Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Mengetuk Pintu Suci
Malam di Dinoyo terasa jauh lebih pekat dan dingin dari biasanya. Di dalam ruang tengah yang hangat, Zaza duduk bersimpuh di atas sajadah merah marunnya, menyelesaikan beberapa rakaat salat malam yang sengaja ia dirikan untuk menenangkan hatinya yang sejak isya tadi terasa tidak keruan. Ada debaran halus yang tidak biasa, sebuah firasat asing yang terus mengusik kedamaian batinnya.
Jam dinding kuno di sudut ruangan telah berdentang menunjukkan pukul sebelas malam. Zaza melirik ke arah pintu depan yang masih terkunci rapat. Mas Rayyan belum pulang, pikirnya cemas. Biasanya, sesibuk apa pun urusan kantor atau pertemuan dengan klien, Rayyan akan selalu memberi kabar atau meneleponnya jika harus pulang terlambat. Namun malam ini, ponsel suaminya itu sama sekali tidak bisa dihubungi.
Zaza perlahan melipat sajadahnya, lalu berjalan menuju meja kerja kecil tempat ia biasa mengurus pembukuan toko bunga RayyZa Florest. Ia mengambil ponsel pintarnya yang tergeletak di samping vas bunga kering, berniat untuk mencoba mengirimkan pesan sekali lagi.
Ting.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal memecah keheningan malam. Jantung Zaza seketika berdegup kencang, seolah firasat buruknya sejak sore tadi menemukan jalannya. Dengan jemari yang mendadak dingin, ia membuka aplikasi WhatsApp tersebut.
Detik itu juga, seluruh pasokan udara di sekitar Zaza seolah lenyap seketika.
Di atas layar ponselnya, terpampang beberapa foto dengan resolusi yang sangat jelas. Foto suaminya, Rayyan, sedang berbaring di atas ranjang hotel dengan rambut acak-acakan dan kemeja yang terbuka sebagian. Dan yang membuat dada Zaza seperti dihantam godam besar adalah sosok wanita di sampingnya, Ghea, yang berpose memejamkan mata dengan pakaian yang sangat minim. Jas hitam milik Rayyan tampak tergeletak berantakan di lantai bawah ranjang.
Zaza membaca kalimat penutup yang menyertai foto-foto laknat tersebut dengan napas yang mulai tercekat:
Maaf ya, Zaza. Sepertinya Mas Rayyan-mu malam ini lebih memilih mencicipi kembali masa lalunya yang indah bersamaku di hotel, daripada pulang ke rumah menemuimu...
🥹🥹🥹
Pertahanan batin Zaza runtuh dalam sekejap. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya hingga mengalir ke sela-sela baju rumahannya. Dadanya terasa begitu sesak, seolah diremas oleh tangan tak kasatmata yang sangat kuat. Pikirannya mendadak riuh oleh bayang-bayang penolakan, rasa bersalah, dan ketakutan akan pengkhianatan yang selama ini paling ia hindari.
"Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim..." bisik Zaza berulang kali melalui sela-sela isaknya, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi yang siap menenggelamkannya.
Ia terduduk lemas di lantai, memeluk lututnya erat-erat di dalam kesunyian rumah Dinoyo. Setan di dalam kepalanya mulai berbisik, memprovokasi kemarahan dan ego wanitanya untuk mengemas barang-barang, pergi meninggalkan rumah ini, atau membalas pesan itu dengan makian.
Namun, di tengah runtuhnya dunia Zaza malam itu, sekelebat ingatan tentang sujud-sujud panjang Rayyan di sepertiga malam belakangan ini kembali melintas di benaknya. Ia teringat bagaimana tatapan mata Rayyan yang begitu tulus saat berjanji di depan abinya, dan bagaimana teguhnya pria itu menolak Ghea di depan pagar rumah mereka beberapa hari lalu.
Zaza memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir, namun akal sehat dan benteng spiritualnya perlahan-lahan bangkit melawan rasa sakit. Ini jebakan, sebuah suara kecil namun mantap bergema di lubuk hatinya yang terdalam. Mas Rayyan tidak akan sehina ini setelah semua proses suci yang kami lalui.
Zaza menghapus air matanya dengan ujung pashmina yang ia kenakan. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menatap kembali foto-foto itu dengan kepala dingin. Ia memperhatikan detail wajah Rayyan yang tampak terlalu pucat dan kaku, bukan seperti orang yang sedang menikmati "kelelehan", melainkan seperti orang yang sedang kehilangan kesadaran penuh.
Zaza menarik napas panjang, menata kembali debaran dadanya yang sempat porak-poranda. Ia tidak membalas pesan Ghea, tidak juga mematikan ponselnya. Sebaliknya, ia kembali membentangkan sajadah merah marunnya di atas lantai.
"Ya Allah... Engkau Pemilik Hati yang sesungguhnya," rintih Zaza dalam sujudnya yang kali ini terasa jauh lebih berat dan basah oleh air mata. "Hamba tidak tahu apa yang sedang terjadi pada suami hamba di luar sana malam ini. Jika ini adalah ujian untuk meruntuhkan rumah tangga kami, maka kuatkanlah kepercayaan hamba pada laki-laki yang telah Engkau pilihkan melalui jalur yang berkah ini. Bongkarlah kebenaran-Mu, ya Allah... jagalah suamiku dari segala bentuk tipu daya yang keji..."
Malam itu, di bawah langit Dinoyo yang kian membeku oleh kabut sore yang tersisa, Zaza memilih untuk tidak menyerah pada ego wanitanya. Ketika badai fitnah dari masa lalu datang mengetuk pintu sucinya dengan begitu beringas, sang Penyulam Aksara justru memilih untuk semakin memperkokoh bentengnya di atas hamparan sajadah, menenun untaian doa dan kepercayaan yang tidak akan bisa diruntuhkan oleh muslihat serendah apa pun.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe