Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Menuju Dunia Luar
WUSH!
Langkah kaki Shen Yu bergetar halus saat ia menginjakkan kakinya keluar dari lorong celah dimensi ruang. Udara di tempat ini sama sekali berbeda dengan kestabilan Aula Warisan yang sunyi—di sini, energi spiritual makro terasa begitu pekat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke dasar meridian.
Di hadapannya, membentang hamparan Pegunungan Awan Kelabu yang teramat megah. Puncak-puncak batu cadasnya menjulang tinggi menembus lautan kabut awan yang membentang tanpa tepi. Di kejauhan, puncak tertinggi pegunungan tersebut menampung deretan istana bersudut emas melayang—Akademi Langit Timur, benteng kultivasi penguasa wilayah.
"Inilah tempatnya," ujar Mo Chen, pemuda misterius bertopeng perak utusan sang Ibu, seraya menyembunyikan batu giok komunikasinya ke dalam jubah jangkung. Matanya yang tajam menatap benteng melayang di kejauhan.
"Akademi ini didirikan oleh aliansi faksi besar untuk menampung para jenius terbaik dari ribuan wilayah. Namun, di balik kemegahannya, tempat ini tak ubahnya sarang intrik politik, manipulasi, dan keserakahan," tambah Mo Chen dingin.
Ling'er melangkah mendekati Shen Yu, menatap liontin giok bulan sabit di dadanya yang kini meredup kembali memancarkan warna merah hangat. "Shen Yu... apakah kau benar-benar telah siap? Begitu kau melangkahkan kaki ke sana, kau tidak hanya mencari keberadaan Bulu Phoenix, tetapi juga harus bertarung melawan para murid jenius yang disokong oleh sumber daya sekte raksasa."
Shen Yu membelai gagang Pedang Dewa Purba di pinggangnya. Tatapannya sedingin es abadi.
"Aku dibesarkan oleh hinaan, dan aku menempa jiwaku di bawah ancaman kematian," sahut Shen Yu tenang namun sarat akan ketegasan mutlak. "Para jenius berbaju sutra itu bertarung demi nama baik sekte mereka. Tapi aku... aku bertarung demi keselamatan ibuku!"
ROOOAAARRR!
Naga Dewa Purba, Long Tian, menyeringai lebar dari balik kesadaran Menara Dewa Kuno. Suara gemuruh gaungnya menggema di benak Shen Yu: "Bagus! Begitulah seharusnya karakter seorang Pewaris Puncak! Biarkan bocah-bocah mentah dari sekte besar itu tahu bagaimana rasanya berhadapan dengan murka naga sejati!"
Roh Menara yang melayang di samping Shen Yu memiringkan kepalanya. "Namun, kita harus tetap ekstra waspada. Identitasmu sebagai Pewaris Menara Dewa Kuno tidak boleh terbongkar di ujian awal ini. Penguasa Iblis Langit dan aliansi tiga Sekte Besar pasti telah menyebar mata-mata di perimeter Akademi Langit Timur."
Mo Chen mengangguk membenarkan. Tangannya Melemparkan sebuah jubah kain hitam polos sederhana kepada Shen Yu.
"Sembunyikan Pedang Dewa Purba dan Kunci Dunia ke dalam dimensi Menara. Untuk sementara, gunakan identitas sebagai kultivator bebas dari desa terpencil. Ujian penerimaan murid akan dimulai besok fajar di kaki Gunung Awan Kelabu."
Shen Yu menerima jubah tersebut dan mengenakannya. Dengan cepat, aura menekan yang melingkupi tubuhnya terkunci rapat di dalam dantian, membuatnya tampak tak ubahnya seorang pemuda pemburu biasa yang baru menembus ranah Pengumpulan Qi bawah.
Sore harinya, di Kota Awan Biru—kota megah yang terletak tepat di kaki Gunung Awan Kelabu.
Suasana kota sangat ramai dan bising. Ribuan pemuda dan pemudi bergaun mewah tampak lalu-lalang di sepanjang jalan utama. Kereta-kereta kuda bertatahkan permata yang ditarik oleh binatang spiritual tingkat tinggi berlomba-lomba memasuki penginapan terbaik. Mereka adalah para jenius dari klan-klan bangsawan yang datang untuk memperebutkan takhta murid akademi.
Saat Shen Yu, Ling'er, dan Mo Chen berjalan melintasi pasar kota, suara bisik-bisik arrogansi terdengar dari arah kedai megah di pinggir jalan utama.
"Lihat bocah bergaun hitam sederhana itu... Hahah! Dari mana asal sampah kerempeng itu? Bahkan tidak membawa pengawal satu pun!" cemooh seorang pemuda bersulam naga emas dari Sekte Pedang Petir.
"Paling hanya umpan meriam yang ingin mencoba keberuntungan. Dia pikir Akademi Langit Timur menampung gembel?" balas temannya seraya meletuskan tawa keras.
Shen Yu bahkan tidak menoleh. Ia terus melangkah dengan tenang, matanya menyapu setiap sudut kota untuk memetakan jalur dan posisi pengawasan.
Namun, tepat saat mereka hendak memasuki sebuah penginapan kecil di sudut kota...
BOOOOMMMM!!!!!
Sebuah gejolak aura racun yang mendidih membakar udara mendadak meledak hebat di tengah jalan utama!
Sebuah kereta kuda kayu cendana hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu yang beterbangan. Dari balik asap hijau yang membubung, seorang pria tua bertubuh bungkuk dari Sekte Racun Jiwa berdiri seraya tertawa menyeringai kejam.
Tangannya cemburu, mencengkeram erat leher seorang anak kecil yang memegang sehelai bulu burung berwarna merah menyala terang!
"Bulu Phoenix...!" bisik Mo Chen seketika, matanya melebar dalam keterkejutan mikro.
Shen Yu menghentikan langkah kakinya. Sepasang mata hitamnya menyipit tajam menembus asap racun. Ujian resmi belum lagi dimulai, namun pertumpahan darah demi keberadaan Bulu Phoenix pertama ternyata sudah meletus secara brutal tepat di depan matanya!