Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028
Meja Kritik B ditempatkan di studio samping auditorium.
Ruang itu tidak besar. Dindingnya penuh papan pin, meja panjang di tengah ruangan ditutupi kertas kalkir, sticky note, spidol, dan beberapa lampu baca kecil. Dari jendela tinggi, cahaya siang masuk miring dan membuat debu halus terlihat seperti serpihan kaca.
Meiran masuk dengan map di tangan.
Hafeng masuk dua langkah di belakangnya.
Wanyu sudah berdiri di ujung meja.
"Meja ini untuk peserta dengan tema ruang jeda dan transisi pengguna," kata Wanyu. Suaranya kembali lembut, seolah beberapa menit lalu ia tidak baru saja kalah satu putaran di depan auditorium. "Karena temanya mirip, diskusi harus lebih ketat. Jangan tersinggung kalau kritiknya terasa tajam."
"Aku datang untuk itu," jawab Meiran.
"Bagus." Wanyu menunjuk kursi. "Meiran di sini. Ko Hafeng di seberang. Supaya sudut pandangnya tidak terlalu saling memengaruhi."
Kursi yang ia tunjuk membuat Meiran dan Hafeng dipisahkan meja panjang, dengan Wanyu tepat di antara garis pandang mereka.
Hafeng melihat susunan itu sebentar.
Lalu ia menarik kursi lain dan meletakkannya di sisi Meiran.
Suara kaki kursi menggesek lantai membuat dua peserta lain di meja itu menoleh.
Wanyu tersenyum kaku. "Ko Hafeng, kursimu di sana."
"Lebih mudah membandingkan denah kalau dari sisi yang sama."
"Tapi panitia sudah mengatur."
Hafeng membuka mapnya. "Aturan tertulis melarang pindah kursi?"
Wanyu terdiam setengah detik.
Meiran duduk tanpa menolong siapa pun. "Kalau tidak tertulis, kita mulai saja. Waktu kritik terbatas."
Hafeng duduk di sampingnya.
Jarak mereka tidak terlalu dekat. Namun cukup dekat untuk membuat Meiran sadar pada aroma sabun dari kemeja Hafeng dan suara mapnya dibuka di sisi kanan.
Wanyu mengambil spidol. "Baik. Kita mulai dari Meiran. Karena tadi presentasimu mendapat banyak perhatian, mungkin semua ingin melihat apakah konsepnya sekuat pembukaannya."
Komentar itu dibungkus senyum.
Meiran mengeluarkan sketsa denah, tiga foto lokasi, dan sample material kecil dari showroom. Ia meletakkannya di atas meja satu per satu.
"Silakan."
Wanyu tampak puas. "Ko Hafeng, sebagai peserta dengan pendekatan teknis kuat, bagaimana menurutmu? Jangan terlalu lunak hanya karena kalian saling mengenal."
Meiran menatap Hafeng.
Hafeng mengambil pensil.
"Sirkulasi masuknya salah."
Dua peserta lain langsung diam.
Wanyu hampir tersenyum.
Meiran hanya mengangkat alis. "Jelaskan."
Hafeng menarik garis di atas kertas kalkir, tidak menyentuh sketsa asli. "Kamu menempatkan modul duduk terlalu dekat dengan jalur utama. Orang yang duduk akan merasa diawasi. Ruang jeda harus memberi setengah perlindungan, bukan hanya tempat berhenti."
Ia menggambar ulang jalur. "Geser modul ini enam puluh sentimeter ke dalam. Tambahkan panel rendah di sini. Jangan tinggi, nanti terasa seperti bilik. Cukup membuat bahu pengguna tidak terbuka ke koridor."
Meiran menunduk, melihat garisnya.
Kritiknya tajam.
Dan benar.
"Kalau panel digeser, kursi nomor dua kehilangan cahaya."
"Pakai material semi-transparan. Yang kemarin dari showroom."
"Terlalu mahal."
"Pakainya hanya di bagian pendek. Biaya tetap masuk."
Meiran mengambil kalkulator kecil, menghitung cepat, lalu mencatat. "Bisa."
Wanyu berdiri di ujung meja, senyumnya mulai memudar.
Ia jelas menunggu Hafeng mempermalukan Meiran. Yang terjadi justru lebih buruk untuknya: Hafeng membongkar kelemahan konsep Meiran dengan cara yang membuat konsep itu semakin kuat.
"Kritik yang bagus," kata Meiran.
Hafeng tidak mengangkat wajah. "Aku tahu."
"Jangan sombong."
"Jangan menggambar jalur salah."
Dua peserta lain saling pandang, lalu salah satunya tertawa tertahan.
Wanyu mengetuk meja pelan. "Baik. Sekarang Meiran, kamu bisa memberi masukan untuk konsep Ko Hafeng. Kita lihat apakah kamu juga bisa objektif."
Hafeng mendorong sketsanya ke tengah meja.
Meiran melihat konsepnya. Garis Hafeng bersih, dingin, sangat teratur. Ruang jedanya seperti tempat yang dirancang oleh orang yang tahu cara menenangkan keramaian, tetapi tidak tahu cara mengundang orang yang takut dianggap mengganggu.
"Terlalu sempurna," kata Meiran.
Hafeng menoleh. "Itu kritik?"
"Itu masalah." Meiran mengambil sticky note dan menempelkannya di atas area duduk utama. "Ruangmu memberi privasi, tapi terlalu kaku. Pengguna baru akan ragu masuk karena semua posisi duduk terlihat sudah diatur. Tambahkan satu elemen yang tidak terlalu disiplin. Kursi geser, meja kecil, atau sudut berdiri. Orang miskin waktu juga butuh pilihan, bukan hanya instruksi diam."
Hafeng menatap sketsa itu lama.
Wanyu cepat berkata, "Tapi konsep Ko Hafeng memang kuat karena disiplin. Kalau dibuat terlalu bebas, bukankah karakternya hilang?"
Meiran menatap Wanyu. "Karakter desain tidak boleh mengalahkan kebutuhan pengguna."
Hafeng mengambil sticky note itu, lalu memindahkannya sedikit. "Kalau sudut berdiri di sini, arus masuk tidak terganggu."
"Benar."
"Tapi meja kecil harus lipat."
"Aku setuju."
Satu demi satu, mereka mulai berbicara langsung ke sketsa, bukan ke Wanyu. Pensil Hafeng bergerak, spidol Meiran menandai fungsi, kalkir bertumpuk di atas meja. Kritik mereka tidak lembut, tetapi setiap kalimat punya tujuan.
Wanyu beberapa kali mencoba masuk.
"Mungkin Meiran terlalu banyak mengubah konsep Ko Hafeng."
Hafeng menjawab tanpa melihatnya, "Aku menerima masukan yang benar."
"Tapi Ko Hafeng punya gaya sendiri."
"Gaya yang tidak bisa dikritik tidak layak ikut kompetisi."
Wanyu terdiam.
Di sisi lain meja, dua peserta yang semula tegang mulai ikut bertanya. Diskusi berubah hidup. Bukan karena Wanyu memimpin, melainkan karena Meiran dan Hafeng membuat kritik terasa berguna, bukan sekadar pertunjukan kekuasaan.
Saat seorang peserta menumpahkan sedikit kopi di dekat sample material Meiran, Hafeng langsung menarik sample itu menjauh sebelum cairan menyentuh tepinya.
Gerakannya cepat.
Terlalu cepat untuk orang yang tidak memperhatikan meja Meiran.
Meiran melihat tangannya yang masih memegang sample.
"Terima kasih."
"Jangan taruh material di dekat minuman."
"Itu bukan minumanku."
"Tetap saja materialmu."
**【Sistem Predator】Respons target: proteksi terhadap pekerjaan Host, bukan hanya tubuh Host.**
Nilai Cinta: 21.
Meiran menahan napas setipis mungkin.
Hafeng menatapnya. "Kenapa?"
"Aku sedang menghitung biaya."
"Wajahmu tidak seperti menghitung biaya."
"Wajahku mahal, jadi memang cocok dengan biaya."
Hafeng terdiam, lalu membuang pandang ke sketsa. Ujung telinganya kembali memerah.
Wanyu menutup sesi dengan suara yang lebih dingin daripada awal.
"Baik. Untuk latihan berikutnya, setiap peserta akan mempresentasikan konsep pasangannya. Tujuannya agar kalian memahami kelemahan dan kekuatan desain orang lain."
Meiran mengangkat wajah.
Wanyu membalik kartu kelompok.
"Meiran akan mempresentasikan konsep Ko Hafeng."
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum.
"Dan Ko Hafeng akan mempresentasikan konsep Meiran."
Ruangan langsung dipenuhi gumaman kecil.
Hafeng menatap Wanyu.
"Latihan ini dinilai?" tanya Meiran.
Wanyu mengangguk pelan. "Sebagai bagian dari observasi proses. Bukan nilai final, tapi catatan panitia akan masuk ke panel."
Jadi bukan permainan kecil. Wanyu ingin setiap salah ucap berubah menjadi catatan resmi.
Meiran justru tersenyum.
Kalau Wanyu ingin memaksa mereka saling membuka isi kepala, ia baru saja memberi Meiran alat yang jauh lebih menarik daripada pisau.