Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.
Suasana di dalam kamar Maura seketika hening. Kalimat yang Bu Safira ucapkan membuat gadis itu langsung membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Kenangan dinginnya jeruji besi, meski hanya semalam, kembali berputar di kepalanya. Ia menunduk semakin dalam, tangisnya pecah memenuhi ruangan. Bahunya berguncang hebat, sementara kedua tangannya mencengkeram erat ujung bajunya di pangkuan.
"Aku nggak mau ke sana lagi... aku takut, Bu... Pa...." suaranya lirih di sela isakan.
Bu Safira memejamkan mata sejenak. Meski hatinya merasa iba melihat anak sambungnya begitu terpuruk, tetapi ia tak ingin goyah yang membuatnya salah mengambil keputusan.
"Takut itu wajar," ucapnya pelan. "Tapi rasa takut bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab."
Dr. Rangga menganggukkan kepala. Tatapannya tetap lembut kepada putrinya.
"Papa pernah melakukan kesalahan saat masih muda," katanya tenang. "Dan papa juga harus menerima akibatnya. Nggak ada satu pun orang yang bisa menghapus konsekuensi dari perbuatannya."
Maura mengangkat wajahnya perlahan. "Apa Papa juga pernah dihina orang?"
Dr. Rangga tersenyum tipis. "Tentu saja pernah, Maura. Bahkan pernah yang meragukan kemampuan papa. Rasanya memang nggak enak. Tapi kalau waktu itu papa memilih kabur, mungkin papa nggak akan bisa menjadi seperti sekarang."
Maura kembali menunduk. "Tapi aku beda, Pa...."
"Nggak ada bedanya." Dr. Rangga menggeleng pelan. "Hanya bentuk masalahnya saja yang berbeda."
Pria itu lalu menarik napas panjang sambil mengusap kepala putrinya. "Yang menentukan masa depanmu bukan kesalahan yang sudah terjadi, melainkan apa yang kamu lakukan setelahnya."
Ruangan kembali sunyi. Beberapa detik kemudian, Bu Safira mengambil piring yang tadi diletakkan di meja belajar.
"Makan dulu," ucap wanita itu sembari menyerahkan piring tersebut kepada Maura. Namun, gadis itu masih diam.
"Kalau kamu ingin memperbaiki semuanya, kamu harus mulai dari hal paling sederhana."
Maura menatap Bu Safira dan Dr. Rangga bergantian. "Tapi, apa aku sanggup Pa... Bu..."
"Sanggup atau nggak, tetap harus kamu lakukan." Nada suara Bu Safira sangat tegas, tetapi tidak meninggi.
"Kamu boleh menangis hari ini dan merasa malu. Tapi, besok kamu harus bisa berdiri tegak di depan mereka, mengakui kesalahan serta meminta maaf, terutama pada Zeya dan Daniel."
Maura menggigit bibirnya kuat-kuat. "Kalau... besok mereka masih menghina aku dan nggak percaya bagaimana?"
"Biarkan." Jawaban Bu Safira singkat.
"Terus kalau mereka masih mencibir atau mengejek?" Sepertinya kejadian kemarin benar-benar membuatnya trauma.
"Diam dan terima," tegas Bu Safira. "Orang yang benar-benar menyesali kesalahannya, nggak akan sibuk membela diri. Tapi dia menunjukkan perubahan lewat sikapnya." lanjutnya dengan tenang.
Dr. Rangga menepuk pelan bahu putrinya. "Papa yakin kamu bisa melewati semua ini. Kalahkan dirimu sendiri dan hilangkan rasa iri dengki dari hatimu."
Perlahan Maura menganggukkan kepala meski tak terlalu yakin. "Aku... akan mencoba."
"Bukan mencoba tapi lakukan," koreksi Bu Safira lembut.
Maura menarik napas panjang. Dadanya masih terasa sesak, tetapi kata-kata kedua orangtuanya sedikit demi sedikit mulai menembus dinding keangkuhan yang selama ini ia bangun.
Dengan tangan gemetar, ia akhirnya menerima piring dari Bu Safira. "Maafkan aku... Bu... Pa...."
Dr. Rangga mengusap pucuk kepala putrinya penuh kasih. "Kami memaafkanmu."
"Tapi, ingat! Maaf dari kami tak serta-merta menghapus luka yang dirasakan orang lain. Karena itu, seperti kata ibu, besok kamu harus meminta maaf kepada orang-orang yang telah kamu sakiti."
Maura mengangguk pelan. "Iya, Pa."
Bu Safira tersenyum tipis. "Itulah langkah awal menjadi pribadi yang lebih baik."
Maura mengambil satu sendok nasi dan mulai menyuapkannya ke mulut. Meski terasa hambar, ia memaksakan diri untuk mengunyah. Di dalam hatinya masih ada rasa takut menghadapi hari esok. Namun ia sadar cepat atau lambat, ia harus berani menghadapi orang-orang yang marah dan kecewa padanya. Meminta maaf dengan tulus, lalu membuktikan bahwa dirinya benar-benar ingin berubah.
...
Malam berganti pagi. Mentari mulai memancarkan sinarnya, menerangi bumi membawa kehangatan yang menenangkan. Maura terbangun dengan tubuh yang terasa lebih segar dibanding hari sebelumnya. Namun, jauh di dalam benaknya, kegamangan masih belum sepenuhnya sirna. Berbagai kemungkinan terus berputar di kepalanya, membuat dadanya sesak. Meski begitu, ia berusaha mengusir semua pikiran buruk dan meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang akan terjadi hari ini, ia harus siap menghadapinya.
Usai mandi dan mengenakan seragam sekolah, Maura segera turun ke lantai bawah untuk sarapan. Karena ia tahu, hari ini akan menjadi hari yang berat baginya.
Seperti biasa, Bu Safira dan Dr. Rangga sudah menunggunya di meja makan.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Dr. Rangga hangat sembari tersenyum ketika Maura menghampiri meja makan.
"Pagi, Pa... Bu," balas Maura ceria, meski senyum di wajahnya hanya untuk menyembunyikan kegugupan yang terus mengusik hati.
"Bagaimana tidurmu semalam, Maura? Nyenyak?" tanya Bu Safira lembut seraya meletakkan sepiring nasi goreng spesial di hadapan putrinya.
"Makasih, Bu," ucap Maura sambil tersenyum kecil. "Alhamdulillah, tidurku nyenyak."
Bu Safira mengangguk pelan, lalu duduk di samping sang suami. Ketiganya menikmati sarapan dalam suasana yang tenang, meski masing-masing menyimpan kegelisahan yang tak diungkapkan.
Tak lama kemudian, Maura berdiri sambil meraih tas sekolahnya. "Aku berangkat dulu ya, Pa... Bu," pamitnya seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati di jalan," pesan Dr. Rangga sambil menatap putrinya dengan pandangan sulit diartikan.
Maura mengangguk sebagai jawaban. Sementara Bu Safira hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangan.
Setelah mobil yang membawa Maura keluar dari halaman rumah, senyum di wajah Bu Safira perlahan memudar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menoleh ke arah suaminya.
"Apa menurutmu Maura benar-benar siap, Mas?" tanyanya lirih.
Dr. Rangga ikut menghela napas. Tatapannya masih tertuju ke arah gerbang yang telah tertutup.
"Entahlah," jawabnya pelan. "Yang jelas, mau nggak mau dia harus melewati semua ini."
"Jujur, sebenarnya aku nggak tega melihat dia seperti itu," lanjutnya seraya meraih tangan istrinya dan menggenggamnya lembut.
"Aku juga. Tapi kalau kita terus melindunginya, kapan dia belajar bertanggung jawab?" sambung Bu Safira.
"Aku cuma berharap setelah semua ini selesai, dia benar-benar berubah. Meminta maaf sama Ze dan Daniel. Dia juga harus belajar bahwa keberhasilan itu diraih dengan usaha dan kerja keras, bukan dengan iri hati atau menjatuhkan orang lain," lanjut wanita itu menambahkan
Dr. Rangga menganggukkan kepala. "Itu kan, memang tujuan kita mengajukan penangguhan penahanan untuknya."
"Maafkan aku...karena ulah Maura, Zeya harus menanggung semua ini," ujarnya merasa bersalah.
"Bagaimana kalau week end nanti kita mengunjunginya, sekalian mengantar Maura meminta maaf padanya? Apa kamu, setuju?" tanyanya dengan ekspresi penuh harap.
"Benarkah...?" Wajah Bu Safira tampak berbinar.
Dr. Rangga mengangguk mantap dan tersenyum melihat kebahagiaan terpancar di wajah istrinya. Dia berharap pertemuan nantinya bisa menjadi awal yang baik bagi mereka semua.
Dalam hatinya, terselip doa semoga Maura dapat memperbaiki kesalahannya dan melepaskan rasa iri yang selama ini menguasainya. Menerima Zeya sebagai saudara yang seharusnya disayangi bukan untuk dikalahkan atau dibenci serta menemukan kembali arti sebuah keluarga.
.emaknya datang😁