Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Om Raka Mengangguk
"Tidak bisa."
Bu Lilis mengucapkannya seperti putusan pengadilan.
Ia berdiri di depan Raka, wajahnya pucat karena marah. Kerudungnya sedikit miring, tapi ia tidak peduli. Semua kesopanan yang sejak awal ia pakai seperti baju resmi mulai koyak satu per satu.
"Raka, kamu jangan ikut gila. Ini urusan Arman. Bukan urusanmu."
Raka menatap kakak iparnya.
"Justru karena ini urusan Arman, keluarga kita harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab tidak harus menikah!"
"Benar," kata Nadia dari samping. "Bisa juga dengan mengumumkan di depan tetangga bahwa Arman dan Bella yang bersalah, lalu memberi saya kompensasi dan membiarkan saya pergi."
Bu Lilis langsung menoleh tajam.
"Kamu diam dulu."
Nadia mengangkat alis.
"Tadi saya disuruh bicara baik-baik. Sekarang disuruh diam. Susah juga mengikuti aturan Ibu."
Sari menunduk menahan senyum.
Pak Hendra mengusap wajah. Ia tampak seperti orang yang baru sadar bahwa malam ini tidak bisa lagi ditutup dengan kalimat "namanya juga anak muda".
Di sisi lain, Eyang Marni mulai gelisah.
Kalau Nadia menikah dengan Raka, posisi Nadia berubah total. Ia bukan lagi cucu perempuan yang bisa disuruh diam. Ia akan menjadi bagian dari keluarga Wiratmaja dengan status yang lebih tinggi daripada Arman dan Bella. Dan yang paling membuat Eyang Marni kesal, uang seserahan dan kompensasi bisa benar-benar jatuh ke tangan Nadia.
"Nadia," kata Eyang Marni, suaranya dibuat lebih lembut, "kamu jangan terbawa emosi. Menikah itu bukan permainan. Raka itu orang sakit. Kalau nanti kamu jadi janda muda, siapa yang susah?"
Raka menunduk sedikit.
Kalimat itu mengenai tempat paling sensitif.
Nadia melihatnya.
Di kehidupan lalu, ia tidak dekat dengan Raka. Tapi ia tahu satu hal: seluruh keluarga Wiratmaja menjadikan penyakit Raka sebagai alasan untuk mengatur hidupnya. Mereka memujinya sabar, memujinya baik, tapi juga menguburnya hidup-hidup dalam status orang sakit.
Nadia melangkah ke depan.
"Eyang, kalau bicara janda, bukankah lebih aman aku menikah dengan laki-laki yang sakit tapi punya hati, daripada laki-laki sehat yang masuk kamar dengan adik tiriku?"
Arman mengepalkan tangan.
"Kamu terus menyerangku."
"Aku hanya menyebut fakta. Kalau fakta terasa seperti serangan, mungkin masalahnya bukan di mulutku."
Beberapa orang kembali menunduk. Kali ini bukan hanya menahan tawa, tapi juga karena mulai merasa ucapan Nadia masuk akal.
Bella tidak suka.
Sangat tidak suka.
Ia merasakan arah angin berubah. Pada awalnya semua orang memandangnya sebagai korban cinta yang harus segera diselamatkan. Sekarang, satu per satu mulai melihat Nadia sebagai orang yang lebih pantas dikasihani.
Bella menarik napas, lalu menangis lebih keras.
"Mas Arman, aku takut. Kalau Kak Nadia menikah dengan Om Raka, nanti aku akan selalu disalahkan. Aku tidak sanggup tinggal di keluarga yang membenciku."
Arman langsung melunak.
"Tidak ada yang akan membencimu."
Nadia hampir bertepuk tangan.
Sungguh romantis.
Dalam beberapa bulan ke depan, laki-laki yang sama akan mulai membentak Bella karena sayur terlalu asin. Dalam beberapa tahun, ia akan mencurigai semua anak yang Bella kandung. Tapi malam ini, di depan orang-orang, ia masih bisa menjadi pahlawan murah.
Bu Ratna memanfaatkan celah.
"Nadia, lihat adikmu. Dia sudah hancur. Kamu masih mau membuatnya lebih takut?"
Nadia memandang Bu Ratna lama.
"Bu, sejak kapan ketakutan Bella lebih penting daripada harga diriku?"
Bu Ratna tersentak.
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi semua tindakan Ibu bilang begitu."
Pak Darto akhirnya berdiri. Ia terlihat lelah, bingung, dan malu. Nadia pernah mencintai bapaknya dengan sangat. Bahkan setelah dikirim ke panti, ia tetap berharap suatu hari bapaknya menjemput dan berkata semua itu kesalahan.
Bapaknya memang menjemput.
Tapi bukan karena rindu. Karena Bella sudah cukup besar, dan keluarga butuh Nadia untuk menutup lubang-lubang yang tidak bisa ditutup Bella.
"Nadia," kata Pak Darto pelan, "Bapak tahu kamu sakit hati. Tapi menikah dengan Raka... apa kamu yakin? Bapak tidak mau kamu menyesal."
Nadia menatapnya.
"Bapak baru takut aku menyesal sekarang?"
Pak Darto seperti ditampar.
Nadia tidak berteriak. Justru karena itu kalimatnya terasa lebih menyakitkan.
"Waktu aku dikirim ke panti, Bapak takut aku menyesal lahir di rumah ini?"
"Nadia..."
"Waktu aku pulang dan disuruh mengalah pada Bella terus-menerus, Bapak takut aku lelah?"
Bu Ratna cepat menyela, "Jangan ungkit masa lalu di depan tamu."
Nadia menoleh.
"Masa lalu yang belum selesai akan selalu ikut duduk di ruang tamu, Bu."
Hening.
Raka memandang Nadia dengan sorot yang berbeda. Ada rasa iba, tapi bukan iba yang merendahkan. Lebih seperti seseorang yang mengenali luka karena ia sendiri menyimpan luka.
Pak Hendra menarik napas panjang.
"Raka, saya tanya sekali lagi. Kamu bersedia karena kasihan, atau karena memang mau?"
Raka menatap kakaknya.
"Saya bersedia karena Nadia berhak mendapat jawaban yang terhormat."
"Itu bukan jawaban."
"Dan karena saya mau."
Bu Lilis terduduk.
Arman tampak tidak percaya.
"Om, kamu bahkan baru bicara dengannya malam ini."
Raka menoleh padanya.
"Kamu juga baru mengkhianatinya malam ini. Tapi kamu sudah berani bicara soal cinta."
Arman diam seketika.
Nadia menatap Raka. Ada rasa hangat kecil yang menyelinap di antara kemarahannya. Laki-laki itu tidak berkata banyak, tapi setiap kalimatnya berdiri di tempat yang tepat.
Sari mendekati Nadia dan berbisik, "Kamu benar-benar yakin?"
Nadia menggenggam tangan kakaknya.
"Aku lebih yakin daripada saat menerima lamaran Arman."
Sari memandangnya, matanya basah.
"Kalau nanti kamu terluka?"
"Aku sudah pernah terluka di tempat yang lebih buruk."
Sari tidak mengerti maksudnya, tapi ia tidak bertanya. Ia hanya meremas tangan Nadia.
Eyang Marni masih belum menyerah.
"Kalau begitu, uang seserahan tetap di rumah ini. Bagaimanapun acara malam ini kami yang menanggung."
Nadia tertawa pelan.
"Eyang cepat sekali kembali ke uang."
"Memang semuanya butuh uang."
"Setuju. Karena itu uang saya tidak boleh diambil."
"Kamu masih tinggal di rumah ini!"
"Tidak lama."
Kalimat itu membuat Pak Darto menoleh cepat.
"Kamu mau pergi?"
"Kalau akad dengan Om Raka jadi, aku akan pindah ke rumah keluarga Wiratmaja setelah sah. Sebelum itu, aku bisa tinggal di rumah Mbak Sari."
Bu Ratna langsung berkata, "Tidak boleh. Orang akan bicara macam-macam."
Nadia menatapnya datar.
"Orang sudah bicara macam-macam sejak Bella keluar dari kamar."
Bu Ratna terdiam.
Pak Hendra akhirnya mengambil keputusan.
"Begini. Malam ini terlalu kacau. Besok pagi, saya akan datang lagi dengan Raka dan beberapa saksi keluarga. Kita bicarakan lamaran ulang untuk Nadia dan Raka secara benar. Untuk Arman dan Bella, saya juga akan bertanggung jawab, tapi mereka harus menunggu keputusan keluarga."
Bella panik.
"Pak Hendra, maksudnya bagaimana? Mas Arman harus menikahi saya. Semua orang sudah melihat."
Pak Hendra menatapnya dingin.
"Justru karena semua orang melihat, kamu tidak perlu mengajari saya soal tanggung jawab."
Bella menunduk.
Arman tidak terima.
"Ayah, aku sudah bilang aku mencintai Bella."
"Kalau begitu bersikaplah seperti laki-laki yang mencintai, bukan anak kecil yang membuat masalah lalu meminta orang tua membersihkan."
Arman menggertakkan gigi.
Bu Lilis menatap Nadia dengan kebencian yang sulit disembunyikan.
"Kamu puas?"
Nadia menggeleng.
"Belum."
"Apa lagi?"
"Ibu belum meminta maaf."
Bu Lilis terbelalak.
"Saya?"
"Anak Ibu mengkhianati saya. Ibu tadi berkali-kali menyebut saya emosional, serakah, dan tidak tahu diri. Jadi iya, Ibu."
Wajah Bu Lilis mengeras.
Pak Hendra menatap istrinya.
"Lilis."
"Pak..."
"Minta maaf."
Bu Lilis tampak seperti baru disuruh menelan batu. Tapi semua orang menunggu. Ia tidak bisa mundur tanpa membuat keluarga Wiratmaja terlihat makin buruk.
Akhirnya ia berkata kaku, "Maaf."
Nadia tersenyum.
"Saya terima. Tapi saya tidak lupa."
Sari hampir tersedak.
Raka menunduk sebentar, mungkin menyembunyikan senyum.
Pak Hendra memberi isyarat pada keluarganya untuk bersiap pulang. Suasana mulai bergerak. Tetangga perlahan keluar sambil berbisik. Saudara-saudara yang tadinya duduk dekat pintu langsung pura-pura sibuk mengangkat gelas.
Bella berdiri dengan bantuan Bu Ratna. Ketika melewati Nadia, ia berbisik sangat pelan.
"Kamu sengaja ingin merebut posisiku."
Nadia menatapnya.
"Posisi apa?"
Bella menggigit bibir.
"Jangan pura-pura."
Nadia mendekat, suaranya hanya cukup untuk Bella dengar.
"Aku tidak merebut apa pun darimu. Aku hanya membiarkanmu memegang apa yang kamu curi."
Wajah Bella memucat.
"Apa maksudmu?"
Nadia tersenyum.
"Pegang erat-erat Mas Arman. Jangan sampai lepas."
Bella ingin membalas, tapi Bu Ratna menariknya pergi.
Di ambang pintu, Raka berhenti. Ia menoleh kepada Nadia.
"Besok saya datang."
Nadia mengangguk.
"Saya tunggu."
Raka batuk pelan, lalu berkata, "Kalau malam ini mereka memaksamu menandatangani atau menyetujui sesuatu, jangan lakukan. Tunggu saya."
Nadia terdiam sesaat.
Sederhana.
Tapi dalam kehidupan lalu, tidak ada satu pun orang di keluarga Arman yang pernah berkata seperti itu kepadanya.
Tunggu saya.
Bukan diam. Bukan sabar. Bukan mengalah.
Tunggu saya.
Nadia mengangguk lagi.
"Baik, Om Raka."
Raka menatapnya dengan mata tenang.
"Kalau besok kita benar-benar melanjutkan ini, mungkin kamu harus mulai memanggil saya Mas."
Nadia terkejut.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia tertawa tanpa amarah.
Arman yang berdiri tidak jauh dari mereka melihatnya. Entah kenapa, tawa itu membuat dadanya tidak nyaman.
Seolah sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya baru saja berjalan menjauh.
Padahal beberapa jam lalu, ia sendiri yang melepaskannya.
🤣🤣🤣