NovelToon NovelToon
Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / CEO / Duda
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Ayu meneguk ludahnya pelan. Setelah sempat tertegun beberapa detik, ia akhirnya mundur selangkah. "E-eh... silakan masuk, Pak Zaky. Silakan duduk dulu," ujar Ayu dengan nada kikuk, mempersilakan pria berkuasa itu melangkah masuk ke dalam ruang tamu kontrakannya Arumi yang sederhana.

Di dalam hati, Ayu mendadak dilanda kebingungan setengah mati. Otaknya berputar cepat memikirkan apa yang harus ia lakukan. Baru semalam Arumi bercerita panjang lebar sambil menangis, menegaskan tekadnya untuk menghindar sejauh mungkin dari Zaky yang belakangan ini gencar mendekatinya lagi. Namun di sisi lain, Ayu juga sadar diri. Mana berani ia mengusir pria sekaya dan seberkuasa seperti Zaky? Menolak kehadirannya sama saja dengan memicu masalah besar, alias menggali lubang kuburan sendiri bagi rakyat kecil seperti mereka.

Ayu berdehem pelan untuk mencairkan suasana. "Kalau begitu... saya izin ke kamar Arumi sebentar ya, Pak. Mau mengantarkan bubur hangat ini untuk Arumi di kamarnya."

"Biar aku saja yang membawa bubur itu ke dalam," potong Zaky cepat. Ia menatap mangkuk di tangan Ayu dengan sorot matanya yang serius. "Aku merasa sangat bersalah. Gara-gara permintaanku agar dia mengajar les kemarin, Arumi jadi kelelahan dan jatuh sakit seperti sekarang."

"Tapi, Pak...!" Ayu mencoba menahan, merasa sungkan jika sang CEO harus melayani sahabatnya.

Namun, dengan gerakan yang sigap dan tegas, Zaky langsung meraih mangkuk bubur hangat tersebut dari tangan Ayu. Tanpa canggung, ia melangkah lebar menuju kamar Arumi yang pintu kayunya memang sedang terbuka lebar.

Begitu menginjakkan kaki di ambang pintu kamar, dada Zaky berdenyut nyeri. Di atas kasur tipis itu, ia melihat sosok Arumi sedang meringkuk lemah di balik selimut tebal, sesekali tubuhnya terguncang karena terbatuk-batuk kecil. Zaky benar-benar tidak tega melihat kondisi wanita yang dicintainya tampak begitu rapuh.

Zaky berjalan mendekat lalu mengambil posisi duduk di tepi kasur. "Rum... kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut, memecah keheningan kamar.

Arumi yang semula berbaring membelakangi pintu, perlahan memutar tubuhnya karena mendengar suara yang sangat ia kenal. Begitu kelopak matanya terbuka dan menangkap sosok Zaky duduk tepat di dekatnya, Arumi terkejut setengah mati.

"Z... Zaky?! Uhuk! Uhuk!" Arumi langsung tersedak dan terbatuk-batuk hebat akibat rasa terkejut yang luar biasa melihat mantan kekasihnya itu tiba-tiba berada di dalam kamar pribadinya.

"Eh, hati-hati. Jangan dipaksakan," ujar Zaky cemas. Dengan sigap, ia mengulurkan tangannya untuk menopang punggung Arumi, membantu posisi wanita itu agar bisa duduk bersandar pada kepala kasur.

Arumi mencoba mengatur napasnya yang memburu, wajahnya yang pucat kini menyiratkan kepanikan. "Darimana kamu tahu kalau aku sakit? Apakah Mbak Ayu yang memberi tahumu?" tuduh Arumi langsung dengan suara serak.

Zaky menaruh mangkuk bubur di atas lemari nakas kecil samping tempat tidur. Ia lalu menatap Arumi lekat-lekat. "Dari mana aku tahu kondisimu saat ini, itu semua tidak penting, Rum. Yang jelas, Ayu sama sekali tidak ada kaitannya dengan hal ini. Dia tidak membocorkan apa pun," jawab Zaky tegas, melindungi Ayu agar tidak disalahkan.

Sementara itu di luar, Ayu memilih untuk mengambil langkah aman. Ia berjalan menuju teras depan kontrakan dan duduk di sana. Sengaja, pintu ruang tamu dibuka lebar-lebar olehnya agar pandangan dari luar tetap terlihat, demi mencegah timbulnya fitnah apa pun dari tetangga sekitar terhadap Arumi. Ayu tidak ingin nama baik sahabatnya yang seorang guru tercoreng akibat kunjungan mendadak pria asing di kontrakan mereka.

Di dalam kamar, Zaky kembali meraih mangkuk bubur ayam kampung yang masih mengepulkan asap tipis. Ia mengaduknya perlahan, lalu meniup sesendok bubur dengan penuh kesabaran sebelum mengarahkannya ke depan bibir Arumi.

"Ayo, buka mulutmu, Rum. Mumpung masih hangat," titah Zaky lembut.

Arumi memundurkan sedikit kepalanya, menatap sendok itu dengan pandangan sinis. "Aku bisa sendiri, Zaky. Kamu tidak perlu repot-repot menyuapiku seperti ini!" jawab Arumi ketus, tangannya bergerak hendak meraih mangkuk dari pegangan Zaky.

Namun, Zaky tak mau mengalah begitu saja. Ia sedikit menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan jemari lemah Arumi, menolak memberikan benda itu.

"Tidak boleh. Kali ini biar aku yang menyuapi mu sampai habis. Dimakan ya? Ngerti!" ucap Zaky dengan nada bicara yang mendadak berubah tegas dan tidak menerima bantahan.

Sorot mata Zaky yang mengunci erat bola matanya seketika membuat Arumi kehilangan kata-kata. Ia refleks menelan ludahnya sendiri, mendadak ciut sekaligus gugup menghadapi sisi dominan Zaky yang sudah lama tidak ia lihat.

Akhirnya, dengan perasaan campur aduk, Arumi terpaksa membuka mulutnya. Ia menerima suapan demi suapan bubur hangat dari tangan Zaky. Pikirannya saat itu sederhana: ia ingin bubur ini cepat habis agar Zaky tidak punya alasan lagi untuk tinggal dan segera angkat kaki dari kontrakannya.

Namun, perkiraan Arumi meleset total. Begitu mangkuk bubur kosong dan ditaruh kembali di atas nakas, pria itu tetap bergeming di tepi kasur. Zaky malah menunjukkan kenekatannya untuk tetap berada di sana, menunggui Arumi tanpa ada niat untuk bergeser sedikit pun.

"Sebaiknya kamu pulang sekarang, Zaky. Enggak baik dilihat tetangga sekitar sini. Apa nanti kata mereka kalau lihat ada laki-laki di kamarku?" ujar Arumi dengan suara serak, mencoba memberi pengertian sekaligus mengusirnya secara halus.

Mendengar kekhawatiran Arumi, Zaky justru menyunggingkan sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang terkesan meremehkan ketakutan itu.

"Ini Jakarta, Rum, bukan di kampung kita dulu," sahut Zaky tenang. "Orang kota dan orang kampung itu beda cara pandangnya. Kebanyakan orang kampung memang lebih suka kepo dan mencampuri urusan orang lain, sedangkan orang kota jauh lebih cuek dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jadi, kamu tidak perlu cemas soal itu."

Mendengar jawaban yang terlampau santai itu, Arumi hanya bisa menghembuskan napas panjang menahan jengkel.

"Tapi aku mau istirahat sekarang. Aku tidak mau diganggu oleh siapa pun!" tegas Arumi lagi, kali ini dengan sorot mata yang menghunus langsung ke bola matanya Zaky.

Zaky ikut menghela napasnya berat, namun tatapannya tidak goyah sedikit pun. "Aku tetap tidak akan pergi sebelum memastikan kondisimu benar-benar membaik dan aman, Rum," jawabnya bersikukuh dengan nada mutlak.

Mendengar ketegaran yang berbatasan dengan kebebalan itu, giliran Arumi yang menarik napas sedalam-dalamnya.

'Kenapa kau jadi semakin menyebalkan dan keras kepala seperti ini, Zaky?' batinnya menjerit jengkel.

Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa saat, menyisakan suara detak jam dinding dan batuk kecil Arumi. Zaky menatap wajah pucat wanita di hadapannya. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergejolak hebat. Ia merasa sudah tidak sanggup lagi menyimpan rahasia masa lalu ini lebih lama. Beban kebenaran itu sudah terlalu lama menghimpit runtuhnya kewarasan Zaky selama dua belas tahun ini.

Zaky ingin menjelaskan semuanya hari ini juga. Ia ingin meruntuhkan dinding es di hati Arumi agar wanita itu bersedia kembali ke pelukannya dan bersama-sama merangkai kembali benang hubungan mereka yang sempat terputus secara tragis.

Dengan tindakan nekat yang spontan, Zaky memajukan tubuhnya dan langsung meraih jemari Arumi, menggenggamnya dengan sangat erat di atas selimut.

"Rum... aku sudah tidak sanggup lagi menyimpan semua kebenaran ini sendirian lebih lama lagi," ujar Zaky, suaranya mendadak bergetar berat namun sarat akan keseriusan. Matanya menatap lurus, mengunci pandangan Arumi.

"Aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu. Aku ingin kamu tahu alasan kenapa aku sampai tega pergi dan menghilang begitu saja meninggalkan kamu, tepat di saat hari pernikahan kita sudah di depan mata!"

Arumi tersentak hebat. Jantungnya berdesir liar mendengar rentetan kalimat yang keluar dari belahan bibirnya Zaky.

"Lepaskan tanganmu itu, Zaky!" sentak Arumi, mencoba menarik jemarinya dari cengkeraman Zaky, namun pria itu menolak melepaskannya. "Tidak perlu ada lagi yang dibicarakan atau dijelaskan. Semuanya sudah lama menjadi masa lalu yang mati. Dan kenyataannya, mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak berjodoh," jawab Arumi dengan nada dingin yang menyayat hati.

Kalimat telak dari Arumi itu seketika menghantam pertahanan egonya Zaky. Butiran air mata yang selama belasan tahun ini jarang sekali ia perlihatkan, kini merebak di pelupuk matanya, hampir saja lolos membasahi pipinya karena rasa sesak yang tak sanggup lagi ia bendung.

"Kau... kau tetap harus tahu kebenaran yang sesungguhnya, Rum," ucap Zaky dengan suara yang menahan isak, tenggorokannya terasa tersumbat. "Soal bagaimana keputusan akhirmu nanti setelah mendengar semuanya, itu sepenuhnya ada di tanganmu. Aku tidak akan memaksa. Tapi asal kau tahu... perasaanku padamu dari dulu, sekarang, dan selamanya... masih tetap sama dan tidak pernah berubah sedikit pun!"

Deg!

Arumi seketika terpaku di tempat bersandarnya. Kata-kata Zaky yang diucapkan dengan mata yang berkaca-kaca itu bergema hebat di dalam kepalanya, membuat dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama dua belas tahun ini mendadak retak dan goyah seketika.

Bersambung...

1
Patrick Khan
zaky br sadar klo ada ayu😁😁😁..nyok tanya jawab ke ayu. siap2 ayu ngajak taworan ngegas jawabnya🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: tau aje 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
aristi
wow Brebes itu kampungku thor😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, apa kabar warga Brebes 🤗
total 1 replies
Nar Sih
pilihan yg tepat zaky,buruan temuin ayu minta tolong pada nya dia pasti tau sebab mslh kamu knpa arumi berubah pada mu
Nar Sih
jgn menyerah zaky,cri tau sebab arumi berubah
mimief
hayooo Zaki
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
mimief: lanjut Thor 🤭
total 2 replies
Uba Muhammad Al-varo
Zaky........dari dulu sampai sekarang kenapa otakmu lemot dan kau nyonya Maya yang sombong yang membiarkan anaknya Zaky menjadi duda karatan dan tak tersentuh, hadeuh dasar si nyonya ogeb/Hammer//Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah duda karatan 🤣🤣🤣
total 1 replies
mamayasna
syuuliitt dahh
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
neny
selidiki ath zaky. atas apa yg terjadi sm arumi,mengapa sikap nya berubah,,tanya sm ayu,,km kan pintar,masa gtu ajh mesti dikasih tau
neny: ya iya lah,,hanya bertanya tanya dlm hati doang mah gk akan ada jawaban nya🤣🤣
total 2 replies
Teh Euis Tea
Zaky, ibumu biang keroknya, ibumu jg yg nyekokin biar km ga nikah lg
dasar nenek lampir
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh, mak lampir 🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah Zaky engg tau dong ibunya udh ngelabrak Arumi yah
Teh Yen
duh yg CLBK (cinta lama bersemi kembali) brasa muda kembali sampe.engg sadar senyum" sendiri hihii 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nar Sih
zaky ..cri tau sja knpa sikap arumi berubah ,dan itu grgr ibu mu
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ,kebayang,,bila ngk jumpa 😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
ya ampun Bu Maya bkn Arumi loh yg deketin putramu tp si Zaky sendiri yg msh ngejar Arumi
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weh, aku di tumbalin 🤣🤣🤣/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
total 1 replies
mimief
gas yu...yg model beginian mah jangan kasih kendor 🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh siap 🤣🤣
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
ayolah Ayu jaga Arumi dari kekejaman mulutnya nyonya Maya,kalau dia menyakiti Arumi lawan Ayu jangan diam aja udah terlalu banyak penderitaannya Arumi akibat nyonya Maya karena fitnahnya Citra
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😄
total 1 replies
neny
sabar ya rum,,nanti jg kebenaran akan terungkap,,cepat atau lambat,,semangat💪😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semangat juga kak 😀
total 1 replies
Teh Euis Tea
baru di senyumin Arumi aj udah serasa dunia milik km sendiri Zaky 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah itu dia, apalagi klo yg lain, bisa pingsan 🤣🤣
total 1 replies
neny
ter arumi arumi...🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh kak🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!