Wulandari Putri Amelia gadis 19 tahun kuliah jurusan ekonomi dan bisnis tetapi mati karena insiden longsor yang menewaskan seluruh keluarganya di desa, selain jurusan ekonomi dan bisnis Wulan adalah seorang yang hobi memasak makanan, apapun itu, seolah memasak adalah hiburan baginya.
Lalu? Bagaimana saat dirinya masuk ke dalam tubuh putri Duke yang hanya tinggal sendiri di tengah kota, sebab kedua orangtuanya telah menggial akibat serangan bandit saat akan pergi ke istana, maka dari itu dirinya yang hanya seorang putri tunggal terpaksa harus menggantikan tugas kedua orang tuanya, begitu sulit sehingga banyak terjadi penyuapan dan korupsi besar-besaran di wilayah yang dipimpin oleh mendiang ayahnya.
“Aduh, nasib-nasib, malah jadi yatim lagi!” dengus Wulan memandang tubuh gadis berusia 18 tahun ini. “Untung nih bocah umurnya udah 18 tahun, tapi …! Kenapa tubuh gue harus kek bocil kekurangan gizi anjir!” teriak Wulan merasa kesal setengah mati, ingin pingsan saja rasanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase
Malamnya Wulan terdiam memikirkan sesuatu. “Lebih sebulan di sini sepertinya ada yang gue lewatin deh!” pikirnya mengetuk-ngetuk dagunya sambil mondar-mandir.
“Kamar!” molongnya. “Yah, kamar kedua orangtuanya Athenia! Ck, kenapa gak dari dulu aja sih gue ingetnya kesana!” kesalnya lalu segera mengambil mantel miliknya, pergi keluar, di sepanjang lorong sebagian para prajurit berdiri berjaga memberi hormat padanya.
Sesampainya di depan pintu kamar kedua orangtuanya, Wulan hendak masuk tetapi keburu berhenti akibat tangan seseorang. “Apa yang kamu lakukan disini!?” tanyanya dengan nada datar seperti tak berperasaan.
Wulan menatap bingung. “Apa maksudmu Althan?” tanyanya.
“Khem, maksud saya, apa yang duchess lakukan di sini malam-malam?” tanyanya melepaskan pegangannya.
“Saya hanya kangen dengan kedua orangtuanya saya, jadi tolong menyingkirlah!?” titahnya kesal, hendak membuka pintu itu, tetapi terkunci. “Mana kuncinya?”
Althan memberikannya pada Wulan dengan raut wajah berat hati.
Wulan segera masuk lalu menguncinya dari dalam. “Kenapa pula dengan prajurit itu!?” dengusnya mulai menyalakan lentera sebagai penerangan, tampak ruangan tersebut cukup berdebu.
Dia menjelajah segala macam, seperti jurnal tentang wilayah Copatria dan berkas-berkas lainnya. “Duke Almod pernah membangun pabrik pertambangan tetapi naas semua pekerja di sana tewas dan para pihak keluarga korban menuntut balas?”
“Wah, ngeri! Lalu seorang pria datang dan terima dengan kerabatnya yang mati mengenaskan! Sekian tahun dan lamanya pria itu selalu menuntut balas pada keluarga duke Almod!”
“Apa mungkin pria ini yang melakukan penyerangan terhadap kastil beberapa hari lalu?” pikirnya. “Dugaan kuat sepertinya memang iya!” gumamnya yakin.
Beralih pada jurnal pribadi milik sang ayah, disana terdapat sebuah lukisan keluarga besar yang tertempel rapi dengan nama masing-masing, namun dengan wajah buram. Beralih lagi pada jurnal pribadi milik mendiang duchess Valerie Dominguez.
Di sana Wulan membaca kisah perjuangan sang duchess yang tengah mengandung dengan begitu banyak rintangan, mulai dari seorang nenek yang berkata. “Dia bukan anakmu!”
“Jika yang dikandungnya bukan anak mendiang duchess Valerie, lantas anak siapa? Masa iya kuyang!” kesalnya malah melawak di saat yang tidak kondusif.
Setelah pertemuanku dengan nenek itu, dari situlah ketenangan mulai datang, aku seperti berterimakasih dengan nenek itu, tetapi sayang aku tidak pernah menemukannya, makin hari, anak yang ku kandung lahir dengan selamat tanpa cacat sedikitpun bahkan dia sangat manis, tetapi yang membuatku heran adalah dia tak menangis sedikitpun, bahkan setelah beranjak remaja putriku terlihat begitu dingin bahkan tak suka bergaul dia tumbuh begitu angkuh, bahkan saat pengurus asrama memberitahuku, aku begitu terkejut saat mengetahui bahwa anakku tidak bisa menggunakan sihir seperti kebanyakan para remaja yang lain.
Apa penyebabnya?
“Pantas gue gak bisa sihir! Ternyata udah dari lahir!” gumamnya melirih. Wulan tak berselera seketika, niat hati membongkar semua berkas-berkas peninggalan semua orang tua Athenia tetapi nihil dirinya tak menemukan apapun!
Wulan menutup kasar semua jurnal itu lalu menyimpannya ke tempat yang semula, lalu pergi dari kamar tersebut tak lupa menguncinya kembali, saat ruangan itu benar-benar kosong.
“Sungguh sangat tidak peka sekali!”
.
.
Raja Damian dibuat kagum oleh kerja Wulan, para pedagang malam yang begitu tertib menutup warung mereka masing-masing dengan dibantu oleh para prajurit yang memantau mereka, pengawasan ronda pun dilakukan 24 jam secara bergantian.
“Apa kalian melakukan ini setiap saat?” tanya raja Damian yang kini sudah menyamar sebagai rakyat biasa, tetapi prajurit masih mengenalnya sebagai raja.
“Bisa dibilang seperti itu yang mulia, duchess menerapkannya beberapa bulan yang lalu,” jawabnya sopan.
“Kenapa? Bukannya bagus jika mereka berjualan hingga waktu yang mereka tentukan,” sahut Georgio tiba-tiba.
“Saya kurang tahu putra mahkota, tetapi duchess bilang ini untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan, seperti kelelahan dan pingsan tiba-tiba, duchess bilang dia ingin para warganya bisa hidup sehat dengan memiliki waktu tidur yang tepat.” Jelasnya membuat putra mahkota Georgio tercengang.
“Perhatian sekali!” gumamnya sedikit keras.
“Benar putra mahkota, bahkan ibu-ibu hamil begitu dihimbau oleh duchess, dia begitu baik dan murah hati, kami sangat senang atas perubahannya itu!”
.
.
Pagi harinya Wulan diberitahukan oleh Althan bahwa raja Damian bersinggah di sebuah penginapan tak begitu jauh dari kastil, Wulan mengangguk mengerti. “Kirimkan kotak ini sebagai tanda maaf karena aku tidak bisa menemuinya!” titahnya tanpa melirik kearah Althan yang membungkuk patuh.
Kali ini Wulan akan pergi berkunjung ke pembuatan baju zirah miliknya di samping kastil tak begitu jauh, setibanya di sana dirinya disambut baik.
Para pandai besi dan pembuat baju zirah beserta pembuat pedang dan sejenis pisau perang lainnya berkumpul. “Salam yang mulia duchess!” sambut sang ketua tersebut.
“Salam juga untukmu paman Hardin!” senyumnya. “Bagaimana sejauh ini, apakah ada kendala?” tanyanya.
“Semuanya baik-baik saja duchess, bahkan sebagian pembuatan sudah saya kirimkan seperti pedang dan baju zirah yang sudah terlapisi oleh sihir,” senyum paman Hardin tetapi tidak dengan Wulan.
“Apa maksudmu paman? Dikirimkan kepada siapa?” tanyanya bingung, setahunya dirinya tak pernah menerima pemberitahuan tersebut.
“Maksud duchess?” tanya paman Hardin ikut bingung. “Sebagian sudah saya kirimkan ke barak militer dan itu sudah mendapatkan persetujuan dari anda duchess,”
Wulan memijit pelipisnya pelan, sial siapa yang sudah berani menipunya seperti ini. “Kemari kan surat transaksi itu?” pintanya dengan suara tertahan menahan amarah.
Paman Hardin mengangguk lalu dengan cepat memberikan surat tersebut.
Ia membaca surat transaksi hasil persetujuan dirinya di sana dengan kesal, kapan semua ini terjadi? Apakah ada orang yang sudah menghipnotis dirinya sehingga dirinya bisa melakukan transaksi tersebut. “Ini penipuan! Beritahu aku siapa orang yang sudah berani memberikan surat palsu ini paman?” desaknya.
“Saya kurang tahu duchess, sebab yang datang mengantarkan surat tersebut oleh orang yang berbeda-beda,” jelasnya dengan nada gugup.
“Dengar! Jika ada orang yang datang mengantarkan surat transaksi lagi dengan orang yang berbeda jangan diterima, bilang saja bahwa produksi baju zirah kita sedang menipis, satu lagi waspadalah!” bisiknya melirik-lirik sekitarnya yang nampak normal.
Kini dirinya sadar, bahwa dirinya tak bisa berleha-leha enak di dunia aneh ini. “Aku terlalu menganggap remeh ternyata!” batinnya lalu pergi, dirinya akan pergi memeriksa ke barak militer untuk memastikan bahwa transaksi tersebut benar atau tidak, meskipun sudah tahu, tetapi dirinya ingin memastikan langsung.
Sesampainya di barak militer Wulan langsung pergi memeriksa gudang senjata dan lainnya, kata mereka yang berada di sana. “Saya mengira duchess hanya memberikan sebuah janji saja selama ini, kami selalu menantikan baju beserta senjata baru, tetapi tak pernah kesampaian hingga saat ini.”
“Hah, saya tak mau berbasa-basi tolong kirimkan surat untuk jenderal Gariel, agar beliau segera pulang! Ini bukan perkara main-main! Saya sangat dirugikan disini!” tukasnya dengan nada marah bercampur kesal. “Awas saja jika ketahuan akan ku sate mereka!” desisnya lalu pergi.
Pantas pemasukan dari baju zirah dan yang lain selalu menurun, ternyata sudah disabotase oleh seseorang. “Pantes hasilnya gak pernah naik, ternyata anjing-anjing kelaparan itu sedang menjilat hasil seseorang!” sinisnya tak tertolong, siapapun pasti akan merasakannya panasnya hati dan pikiran yang tak karuan jika dalam keadaan seperti itu.
.
.
apakah wulan mati .....
lanjutkan berkarya.nya
jadi bagaimana seharusnya si Wulan bertindak....