NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

“Dari tadi aku sudah tidak percaya kamu bisa memasak. Ternyata dibantu Mama. Dasar gadis manja, tidak becus melakukan apa-apa,” ejek Raka.

“Aku memang masih belajar, Kak. Suatu hari nanti pasti bisa memasak sendiri. Aku ingin menjadi istri yang kamu harapkan,” jawab Laras sambil tersenyum, meski hatinya terasa perih mendengar ucapan itu.

Raka tidak ingin berdebat lagi. Ia langsung melahap makanan itu, ingin cepat selesai agar Laras segera pergi dari ruangannya.

Begitu Laras membereskan kotak makan, Raka langsung mengusirnya tanpa rasa sungkan.

“Masih ada perlu apa lagi di sini? Pergi saja, aku banyak pekerjaan. Kehadiranmu tidak berguna, jadi jangan membuang waktuku,” katanya ketus.

“Kakak sangat jahat, baru selesai makan sudah disuruh pulang. Lagian aku memang ingin menunggu Mama, tadi disuruh pulang bersama. Aku tidak akan mengganggu kok, Kakak bisa melanjutkan pekerjaan,” jawab Laras tetap tersenyum.

“Terserah,” kata Raka singkat. Ia langsung mengambil tas kerjanya dan beranjak pergi.

“Kakak mau kemana?” tanya Laras bingung.

“Ada rapat di luar kantor. Kalau mau menunggu Mama, silakan saja. Aku tidak peduli,” jawab Raka lalu melangkah keluar.

Laras segera menghapus air mata yang hampir menetes. Ucapan dan sikap suaminya benar-benar menyakiti hatinya.

Akhirnya dia duduk menunggu di ruangan itu. Karena terlalu lama menunggu dan merasa lelah, ia pun tertidur di atas sofa.

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Sari masuk dan terkejut melihat Laras tertidur di sana. Ia melihat sekeliling ruangan, tetapi Raka tidak ada di tempatnya. Padahal Sari sengaja datang lebih lambat agar Raka dan Laras memiliki waktu lebih lama bersama, namun rencananya tidak berjalan sesuai harapan.

Sari menghela napas panjang, lalu membangunkan menantunya.

“Nak, bangun. Ayo kita pulang.”

Laras terkejut dan segera terbangun. “Mama sudah lama di sini? Maaf ya, aku malah ketiduran,"

“Baru saja masuk kok. Kamu pasti sangat lelah. Dimana Raka? Kenapa tidak ada disini?” tanya Sari penasaran.

“Kak Raka ada rapat di luar, Ma. Dia menyuruh aku menunggu Mama di sini tadi,” jawab Laras.

“Baiklah, kalau begitu kita pulang saja,” ajak Sari.

Setelah meninggalkan kantor, Raka sengaja tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya. Ia malas bertemu Laras, lalu mengemudikan mobil menuju apartemen miliknya sendiri.

Sesampainya di apartemen, ia beristirahat sejenak sambil berpikir. Ia ingin membawa Laras tinggal di sini, agar kedua orang tuanya tidak terlalu sering ikut campur urusan rumah tangga mereka. Dengan begitu, ia bisa memperlakukan Laras sesuka hatinya.

“Aku harus meminta izin Mama dan Papa untuk memindahkannya ke sini. Jika tinggal di apartemen, aku lebih mudah membuat hidupnya terasa berat. Gadis manja seperti dia pasti akan cepat menyerah dan memilih berpisah,” pikirnya dengan penuh rencana.

Kemudian ia berangkat kembali menuju rumah. Kali ini ia berniat berpura-pura mulai bersikap lebih baik, agar orang tuanya menyetujui keinginannya untuk tinggal terpisah.

Sesampainya di rumah, Laras sudah menunggu di depan pintu. Begitu melihat suaminya datang, ia segera mencium tangan Raka.

“Kak, biar aku yang bawa tasnya,” ujarnya lembut.

Mereka berjalan masuk menuju kamar. Raka langsung membuka kemeja dan bersiap mandi. Ternyata Laras sudah menyiapkan air hangat dan pakaian ganti yang rapi.

Raka hanya tersenyum sinis melihat tingkah laku istrinya yang berusaha sempurna.

“Bagus juga usahamu, tapi kita lihat saja sampai kapan gadis manja ini sanggup bertahan,” gumamnya dalam hati.

Tak lama kemudian, Laras masuk membawa segelas teh hangat.

“Minum dulu, Kak. Mau makan sekarang atau nanti?” tanyanya lembut.

“Aku sudah makan tadi. Duduklah, aku ingin bicara sesuatu,” jawab Raka sambil meminum teh itu.

Keduanya duduk di sofa. Laras menunggu dengan rasa penasaran. Karena Raka hanya diam saja, akhirnya ia memberanikan diri bertanya.

“Kakak bilang mau bicara, tapi kenapa dari tadi hanya diam?”

“Kurang sabar ya?” jawab Raka ketus.

Lalu ia melanjutkan, “Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari pernikahan ini?”

Laras menjawab dengan tulus, “Aku berharap Kakak bisa menerimaku sebagai istri, lalu mencintaiku sebagaimana aku mencintai Kakak. Aku ingin pernikahan kita berjalan selamanya.”

Raka hanya diam mendengarnya. Kini ia semakin yakin bagaimana cara menjerat gadis itu agar menyetujui keinginannya untuk tinggal terpisah dari orang tua.

“Jika ingin semua harapan itu terwujud, maka kamu harus berusaha keras agar aku bisa membuka hati untukmu. Ingat, aku tidak menyukai wanita yang manja dan selalu bergantung pada orang lain. Jika ingin pernikahan ini bertahan, belajarlah menjadi pribadi yang mandiri dan mampu memenuhi segala kebutuhan rumah tangga serta kebutuhan suamimu,” ujarnya dengan nada tegas.

“Baik, Kak,” jawab Laras dengan senyum bahagia, seperti baru saja mendapatkan arahan berharga.

“Ada satu hal lagi. Aku ingin kita tinggal terpisah dengan orang tua. Aku ingin membangun kehidupan rumah tangga kita sendiri tanpa banyak campur tangan dari pihak luar. Aku ingin kita belajar mengurus semuanya secara mandiri,” lanjut Raka, melangkah menjalankan rencananya.

“Aku akan mengikuti ke mana pun Kakak membawaku. Sebab kini Kakak adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Aku yakin segala keputusan yang diambil adalah demi kebaikan dan keutuhan pernikahan ini,” jawab Laras dengan sikap polos dan penuh kepercayaan.

Ia tidak menyadari bahwa keputusan itu justru menjadi awal dari penderitaan yang akan ia lalui nanti. Di dalam hati Raka justru merasa senang, karena kepatuhan Laras membuat rencananya berjalan lebih mudah dari yang dibayangkan.

“Baiklah akaly begitu, ayo kita sampaikan rencana kita ini kepada Papa dan Mama,” ajak Raka.

Ia bahkan sengaja menggenggam tangan Laras seperti sudah mulai membuka diri, padahal hanya akting belaka. Laras yang tidak menyangka bisa merasakan sentuhan suaminya, merasa sangat bahagia.

“Kalian berdua Mau membicarakan apa?” tanya Bima yang sedang duduk santai bersama Sari di ruang tengah.

Keduanya terkejut melihat kedatangan anak dan menantu, terlebih melihat Raka yang menggenggam tangan Laras dengan begitu mesra.

“Aku dan Laras sudah memutuskan untuk pindah ke apartemen. Kami ingin hidup mandiri, serta saling mengenal lebih dalam agar hubungan ini semakin erat,” jawab Raka dengan tenang dan meyakinkan.

“Kenapa tiba-tiba ingin pindah? Apakah rumah ini kurang luas sehingga kamu merasa tidak nyaman? Mama sudah bisa menemaninya disini, tapi sekarang kamu malah ingin membawanya pergi,” ujar Sari dengan nada sedikit kecewa.

“Bukan berarti kami tidak betah, Ma. Justru kami butuh ruang untuk berdua, agar bisa lebih dekat dan saling memahami. Lagipula apartemen itu tidak jauh dari sini, Mama bisa berkunjung kapan saja, atau Laras juga bisa pulang ke rumah ini kapan pun ia mau. Benar bukan, Ras?”

“Benar, Ma. Apa yang dikatakan Kak Raka memang benar. Pernikahan kami berlangsung cukup mendadak, jadi kami butuh waktu untuk saling mengenal lebih dalam serta belajar hidup mandiri,” tambah Laras, membuat kedua orang tua itu merasa lebih tenang dan percaya.

“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan bersama, Papa dan Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik. Jika nanti menemui kesulitan, jangan ragu untuk meminta bantuan kami. Ingat, membina rumah tangga tidaklah mudah. Kalian harus bisa mengendalikan emosi, tidak bersikap egois, dan selalu melibatkan pasangan dalam setiap keputusan. Pesan Papa untukmu, Nak. Jangan pernah menyakiti hati maupun fisik istrimu. Mungkin saat ini kamu belum memiliki rasa cinta, tapi belajarlah untuk mencintainya seiring berjalannya waktu. Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untuk hidupmu,” nasihat Bima dengan penuh kebijaksanaan.

*****

Keesokan harinya, Raka langsung membawa Laras pindah ke apartemen miliknya. Ia sudah tidak sabar menjalankan rencana, ingin segera melihat apakah gadis itu benar-benar sanggup bertahan sebagai istrinya.

“Ini kamar untukmu, dan kamar sebelah untukku. Mulai sekarang, bersihkan dan rapikan seluruh ruangan di apartemen ini. Aku ingin beristirahat,” ujar Raka dengan nada datar.

Laras tertegun, wajahnya tampak kecewa. “Tunggu dulu, Kak. Bukankah tadi kita sepakat untuk saling membuka hati dan menerima satu sama lain? Lalu kenapa kita harus tidur di kamar terpisah?”

“Kita akan sekamar hanya jika kamu sudah bisa hidup mandiri dan tidak lagi terlihat seperti gadis manja. Aku tidak suka wanita yang tidak mampu mengurus rumah tangga sendiri,” jawab Raka, yang sebenarnya hanya mencari alasan untuk menjaga jarak.

“Kalau begitu, bolehkah kita mempekerjakan pembantu untuk membantuku? Aku khawatir tidak sanggup mengerjakan semuanya sendirian,” usul Laras dengan hati-hati.

Ia sebenarnya tidak enggan menjalankan peran sebagai istri, namun mengingat kondisi kesehatannya yang rentan lelah, ditambah tugas kuliah yang masih menumpuk karena sebentar lagi akan menyelesaikan studinya, ia merasa perlu bantuan. Apalagi soal memasak, ia belum memiliki kepercayaan diri untuk menyajikan hidangan yang layak dimakan tanpa didampingi orang yang lebih berpengalaman.

“Kamu bilang ingin belajar dan bisa melakukan semuanya, tapi kalau ada pembantu disini, kapan kamu bisa mengurus rumah? Cih... benar-benar masih manja,” sindir Raka.

“Bukan begitu, Kak. Aku hanya belum terbiasa masak, jadi butuh waktu untuk belajar agar hasilnya bisa sempurna,” jawab Laras jujur, mengungkapkan keresahannya.

“Kalau begitu, belajarlah. Bisa mengikuti kursus atau bertanya dan berlatih bersama Mama. Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, masuklah ke kamarmu. Aku ingin beristirahat,” usir Raka singkat.

Laras pun masuk ke kamar yang disediakan. Ia mulai membongkar dan menata barang-barangnya satu per satu. Setelah selesai, ia bergerak membersihkan seluruh ruangan di apartemen itu.

Tanpa terasa hari mulai gelap. Laras baru saja menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah. Ia menyeka keringat yang membasahi dahi, merasakan tubuhnya yang sangat lelah. Selama ini ia selalu dijaga dan dibatasi agar tidak terlalu banyak beraktivitas berat, sehingga tenaganya terasa terkuras hanya untuk pekerjaan sehari itu.

Namun ia berusaha menenangkan diri. Selama ia rutin meminum obat dan menjaga pola makan, kondisi paru-parunya akan tetap terjaga.

“Kamu harus kuat, Laras. Mengurus rumah tangga tidak akan membuatmu jatuh sakit,” bisiknya pada diri sendiri untuk memberi semangat.

Karena belum pandai memasak, Laras memutuskan untuk memesan makanan lewat layanan online. Ia belum berani menyajikan masakan sendiri untuk suaminya, namun sudah bertekad besok akan pergi ke rumah mertua untuk belajar memasak, sesuai saran Raka.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!