Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI PASAR GELAP
Langkah kaki Zei dan A-Lang membawa mereka turun menembus labirin tangga batu yang menuju ke perut bumi distrik barat. Jika bagian atas Ibu Kota Wilayah adalah perwujudan dari kemegahan dan kemurnian, maka Distrik Bawah Tanah ini adalah manifestasi dari pembusukan moral yang pekat. Udara di sini terasa sangat pengap, berbau mesiu, arak murahan, dan karat besi. Obor-obor minyak yang dipasang di dinding gua memancarkan cahaya remang-remang yang bergoyang, melemparkan bayangan distorsi dari para kultivator aliran hitam, buronan, dan bandit yang berlalu-lalang dengan wajah tertutup topeng atau tudung jubah.
Zei berjalan dengan kepala tertunduk di balik jubah hitam longgarnya. Di bawah jubah tersebut, ia mengaktifkan Transformasi Kulit Kuarsa pada tingkat dasar. Teknik ini secara magis menekan getaran Qi buminya yang murni, mengubahnya menjadi aliran energi yang terasa tumpul dan kasar, persis seperti aura para kultivator bayaran kelas rendah yang banyak berkeliaran di tempat ini. Di sampingnya, A-Lang melangkah tanpa suara, kedua tangannya tersembunyi di balik lengan baju, mencengkeram botol-botol kecil berisi ekstrak racun pelunak meridian yang ia racik dari esensi kayu ular.
Menggunakan koin spiritual tingkat rendah yang diberikan Lin Xiao sebagai biaya masuk, keduanya berhasil melewati penjaga kekar di depan pintu besi tebal dan menyelinap ke dalam Aula Tengkorak Hitam. Aula lelang bawah tanah ini berbentuk teater melingkar yang gelap. Zei dan A-Lang sengaja memilih barisan kursi paling belakang yang tertutup bayangan pilar batu besar.
Di panggung utama yang diterangi formasi batu cahaya, seorang juru lelang bertubuh tambun dengan pakaian bersulam lambang Sekte Taring Emas mulai memamerkan barang-barang jarahan.
"Barang berikutnya!" seru sang juru lelang dengan nada merendahkan. "Paket alat pertanian besi kuno dan kotak obat dari sebuah desa lumpur di perbatasan. Meskipun tampak seperti rongsokan, besi-besi tua ini mengandung serat baja spiritual tersembunyi, dan kotak kayu ini berisi resep obat penahan darah milik tabib desa mereka. Harga pembuka: seratus koin emas!"
Melihat cangkul tua milik mendiang paman desa dan kotak obat milik tabib yang dulu sering mengobati luka-lukanya dipamerkan sebagai barang jarahan murahan, rahang Zei mengencang di balik tudung hitamnya. Di barisan kursi VVIP terdepan, tampak duduk seorang pemuda jangkung berjubah kuning emas mewah dengan lambang taring yang berkilau. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang pendek bersarung kulit ular.
"Itu Guo Lei," bisik A-Lang, matanya berkilat kebencian. "Murid elit luar Sekte Taring Emas. Dia yang memimpin unit logistik pembersihan wilayah luar."
Zei menepuk pundak A-Lang pelan, memberikan kode gaib. "Tahan dirimu. Lakukan sesuai rencana. Jangan biarkan barang-barang desa kita hancur dalam perebutan frontal."
A-Lang mengangguk pelan. Mengandalkan tubuhnya yang kini sangat ringan dan gesit, ia menyelinap mundur dari kursinya, memanfaatkan kegelapan aula untuk menuju ke ruang penyimpanan logistik dan ruang formasi di belakang panggung.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, menggunakan pengetahuan tanaman obat yang dipadukan dengan getaran Qi kayu tersembunyi, A-Lang berhasil meneteskan racun pelunak meridian ke dalam tong arak para penjaga, sekaligus memutus kabel-kabel formasi spiritual pengingat darurat menggunakan getah tanaman pelunak batu yang ia bawa.
Melihat sinyal ketukan tiga kali di dinding batu dari A-Lang, Zei yang berada di kursi belakang langsung bertindak. Ia mengalirkan Qi buminya secara terbalik, mengarahkannya menembus lantai batu aula langsung menuju ke bawah panggung lelang.
CRACKKK!
Lantai panggung utama tiba-tiba retak besar. Efek pembalikan energi bumi itu menciptakan ilusi seolah-olah formasi pelindung bawah tanah aula runtuh akibat gempa bumi rahasia.
"Ada apa ini?! Formasinya tidak stabil!"
"Seseorang menyerang gerbang bawah tanah!"
Kepanikan massal seketika meledak di dalam aula yang gelap. Para pembeli aliran hitam yang sangat protektif terhadap nyawa mereka langsung bangkit dan berlari berdesakan menuju pintu keluar. Para penjaga Taring Emas mencoba mengaktifkan formasi darurat, namun sistem tersebut mati total akibat sabotase A-Lang. Ditambah lagi, beberapa penjaga mulai tumbang berlutut sambil memegang leher mereka karena efek racun dalam arak yang mereka minum.
Di tengah kekacauan debu yang beterbangan, sebuah bayangan hitam melesat secepat kilat menuruni tangga teater. Zei melompat ke atas panggung yang retak, tangannya yang terbungkus Sarung Tangan Penghancur Gunung bergerak secepat sambaran petir, menyambar kotak kayu obat desa dan kantong spasial berisi alat-alat besi peninggalan desanya dari atas meja lelang.
"Penyusup berani mati!" sebuah raungan murka bergema dari arah depan.
Guo Lei, yang sejak awal tidak ikut panik, menyadari bahwa retaknya panggung adalah ulah manusia. Dengan kecepatan seorang kultivator tingkat menengah, ia menghunuskan pedang pendek beracunnya yang memancarkan pendaran energi logam kuning yang sangat tajam. Bilah pedang itu melesat lurus, mengunci titik fatal di tenggorokan Zei.
Ini adalah pertama kalinya Zei berhadapan dengan niat membunuh yang murni dari seorang kultivator elit, dan ini adalah pertama kalinya ia harus bertarung untuk merenggut nyawa orang lain, bukan lagi sekadar bertahan hidup atau melarikan diri. Tidak ada ketakutan di dalam hatinya; yang ada hanyalah dinginnya dendam darah puluhan penduduk desanya yang menuntut keadilan.
Zei tidak menghindar. Ia membiarkan pedang pendek Guo Lei menusuk lurus ke arah dadanya.
TINGGG!
Suara benturan logam bergema nyaring. Ujung pedang pendek Guo Lei tertahan mutlak tepat di atas kulit jubah rami Zei yang robek, memercikkan bunga api kecil. Transformasi Kulit Kuarsa milik Zei telah membuat lapisan kulit luarnya sekeras dinding batu gunung sejati. Pedang logam Guo Lei bahkan tidak mampu menggoresnya.
"Apa?! Kulit macam apa ini?!" Guo Lei terbelalak panik, wajahnya memucat seketika saat menyadari serangannya tidak berdampak apa pun.
Zei tidak memberikan waktu bagi lawannya untuk menarik napas. Tangan kanannya yang terbungkus besi hitam legam melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan Guo Lei yang memegang pedang dengan kekuatan yang mampu meremukkan batu.
KREKTRKK!
"AAAKKKKH!" Guo Lei menjerit histeris saat tulang pergelangan tangannya seketika hancur lebur di bawah cengkeraman sarung tangan gravitasi Zei. Pedang pendeknya jatuh berdentang di atas lantai.
Sebelum jeritan Guo Lei berakhir, Zei memutar tubuhnya, menarik kepalan tangan kirinya ke belakang, memusatkan seluruh sisa amarah dan kompresi energi Kitab Sembilan Transformasi ke dalam satu pukulan pamungkas.
"Ini untuk setiap darah di desaku," bisik Zei, suaranya sedingin liang kubur.
TINJU MEMBAJAK BUMI!
BOOMMMMM!
Pukulan telak itu menghantam tepat di tengah dada Guo Lei. Kekuatan pelipatan ganda massa dari sarung tangan spiritual dikombinasikan dengan kepadatan Qi bumi murni meledak di dalam tubuh murid elit tersebut. Zirah pelindung bagian dalam Guo Lei hancur berkeping-keping. Gelombang getaran bumi merembes masuk, menghancurkan seluruh jantung, paru-paru, dan jalur meridian di dalam tubuhnya dalam sekejap mata.
Guo Lei terlempar ke udara, matanya melotot kosong tanpa kehidupan sebelum akhirnya menghantam dinding batu aula dengan keras dan merosot turun sebagai mayat yang terbujur kaku.
Zei berdiri terpaku di tengah debu, napasnya memburu samar. Di tangannya, untuk pertama kalinya, ada darah manusia yang menempel di atas besi hitam sarung tangannya. Perasaan ganjil sempat melintas di benaknya, namun saat menatap kotak obat desanya di tangan yang lain, hatinya kembali mengeras bagai batu karang. Ini adalah pembunuhan pertamanya, dan ia tahu, ini bukanlah yang terakhir.
A-Lang melompat turun dari langit-langit panggung, wajahnya pucat setelah melihat mayat Guo Lei, namun ia dengan cepat menggeledah kantong spasial di pinggang mayat tersebut untuk mengambil seluruh lencana dan koin spiritual milik korban.
"Zei, kapten penjaga luar mulai bergerak kemari! Kita harus pergi sekarang!" seru A-Lang tegas.
Zei mengangguk, menyampirkan kotak obat desanya ke punggung, lalu melompat bersama A-Lang ke dalam celah terowongan pembuangan bawah tanah yang gelap, menghilang bersamaan dengan datangnya pasukan besar Sekte Taring Emas yang histeris menemukan mayat murid elit mereka telah terbujur kaku. Badai pertama di Ibu Kota Wilayah telah resmi ditiupkan oleh sang anak desa.