Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Di balik Senyuman
Mendengar pertanyaan dingin dari Max, wanita bernama Laura itu sama sekali tidak tampak terintimidasi. Sebaliknya, ia malah melangkah mendekat dengan anggun, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa ragu, Laura langsung bergelanyut manja di lengan kekar Max, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu dengan gestur yang sangat intim.
Max menegang, matanya memberikan kilat peringatan yang tajam, namun Laura mengabaikannya. Sepasang mata jeli milik wanita itu perlahan bergulir, melirik tajam ke arah Yeza dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya penuh selidik, terutama saat menyadari bahwa Yeza masih mengenakan jaket rajut abu-abu milik Max yang tampak kebesaran di tubuhnya.
"Siapa wanita ini, Max?" tanya Laura dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun terselip nada intimidasi yang kuat di dalamnya.
Sebelum situasi menjadi semakin canggung atau Max mengeluarkan kata-kata dinginnya, Yeza dengan sigap mengambil satu langkah mundur. Ia menegakkan posisi berdirinya, mencoba mengubur dalam-dalam rasa sesak yang tiba-tiba menyergap dadanya melihat kedekatan mereka.
"Oh, selamat malam. Saya Yeza, penata rias (MUA) pribadi Max," ucap Yeza dengan suara yang terdengar sangat formal, profesional, dan terkendali. Ia sengaja menekankan kata 'pribadi' untuk memperjelas posisinya sebagai pekerja, sekaligus menjaga jarak aman.
Mendengar jawaban sigap Yeza, sebelah alis Laura terangkat. Senyum tipis yang sarat akan maksud terselubung terukir di bibir merahnya. Ia perlahan melepaskan gelayutan tangannya di lengan Max, lalu berjalan mendekati Yeza.
"Oh, jadi kamu MUA barunya Max?" Laura melipat kedua tangannya di dada. "Kebetulan sekali. Apakah kamu ada waktu luang? Saya rasa saya butuh jasamu untuk acara malam nanti. Ada gala dinner penting yang harus kuhadiri setelah kepulanganku dari Paris."
Laura kemudian membalikkan badannya, menatap Max dengan tatapan memohon yang dibuat-buat. "Max, apakah aku boleh meminjam MUA-mu? Penampilan pertamaku di Jakarta setelah kembali dari Paris harus benar-benar sempurna, dan karena dia pilihanmu, seleranya pasti tidak sembarangan, kan?"
Suasana di lorong apartemen itu mendadak hening mencekam. Yeza melirik ke arah Max, menunggu respons dari pria itu. Di bawah temaram lampu koridor, rahang tegas Max tampak mengeras sempurna. Sorot mata elangnya yang menatap Laura kini tidak lagi sekadar dingin, melainkan sarat akan kemarahan yang tertahan.
Suasana di koridor lantai sepuluh itu semakin terasa mencekam. Laura masih mempertahankan senyum manisnya yang tampak menuntut, sementara matanya terus mengawasi reaksi Max. Ia mengira Max akan langsung mengiyakan permintaannya demi menjaga hubungan baik keluarga mereka.
Namun, Max justru mengalihkan pandangannya dari Laura. Manik mata elangnya menatap lurus ke arah Yeza, melembutkan sorot matanya yang tadinya sekeras batu.
"Keputusan ada di Yeza. Tergantung dia bersedia atau tidak," ucap Max dengan suara bariton yang tegas dan tenang.
Kalimat pendek Max itu seketika meruntuhkan senyum penuh percaya diri di wajah Laura. Laura tersentak kecil, tidak menyangka bahwa seorang Maxemilian—yang biasanya dominan dan tidak suka dibantah—akan menyerahkan kendali penuh atas pekerjanya kepada wanita lain, terlebih di depan dirinya.
Max dengan jelas mengirimkan sinyal perlindungan kepada Yeza: Kamu tidak wajib menuruti maunya jika kamu tidak nyaman.
Kini, fokus sepenuhnya tertuju pada Yeza. Laura memutar tubuhnya, kembali menatap Yeza dengan sebelah alis terangkat, menunggu jawaban dengan tatapan yang seolah meremehkan.
Yeza menarik napas dalam-dalam di balik jaket hangat milik Max yang masih melekat di tubuhnya. Rasa lelah setelah seharian penuh bekerja di hutan pinus sebenarnya sudah mulai menyerang fisiknya. Namun, melihat bagaimana Max menghargai haknya dan bagaimana Laura mencoba menekannya, Yeza tahu ia harus menjawab dengan kepala dingin dan profesional.
"Terima kasih atas tawarannya, Nona Laura," ujar Yeza dengan nada suara yang tenang, sopan, namun memiliki ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat. "Secara profesional, kontrak kerja saya saat ini terikat penuh sebagai MUA pribadi Max untuk memastikan penampilannya di setiap jadwal terkelola dengan baik. Karena malam ini jadwal Max sudah selesai dan ini sudah sangat larut, secara personal saya..."
Yeza menggantung kalimatnya sejenak, menatap langsung ke dalam mata Laura dengan keberanian yang tenang.
"...secara personal saya harus menolaknya," lanjut Yeza dengan senyum profesional yang terkembang di wajahnya. "Jadwal kerja kami besok pagi dimulai sangat awal, dan saya perlu memastikan fisik saya—serta kesiapan peralatan rias Max—berada dalam kondisi prima. Saya harap Nona Laura bisa memahaminya."
Jawaban Yeza yang terstruktur rapi dan sangat sopan itu bagaikan tamparan halus yang mendarat di wajah Laura. Tidak ada celah bagi Laura untuk marah, karena Yeza menolaknya dengan alasan profesionalitas kerja yang masuk akal.
Wajah Laura sempat berubah masam selama beberapa detik sebelum ia memaksakan sebuah tawa renyah yang terdengar hambar. "Ah, begitu ya? Sayang sekali. Padahal aku sangat ingin melihat sehebat apa pilihan Max." Ia melirik Max dengan tatapan manja yang kembali dipaksakan. "Max, sepertinya MUA-mu ini sangat disiplin ya."
Max tidak menanggapi sindiran Laura. Pria itu justru melangkah mendekati pintu unit apartemennya sendiri, lalu menekan digit kode pengaman di panel pintu. Setelah terdengar bunyi klik tanda pintu terbuka, Max berbalik menatap Laura.
"Sudah malam, Laura. Masuklah. Kita bicarakan apa tujuanmu kembali ke Jakarta di dalam," ucap Max dingin tanpa ekspresi. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Yeza, dan seketika itu juga sorot matanya melembut. "Yeza, masuklah ke kamarmu dan langsung istirahat. Kembalikan jaket itu besok pagi saja."
"Baik, Max. Selamat malam," jawab Yeza patuh.
Yeza segera melangkah menuju pintu unit apartemennya sendiri yang berada tepat di seberang lorong. Dari sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan tajam dan penuh riak kecemburuan dari Laura yang terus menghujam punggungnya hingga pintu unit 10B tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Begitu berada di dalam keheningan apartemennya, Yeza menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ia melepaskan jaket abu-abu milik Max, mendekapnya erat di dada sembari mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Rasa hangat dari jaket itu masih ada, namun pikiran Yeza kini mulai dipenuhi oleh ribuan pertanyaan tentang siapa sebenarnya Laura di masa lalu Max, dan apa yang akan terjadi setelah wanita itu kembali.