanya.

Dirinya bangkit dari kursi. Kakinya berjalan ke arah pintu secara otomatis. Pintu kamarnya terbuka saat kakak laki-lakinya kebetulan lewat di depannya. Mereka hanya bertatap-tatapan selama beberapa saat.

“Kenapa?” tanyanya tanpa dosa sambil memasukkan satu chicken pop ke dalam mulutnya.

“Kamu yang kenapa. Lewat, ya, lewat, nggak usah pakai acara tatap-tatapan begitu. Mana makan sambil berdiri lagi.”

Bisma hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya dan berlalu meninggalkan Adeth yang mengumpat dalam hati. Adeth geleng-geleng kepala.

Sialan.

Perhatian Adeth teralihkan ketika sebuah aroma mencubit hidungnya, membuatnya menoleh ke arah dapur. Ia hafal dengan aroma itu. Cheesecake. Benar saja, saat ia mengintip dari balkon depan kamarnya, mamanya sedang mengeluarkan loyang besi dari oven. Seketika, hasratnya untuk diet menghilang. Ia lalu turun melewati tangga untuk ikut ambil bagian kue itu.

“Halo, Sayang,” sapa mamanya pada Adeth ketika gadis itu sampai di dapur yang hanya dibalasnya dengan senyuman.

“Ini kue untuk siapa, Ma?” tanya Adeth sambil menyambar satu potong cheesecake hangat itu, menyemprotkan krim keju di atasnya, lalu menelannya bulat-bulat.

“Buat Mang Ade. Nanti tolong kamu antar, ya.”

Adeth lalu menelan kunyahan kue tadi ke kerongkongannya. “Wih, pas banget. Sekalian jalan-jalan boleh, kan, Ma? Suntuk banget di rumah. Nggak ada pekerjaan.”

Wanita paruh baya berambut pendek itu hanya tersenyum mendengar permohonan putrinya. Sambil menyerahkan bungkusan pada Adeth, wanita itu berkata, “Boleh. Tapi pulangnya jangan terlalu siang.”

Adeth menerima bungkusan itu dengan senang hati dan meluncur untuk mengambil sepedanya. Namun, sedetik kemudian dia berhenti dan membuatnya sedikit terselip.

“Oh, iya, Ma.”

“Hmmm?” gumam Mamanya tanpa mengalihkan pandangan dari adonan yang tengah diaduknya.

“Jadi, sebenarnya kemarin aku pulang terlambat itu … karena diminta untuk ikut lomba Pramuka.”

Wanita setengah baya itu menoleh ke anak gadisnya. “Sejak kapan kamu ikut Pramuka?”

Adeth menurunkan pandangannya, tidak berani menatap mamanya. “Sejak … kemarin?”

Wanita itu lalu berjalan menghampiri anak gadisnya yang menunduk. “Dan sejak kapan juga Mama mengizinkan kamu untuk ikut organisasi?”

“Tapi, Ma!” bantah Adeth cepat yang kemudian menyadari bahwa suaranya terlalu keras dan terkesan kasar. “Tapi, Ma, Adeth, kan, nggak pernah ikut kegiatan apapun. Adeth sudah besar, Ma, bukan anak kecil lagi. Adeth sudah bisa menentukan jalan hidup Adeth sendiri. Adeth juga sudah bisa mempertimbangkan segala resiko. Adeth mohon, ya, Ma?”

Tanpa disangka, reaksi wanita itu malah di luar ekspetasi Adeth. Wanita itu tertawa terpingkal-pingkal yang membuat Adeth menyatukan alisnya.

“Aduh, perut mama sakit. Mama nggak akan menduga jika reaksi kamu bakal seperti itu. Ya … mama pikir sudah saatnya anak gadis bungsu mama mampu untuk menentukan pilihannya sendiri.”

“Jadi …?” tanya Adeth mengambang.

“Iya, boleh. Sudah, buruan berangkat!”

“Makasih, Mama!” serunya sambil berlari menuju garasi. Ia sambar helm untuk sepedanya dan melesat merobek jalanan lengang kompleks perumahannya. Dengan rakus, ia hirup udara dan mengisi penuh paru-parunya. Seyumannya mengembang diiringi hembusan napasnya.

Setelah menempuh perjalanan selama sepulu menit, Adeth sampai di halaman rumah sederhana seseorang. Ia berhenti dan memakirkan sepedanya di halaman tersebut. Kakinya berjalan ke arah pintu dan mengetuknya beberapa kali.

“Permisi … Mang Ade?”

Tidak lama kemudian, seseorang membukakan pintu untuk Adeth. Dari dalam rumah, muncul seorang pria berpenampilan lusuh. Rambut kumal setengkuk yang berantakan, jenggot yang entah kapan terakhir kali dicukur, celana kolor longgar berwarna mencolok, dan kaus oblong yang melekat pada badannya.

Meskipun penampilannya seperti bapak-bapak tukang jaga pos ronda, umurnya baru saja menginjak kepala tiga sekitar dua bulan lalu.

“Oh, Adeth. Sini, masuk, masuk. Maaf rumahnya agak berantakan,” ujar pria itu dengan logat Sunda yang kental mempersilakan Adeth untuk masuk.

“Nggak apa-apa, Mang.”

“Tumben ke sini. Ada perlu apa?”

“Ini, tadi disuruh Mama nganter kue ini buat Mang Ade.” Adeth menyerahkan bungkusan yang dibawanya kepada pria tersebut.

“Duh, makasih banyak, ya. Kakak ipar memang yang terbaik.”

Adeth tertawa kemudian mendudukkan diri di sofa ruang tamu saat seorang wanita dengan anak kecil di gendongannya muncul dari ruang tengah. Adeth berdiri dan menyalami wanita itu. Ia adalah Bi Ule, isteri dari Mang Ade. Meskipun sudah menyandang titel “Bibi”, namun sebenarnya usianya masih 25 tahun.

“Bi Ule, lama nggak jumpa. Kumaha, damang?”

“Damang. Duh, makin gede aja. Tambah geulis. Duduk aja, atuh, nggak usah sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri.”

“Makasih, Bi. Wah, Irma sudah besar, ya. Sudah masuk TK belum, Bi?”

Bi Ule hanya tertawa.

“Belum, masih tahun depan. Oh, ya, gimana kabar mama, papa, dan kakak kamu? Sehat semuanya, kan?”

“Sehat, kok, Bi,” tiba-tiba, sebuah ide bagus telintas di pikiran Adeth. “Oh, iya, Bi. Bi Ule hari ini repot atau ada acara nggak?”

“Nggak, atuh, nganggur. Kenapa emang?”

“Kalau Adeth nginep di sini semalam, boleh, nggak, Bi?”

“Boleh, dong! Eh, tapi besok, kan, Senin. Kamu nggak sekolah?”

“Gini aja, Bi. Setelah ini aku akan pulang dulu ke rumah ambil barang-barang sekalian pamit ke Mama. Setelah itu, baru, deh, nginep di sini. Karena besok Senin, berangkatnya dari rumah Bi Ule aja. Barang-barangnya baru akan kuambil besok sore.”

“Ah, iya, juga. Udah, kalau gitu buruan minta izin sana!”

“Oke, berangkat sekarang, ya, Bi!”

“Eh, kok, udah mau pulang? Jangan terburu-buru, lah, santai aja sini, masih pagi juga.”

“Nggak pulang, Mang, mau ambil baju.”

“Ambil baju?” Mang Ade tampak kebingungan. “Mau minggat?”

“Minggat apaan, sih, Mang? Orang mau nginep sini juga. Lumayan, PS milik Mang Ade nganggur, kan? Kita main bareng!”

“Loh, mau nginep? Azek, kalau gitu gue beliin camilan di supermarket, ya!”

“Oke, Mang!” seru Adeth dari atas sepeda kemudian melesat kencang bagai anak panah.

Angin yang membelai pipi Adeth memberikan sensasi nyaman di seluruh tubuhnya. Hubungan paman-keponakan terlihat lebih seperti adik-kakak untuknya.

Begitulah caranya menghabiskan akhir pekan saat ini.

___________________________________

Masih ada yang suka nginep di rumah saudara waktu akhir pekan? Ceritain, dong!

Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media

IG: @dernatasw or @dahelart

FB: Derna Taswara

1
Cut SNY@"GranyCUT"
masin subuh
Cut SNY@"GranyCUT"
mama bagaimana sih.. anaknya cantik kok dibilang wajahnya buruk..
Cut SNY@"GranyCUT"
waduh cantik kok jorok sih ndok.. seminggu gak keramas mambune koyo bunga raflesia arloldi.. namanya keren ya, tapi istilah indonesianya bunga bangkai... 😆
Mukmini Salasiyanti
laaaaa...
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
Mukmini Salasiyanti
Berdebar..
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
Mukmini Salasiyanti
maaf thor..
bocah Kambil itu apa ya artinya??
Mukmini Salasiyanti
nyimak thor
salken
Rahma Husnul
dr tutur bahasanya, penulis punya pemikiran yg dewasa. meski yg di sajikan cerita anak SMA ... keren 👍👍👍
Rahma Husnul
suka dg pemilihan katanya. terus semangat berkarya ya 💪💪💪
Dawet_Legi
hai kak aku mampir, kapan" mampir baca karyaku juga ya..thanks🙏☺️
ruhaynizz
mampir nih thor
Zuai Azmi
satu vote buat athor 👍👌
r4tn4🌛
penasaran sama judulnya, trnyta ceritanya seru juga👍
harie insani putra
salam kenal ijin meninggalkan jejak di sini ya thooorrr
lembayungsenja88
masalahnya kau terlalu lemah dan dungu bimo
lembayungsenja88
lemah kau Bimo banci heang.
Anita Suwarti
Bocah kambil,, ank pramuka thor???
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,
azkia zain
kok enggak update, kayaknya kan Senin ma Kamis,
مي زين الش
sdh aq kasih vote dan like kakak... . sukses sll ya
im_ha
10 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!