Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Rahasia di Balik Tangga
Langkah kaki berat itu terdengar semakin dekat dari lantai atas, suaranya memantul di dinding beton tangga darurat yang sunyi. Doni menahan napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga dia yakin suara itu bisa terdengar oleh siapa pun yang berada di mall.
Namun, sosok yang membuka pintu menuju tangga darurat itu ternyata tidak melangkah ke tempat Doni dan Olivia bersembunyi. Langkah kakinya terhenti setelah pintu itu tertutup.
“Iya, sayang... sabar. Aku masih kerja ini”, sebuah suara pria paruh baya terdengar berbisik, namun gema ruangan yang kosong membuat setiap kata-katanya terdengar begitu jelas di telinga Doni dan Olivia.
Doni mencoba mengintip dengan menolehkan kepalanya sedikit sambil menggenggam pegangan tangga dengan tangannya yang gemetar. Berusaha agar sesedikit mungkin bagian kepalanya yang terlihat, dia akhirnya bisa melihat sumber suara itu. Seorang satpam mall, dengan seragam lengkap yang sedang menempelkan ponsel ke telinganya.
“Iya sayang, nanti aku transfer, ya. Tapi malam ini aku harus pulang ke rumah istriku dulu. Anakku yang paling kecil lagi sakit soalnya, demam tinggi... Iya, iya, besok malam aku ke kosan kamu ya? Janji. Dah, sayang...”
Mendengar percakapan menjijikkan itu, Olivia yang berdiri di dekat Doni mendadak mendengus pelan. Matanya menyipit sinis, memancarkan rasa jijik dan kesal yang kentara. Sebagai remaja perempuan, mendengar seorang pria dewasa dengan santai membahas perselingkuhan dan menomorduakan anaknya yang sakit jelas memicu kekesalannya.
Dengan rasa kesal yang memenuhi ubun-ubunnya, Olivia bergerak. Sepertinya dia berniat melangkah naik untuk mendatangi, atau mungkin sengaja melabrak satpam tersebut.
Melihat gerakan impulsif Olivia, kepanikan Doni langsung naik ke level maksimal. "Eh… mau ngapain ni anak?!" batin Doni berteriak histeris.
Refleks, Doni mengulurkan tangannya, mencengkeram pergelangan tangan Olivia dan menarik tubuh gadis itu ke belakang agar tidak maju mendekati tangga atas. Namun, tarikan Doni yang terlalu kuat dan mendadak membuat Olivia kehilangan keseimbangan. Ujung sepatu basket Olivia rupanya bergesekan dengan lantai semen dan menimbulkan suara berdecit yang cukup nyaring di dalam keheningan tersebut.
CIIITTTT…!
Suara itu terdengar seperti ledakan di telinga Doni.
Di atas sana, suara manja dari telepon satpam itu langsung terputus. Sunyi mencekam kembali menguasai tangga darurat. Dua detik menyeramkan yang terasa seperti dua tahun.
“Hei! Siapa di sana?!” teriak satpam yang terkejut dan mulai panik itu. Suaranya kini berubah menjadi lebih berat, dibandingkan saat dia menerima telepon tadi. Dia pun bergegas turun menuju ke arah tempat persembunyian Doni dan Olivia.
Doni memejamkan matanya erat-erat, mempertanyakan ada apa sebenarnya hari ini, mengapa dia seolah terus-menerus ditimpa kesialan.
Langkah kaki satpam itu terdengar begitu cepat menuruni anak tangga beton. Belum sempat Doni menarik Olivia untuk melarikan diri ke lantai bawah, sorot lampu senter yang terang langsung menyapu wajah mereka berdua, membuat Doni refleks menyipitkan mata dan menghalau silau dengan tangannya.
“Woy! Ngapain kalian berdua di sini?!” teriak satpam itu tegas. Entah karena menjaga profesionalitas pekerjaannya, atau memang panik dan berusaha menutupi kesalahannya.
Satpam berkumis tebal itu berdiri tiga anak tangga di atas mereka. Napasnya terengah-engah, bukan hanya karena melangkah cepat, tapi juga karena merasa panik barangkali mereka berdua ini mendengar percakapannya di telepon tadi. Tatapan matanya yang tajam menyapu penampilan mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seakan mempunyai insting detektif, dia memindai setiap detail untuk mengetahui siapa sebenarnya mereka berdua.
Dimulai dari Doni, satpam itu menyadari ada beberapa bulu tipis di sekitar rahang dan di atas bibir Doni, menandakan kalau Doni adalah pria dewasa yang baru mencukur jambang dan kumisnya beberapa hari lalu. Satpam itu pun lalu beralih kepada Olivia. Detail logo kecil di bagian bawah celana basket Olivia, membuat satpam itu tahu persis kalau itu adalah logo dari SMA yang setiap hari dia lewati dalam perjalanan menuju mall ini dari rumahnya. Tulisan nama sekolah di tas olahraga Olivia semakin menguatkan keyakinannya kalau gadis itu masih SMA.
Kombinasi yang sangat mencurigakan: seorang pria cukup dewasa dan anak perempuan yang masih SMA, berduaan di tangga darurat yang sunyi dan remang-remang pada Minggu malam?
“Mau ngapain kamu malem-malem bawa anak SMA berduaan di tempat sepi begini? Pacaran, ya? Mau berbuat yang macem-macem kalian?!” tuduh satpam itu dengan nada suara yang meninggi, sengaja bersikap defensif dan galak untuk menutupi rasa bersalahnya sendiri.
Jantung Doni rasanya seperti merosot ke lambung. Tuduhan itu begitu telak dan mengerikan. “B-bukan, Pak. Kami nggak...” Lidah Doni mendadak kelu. Otak IT-nya mengalami crash total. Dia tidak tahu harus menjelaskan dari mana tanpa harus membawa-bawa nama Marcella.
Melihat Doni yang tergagap dan keringat dinginnya makin deras, kecurigaan di mata satpam itu semakin menjadi-jadi. “Nggak usah banyak alasan! Ikut saya ke pos security sekarang! Biar saya panggil orang tua kalian!”
Mendengar kata 'orang tua', Doni hampir saja pingsan di tempat. Melihat situasi itu, sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala Olivia. Gadis itu mendadak memejamkan matanya rapat-rapat, memegangi kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram lengan jaket Doni dengan sangat kuat, bahkan nyaris mencubit kulit Doni demi memberikan kode tersembunyi sambil mengedipkan mata. Dia kemudian melemaskan tubuhnya, dan sengaja menyandarkan badannya ke bahu Doni.
“Aduh... Kak, pusing banget...” rintih Olivia dengan suara yang mendadak parau, serak, dan terdengar sangat lemas.
Doni sempat melongo kebingungan, namun buru-buru menahan tubuh Olivia agar tidak jatuh, menyadari bahwa gadis ini sedang melancarkan aksi sandiwara.
Olivia mendongak menatap satpam itu dengan sayup-sayup mata yang tampak sayu dan lelah. “Maaf, Pak... saya nggak bermaksud lancang masuk ke sini. Tadi saya baru selesai latihan fisik di sekolah, latihan basket lumayan berat. Tadi kesini niatnya mau nyari makan, sekalian refreshing bentar. Tapi tiba-tiba kepala saya pusing banget, perut saya mual... kayaknya gejala dehidrasi, deh. Hoekk…” suara ingin muntah yang dia buat menyempurnakan aktingnya yang tampak begitu natural.
“Kami cuma cari tempat sepi yang dingin biar saya bisa duduk sebentar buat istirahat, Pak. Soalnya di luar berisik banget, kepala saya makin mau pecah kalau dipaksa jalan ke lobi depan. Kakak saya ini cuma nemenin dan bawain tas saya”, lanjut Olivia sambil menunjuk Doni dengan lemah. “Kita sebenernya emang udah mau pulang, kok.”
Mendengar penjelasan yang begitu runut ditambah dengan jersey basket Olivia yang memang tampak lepek oleh keringat asli, tampaknya keyakinan satpam itu mulai goyah. Keheningan sesaat kembali merayap di tangga darurat. Satpam itu menurunkan sedikit senternya, menatap Doni dan Olivia bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Benar begitu?” tanya satpam itu sambil menyoroti lagi senternya ke arah Doni. Nadanya sudah jauh menurun, tidak segalak sebelumnya. Namun, matanya tetap menyipit seakan belum mempercayai akting Olivia tadi. “Kalian tidak sedang membohongi saya, kan?!”
Doni menahan napasnya, berpikir keras untuk menyusun kalimat yang bisa lebih meyakinkan satpam itu. Salah satu kata saja, bisa berakibat fatal. Mungkin saja akan ada kesialan-kesialan lain lagi yang menimpanya di sisa malam ini.