Disclaimer: No plagiat, no boom like❗
Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tak harus menggantikan
Perlahan, nafas Tya kembali teratur. Setelah beberapa saat membiarkan dirinya larut dalam berbagai pikiran, ia akhirnya menggeleng pelan, seolah mengusir semua keresahan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
Tangannya kembali meraih pulpen yang sempat ia letakkan di atas buku. Tatapannya turun pada lembar soal yang belum selesai dikerjakan.
Sedikit demi sedikit, konsentrasinya mulai kembali. Jemarinya bergerak pelan, menuliskan setiap jawaban dengan rapi. Sesekali ia berhenti untuk berpikir sebelum kembali menorehkan tinta di atas kertas.
Lorong lantai dua itu jauh lebih tenang dibandingkan kamar yang baru saja ia tinggalkan. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar pelan serta gesekan ujung pulpen dengan lembar buku.
Beberapa menit berlalu, Tya mulai kembali tenggelam dalam tugas sekolahnya. Di sela keheningan itu, samar-samar terdengar suara langkah kaki yang berjalan menaiki anak tangga. Langkahnya pelan, namun semakin lama semakin mendekat ke arah lorong tempat Tya berada.
Tya yang semula masih fokus pada buku catatannya perlahan mengangkat kepala. Tatapannya beralih ke arah sumber suara.
Di samping sofa, ibu Faris kini telah berdiri dengan senyum hangat di wajahnya. Wanita itu menatap Tya dengan sorot mata penuh kelembutan.
"Lagi belajar, sayang?" Tanya ibu Faris lembut. Pandangannya kemudian beralih pada tumpukan buku di atas meja kecil di depan Tya. "Kok belajarnya di luar? Kenapa gak di kamar aja?"
Tya tersenyum kecil, lalu menghela nafas pelan. "Iya Tante, tadi belajarnya di kamar." Jawabnya sopan.
"Lho, terus kenapa pindah ke sini?" Tanya ibu Faris heran.
Tya melirik sekilas ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. "Soalnya, Faris lagi main game, Tante. Berisik banget." Ujarnya pelan. "Tya jadi susah konsentrasi ngerjain tugas. Makanya Tya pindah ke sini. Di luar lebih tenang."
Mendengar itu, ibu Faris menggeleng pelan. "Anak itu memang, ya..." Gumamnya lirih, sudah terlalu hafal dengan tingkah putra bungsunya itu.
Tatapan ibu Faris kini beralih pada wajah Tya. "Kalau gitu, Mama temenin Tya di sini, boleh?" Ujarnya lembut.
Tya menoleh. Pertanyaan sederhana itu entah mengapa membuat hatinya terasa sedikit hangat. Ia pun mengangguk pelan. "Boleh, Tante."
Sambil tersenyum kecil, Tya menggeser posisi duduknya, memberi ruang di sampingnya. Ibu Faris kemudian duduk di sofa itu, menemani Tya tanpa banyak bicara.
Suasana kembali hening. Kehadiran ibu Faris saat itu memang sangat Tya butuhkan saat ini. Sejak kepergian sang ibu, ada ruang kosong di dalam hatinya yang belum benar-benar terisi. Ditambah lagi, sejak tinggal di rumah ini, setiap bertemu Faris yang terjadi justru adu mulut tanpa henti.
Tya kembali menundukkan kepala. Jemarinya bergerak lincah di buku catatan, menyelesaikan soal demi soal yang sejak tadi menunggu untuk dikerjakan. Sesekali ibu Faris melirik ke arah lembar tugas Tya, lalu tersenyum kecil melihat tulisan gadis itu yang begitu rapi.
Beberapa menit berlalu, Tya akhirnya meletakkan pulpennya. "Alhamdulillah, selesai juga," gumamnya sambil meregangkan kedua tangannya yang mulai pegal.
Ibu Faris ikut tersenyum. "Rajin sekali kamu, Tya."
Tya hanya membalas dengan senyum tipis. Suasana kembali hening beberapa saat. Hingga akhirnya ibu Faris menghela nafas pelan sambil menggeleng kecil.
"Kadang ya," ujar ibu Faris pelan. "Mama sendiri sering pusing sama kelakuan Faris."
Tya langsung menoleh, "Faris emang dari dulu begitu, Tante?"
"Iya," ujar ibu Faris. "Dari kecil emang paling susah dibilangin. Ada aja tingkahnya, beda jauh sama kakaknya."
Alis Tya sedikit terangkat. "Faris punya kakak, Tante?"
Ibu Faris mengangguk, "Punya."
"Terus sekarang di mana?" Tanya Tya penasaran.
"Kakak Faris lagi kuliah di Swiss," timpal ibu Faris. "Sudah beberapa tahun di sana."
Tya hanya mengangguk perlahan. Kini ia mengerti mengapa selama berada di rumah itu ia sama sekali belum pernah melihat sosok kakak Faris. Ternyata, kakak Faris sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Ibu Faris terkekeh pelan, "Duh," ujarnya geli. "Kok malah Mama yang curhat, ya."
Tya ikut terkekeh kecil. Perasaan yang awalnya canggung, kini perlahan berubah menjadi lebih hangat.
"Gak apa-apa kok, Tante," jawab Tya sambil tersenyum tipis. "Tya malah seneng Tante mau cerita."
Tatapan ibu Faris kembali melembut. Ia mengusap pelan punggung tangan Tya yang berada di atas meja. "Kalau begitu, sekarang gantian." Ujarnya lembut. "Mau cerita? Apa pun itu, Mama bakal dengerin."
Perlahan, Tya menutup buku yang sejak tadi terbuka di atas meja. Ia meletakkan pulpen di atas sampul buku, lalu memutar tubuhnya hingga kini sepenuhnya menghadap ibu Faris.
Beberapa detik, Tya hanya diam. Bibirnya bergerak pelan, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang selama ini dipendam.
"Tya..." Suara Tya lirih, nyaris berbisik. "Tya kangen Mama."
Kalimat itu membuat senyum di wajah ibu Faris perlahan memudar. Wanita itu terdiam beberapa saat. Tatapannya melembut, dipenuhi rasa iba melihat gadis yang kini harus menjalani hari-harinya tanpa sosok ibu di sisinya.
Tanpa berkata apa-apa, ibu Faris mengangkat tangannya. Jemarinya mengusap lembut pucuk kepala Tya, berusaha menyalurkan sedikit kehangatan yang mungkin sedang dibutuhkan oleh gadis itu.
"Kangen itu wajar, sayang," ucap ibu Faris pelan.
Tya hanya mengangguk kecil. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha menahannya agar air mata itu tidak jatuh.
Ibu Faris tersenyum tipis. "Kalau gitu, Mama punya satu cerita tentang Mama Tya." Ujarnya dengan senyum hangat. "Mau dengar?"
Tya mengangguk antusias. Rasa penasarannya seketika mengalahkan kesedihan yang sejak tadi menyelimuti hatinya. "Mau, Tante," jawabnya pelan. "Tya mau dengar."
Ibu Faris tersenyum kecil, lalu pandangannya menerawang, seolah kembali mengingat masa-masa yang telah berlalu bertahun-tahun silam.
"Dulu, waktu Mama sama Mama kamu masih SMA, kami memang sahabatan," ujar ibu Faris sambil tersenyum tipis. "Bahkan hampir setiap hari selalu bareng."
Tya menyimak dengan saksama. Ibu Faris kembali terkekeh kecil. "Mama kamu itu cantik sekali. Banyak yang bilang dia primadona sekolah. Anak-anak badboy suka sama dia, cowok-cowok populer juga banyak yang ngedeketin. Bahkan, ketua OSIS waktu itu juga pernah terang-terangan suka sama Mama kamu."
Mata Tya sedikit membulat, "Serius, Tante?"
Ibu Faris mengangguk mantap. "Iya, tapi..." Ia tertawa pelan. "Mama kamu galak banget."
"Galak?" Ulang Tya memastikan.
Ibu Faris mengangguk kembali. "Iya. Siapa pun yang berusaha deketin dia, semuanya ditolak. Mama kamu itu kalau gak suka, ya gak suka. Gak peduli sepopuler apa cowoknya."
Tya mulai membayangkan sosok almarhumah ibunya saat masih remaja. Entah mengapa, bayangan itu terasa begitu lucu di benaknya.
"Terus," lanjut ibu Faris. "Di saat banyak orang yang berebut perhatian Mama kamu, dia malah tertarik sama satu orang yang paling kalem."
"Papa?" Tebak Tya.
Ibu Faris tersenyum hangat. "Iya. Papa kamu dari dulu memang pendiam. Gak banyak bicara, gak suka cari perhatian, tapi selalu tulus."
Tanpa sadar, Tya terkekeh pelan membayangkan kisah itu. "Lucu juga, ya," gumamnya.
"Iya," ibu Faris ikut tertawa kecil. "Mama kamu sering kelihatan galak sama orang lain. Tapi begitu ketemu Papa kamu, malah jauh lebih lembut."
Tya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Mama waktu SMA ternyata galak juga ya, Tante?"
Ibu Faris tersenyum semakin lebar. Jemarinya bergerak pelan, menyelipkan beberapa helai rambut Tya yang jatuh di pipinya ke belakang telinga. "Iya. Mama kamu itu galaknya luar biasa." Ujarnya.
"Dulu, kalau ada cowok yang iseng gangguin atau sok akrab, wah... Siap-siap aja kena omel," lanjut ibu Faris sambil menggeleng pelan, seolah kembali mengingat masa-masa itu. "Bahkan pernah ada anak kelas sebelah yang nekat nembak Mama kamu di depan kelas."
"Terus, gimana Tante?" Tanya Tya penasaran.
"Mama kamu cuma jawab singkat," sudut bibir ibu Faris kembali terangkat. "Maaf, saya sekolah buat belajar, bukan pacaran."
Tya spontan menutup mulutnya, menahan tawa. "Ya Allah..." Gumamnya sambil terkekeh. "Mama tegas banget."
"Makanya banyak yang mundur sebelum sempat mendekat," ujar ibu Faris dengan tawa kecil. "Padahal yang suka sama Mama kamu banyak."
"Lalu Papa?" Tanya Tya pelan.
"Nah..." Ibu Faris tersenyum penuh arti. "Papa kamu justru beda. Orangnya kalem, gak pernah ikut-ikutan cari perhatian."
Tatapan ibu Faris kembali menerawang sesaat, mengenang masa lalu. "Mungkin justru karena itu, Mama kamu jadi tertarik. Papa kamu gak pernah memaksa, gak pernah mengejar dengan cara yang berlebihan. Mereka dekat pelan-pelan, sampai akhirnya saling jatuh hati."
Tya terdiam sambil tersenyum kecil. Entah mengapa, membayangkan kedua orang tuanya saat masih SMA membuat dadanya terasa sedikit lebih hangat.
Tya kembali menoleh. Rasa penasarannya semakin besar setelah mendengar cerita-cerita masa sekolah ibunya. "Tante," panggilnya pelan. "Tante sama Mama udah sahabatan lama?"
Ibu Faris mengangguk tanpa ragu. "Lama sekali, sayang," jawabnya lembut. "Bahkan dari SMP."
Mata Tya sedikit membulat, "Dari SMP?"
Ibu Faris tersenyum, "Iya. Waktu pertama kali masuk sekolah, kami duduk sebangku. Dari situ Mama dan Mama kamu mulai akrab." Ujarnya. "Sejak saat itu, kami hampir selalu bersama. SMP bareng, SMA bareng, sampai akhirnya sama-sama kuliah di kota yang sama."
Ibu Faris menatap langit-langit sekilas, menahan rasa rindu dan juga haru. Lalu, ia kembali menatap Tya. "Persahabatan kami sudah berjalan puluhan tahun. Jadi buat Mama, Mama kamu bukan cuma sahabat." Ia tersenyum hangat. "Dia sudah seperti saudara Mama sendiri."
Senyum hangat tak pernah lepas dari bibir ibu Faris. Dengan lembut, ia mengangkat satu tangan lalu mencolek hidung putri sahabatnya itu sekilas.
"Dan kamu," ujar ibu Faris lirih. Tya mendongak pelan, menatap wanita di sampingnya. Ibu Faris mengusap pelan pipi Tya sebelum kembali berujar. "Udah Mama anggap sebagai anak Mama sendiri."
Kalimat sederhana itu membuat Tya terdiam. Dadanya seakan menghangat dalam sekejap. Ada sesuatu yang terasa sesak sekaligus nyaman di saat yang bersamaan.
Sejak kepergian ibunya, Tya kembali merasakan kehangatan seorang ibu yang begitu tulus. Tanpa sadar, kedua matanya kembali berkaca-kaca. Bibirnya bergetar tipis, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
"Terima kasih, Tante," ujar Tya lirih.
Ibu Faris menggeleng pelan. "Tidak usah terima kasih," jemarinya kembali mengusap lembut pucuk kepala Tya. "Mulai sekarang, anggap rumah ini rumah kamu juga. Kamu gak sendirian lagi, sayang."
Setetes air mata akhirnya jatuh tanpa mampu Tya tahan lagi. Ia segera mengangkat tangan, buru-buru mengusap pipinya seolah tak ingin terlihat menangis. Namun, semakin berusaha ditahan, matanya justru semakin berkaca-kaca.
Dengan bibir yang sedikit bergetar, Tya menatap ibu Faris penuh keraguan. "Tante," panggilnya lirih.
"Iya, sayang?"
Tya menundukkan kepala sesaat sebelum akhirnya kembali mengangkat wajahnya. "Tya..." Suaranya nyaris berbisik. "Tya boleh peluk Tante, gak?"
Mata ibu Faris langsung melembut. Senyum hangat kembali menghiasi wajahnya. "Tentu saja boleh, sayang."
Belum sempat wanita itu berkata lebih banyak, Tya sudah lebih dulu menghambur ke dalam pelukannya. Ibu Faris langsung membalas pelukan itu dengan erat, namun lembut. Salah satu tangannya mengusap perlahan punggung Tya, sementara tangan lainnya membelai rambut gadis itu penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa," bisik ibu Faris lembut. "Menangislah kalau memang itu yang membuat hati Tya lebih lega. Mama di sini."
Air mata Tya kini mengalir tanpa lagi berusaha disembunyikan. Untuk pertama kalinya sejak kepergian sang ibu, ia membiarkan dirinya larut dalam kerinduan yang selama ini terus dipendam.
Pelukan hangat itu memang tidak akan pernah bisa menggantikan pelukan ibunya. Namun, kelembutan yang diberikan ibu Faris sedikit demi sedikit mampu mengobati rasa rindu yang selama ini memenuhi hatinya. Setidaknya, di pelukan itu, Tya kembali merasakan kehangatan seorang ibu yang begitu ia rindukan.
Tya masih terdiam dalam pelukan hangat itu. Perlahan, tangisnya mulai mereda, menyisakan sesegukan kecil yang sesekali masih terdengar.
Di sela keheningan, Tya menyadari satu hal. Tidak semua kehilangan harus diakhiri dengan kesepian.
Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan sosok almarhumah ibunya di dalam hati Tya. Dan memang, tidak seharusnya ada yang menggantikan.
Namun, kasih sayang tidak selalu hadir untuk mengganti. Terkadang, ia datang hanya untuk menemani, menguatkan, dan mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan.
Malam itu, di dalam pelukan ibu Faris, Tya kembali merasakan hangatnya kasih seorang ibu. Tak harus menggantikan, tetapi cukup membuatnya merasa tidak sendirian lagi.
^^^Bersambung...^^^