Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Setelah dari kediaman Tara, Vano memutuskan untuk kembali ke Cafe Senorita. Baru saja kakinya menginjak lantai dua dari anak tangga terakhir, pandangannya kini bertemu dengan Fani yang baru saja keluar dari ruangannya.
Vano mendekati Fani yang belum beranjak dari posisinya. "Bu, saya mau izin ...."
Fani menatap Vano sembari menghela nafas. "Masuk," perintahnya lalu berbalik badan dan masuk kembali keruangannya.
Vano mengikuti langkah Fani dan segera menutup pintu setelah memasuki ruangan bos nya itu.
Fani mendudukkan tubuhnya diatas kursi kebesarannya. Ia menatap Vano lekat. "Katakan."
"Saya izin pulang sebelum jam lima lagi ya, Bu," ucap Vano.
Fani mengerutkan kedua alisnya. "Kamu kenapa sih, Van. Satu minggu ini kamu itu sudah seperti orang stres tau nggak. Kerja nggak fokus. Laporan banyak salah. Satu minggu izin berturut-turut tanpa henti. Kamu fikir yang kerja disini cuma kamu doang?" ucap Fani tegas.
Vano melirik kesana kemari, memikirkan alasan apa lagi yang harus ia katakan pada Fani agar Fani dapat memberinya izin untuk pulang lebih awal. Bagaimanapun ia harus menjemput Tara sore ini.
"Kalau kamu udah nggak mau kerja sama saya, kamu bisa bilang. Jangan mentang-mentang kamu dekat sama saya, kamu bisa seenak hati izin dan meninggalkan kerjaan kamu yang banyak revisinya itu."
"Maaf, Bu."
"Sekarang kamu maunya apa? Kamu udah bosan kerja disini? Mau resign?"
Vano menggelengkan kepalanya. "Nggak, Bu. Saya–"
"Kamu ada masalah?" potong Fani.
Vano tak menjawab, ia tak mungkin menjelaskan permasalahannya pada Fani meski bos nya itu tahu jelas jika yang menyebabkannya seperti ini tak lain dan tak bukan ialah Tara.
"Kalau kamu ada masalah dan butuh waktu untuk menyelesaikan masalah kamu, kamu bisa urus izin cuti, Van. Tidak dengan cara seperti ini! Kasihan pak Santo harus membereskan kerjaan kamu yang amburadul itu. Mending saya suruh dia semua saja yang kerjain pekerjaan kamu kalau gini caranya. Bisa dapet double job dia, nggak sia-sia tenaga dan fikirannya dari pada harus membantu kamu revisi dan tidak dapat apa-apa." Fani menghela nafasnya sejenak." Saya juga tidak enak hati dengan karyawan lain kalau harus mengizinkan kamu pulang cepat atau datang terlambat terus-terusan begini. Mereka akan mengira saya pilih kasih, Vano. Tolong kamu ngerti posisi saya disini."
"Baiklah, saya akan memberikan kamu cuti selama satu minggu. Selesaikan masalah kamu, dan kerja kembali dengan benar. Kalau kamu mau resign, cepat beritahu saya agar saya bisa segera mencari pengganti kamu."
Vano tidak protes saat Fani mulai menuliskan sesuatu pada buku cuti karyawan miliknya. Sepertinya ia memang butuh cuti untuk menyelesaikan masalahnya dengan Tara. Ya, Vano harus memanfaatkan dengan baik waktu cuti ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Tara.
Setelah Fani memberikan secarik kertas yang berisi izin cuti, Vano membawa kertas cuti itu keruang HRD sebagai bentuk bahwa Fani telah menyetujui cuti Vano. Dengan kertas itu, HRD tak berani menanyakan soal cuti Vano lebih dalam karena bos-nya sendiri yang telah mengizinkan Vano cuti lebih dulu.
Setelah dari ruang HRD, Vano kembali ke ruangannya untuk bergegas pulang. Fani mengizinkan Vano pulang lebih cepat, karena percuma jika pria itu bekerja tapi fikirannya tidak disana. Lebih baik pria itu pulang saja. Biarlah pekerjaan Vano diambil alih oleh pegawainya yang lain sementara.
Kelonggaran yang diberikan Fani tentu saja tak disia-siakan oleh Vano. Pria berkemeja hitam itu melajukan mobilnya menuju mall X tempat dimana Tara bekerja.
Dan di sinilah ia sekarang. Di depan pintu masuk wahana anak, sedang memperhatikan wanitanya yang sedang memandu anak-anak kecil untuk mengarahkan setir mobil-mobilannya ke berbagai arah agar tidak saling menabrak satu sama lain.
"Suatu saat kamu akan tertawa bersamaku dan anak-anak kita, Tar," gumam Vano pelan.
Vano tersenyum bahagia melihat Tara yang tersenyum dan tertawa bersama anak-anak kecil disana. Senyum dan tawa yang sudah jarang dilihatnya beberapa hari ini, bahkan hampir tidak pernah lagi ia lihat Tara seceriah itu, apalagi saat sedang bersamanya. Vano tiba-tiba merindukan Tara-nya yang dulu. Tara yang ceria, cerewet, suka merajuk jika dilarang makan msg berlebihan, dan yang pastinya ia sangat merindukan Tara-nya yang manja.
Tiba-tiba mata Vano berkaca-kaca menyaksikan keceriaan wanitanya diujung sana. Vano menengadahkan kepalanya sembari mengedipkan kedua matanya agar air matanya tidak tumpah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:15 dan sebentar lagi Tara pasti akan menuju ke mushola sekitar untuk melaksanakan sholat ashar. Sebagai bentuk rasa cintanya pada Tara, Vano mengharuskan dirinya untuk mengetahui semua yang berkaitan dengan Tara, termasuk jadwal ibadahnya.
Saat Tara keluar dari lokasi kerjanya, Vano bersembunyi di balik booth minuman. Vano ingin sekali menemui Tara, namun ia tidak berani menemuinya sekarang. Astaga, sejak kapan ia sepenakut ini.
Didalam mushola mall yang berada dilantai tiga, tepat satu lantai dengan lokasi kerja Tara. Tara yang tengah berdoa setelah menyelesaikan sholatnya kini terlihat meneteskan air matanya. Ia tiba-tiba kembali teringat akan Vano. Tentang hubungannya yang harus kandas ditengah jalan. Tentang perbedaan mereka yang mengharuskan Tara berpisah dengan pria yang ia cintai.
"Kenapa Engkau ciptakan persaan ini jika aku harus merasakan patah hati sesakit ini, Tuhan. Apa Kau tidak menyayangiku?"
Tara berdoa dengan suara pelan nyaris tak bersuara. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam agar orang-orang disekitarnya tidak bisa melihat dirinya yang sedang meneteskan air mata.
"Aku mohon pada-Mu, jika memang kami harus berpisah karena untuk kebaikan, ku mohon permudahkanlah perpisahan ini, dan ku mohon agar Engkau tidak membuat pria yang masih ku cintai itu bersedih."
Setelah berhasil menguasai emosi dalam berdoa dan menghentikan tangisnya, Tara membaca doa kedua orang tua serta doa untuk kebaikan dunia dan akhirat diakhir doa nya.
"Aamiin," ucapnya dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tara melipat sajadah serta mukenah yang ia pakai kembali ke tempatnya semula. Setelah memakai sepatu, Tara berjalan menuju lokasi kerjanya. Namun saat ia berbelok ke sisi kanan lobi mushola, ia dikejutkan oleh sosok yang baru saja ia sebut namanya dalam doa. Devano Aditya.
Ya, Vano menyusul Tara karena ia sudah tidak tahan untuk bertatap muka dengan wanitanya.
Tara masih terdiam karena terkejut dengan kehadiran sosok Vano di hadapannya. Beberapa menit kemudian Tara mengedipkan matanya dan melempar pandangannya ke sembarang arah. Ia terlihat salah tingkah karena sudah bersitatap dengan Vano. Salah tingkah? Bukankah mereka sudah biasa bersitatap seperti ini? Kenapa sekarang ia jadi canggung begini?
"Sudah selesai?" tanya Vano memulai pembicaraan.
"Em," jawab Tara sambil menganggukkan kepala tanpa menatap Vano.
"Ayo."
Tara menatap tangan Vano yang terulur. Tara tahu jika Vano ingin ia menggenggam tangannya. "Maaf, aku masih ada wudhu," jawab Tara lalu berjalan mendahului Vano yang masih terbengong mendengar ucapannya.
Setelah setengah perjalanan, Tara berbalik badan. Ia melihat Vano yang hanya menatapnya dari kejauhan tanpa berniat untuk mengejarnya.
Tara berbalik badan kembali lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Vano sendirian di lobi mushola. Tiba-tiba satu tetes air dari matanya kembali membasahi pipi. Sekuat tenaga ia berusaha tenang dan kuat tapi genangan air dipelupuk matanya tetap saja mengalir tanpa diminta. Tara mengusapnya segera sebelum ada yang melihat.
"Bisa-bisanya gue mikir dia bakal ngejer gue. Vano pasti kecewa sama gue, dia pasti sudah menyerah," batin Tara. Ia menghela nafasnya panjang.
Selama satu jam di jam terakhir menuju pertukaran shift, Tara terlihat tidak fokus dalam melaksanakan tugas. Bahkan partner kerjanya pun turut kesal dengan Tara yang tiba-tiba suka melamun saat ia berteriak meminta tolong.
"Lo kenapa sih, pulang sholat bukannya tenang tapi malah gelisah gini," gerutu partnernya.
Tara tak menjawab, ia lebih memilih pergi ke office lebih dulu karena jam kerja mereka seharusnya memang sudah habis.
Setelah brifing pulang selesai, Tara melangkahkan kakinya menuju pintu keluar bersama Mayang dan Putri yang kebetulan hari ini satu shift dengannya, sedangkan Siska berbeda shift dengan mereka. Dari kejauhan ia dapat melihat sosok Vano yang sedang berdiri menatapnya dengan senyuman hangat yang sangat ia rindukan.
"Lo masih sama dia, Tar?" tanya Mayang yang ternyata melihat kehadiran Vano di depan sana.
Putri terlihat celingukan mencari siapa yang di maksud Mayang. Setelah mendapatkan apa yang di cari, ia ikut menatap Tara untuk mendengar jawabannya juga. Sedangkan yang ditanya hanya mengedikkan bahunya lalu berjalan meninggalkan kedua temannya.
Mayang dan Putri saling lirik kemudian mereka mengedikkan bahunya lalu berjalan menyusul Tara.
Melihat Tara yang menghampiri Vano, mereka mengurungkan niatnya untuk mendekati Tara. Mereka memilih pergi karena suasana yang sepertinya tidak mendukung kehadiran mereka di sana.
Vano terlihat mengembangkan senyumnya saat Tara berhenti di hadapannya dan menatapnya. Namun beberapa detik kemudian Tara melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan Vano.
Vano terkesiap melihat Tara yang pergi meninggalkannya tanpa mengucap sepatah kata pun. Tanpa babibu ia berlari mengejar langkah Tara. Ia hendak meraih tangan Tara untuk digenggam tapi Tara menepisnya pelan. Sungguh ini sangat melukai hatinya. Vano mencoba kembali meraih tangan Tara namun berulang kali pula Tara menepisnya secara pelan.
"Jangan di sini, Van. Aku tidak mau ribut ditempat umum dan ditonton banyak orang."
Vano menghentikan langkahnya sejenak lalu mensejajarkan kembali langkahnya di samping Tara. "Apa maksud kamu ribut? Aku hanya ingin menggandeng tanganmu, Tar. Apa salah?"
Tara tak menjawab apapun, ia memilih diam dan mempercepat langkah kakinya menuju tempat parkir.
Tara menghentikan langkahnya ditempat yang cukup sepi. Ia menatap pria yang kini ada di hadapannya. Pria yang masih ia cintai hingga saat ini. Tak tahu kapan ia bisa melupakan pria ini? Oh, lebih tepatnya apakah bisa ia melupakan pria ini.
"Tar," panggil Vano.
"Kamu ngapain disini? Bukankah sudah ku bilang bahwa kita sudah tidak ada hubungan lagi–"
"Bukankah sudah ku bilang, bahwa aku tidak mengizinkan kita berpisah. Apa kamu mengerti ucapanku, Tara Adisti!" tekan Vano.
"Aku benar-benar tidak bisa, Van," ucap Tara sembari menggelengkan kepalanya.
Vano tak menyahuti ucapan Tara, ia diam sembari menatap wajah Tara dalam kerinduan. Rasanya ingin sekali memeluk tubuh ramping itu, namun ia tidak bisa melakukannya di suasana yang masih seperti ini.
"Aku harap ini terakhir kalinya kita bertemu."
"Aku tidak mengizinkannya," sahut Vano cepat.
"Tolong jangan mempersulitku, Van. Aku mohon." Tara mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Ia berusaha menahan genangan di pelupuk matanya agar tidak jatuh.
"Kenapa?" tanya Vano.
Tara diam tak memberi jawaban. "Kenapa, Tar? Katakan kenapa kamu begitu ingin kita putus? Katakan apa kesalahanku?" tanya Vano kembali.
Tara masih diam selama beberapa menit. "Katakan, Tar."
"Semua ini salah, Van. Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Kita tidak seharusnya bersama."
Tes ...
Satu tetes air mata jatuh juga di pipi mulus wanita itu.
"Salah?" Vano mengulang kembali kalimat asing itu.
"Apa maksudmu salah? Bagian mananya yang salah?"
.
******
Jangan lupa Like, Coment, serta Vote nya...
Jazakamallah khair..