NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Pesta Hitam

Babak barunya benar-benar dimulai.

Namun Kevin Liem tidak membiarkan babak itu dimulai dengan rapat lembur.

Setelah pengumuman internal menyala di seluruh komputer Angle Entertainment, para manajer senior masih berdiri kaku di ruang rapat. Sebagian menatap Keira seperti menatap teka-teki mahal. Sebagian lagi sibuk menurunkan pandangan, takut ekspresi mereka terbaca.

Kevin melirik jam tangannya, lalu menutup laptop di meja utama.

"Cukup untuk hari ini."

Seorang manajer berjas abu-abu tampak bingung. "Pak Kevin, bukankah kita masih harus membahas laporan divisi?"

"Besok." Kevin menoleh kepada Keira. "Malam ini Kei ikut denganku."

Keira mengangkat alis. "Ke mana?"

"Pesta."

"Ko Kevin, aku baru saja masuk kantor."

"Dan kau masuk dengan baju yang membuat orang-orang bodoh merasa berhak menghina." Kevin tersenyum tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Malam ini, kita ajari mereka melihat dengan benar."

Keira hampir menolak.

Namun ketika pandangannya jatuh pada pantulan dirinya di kaca ruang rapat, blus pasar yang pudar, tas kain murah, plester di pergelangan tangan, ia tiba-tiba teringat tatapan Rayhan di pengadilan. Tatapan yang sama dengan resepsionis tadi. Tatapan yang mengukur harga diri perempuan dari bahan bajunya.

Baiklah.

Jika dunia itu hanya mengerti bahasa tampilan, malam ini ia akan berbicara dengan bahasa yang paling mereka pahami.

"Pesta apa?" tanyanya.

"Jamuan bisnis di Hotel Majapahit. Konglomerat Jakarta sedang mampir ke Surabaya. Keluarga Sutanto juga diundang."

Nama itu membuat udara di sekitar Keira sedikit berubah.

Kevin melihatnya. "Kalau kau belum siap bertemu mereka lagi, kita tidak pergi."

Keira mengambil ID card hitam di meja dan memasukkannya ke tas. "Aku sudah meninggalkan rumah itu. Bukan berarti aku harus menghindari bayangannya."

Kevin tersenyum, kali ini sungguhan. "Itu baru adikku."

Butik privat yang didatangi Kevin berada di lantai atas sebuah gedung mewah. Tidak ada papan nama besar, hanya pintu kaca buram dan seorang penata gaya yang langsung membungkuk begitu melihat Kevin.

Dalam waktu kurang dari satu jam, blus pasar Keira diganti dengan gaun hitam rancangan khusus.

Gaun itu melekat di tubuhnya seperti malam yang ditenun. Bagian bahunya terbuka anggun, tidak berlebihan, dengan detail bulu halus di sisi rok yang bergerak pelan setiap kali ia melangkah. Lehernya dihiasi kalung berlian kecil berbentuk tetes air. Rambutnya disanggul rendah, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dekat pipi.

Ketika Keira keluar dari ruang ganti, penata gaya yang sejak tadi cerewet mendadak diam.

Kevin yang duduk di sofa juga terdiam.

"Apa terlalu mencolok?" tanya Keira.

Kevin berdiri pelan. "Tidak. Justru selama tiga tahun mereka terlalu lama melihatmu redup."

Keira menatap cermin besar.

Perempuan di sana hampir tidak tampak seperti perempuan yang semalam memakai piyama pasar malam di ranjang Rayhan.

Namun Keira tahu, keduanya adalah dirinya.

Yang satu pernah terluka. Yang satu sekarang belajar berdiri.

Kevin mengambil sebuah kotak kecil dari meja. Di dalamnya ada anting berlian hitam yang berkilau tajam.

"Hadiah dari Papa," katanya.

Keira menatap kotak itu, lalu menutupnya kembali perlahan. "Aku belum bisa menerimanya langsung dari Papa. Tapi malam ini aku pakai."

"Itu sudah cukup membuatnya menangis diam-diam."

Keira menoleh. "Papa menangis?"

"Tidak di depan orang." Kevin memasangkan anting itu dengan hati-hati. "Tapi Pak Lim bilang matanya merah setiap kali namamu disebut."

Dada Keira terasa ditarik pelan.

Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah lagi.

"Ayo, Ko."

Hotel Majapahit malam itu terang seperti panggung.

Mobil-mobil mewah berjajar di depan lobi. Kamera media lokal menunggu di sisi karpet, merekam kedatangan para pengusaha, selebritas, dan keluarga kaya yang namanya sering muncul di halaman bisnis. Musik jazz mengalun dari ballroom, bercampur suara gelas, tawa pelan, dan percakapan yang dihitung.

Ketika Kevin turun dari Rolls-Royce bersama Keira, kilatan kamera langsung bertambah cepat.

"Pak Kevin!"

"Siapa wanita di samping Anda?"

"Apakah artis baru Angle?"

Kevin tidak menjawab. Ia hanya menawarkan lengannya.

Keira mengaitkan tangan di lengan Kevin.

Begitu mereka memasuki ballroom, percakapan di dekat pintu melambat.

Lalu menyebar.

Mata orang-orang mengikuti Keira dari ujung rambut sampai ujung gaun. Bukan dengan tatapan mengejek seperti di lobi Angle, melainkan tatapan kaget yang tidak sempat disembunyikan.

"Siapa dia?"

"Cantik sekali."

"Artis baru Kevin?"

"Tidak mungkin artis biasa. Lihat cara Pak Kevin memperlakukannya."

Keira mendengar semuanya, tetapi ia tidak menoleh. Punggungnya lurus. Langkahnya tenang. Gaun hitamnya bergerak seperti sayap angsa di antara cahaya lampu kristal.

Di sisi lain ballroom, Rayhan Sutanto baru saja menerima gelas dari pelayan.

Anya berdiri di sampingnya dengan gaun putih. Ia sengaja memilih putih, warna yang membuatnya terlihat lembut dan rapuh. Beberapa pengusaha yang tidak mengikuti gosip keluarga Sutanto menyapanya sebagai calon nyonya muda, karena Bu Fenny sudah terlalu rajin menyebar cerita bahwa Anya adalah perempuan yang sejak awal pantas berada di sisi Rayhan.

Rayhan tidak banyak bicara.

Sejak Keira pergi, pikirannya tidak tenang. Pesan WhatsApp itu, rekaman CCTV, tangan Anya yang panik ingin mengambil ponsel, semuanya berputar seperti benang kusut.

Lalu suara di ballroom berubah.

Rayhan mengangkat kepala.

Ia melihat Kevin lebih dulu.

Lalu perempuan di samping Kevin.

Untuk satu detik, Rayhan tidak mengenalinya.

Gaun hitam itu terlalu berbeda dari blus pasar di pengadilan, dari piyama lusuh di kamar, dari celemek dapur yang sering ia lihat sekilas ketika pulang malam. Perempuan itu berdiri di bawah lampu kristal, dingin dan memesona, seperti seseorang yang memang lahir untuk dilihat dari jauh.

Kemudian perempuan itu menoleh sedikit.

Keira.

Gelas di tangan Rayhan berhenti di udara.

Anya mengikuti pandangannya. Senyum di wajahnya ikut membeku.

"Keira?" bisiknya.

Beberapa tamu di dekat mereka mendengar. Satu orang tertawa kecil. "Keira yang mana?"

Anya cepat mengatur wajah. "Mantan istri Rayhan. Dia dulu tinggal di panti asuhan."

Kalimat itu sengaja dibuat cukup pelan, tetapi cukup jelas.

Namun kali ini, hasilnya tidak seperti yang Anya inginkan.

Orang-orang malah menatap lagi ke arah Keira, lalu ke gaun hitamnya, ke berlian di telinganya, ke Kevin yang memperlakukannya seperti seseorang yang sangat berharga.

Panti asuhan?

Dengan penampilan seperti itu?

Rayhan menurunkan gelasnya. Matanya tidak lepas dari Keira dan Kevin. Ketika Kevin menunduk sedikit untuk mengatakan sesuatu di dekat telinga Keira, dan Keira tersenyum tipis, sesuatu yang asing menusuk dada Rayhan.

Panas.

Tidak masuk akal.

Ia sudah menyetujui perceraian itu dengan dingin. Ia yang membiarkan Keira pergi. Namun melihat Keira berdiri di samping pria lain, memakai gaun yang tidak pernah ia belikan, tersenyum dengan cara yang tidak pernah ia dapatkan, Rayhan tiba-tiba merasa seperti seseorang mencabut sesuatu dari tangannya.

"Siapa pria itu baginya?" tanya seorang rekan bisnis di sebelah Rayhan.

Anya menjawab cepat, "Mungkin sponsor barunya."

Rayhan menatap Anya.

Nada itu terdengar salah.

Seorang pengusaha perempuan yang berdiri tidak jauh dari mereka tersenyum tipis. "Sponsor? Anya, pria seperti Kevin Liem tidak perlu menjadi sponsor siapa pun. Kalau dia menggandeng seseorang ke pesta bisnis, berarti orang itu punya nilai."

Wajah Anya menegang.

"Saya hanya bercanda," katanya cepat.

"Candaan seperti itu murah," balas perempuan itu ringan, lalu kembali menatap Keira. "Dan gaun itu bukan barang pinjaman dari showroom biasa. Itu potongan privat. Saya tahu karena butik itu pernah menolak pesanan saya."

Bisik-bisik di sekitar mereka berubah arah.

Yang tadi ingin melihat Keira sebagai mantan istri yang dibuang, mulai melihatnya sebagai teka-teki yang mungkin lebih mahal daripada cerita Anya.

Rayhan mendengar semuanya.

Rasa panas di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam. Ia bukan hanya cemburu. Ia mulai sadar ada bagian dari hidup Keira yang sama sekali tidak pernah ia ketahui.

Sebelum ia sempat berkata apa pun, suara sepatu hak tinggi menghantam lantai dengan cepat dari arah pintu samping.

Sherly Sutanto datang terlambat dengan gaun merah muda dan ekspresi marah. Mungkin Bu Fenny sudah meneleponnya tentang kejadian siang tadi. Begitu melihat Keira, wajah Sherly langsung berubah.

"Kau!"

Beberapa tamu menoleh.

Kevin sedikit menggeser tubuhnya, tetapi Keira menyentuh lengannya.

"Biar aku," ucap Keira.

Sherly berhenti di depan Keira. Matanya menyapu gaun hitam itu dengan kebencian yang sulit disembunyikan. "Jadi sekarang kau jual tampang ke pria kaya? Baru cerai dari Koh Rayhan, sudah menggandeng laki-laki lain?"

Kevin menyipit.

Keira tetap tenang. "Jaga mulutmu, Sherly."

"Kenapa? Takut semua orang tahu kau cuma perempuan panti asuhan yang sok jadi nyonya?" Sherly menunjuk wajah Keira. "Kau pikir pakai gaun mahal bisa menghapus bau miskinmu?"

Bisik-bisik pecah di sekitar mereka.

Keira melihat mata orang-orang. Ada yang penasaran, ada yang menikmati drama, ada juga yang mulai merekam diam-diam dengan ponsel.

Bagus.

Jika Sherly ingin panggung, Keira akan memberinya panggung.

"Kau selesai?" tanya Keira.

Sherly tertawa tajam. "Belum. Aku juga mau bilang, perempuan seperti kau tidak pantas berdiri di sini. Kembali saja ke panti asuhan tempatmu dipungut."

Kalimat terakhir itu membuat mata Kevin berubah gelap.

Namun tangan Keira bergerak lebih cepat.

Plak!

Tamparan itu membuat wajah Sherly terlempar ke samping. Suara musik seolah ikut berhenti. Gelas di tangan seorang tamu bergetar kecil.

Sherly memegang pipinya, tidak percaya. "Kau berani menamparku?!"

Keira menurunkan tangannya perlahan. "Itu baru satu. Kalau kau mengulang kata itu lagi, aku akan membuatmu ingat rasanya berdiri di depan orang banyak tanpa harga diri."

Sherly menjerit, "Kau berani menamparku?!"

Dari sisi ballroom, Rayhan sudah bergerak cepat ke arah mereka.

Langkahnya besar, wajahnya gelap, dan semua orang otomatis membuka jalan.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!