Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Kesetiaan
"Adik, pakai kain basah ini untuk menutupi mulutmu," ucap Wen Xie dengan sigap. Ia segera membasahi saputangannya dengan air persediaan, lalu memberikannya kepadaku agar kami terhindar dari menghirup kabut beracun yang mulai memekat.
"Baik, Kakak," jawabku patuh. Aku segera melakukan hal yang sama seperti yang diajarkan Wen Xie.
Di tengah kabut yang menyesakkan, aku mengamati sekeliling dengan tajam. "Kakak, mari kita cari sumber utama kabut ini. Sepertinya kabut ini berasal dari tempat di mana Bunga Teratai Salju itu berada," bisikku.
Kami pun bergerak maju dengan hati-hati. Aku mengikuti arah asal kemunculan kabut beracun itu, sementara Wen Xie berada di depan, melindungiku dengan tubuhnya sambil terus menutup wajahnya rapat-rapat. Tak lama kemudian, kami menemukan sebuah lubang besar di balik tebing yang tertutup kabut tebal.
"Adik, di sana ada sebuah gua. Hati-hati, biar Kakak yang pergi memeriksanya," ujar Wen Xie dengan nada protektif.
"Hati-hati, Kak," balasku cemas, yang diangguki dengan tegas oleh Wen Xie sebelum ia menghilang ditelan kegelapan gua.
Setengah jam berlalu, namun Wen Xie belum juga kembali. Aku berdiri terpaku di luar gua, menahan napas dan detak jantung yang berpacu hebat karena khawatir. Waktu terasa seolah berhenti. Namun tak lama kemudian, sesosok tubuh muncul dari balik kabut.
Itu Wen Xie. Dia kembali, namun pemandangan di depannya membuat lututku lemas. Di tangannya, ia memegang Bunga Teratai Salju yang bercahaya, namun tubuhnya sendiri bersimbah darah dengan luka-luka parah yang menganga.
"Kakak! Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku? Kau bodoh sekali! Aku baru saja mengangkatmu sebagai kakakku!" tangisku pecah, melihatnya yang sudah hampir tidak sadarkan diri di depanku.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Wen Xie menatapku dengan senyum tipis yang getir. "Aku... tidak apa-apa, Tuan Putri," ucapnya pelan, sebelum akhirnya tubuhnya terkulai jatuh dan ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Aku menulis alur ini, tapi kenapa justru tokoh lain yang menggantikanku untuk terluka parah? batinku cemas sekaligus merasa bersalah melihat Wen Xie yang terkapar tak berdaya.
Dengan sisa tenagaku, aku mengangkat tubuh Wen Xie sekuat tenaga dan meletakkannya di dekat sebuah pohon besar agar ia bisa bersandar dengan nyaman.
"Berat sekali, aduh... pinggangku!" keluhku sambil memegangi pinggang yang terasa hampir patah.
Di tengah lembah pegunungan yang membeku, aku segera berusaha menghidupkan api unggun untuk menghangatkan tubuh Wen Xie agar ia tidak terkena hipotermia. Sambil menunggunya sadar, aku dengan telaten mengambil obat-obatan yang kubawa untuk membersihkan dan membalut luka-lukanya.
"Setidaknya kau selamat, meski kau agak bodoh," ocehku sambil terus mengobati lukanya. "Sudah tahu di dalam sana berbahaya, justru kau masuk sendirian. Lihatlah, sekarang aku yang harus bersusah payah mengurusmu."
Ternyata, suara ocehanku terdengar oleh Wen Xie yang perlahan mulai membuka matanya.
"Adik... setidaknya aku berguna," ucap Wen Xie dengan suara parau sambil meringis menahan sakit yang masih mendera tubuhnya. "Jenderal menyuruhku untuk menjagamu, jadi ini sudah menjadi tugasku."
Melihat matanya yang terbuka, rasa legaku memuncak. "Kakak! Kau sudah sadar? Syukurlah, aku benar-benar mengira kau akan mati di sini tadi!" seruku lega.
Mendengar ucapanku yang terdengar kasar namun sebenarnya penuh perhatian itu, Wen Xie hanya bisa tertawa masam. Dia tahu, meski kata-kataku terdengar blak-blakan, itulah cara unikku untuk mengungkapkan betapa pedulinya aku pada keselamatan kakak angkatku yang keras kepala ini.
"Kalau aku mati sia-sia saja Jenderal Hou merawatku dari kecil," ucap Wen Xie pelan, masih menahan rasa sakit.
Mendengar itu, aku terdiam. Benar juga, batinku. Wen Xie sudah seperti saudara bagi Hou Juntian. Kalau dia mati, sudah pasti Hou Juntian akan kembali menjadi pria yang kejam dan tertutup. Aku baru saja teringat fakta penting bahwa hubungan mereka adalah ikatan saudara sehidup semati.
"Kakak, makan ini," kataku sambil menyodorkan makanan. "Kebetulan aku membeli mantou sebelum sampai ke sini, jadi aku tidak khawatir kita akan kelaparan."
Wen Xie menerimanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Terima kasih, Adik. Adik, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tanya saja, Kak. Aku akan menjawabnya," jawabku berusaha tampak santai.
"Apa kau sudah jatuh cinta pada Jenderal Hou?" tanyanya tiba-tiba. "Aku hanya bertanya karena seingatku kalian pernah bertemu sekali di istana, dan sejak saat itu, Jenderal Hou selalu memperlihatkan perhatian yang lebih padamu."
Pertanyaan itu membuatku tertegun. Ternyata Hou Juntian sudah menyimpan rasa lebih dulu pada pemilik tubuh asli ini, pikirku. Namun, di balik itu, aku menyadari satu hal yang membuatku cemas: aku sendiri bahkan belum menyelesaikan alur cerita ini. Bahkan misteri tentang kematian Tang Anning yang asli di malam pernikahannya saja masih menjadi teka-teki besar yang belum terpecahkan.
Aku, Anna dari dunia modern yang kini terjebak dalam tubuh Tang Anning, hanya bisa menatap api unggun dengan pikiran yang melayang, mencoba mencari jawaban atas perasaan yang rumit di tengah alur cerita yang tak terduga ini.
"Kakak, rasa cinta itu akan tumbuh di mana kedua sisi saling melindungi, memperjuangkan tanpa bertanya 'apakah aku mencintainya', tapi dari kebersamaan suka duka itu sudah pasti dinamakan cinta tanpa memandang waktu. Jadi jawabanku tentu saja aku mencintai ketiga suamiku," ucapku dengan jelas dan tersenyum tipis.
Mendengar jawabanku, Wen Xie terdiam. Dalam hatinya ia berteriak, "Tidak kusangka Putri Tang Zhen memang sesuai dengan gelarnya; baik hati, cerdik, dan dewasa. Jenderal Anda memang memilih istri yang sempurna, dan aku sebagai kakak angkat sudah pasti beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Putri Jenderal Utama."
Melihat Wen Xie yang melamun, aku pun mencoba mencairkan suasana. "Kakak, kau melamun. Besok kita kembali ke kota, semoga saja tidak ada rintangan lagi, aku sudah lelah," ucapku.
Wen Xie tersadar dari lamunannya. "Adik, istirahatlah. Kakak sudah mengirim surat ke Jenderal, jika penawar racun Tuan Muda Mo sudah ketemu, maka kita akan segera kembali."
"Terima kasih, Kakakku yang baik," jawabku. Aku tersenyum di balik cadar tipisku. Mempunyai seorang kakak yang baik dan bisa diandalkan seperti Wen Xie benar-benar adalah sebuah keberuntungan besar bagiku di dunia ini.
Malam itu, di saat kami beristirahat di perkemahan, di sisi lain, malam yang panjang dan sunyi menyelimuti kediaman Jianwu. Di sana, tiga pemuda—Hou Juntian, Mo Jiu, dan Putra Mahkota—sedang terjaga, mendiskusikan sesuatu yang sangat serius terkait nasib dan masa depan yang akan segera berubah.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸