NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MILIK NAYLA

Kamar VIP Rumah Sakit Medika Jakarta pagi itu tampak jauh dari kesan hening. Jika biasanya kamar pasien adalah tempat untuk beristirahat dengan tenang, kamar nomor 301 ini justru terdengar seperti arena pasar malam. Adnan Hasyim terbaring dengan kaki kanan yang digips dan digantung, sementara di ranjang sebelahnya, Nayla Safira duduk bersila dengan lengan yang dibebat perban baru.

Nayla sudah terjaga sejak pukul lima pagi. Dua jam pertama ia habiskan dengan memutar-mutar kursi roda di sekitar ranjang Adnan sampai pria itu pusing. Satu jam berikutnya, ia mencoba membedah menu sarapan bubur rumah sakit yang katanya rasanya seperti lem kertas. Kini, level kebosanannya sudah mencapai puncaknya.

"ByBy... Pak Es... Sayangku yang kaku..." panggil Nayla dengan nada yang sengaja diseret-seret agar terdengar menyebalkan.

Adnan yang sedang mencoba membaca laporan kerja di tabletnya hanya memejamkan mata rapat-rapat. "Nayla, tidur. Dokter bilang kamu butuh istirahat, bukan butuh konser mini."

"Istirahat itu buat orang yang capek, By! Saya ini baterainya masih seratus persen plus-plus! Saya bosan lihat dinding putih terus, lama-lama saya berasa jadi butiran micin di dalem bungkusnya tahu nggak!" Nayla mulai melompat turun dari ranjangnya, menyeret tiang infusnya dengan bunyi krak-krak yang memilukan.

Adnan menghela napas, ia meletakkan tabletnya. "Lalu kamu mau apa, Nayla? Saya tidak bisa mengajakmu jalan-jalan. Kaki saya sedang disandera oleh gips ini."

Nayla menyeringai lebar, ekspresi yang selalu membuat bulu kuduk Adnan merinding karena ia tahu sesuatu yang tengil akan terjadi. Ia merogoh laci nakas dan mengeluarkan sekotak kartu remi yang entah dari mana ia dapatkan.

"Main kartu yuk, By! Yang kalah mukanya dicoret pakai spidol permanen ini!" Nayla menunjukkan spidol hitam besar dengan bangga.

"Tidak. Kekanak-kanakan sekali," tolak Adnan tegas.

"Oh, takut kalah ya? Bilang aja kalau CEO besar Hasyim Group ini nggak punya bakat main kartu. Ternyata Pak Adnan cuma jago ngatur duit, tapi nggak jago ngatur strategi kartu. Payah!" ejek Nayla sambil membuang muka dan pura-pura menguap.

Adnan merasa harga dirinya tersentil. "Saya tidak takut. Saya hanya merasa itu tidak produktif."

"Halah, alasan! ByBy penakut! ByBy payah!" Nayla mulai bernyanyi kecil sambil menggoyang-goyangkan tiang infusnya seperti tiang stripper.

"Nayla! Berhenti menggoyangkan tiang itu atau saya panggil suster untuk menyuntikmu obat tidur!" bentak Adnan frustrasi.

"Ya sudah, ayo main! Satu set saja. Kalau saya kalah, saya janji bakal diam dan tidur sampai besok. Tapi kalau ByBy kalah... siapkan wajah Mas untuk mahakarya saya!" Nayla memberikan tatapan menantang yang sangat provokatif.

Adnan melihat jam di dinding. Ia butuh ketenangan untuk memulihkan kakinya. Pikirannya berkata ini adalah ide buruk, tapi melihat Nayla yang terus-menerus bertingkah seperti cacing kepanasan, ia akhirnya menyerah. "Baik. Satu set saja. Dan jangan curang, Nayla. Saya tahu tanganmu lebih cepat dari copet terminal."

Permainan pun dimulai. Nayla membagikan kartu dengan kecepatan luar biasa, sesekali ia bersenandung lagu "Kucing Garong" yang membuat konsentrasi Adnan buyar. Adnan mencoba fokus, ia menggunakan logika matematikanya yang tajam untuk menghitung kartu yang sudah keluar.

"Aha! Kena kau, ByBy!" teriak Nayla sambil membanting kartu Joker ke meja kecil di atas ranjang Adnan.

"Tunggu, bagaimana bisa? Saya sudah hitung sisa kartunya," Adnan terbelalak tidak percaya.

"Logika Bapak itu ketinggalan di helikopter kemarin! Di dunia Nayla, yang menang adalah yang punya insting detektif! Sini mukanya, By! Jangan lari!" Nayla sudah berdiri di atas kursi, siap dengan spidol di tangannya.

"Nayla, pelan-pelan! Jangan di dahi!" protes Adnan saat ujung spidol yang dingin menyentuh kulit wajahnya.

"Diam, By! Seniman lagi bekerja! Jangan banyak gerak nanti kumis kucingnya mencong!" Nayla dengan sangat telaten menggambar di wajah tampan suaminya.

Sepuluh menit kemudian, Nayla terduduk di lantai sambil tertawa sampai mengeluarkan air mata. Adnan meraih cermin kecil yang diberikan Nayla dan seketika itu juga wajahnya memerah padam. Di cermin itu, tampak wajah seorang CEO terpandang kini memiliki kumis kucing yang tebal, hidung yang dibulatkan hitam seperti badut, dan tulisan "MILIK NAYLA" yang sangat besar di pipi kanannya.

"Nayla Safira! Ini spidol permanen?!" teriak Adnan murka, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena kakinya digantung.

"Hahaha! ByBy lucu banget! Persis kucing garong yang baru kalah rebutan wilayah di pasar! Sumpah, kalau difoto terus dikirim ke bursa saham, harga saham Hasyim Group bisa anjlok karena bosnya jadi maskot kucing!" Nayla guling-guling di lantai rumah sakit tanpa memedulikan rasa sakit di lengannya.

"Hapus sekarang! Atau saya potong uang jajanmu setahun!" ancam Adnan, meskipun ia sendiri tidak tega melihat Nayla tertawa sebahagia itu.

"Nggak bisa, By! Harus pakai alkohol, dan alkoholnya lagi saya umpetin! Bapak harus begini sampai dokter datang visit, biar dokternya nggak tegang-tegang amat!" balas Nayla sambil tertawa terpingkal-pingkal

Tepat saat Nayla sedang asyik menertawakan mahakaryanya, pintu kamar VIP itu terbuka dengan dentuman yang cukup keras. Suasana tawa Nayla langsung berhenti seketika.

Seorang pria tua dengan langkah tegap dan tatapan mata yang tajam seperti elang masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat formal, didampingi oleh dua pengawal di belakangnya. Sosok itu tidak lain adalah Hendra Hasyim, ayah Adnan, sang penguasa tertinggi Hasyim Group yang sangat disegani.

Hendra terhenti di tengah ruangan. Ia menatap Nayla yang masih terduduk di lantai, lalu perlahan beralih menatap putra kebanggaannya, Adnan, yang saat ini sedang memiliki kumis kucing dan tulisan "MILIK NAYLA" di pipinya.

Hening. Sunyi senyap menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.

"Adnan..." suara Hendra terdengar berat dan sangat dalam, membuat bulu kuduk siapapun merinding. "Apakah ini cara baru untuk memimpin perusahaan? Dengan menjadi maskot binatang?"

Adnan menutup wajahnya dengan tangan, suaranya terdengar pasrah. "Papa... ini tidak seperti yang Papa lihat. Ini hanya... sedikit kecelakaan kecil."

Nayla yang tadi sempat takut, tiba-tiba berdiri dan memberikan hormat seperti tentara. "Lapor, Papa Mertua! Ini bukan kecelakaan, ini adalah hukuman karena ByBy kalah main kartu! Papa mau ikut main juga? Masih ada tempat kosong di pipi Mas Adnan buat dicoret!"

Hendra menoleh ke arah Nayla. Matanya menyipit, menatap menantu "pilihan paksa,nya itu. "Nayla, kamu hampir kehilangan nyawa di jurang, dan sekarang kamu malah membuat putraku tampak seperti badut?"

"Habisnya di sini bosan, Pa! Kalau nggak diginiin, ByBy bakal terus-terusan cemberut kayak es balok kadaluarsa," jawab Nayla tanpa rasa takut sedikitpun.

Hendra terdiam sejenak, lalu secara mengejutkan, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menarik napas panjang dan duduk di kursi yang tersedia. "Hanya kamu yang berani melakukan ini pada Adnan, Nayla. Bahkan aku pun tidak pernah berani mencoret wajahnya."

Suasana yang tadinya tegang mulai sedikit mencair, namun wajah Hendra kembali serius. Ia menatap Adnan dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku datang bukan hanya untuk menjenguk. Farhan sudah tertangkap di perbatasan, tapi dia sempat mengatakan sesuatu sebelum diamankan polisi."

Adnan menurunkan tangannya, menatap ayahnya dengan serius meski kumis kucingnya masih menghiasi wajahnya. "Apa yang dia katakan, Pa?"

"Dia bilang, kecelakaan istrimu setahun lalu bukanlah rencananya sendirian. Ada seseorang di dalam rumah ini yang memberikan informasi tentang rute perjalanan mobil itu," ucap Hendra dengan nada dingin.

Nayla memegang tiang infusnya dengan erat. "Maksud Papa... ada pengkhianat di rumah kita?"

Hendra mengangguk. "Dan pengkhianat itu saat ini sedang menuju ke rumah singgah Ibram Hanin. Mereka mencari dokumen yang disimpan ayahmu, Nayla. Sesuatu yang melibatkan masa lalu aku dan Ibram yang selama ini kami rahasiakan darimu dan Adnan."

Adnan dan Nayla saling berpandangan. Rasa bosan Nayla hilang seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Ternyata, ancaman belum berakhir.

"Papa, siapa orang itu?" tanya Adnan mendesak.

Hendra menatap pintu kamar yang tertutup rapat, seolah-olah orang yang dimaksud sedang mendengarkan dari balik sana. "Orang yang selama ini memegang semua kunci akses keamanan kita. Orang yang kamu percaya sebagai tangan kananmu."

Mata Nayla membelalak. "Mas Dion?"

Tepat saat nama itu disebut, ponsel Adnan di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dion: "Maaf, Pak Adnan. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan di panti asuhan Nayla. Saya akan membawa 'kunci' itu kepada pemilik aslinya."

1
Aghitsna Agis
thor ada cerita anaknyanya nayla dan adnan yg sudah dewasa
Susanti Susanti
Luar biasa
Umi Maryam
hadeuuh capee deeh drama gada habiis ,kaya nya ni novel sampe tamat gada hapy nya yg ada drama rebutan harta mulu...thor apa ini cerita diri mu dan keluarga ya????
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Kak ganti panggilan dong jangan saya, aku kamu atau sayang
Umi Maryam
thor ini cerita isi nya penyerangan mulu sih penghianatan berebut harta kapan tenang nya sih,?
Reni Setia
makasih author untuk novelnya yab
Umi Maryam
minta di komen aku komen ga di snggap.
Umi Maryam
kenapa sih komen aku ga pernah masuk iih sebel deh..
Umi Maryam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Umi Maryam
aku duka nih kalau cewe nya badas plus cerdas ga menye2 yg bisa nya mewek di pojokan ,cuus aah thor semangat.
Yanti Parera
puas bangeet aq baca nya semangat trs ya thor untk krya2 selnjut nys👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒂𝒈𝒖𝒔 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒉𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒆𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒍𝒉𝒂𝒎𝒅𝒖𝒍𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒅𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒓𝒂𝒈𝒂 𝒅𝒊𝒂 𝒔𝒅𝒉 𝒕𝒅𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒍𝒈 😭😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒘𝒆𝒆𝒕𝒏𝒚𝒂 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒉𝒓𝒔 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒂𝒎𝒂𝒏𝒂𝒉 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒑𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒂𝒔𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒏𝒚𝒂 💪💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒓𝒖 😭😭😭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒉𝒂𝒎𝒊𝒍 𝒍𝒈 𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝒌𝒃 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓 𝒎𝒔𝒉 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍 𝒉𝒓𝒔 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒊𝒌 𝒚𝒈 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒖𝒎𝒖𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒓 𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒑𝒆𝒓𝒄𝒖𝒎𝒂 𝒏𝒚𝒆𝒔𝒆𝒍 𝒋𝒈 𝒌𝒂𝒓𝒏𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒍𝒈 😏😏 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒏 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒂𝒎 𝒅𝒊 𝒉𝒂𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒊𝒂 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 😔😏 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒆𝒈𝒐𝒊𝒔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!