**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Tuan Besar Abraham mengadakan pesta makan malam privat keluarga untuk merayakan kehamilan Alya yang telah memasuki bulan ketiga, sekaligus memperkenalkan secara resmi "Nyonya Muda Dirgantara" kepada jajaran inti keluarga besar—termasuk para sepupu dan paman Devan yang selama ini mengincar kursi takhta CEO Dirgantara Group.
Kamis malam, sebuah gaun hamil *custom-made* berwarna putih gading dengan potongan kekaisaran yang sangat elegan telah melekat indah di tubuh Alya. Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya yang berseri. Di jari manisnya, cincin platinum pernikahan berkilau indah, sementara cincin giok warisan Tuan Besar Abraham kini telah diubah ukurannya dengan sempurna dan melingkar kokoh di ibu jari kanannya.
Devan berdiri di belakangnya, mengenakan setelan tuksedo hitam formal yang membuatnya tampak seperti dewa bisnis yang turun dari langit. Sepasang mata abu-abunya menatap refleksi Alya di cermin besar kamar dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh kepemilikan.
Pria itu melangkah maju, meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat di atas pinggang Alya, menarik tubuh mungil itu bersandar pada dada bidangnya.
"Kamu sangat cantik malam ini, Alya," bisik Devan, suaranya yang berat mengirimkan getaran hangat ke seluruh tubuh Alya.
Alya merona, menatap pantulan mereka berdua di cermin. "Aku sedikit gugup, Devan. Yudha bilang keluarga besarmu... tidak semuanya ramah sepertimu dan Nyonya Sofia."
Devan terkekeh rendah, sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Alya. "Mereka hanya sekumpulan serigala yang kehilangan taring. Selama aku ada di sampingmu, dan selama kamu memakai cincin giok Kakek, mereka bahkan tidak akan berani menatap matamu terlalu lama."
> *[Betul sekali, Ibu! Jangan takut pada sepupu-sepupu idiot Ayah itu. Aku sudah bangun dari tidur panjangku dan energi spiritualku sudah terisi penuh seratus persen. Jika ada di antara mereka yang berani mengeluarkan kata-kata tidak sopan, aku akan memastikan saham pribadi mereka merosot tajam besok pagi!]*
Suara Baby El yang penuh semangat dan keangkuhan khasnya kembali bergaung di kepala Alya, membuat rasa gugup wanita itu seketika menguap, digantikan oleh rasa geli yang menyenangkan.
---
Mobil Rolls-Royce hitam membawa mereka memasuki gerbang raksasa Kediaman Utama Dirgantara di kawasan elit Kebayoran Baru. Rumah itu lebih tepat disebut sebagai istana modern dengan arsitektur neoklasik yang berdiri di atas lahan seluas beberapa hektar. Lampu-lampu kristal raksasa menerangi pelataran, memantulkan kemewahan yang absolut.
Begitu Devan dan Alya melangkah masuk ke dalam aula utama, keheningan seketika melanda ruangan. Puluhan pasang mata dari anggota keluarga inti Dirgantara langsung tertuju pada mereka.
Di ujung aula, duduk Tuan Besar Abraham di atas kursi kebesarannya, ditemani oleh Nyonya Sofia yang mengenakan kebaya sutra merah yang sangat anggun.
"Devan, Alya! Kemari, Duduk di dekat Kakek!" seru Tuan Besar Abraham dengan suara parau namun menggelegar penuh kegembiraan. Pria tua itu melambaikan tangannya dengan antusiasme yang membuat para kerabat lainnya terkesiap. Kursi di sebelah kanan Abraham biasanya kosong atau hanya boleh diduduki oleh Devan, namun malam ini, dua kursi tambahan telah disiapkan khusus untuk Devan dan Alya.
Alya berjalan dengan anggun di samping Devan, tangannya bertautan erat dengan jemari kokoh suaminya.
Namun, sebelum mereka mencapai meja utama, sesosok wanita paruh baya dengan perhiasan berlian yang terlalu mencolok—**Tante Melinda**, adik kandung dari almarhum ayah Devan—melangkah menghalangi jalur mereka dengan senyuman yang dipaksakan.
"Wah, Devan... jadi ini gadis beruntung yang menghebohkan seluruh Jakarta itu?" ucap Melinda dengan nada suara yang sedikit ditinggikan agar terdengar oleh kerabat lain. "Latar belakangnya... ah, sungguh luar biasa ya. Dari kalangan masyarakat biasa, tidak punya rekam jejak bisnis. Kakekmu benar-benar murah hati malam ini sampai mengizinkan orang luar duduk di meja utama keluarga."
Kalimat itu mengandung sindiran halus yang sangat berbisa, mencoba menyerang status sosial Alya di depan seluruh keluarga besar. Beberapa sepupu Devan di sudut ruangan tampak menahan senyum sinis.
Wajah Devan seketika berubah sedingin es. Aura membunuh yang sangat pekat mulai terpancar dari tubuh tingginya. Pria itu baru saja hendak membuka mulutnya untuk menghancurkan posisi Tante Melinda dari jajaran direksi yayasan internal, namun sebuah remasan lembut dari tangan Alya menahannya.
Alya menatap Tante Melinda dengan ketenangan yang mutlak. Cincin giok di ibu jarinya sengaja ia tunjukkan saat ia merapikan gaunnya.
> *[Hmph! Tante Tua yang cerewet! Berani-beraninya menguji kesabaran kaisar kecil ini di pesta perayaanku sendiri?! Ibu, diamlah dan biarkan aku yang membalas ucapan berbisa wanita ini!]*
Detik berikutnya, Baby El melepaskan getaran energi spiritual berskala mikro yang sangat presisi, langsung mengunci pusat saraf keseimbangan dan memori jangka pendek Tante Melinda.
*BZZZZT!*
Mata Tante Melinda mendadak membelalak kosong selama dua detik. Otaknya berputar hebat, menampilkan visi menakutkan di mana seluruh rahasia perselingkuhan suaminya dan penggelapan dana arisan elitnya tersebar luas di grup pesan singkat keluarga besar malam ini juga.
Rasa takut yang amat sangat mendadak mencengkeram dadanya, membuat lidahnya kelu seketika.
"T-Tante Melinda," ucap Alya dengan suara yang sangat lembut namun terdengar penuh wibawa di seluruh aula. "Kakek Abraham selalu mengajarkan bahwa nilai terbesar dari keluarga Dirgantara bukan terletak pada dari mana kita berasal, melainkan apa yang bisa kita kontribusikan untuk masa depan keluarga ini. Sebagai Direktur Utama yang baru dari Dirgantara Creative Foundation, saya rasa saya memiliki tanggung jawab penuh untuk berada di sini."
Mendengar jawaban Alya yang begitu tenang dan cerdas, Tuan Besar Abraham langsung memukul tongkat naganya ke lantai dengan bangga. *BRAK!*
"Tepat sekali! Jawaban yang luar biasa!" seru Abraham tegas, melotot galak ke arah adiknya. "Melinda! Jika kamu tidak punya hal berguna untuk dikatakan pada cucu menantuku, lebih baik kamu kembali ke kursimu dan nikmati makananmu sebelum aku memotong jatah saham tahunanmu!"
Wajah Tante Melinda seketika memucat pasi bagaikan mayat. Dengan tubuh yang sedikit gemetar akibat sisa syok spiritual dari Baby El, ia membungkuk canggung dan mundur tergesa-gesa tanpa berani menatap Alya lagi.
Para sepupu Devan yang tadinya ingin ikut menyindir langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam, menyadari bahwa Nyonya Muda baru ini bukanlah mangsa yang lemah, melainkan seorang ratu baru yang didukung penuh oleh sang kaisar tua dan memiliki cakar yang tak terlihat.
Devan menatap Alya dengan binar kekaguman yang semakin mendalam. Ia menuntun Alya untuk duduk di kursi sebelah Kakek Abraham.
Makan malam pun berlangsung dengan sangat megah dan meriah. Tuan Besar Abraham tidak henti-hentinya mengambilkan makanan terbaik untuk Alya, sementara Nyonya Sofia terus mengajak Alya mengobrol tentang persiapan kamar bayi dengan penuh kasih sayang.
Di tengah jalannya pesta, Devan diam-diam meraih tangan Alya di bawah meja makan yang tertutup taplak sutra. Ia menggenggam jemari mungil Alya, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka.
"Kamu luar biasa malam ini, Wifey," bisik Devan dengan suara yang sangat rendah, menggunakan panggilan intim yang membuat jantung Alya berdegup kencang seketika.
Alya menoleh, menatap Devan dengan senyuman tercantik yang pernah ia miliki. "Semua ini berkat dirimu... dan pelindung kecil kita di dalam sini."
> *[Hehehe, tentu saja! Kerja sama tim yang sangat solid antara Ayah, Ibu, dan Janin Jenius Nomor Satu di Dunia! Pesta ini resmi menjadi milik kita. Masa depan Dirgantara Group sudah berada di bawah kendali mutlak keluarga kecil kita!]*
Di bawah kilauan lampu kristal Kediaman Utama Dirgantara, di kelilingi oleh kemewahan yang tiada tara dan cinta yang tulus dari suami serta bayinya, Alya tahu bahwa ia tidak lagi berjalan di kegelapan. Ia telah bertransformasi sepenuhnya menjadi Nyonya Muda Dirgantara yang tak tergoyahkan, siap melangkah menuju masa depan yang penuh dengan kejayaan bersama sang CEO dingin dan janin ajaibnya.