Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
Sore itu, pasar induk perlahan berganti suasana. Sinar matahari senja menyiram jalanan aspal di pinggiran pasar yang penuh dengan genangan air dan tumpukan sampah sisa sayuran. Bumi berdiri di dekat pos blok barat, meraba kantong celananya yang terasa agak tebal. Uang hasil kerja panggul borongan dari semalam bersama Mandor Badrun dan upah kerja rodi dari pagi sampai sore ini bersama Kang Bendot terkumpul jadi satu.
"Bum, lu gak langsung balik ke emperan ruko yang semalam?" tanya Kang Bendot sambil membenarkan posisi handuk kecil di lehernya, bersiap-siap mau pulang.
Bumi menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Gak, Kang. Alhamdulillah, setelah saya hitung-hitung, uang upah dari semalam sama sore ini kayaknya udah cukup buat bayar sewa kontrakan atau kosan murah bulanan di sekitar sini. Setidaknya, malam ini saya gak mau tidur di alam terbuka lagi, Kang. Kasihan badan saya, luka memarnya masih agak linu kalau kena angin malam."
"Wah, syukur kalau begitu, Bum! Keputusan bagus," sahut Kang Bendot ikut senang. "Kebetulan gua tahu ada area pemukiman padat di belakang pasar. Di sana banyak kamar kos petakan yang murah, emang khusus buat kuli-kuli pasar kayak kita. Mau gua anterin kesana?"
"Gak usah, Kang. Akang kan udah capek seharian bantu saya. Biar saya cari sendiri aja ke belakang, sekalian saya mau lihat-lihat suasananya," tolak Bumi dengan halus agar tidak merepotkan seniornya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu masuk aja lewat gang di samping gudang beras itu, jalan terus ke dalam sampai ketemu jembatan kecil. Di situ banyak plang 'Terima Kos'. Cari yang sesuai kantongmu aja, Bum," pesan Kang Bendot.
"Siap, Kang Bendot. Makasih banyak ya buat hari ini."
Bumi berjalan memanggul tas karung goninya menuju gang sempit yang ditunjukkan oleh Kang Bendot. Semakin masuk ke dalam, suasana berubah menjadi sangat padat dan pengap. Rumah-rumah semi permanen berdiri berhimpitan, dipisahkan oleh saluran air got hitam yang baunya cukup menyengat. Namun bagi Bumi, lingkungan seperti ini jauh lebih baik daripada harus menggelandang di emperan toko tanpa perlindungan.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit dan bertanya ke beberapa warga, Bumi berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang dindingnya terbuat dari triplek dan semen yang tampak kusam. Di depannya tertera tulisan luntur menggunakan spidol: 'Kos Murah Harian/Bulanan'.
Seorang ibu paruh baya dengan daster batik yang sedang menggoreng bakwan di teras depan menoleh ke arah Bumi. "Cari apa, Mas? Mau nyari kamar?"
"Eh, iya, Ibu. Selamat sore. Apa di sini masih ada kamar kos petak yang kosong?" tanya Bumi dengan sangat sopan sambil mengangguk kecil.
"Ada, tinggal satu di pojok bawah dekat kamar mandi umum. Mau lihat dulu?" tanya ibu kos yang bernama Mak Surti tersebut.
"Boleh, Bu. Kalau boleh tahu, harganya berapa ya sebulannya?"
"Di sini paling murah, Mas. Buat kamar petak yang kosong itu tiga ratus ribu sebulan. Tapi kosongan ya, gak ada kasur, gak ada lemari. Cuma ruangan aja. Kamar mandi di luar gantian sama yang lain. Air sumur lancar," jelas Mak Surti sambil mematikan kompornya dan mengambil seikat kunci.
Bumi menghitung uang di kantongnya dalam hati. Setelah dikurangi tiga ratus ribu, uangnya hanya akan tersisa sedikit sekali, hampir habis hanya untuk membayar sewa tempat ini. Tapi Bumi tahu, memiliki tempat tinggal adalah prioritas utamanya sekarang.
"Boleh saya lihat kamarnya dulu, Bu?"
"Ayo ikut saya."
Mak Surti mengantar Bumi menyusuri lorong sempit yang remang-remang. Bau lembap langsung tercium begitu Mak Surti membuka sebuah pintu kayu triplek di pojok lorong.
Cklek.
Bumi melongokkan kepalanya ke dalam. Ruangan itu benar-benar sebuah kamar kos petak yang sangat sempit, ukurannya mungkin hanya dua kali dua meter. Dindingnya berupa semen retak-retak yang sebagian sudah berjamur, dan lantainya hanya berupa plesteran semen kasar tanpa ubin atau tegel. Di sudut atas ada sebuah lampu bohlam kuning kecil yang berdebu. Kamar itu tampak sangat kumuh dan pengap.
"Gimana? Namanya juga kos murah pinggiran pasar, Mas. Ya kondisinya begini seadanya. Tapi atapnya gak bocor kok, aman kalau hujan," kata Mak Surti, agak cemas kalau anak muda di depannya ini bakal menolak karena kondisinya yang kurang layak.
Bumi justru tersenyum lebar, matanya memancarkan rasa lega yang teramat sangat. Bagi orang yang gubuknya baru saja dibakar dan sempat tidur berdesakan dengan pengemis, kamar sekecil dan sekumuh ini sudah terasa seperti istana pribadi yang aman. Di sini, ia memiliki privasi dan pintu yang bisa dikunci dari dalam.
"Saya suka, Bu. Pas banget sama modal saya. Ini uang sewanya tiga ratus ribu rupiah untuk bulan pertama, saya bayar tunai sekarang ya, Bu," ucap Bumi sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertasnya yang lecek hasil kerjanya tadi.
Mak Surti menerima uang itu dengan wajah semringah. "Wah, lancar bener. Ya sudah, ini kuncinya ya, Mas. Nama kamu siapa?"
"Bumi, Bu."
"Oke, Bumi. Mulai sore ini kamar ini resmi jadi milikmu. Kalau ada apa-apa, kamar saya ada di depan dekat gerbang ya. Selamat istirahat."
"Terima kasih banyak, Bu Surti."
Setelah Mak Surti pergi, Bumi melangkah masuk ke dalam kamar petak pertamanya di ibu kota. Ia menutup pintu kayu itu perlahan lalu menguncinya dari dalam. Bumi meletakkan tas karung goninya di pojok ruangan. Tubuhnya yang lelah langsung direbahkan di atas lantai semen yang dingin tanpa alas apa pun.
"Alhamdulillah... akhirnya gua punya tempat berteduh juga," bisik Bumi pada langit-langit kamar, matanya menatap bohlam kuning yang menyala temaram.
Bumi memejamkan matanya sejenak, meluruskan kaki dan punggungnya yang terasa remuk setelah seharian penuh memanggul keranjang sawi seberat puluhan kilo. Rasa kantuk sempat menyerangnya karena kelelahan yang luar biasa. Namun, setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit, Bumi kembali terduduk. Ia merogoh sisa uang di dalam kantong celananya.
"Waduh... sisa uang gua tinggal lima belas ribu lagi," gumam Bumi, menatap tiga lembar uang lima ribuan di telapak tangannya.
Uangnya benar-benar hampir habis dipakai untuk membayar sewa kosan murah tadi. Uang dari Mak Sumi sengaja tidak ia sentuh sama sekali karena itu adalah dana darurat yang tidak boleh diganggu. Dengan uang lima belas ribu, paling-paling ia hanya bisa bertahan untuk makan malam ini dan sarapan besok pagi. Setelah itu, ia tidak akan punya uang lagi untuk membeli makanan esok harinya.
Bumi menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya agar kembali segar. Sifat pantang menyerah dan ketekunannya kembali bangkit. "Gak boleh malas-malasan. Gua gak bisa santai-santai di dalam kamar ini sekarang. Gua harus balik lagi ke pasar, nyari Mandor Badrun buat minta kerjaan bongkar muatan truk malam ini. Gua butuh uang buat makan besok-besok."
Bumi berdiri, merapikan baju lusuhnya, dan mengambil kunci kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat ketika Bumi kembali berjalan menyusuri lorong kosan menuju arah pasar induk yang mulai ramai kembali oleh kedatangan truk-truk besar dari luar kota.
Sesampainya di gudang 'Sinar Jaya', Bumi melihat suasana sudah sangat sibuk. Beberapa truk fuso bermuatan penuh sudah berbaris antre. Di dekat meja kayu tinggi, Mandor Badrun tampak sedang meneriaki beberapa kuli panggul yang gerakannya lambat.
"Bang Badrun! Selamat malam, Bang!" sapa Bumi setengah berteriak di tengah kebisingan knalpot truk.
Mandor Badrun menoleh, lalu tersenyum tipis saat melihat Bumi. "Eh, Bumi! Datang juga lu akhirnya. Gua pikir lu gak bakal kuat kerja lagi malam ini setelah lu bantuin blok barat tadi siang. Gua dengar dari Bendot lu ikut timnya ya siang tadi?"
"Iya, Bang. Lumayan buat nambah-nambah. Kebetulan saya sudah dapat kamar kos murah di belakang pasar, Bang. Tapi uangnya pas-pasan banget langsung habis buat bayar sewa, makanya malam ini saya ke sini lagi mau minta kerjaan biar bisa buat makan besok," tutur Bumi jujur tanpa gengsi.
Mandor Badrun terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lu bener-bener gila kerja ya, Bum. Gak ada capeknya. Tapi bagus, gua suka karakter kuli yang kayak kamu, gak manja dan tahu kebutuhan hidup. Tuh, lihat truk nomor dua di depan, muatannya kentang dari Dieng. Baru aja sampai. Kuli panggulnya kurang satu orang. Kamu langsung masuk tim sana ya!"
Bumi langsung membungkuk hormat dengan mata berbinar-binar gembira. "Siap, Bang Badrun! Terima kasih banyak atas kerjasamanya. Saya langsung ke sana sekarang!"
Bumi berlari kecil menuju bak truk fuso yang ditunjuk oleh Mandor Badrun. Di bawah temaram lampu pasar induk dan kepulan asap knalpot, Bumi kembali memulai perjuangannya. Mengabaikan rasa sakit dan lelah di sekujur tubuhnya, ia mulai memanggul karung-karung kentang yang berat dengan penuh semangat, demi menyambung hidup dan mengisi kembali dompetnya yang kosong di kota perantauan.