cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11_Boneka Anabel part4
Bab 4: Segel yang Mulai Retak
Srek... Srek... Srek...
Suara rantai besi itu semakin dekat. Alena mematung. Napasnya tersengal, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"A... Anabel... siapa itu?" tanyanya lirih. Wajahnya pucat pasi.
Anabel tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, roh gadis kecil itu tampak ketakutan. Tubuhnya gemetar, sementara kedua matanya terus menatap ke ujung lorong yang gelap gulita.
"Pergi..." bisik Anabel.
Alena mengerutkan kening.
"Apa?" tanya Alena bingung.
"Pergi sekarang!" teriak Anabel. Wajahnya berubah panik.
Brak!
Tanah kembali berguncang. Retakan-retakan baru muncul di sepanjang lorong. Debu dan serpihan batu berjatuhan dari langit-langit.
Suara berat itu kembali terdengar.
"Sudah... terlalu lama..." kata sosok itu.
Dug! Dug! Dug!
Setiap langkah makhluk itu membuat seluruh lorong bergetar.
Alena mundur beberapa langkah.
"Kamu siapa?" teriaknya dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara napas panjang, berat, seolah berasal dari sesuatu yang sangat besar.
"Hhhhhhhh..."
Udara mendadak berubah dingin. Napas Alena terlihat mengepul.
Di balik kegelapan, sepasang mata merah itu semakin jelas. Tingginya jauh melebihi manusia biasa.
Rantai-rantai besi melilit tubuhnya. Namun rantai itu satu demi satu mulai terputus.
Kraak! Kraak! Kraak!
Anabel menutup telinganya.
"Jangan dengarkan suaranya!" teriaknya sambil menangis.
Makhluk itu kembali berbicara.
"Anabel..." panggil sosok itu
Suara itu terdengar lembut, tetapi membuat bulu kuduk Alena berdiri.
"Kemari..." lanjutnya
Anabel langsung menjerit.
"Tidak! Aku tidak mau kembali!" teriak histeris Anabel.
Ia memeluk bonekanya erat-erat. Air mata hitam mengalir tanpa henti di pipinya.
Alena semakin bingung.
"Anabel... apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?" tanya Alena bingung
Anabel menatap Alena dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Aku bukan tumbal pertama..." ucapnya pelan.
Kalimat itu membuat Alena membeku.
"Apa maksudmu?"tanya Alena makin bingung.
Anabel menggigit bibirnya.
"Sebelum aku... sudah banyak anak lain yang dibawa ke tempat ini." lanjutnya
Alena membelalak.
"Banyak?" tanya Alena lagi
Anabel mengangguk perlahan.
"Mereka dijadikan persembahan agar sesuatu yang terkurung di dasar rumah ini tetap tertidur." jelas Boneka Anabel.
Tubuh Alena terasa lemas.
"Jadi... semua tangan yang tadi...itu mereka." ucap Alena terbata.
Suara Anabel terdengar lirih.
"Mereka tidak pernah bisa keluar." ucapnya lirih.
Air mata kembali memenuhi mata Alena.
"Ya Allah..." kata Alena lirih.
Tiba-tiba...
Sebuah suara perempuan menggema dari atas lorong.
"Alena...!" teriak sosok, Itu suara Nenek Ratih.
"Kalau masih hidup, dengarkan Nenek!" teriaknya.
Alena mendongak.
"Nek!" panggil Alena
"Di lorong itu ada pintu kayu tua! Cari pintu itu! Cepat!" katanya.
Alena segera melihat ke sekeliling.
Beberapa meter di depannya memang tampak sebuah pintu kayu tua yang hampir tertutup akar-akar pohon.
Namun sebelum sempat bergerak...
Makhluk bermata merah itu kembali melangkah.
Dug!
Seluruh lorong berguncang. Kini siluet tubuhnya mulai terlihat. Tubuhnya tinggi besar, dibalut jubah hitam yang telah lapuk dimakan usia.
Di balik jubah itu, puluhan tangan manusia menjulur keluar, bergerak sendiri seperti makhluk hidup.
Rantai yang melilit tubuhnya tinggal tersisa beberapa bagian. Anabel langsung berdiri di depan Alena.
"Jangan lihat wajahnya!" teriaknya.
Alena spontan menundukkan kepala.
Makhluk itu tertawa pelan.
"Hahaha..."
Tawanya bergema dari segala arah.
"Kalian tidak bisa lari..." kata sosok itu
Suara itu seolah masuk langsung ke dalam kepala Alena.
"Kalian semua milikku..." Lanjutnya
Tiba-tiba...
Boneka yang dipeluk Anabel melompat sendiri ke lantai.
Buk!
Boneka itu berdiri. Kepalanya perlahan menoleh ke arah makhluk berjubah.
"Tidak akan kubiarkan..." ucap boneka itu dengan suara kecil.
Dalam sekejap, puluhan boneka lain bermunculan dari balik dinding lorong. Mereka berdiri berjajar di depan Anabel.
"Hehehe..."
Namun kali ini, tawa mereka bukan untuk menakuti Alena. Melainkan menghadang makhluk yang mulai bangkit.
Anabel menggenggam tangan Alena.
"Kesempatan kita hanya sekali." ucap Boneka Anabel.
"Ayo lari!" ajak Boneka Anabel.
Alena mengangguk cepat.
Mereka berdua berlari menuju pintu kayu tua. Di belakang mereka terdengar suara benturan yang menggelegar.
Brak! Brak! Brak!
Boneka-boneka itu satu per satu hancur saat mencoba menahan langkah makhluk berjubah hitam. Jeritan mereka memenuhi lorong bawah tanah.
Anabel menangis sambil terus berlari.
"Mereka sedang memberi kita waktu..." ucap Anabel lirih.
Alena menggigit bibirnya menahan tangis.
Sesampainya di depan pintu tua, ia segera memutar gagangnya.
Namun...
Pintu itu tidak bergerak sedikit pun.
"Tidak bisa dibuka!" teriak Alena panik.
Anabel memandangi ukiran aneh di permukaan pintu. Wajahnya mendadak pucat.
"Astaga..." ucap Boneka Anabel kaget.
"Ada apa?" tanya Alena.
Anabel mengangkat tangan gemetar, menunjuk sebuah simbol berbentuk lingkaran yang dipenuhi tulisan kuno.
"Itu bukan pintu keluar..." lanjutnya.
"Lalu?" tanya Alena
"Itu adalah pintu menuju ruang penyegelan." katanya
Alena menelan ludah.
"Di balik pintu itu..." Belum sempat Anabel menyelesaikan ucapannya... Terdengar suara ledakan besar dari belakang.
DUARRR!
Gelombang angin hitam menerjang lorong. Seluruh boneka yang tersisa hancur berkeping-keping.
Anabel perlahan menoleh. Wajahnya dipenuhi ketakutan.
"Segelnya..." Ia memejamkan mata. "...sudah benar-benar pecah."
Perlahan, sosok berjubah hitam itu keluar dari kegelapan.
Kini untuk pertama kalinya, Alena dapat melihat kedua tangannya yang menggenggam sebuah topeng batu kuno.
Di balik topeng itu terdengar bisikan ratusan suara anak-anak yang menangis bersamaan. Dan tepat ketika makhluk itu mengangkat topeng tersebut ke wajahnya...
Dari balik pintu kayu tua, terdengar suara seorang pria tua yang berbisik pelan,
"Kalau kalian ingin menghentikannya... buka pintu ini sekarang." bisik suara sosok yang tidak diketahui siapa.
Alena dan Anabel saling berpandangan.
Masalahnya...
Suara itu berasal dari seseorang yang seharusnya sudah meninggal lebih dari seratus tahun yang lalu.